NovelToon NovelToon
Obsesi Sahabat Suami

Obsesi Sahabat Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Obsesi / Pengkhianatan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Lautan Ungu_07

Veyra Aletha, ia tidak pernah berniat mencintai siapapun selain suaminya. Baginya, Alvero Halim Winata adalah rumah pertama, lelaki yang ia pilih untuk membangun keluarga kecil mereka bersama putra semata wayang mereka, Renzio Althar Halim.

Kehidupan pernikahan tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan. Di tengah kesibukan Alvero yang semakin tenggelem dalam pekerjaan, hadir Regan Han Sebastian, sahabat sekaligus rekan kerja suaminya yang selalu punya waktu untuk hadir saat Veyra merasa sendiri.

Menemani Renzio bermain. Mengantar Veyra saat Alvero sibuk. Datang membawa makanan. Dan perlahan mengisi ruang kosong yang tidak pernah Veyra sadari sebelumnya.

Hingga suatu hari, kecelakaan mengubah segalanya. Veyra dinyatakan hilang di lokasi kejadian.

Saat semua orang percaya Veyra telah hilang, Regan justru membawanya pergi ke Singapura. Menyimpan rahasia besar yang perlahan mengaburkan batas anatara cinta, rasa bersalah, dan obsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Kecewa Lagi

Hari weekend telah berahir. Senin pagi ini orang-orang sudah mulai kembali dengan aktivitasnya masing-masing.

Sebuah mobil Porsche Panamera abu-abu metalik milik Regan masuk ke parkiran perusahaan lain. Untuk pagi ini, ia bukan datang ke perusahaannya.

Setelah mobil itu terparkir sempurna, Regan turun dengan stelan kantor yang rapi. Beberapa orang menyapanya.

Ia berjalan menelusuri lorong menuju ruang meeting perusahaan klient. Pagi ini, senyum Regan tidak selebar biasanya.

Regan menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu.

"Masuk."

Regan membuka pintu perlahan. Ruangan itu cukup luas. Dinding kaca membentang dari sisi kanan. Di tengahnya terdapat meja meeting berwarna gelap.

Dua orang perwakilan perusahaan klient sudah duduk di sana.

"Selamat pagi, Pak." Ucap Regan dengan nada sopan.

"Pagi. Silahkan duduk."

Regan mengangguk. Ia duduk di kursi sebrang sambil merapatkan kedua tangannya di atas meja.

Ruang meeting itu terasa jauh lebih hangat dari yang Regan bayangkan. Tidak ada wajah marah ataupun nada tinggi.

"Terima kasih sudah bersedia memberikan saya kesempatan." Regan menganggukkan kepala.

"Kami juga berterima kasih karena anda datang langsung, Pak Regan." Jawab salah satu perwakilan.

Regan menggeser beberapa dokumen ke tengah meja.

"Saya datang untuk meminta maaf atas kesalahan yang terjadi. Saya juga ingin menjelaskan beberapa langkah yang sudah kami lakukan untuk memastikan hal yang sama tidak terulang lagi." Ucapannya berhenti sebentar. Regan menarik napas.

"Proposal yang kalian terima, itu belum hasil final yang Pak Alvero buat. Tapi itu kecerobohan saya yang menyebabkan kesalahan pengiriman file proposal." Lanjut Regan dengan suara tenang.

Pembicaraan berjalan cukup lama. Regan menjelaskan satu per satu. Sesekali pihak klient mengajukan beberapa pertanyaan. Dan semua Regan jawab dengan profesional.

Semuanya berjalan seperti tidak akan ada penolakan. Tidak ada kalimat yang terdengar seperti akhir dari kerja sama mereka.

Membuat beban di dada Regan perlahan terasa lebih ringan.

Setelah hampir satu jam, pertemuan itu akhirnya selesai. Salah satu perwakilan klient berdiri lebih dulu.

"Terima kasih sudah datang langsung, Pak Regan."

Regan ikut berdiri. "Saya yang seharusnya berterima kasih karena masih diberi kesempatan untuk menjelaskan."

Pria itu tersenyum tipis. Mereka akhirnya berjabat tangan.

Lalu Regan meninggalkan dengan langkah yang tak lagi ringan. Penjelasan akhir dari perwakilan klient itu membuatnya tidak bisa bernapas lega.

Setibanya di parkiran, Regan menuju mobilnya. Ia menyalakan mesin, dan melajukkan mobil dengan kecepatan cukup tinggi.

Matahari semakin bergeser ke tengah langit. Jam menunjukan pukul 13:45 siang.

Di ruang kerja Alvero, ia masih terus menatap laptop sejak tadi. Beberapa laporan memenuhi meja.

Ponsel di atas meja tiba-tiba bergetar, membuat perhatian Alvero beralih. Nama klient itu muncul di layar. Alvero langsung menghentikan pekerjaannya. Jemarinya meraih ponsel, lalu menjawab panggilan.

"Selamat siang, Pak."

"Selamat siang, Pak Alvero." Suara di sebrang terdengar ramah seperti biasa. "Kami hanya ingin menyampaikan beberapa hal terkait kerja sama perusahaan kita."

Alvero mengangguk pelan. "Baik, Pak."

"Oh ya, sebelumnya kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada, Pak Regan."

Gerakan Alvero seketika berhenti. "Regan?!"

"Iya, beliau datang menemui kami tadi pagi."

Alvero mengernyit. Ia bahkan tidak tahu soal itu.

"Pak Regan menjelaskan semuanya dengan baik. Kami juga menghargai usaha dan itikad baik yang beliau berikan."

Entah kenapa, Alvero justru semakin diam. Di pikiran terbesit satu hal, jadi selama ini Regan berusaha memperbaiki semuanya.

"Namun setelah mempertimbangkan berbagai hal..."

Kalimat berikutnya membuat jari Alvero perlahan menegang di sekitar ponsel.

"Kami memutuskan untuk mengakhiri kerja sama ini."

Kalimat itu, membuat ruangan semakin sunyi. Alvero tidak langsung menjawab. Tatapannya kosong ke arah laptop di depannya.

"Saya minta maaf, Pak." Kata Alvero Akhirnya.

"Kami menghargai kerja kerasnya tim anda selama ini."

Suara klient masih terdengar. Namun untuk beberapa detik, Alvero tidak benar-benar mendengarnya.

Yang terlintas di kepalanya justru hanya satu hal. Enam bulan.

Enam bulan Alvero membangun kepercayaan. Mengejar proyek itu. Tapi sekarang harus berakhir hanya dalam satu panggilan telepon.

"Baik, Pak." Hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulut Alvero sekarang.

Setelah percakapan berakhir, ia menyimpan kembali ponselnya. Lalu menyandarkan tubuh ke kursi. Pandangannya jatuh ke jendela besar di samping ruangan.

Ia menekan tombol interkom.

"Tolong panggil Regan ke ruangan saya." Suaranya terdengar datar.

Alvero kembali bersandar, jemarinya memijat pelipis. Perasaannya benar-benar campur aduk.

Setelah hampir lima belas menit, suara ketukan pintu terdengar pelan. Seketika Alvero menegakkan posisi duduknya.

"Masuk!"

Pintu perlahan terbuka, Regan masuk dengan langkah berat. Berbeda dengan biasanya, yang selalu masuk sambil bercanda.

Regan berdiri di depan meja kerja Alvero. Kedua tangannya masuk ke saku. Rahangnya mengeras sejak tadi. Tatapannya bahkan tidak berani bertemu dengan Alvero cukup lama.

Alvero menatap Regan. Napasnya berat, seperti sedang menahan emosi agar tidak meledak. Tapi tatapannya jelas menusuk.

"Kamu datang ke perusahaan klient?" tanya Alvero datar.

Regan menatap Alvero sebentar, sebelum ia kembali menatap lantai. "Iya," jawabnya lirih.

"Kenapa tidak bilang?"

Regan menelan ludah, ia memberanikan diri untuk menatap Alvero yang menyimpan kekecewaan. "Karena aku pikir... aku akan berhasil."

Alvero terkekeh getir. "Tapi hasilnya?" Ia bangun dari duduknya. Berdiri hampir berhadapan dengan Regan. "Gagal, kan?"

"Al, aku hanya ingin membantumu untuk menyelesaikan masalah ini. Kesalahan itu juga aku yang buat." Jelas Regan.

"Itu masalahnya, Regan. Aku tahu kamu selalu ingin membantu," ucapannya berhenti sebentar. "Tapi kamu tidak pernah bertanya, apakah bantuanmu dibutuhkan?"

"Al, aku hanya ingin menyelesaikan masalahnya dengan caraku. Aku pikir dengan meminta maaf langsung, klient akan ngerti."

Alvero menghela napas pendek. "Regan, kamu gak tahu dia. Aku yang sering bertemu sama dia. Mereka gak butuh penjelasan, mereka butuh waktu."

Regan tak menyela ucapan Alvero seperti biasanya. Ia tahu, sekarang Alvero benar-benar sudah marah.

"Aku sengaja gak terus hubungi mereka. Aku ngasih waktu buat mereka. Karena sebenarnya... yang bikin mereka kecewa bukan isi dari proposal. Tapi kepercayaan, kamu tahu kan kepercayaan itu mahal?"

Suasana jatuh hening. Untuk beberapa detik, tak ada yang bersuara.

Alvero kembali menjatuhkan tubuhnya ke kursi kerjanya. Lalu menatap Regan yang masih terpaku di depannya.

Regan menatap Alvero, ia menghela napas. "Al, aku minta maaf. Aku tidak berniat membuat kerja kerasmu hancur."

Alvero tidak menjawab. Karena ia juga paham atas niat yang sebenarnya Regan lakukan. Hanya saja, ia terlalu buru-buru. Bahkan tidak berkomunikasi lebih dulu, sebelum mengambil tindakannya.

"Al, aku harap kamu tidak benar-benar membiarkanku begitu saja. Apalagi sampai menutup akses untuk aku dan keluargamu."

Alvero mengangguk, "oke," katanya datar. "Tapi aku punya satu syarat."

"Apa?" Regan cepat bertanya.

"Kamu harus bisa narik minimal dua investor bulan ini. Dan jangan pakai cara nyogok atau hal curang lainnya. Ini harus murni hasil negosiasi kamu."

"Dalam waktu satu bulan?" Tanya Regan dengan ekspresi kaget.

Alvero mengangkat alis. "Aku kasih tambahan tujuh hari."

"Kalau gak bisa?"

"Aku akan menutup akses itu." Jawab Alvero datar.

Regan menahan napas sebentar. Pikirannya mendadak tidak fokus dengan apapun di sekitarnya.

"Sekarang kamu boleh pergi. Jangan ganggu aku untuk sementara waktu!"

Alvero kembali fokus pada laptopnya, melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.

Sementara Regan kini berbalik. Ia keluar tanpa mengatakan sapatah kata pun lagi.

Setelah mendengar pintu tertutup, Alvero memandangnya. Lalu membuang napas, seolah baru sadar kalau sejak tadi ia menahan napas.

"Aku harus jelasin masalah ini ke Papa. Biar Papa bicara sama Tuan Raymond," gumam Alvero.

Perasaannya gundah, antara kecewa. Dan kasihan kepada Regan.

Apakah Regan mampu menarik dua investor dalam waktu singkat tanpa kecurangan? Apakah dia tidak akan keberatan?

Pertanyaan itu seketika terus berputar di kepala Alvero, membuat ia mengusap wajahnya kasar. ​

1
Pengabdi Uji
Regan🤣 km suka yg mna dehh
Addb_Rh
ini jd curiga, obsesi mu ke Zio apa Vyera nanti ujung nya🙄😅
Laila Sarifah
Apa Regan ini nggak pernah pacaran?
Aii Flow🌷: Belum, paling cuma kagum-kagum gitu😄
total 1 replies
Addb_Rh
anu Rzgan, daripada solo karir terus gt, mending nikah aja sih😩😩
masih banyak cewek cantik kok. 🤣
Aii Flow🌷: Bukan cantiknya, tapi minat Regannya yang belum mau😭
total 1 replies
Its me
novel banget 🤭
Aii Flow🌷: Drama banget🤧
total 1 replies
Pengabdi Uji
regann trlalu bnyk nnton drama🙄🙄 eehh
Pengabdi Uji
😭 bukan mami mu aja kita pembaca jg curiga regan ini knp🤭
Aii Flow🌷: Semuanya curiga🤣
total 1 replies
Pengabdi Uji
🙄ga trlalu percaya sma regan kek agak nikungg gitu 🤣🤣
Addb_Rh
makin kesini, makin kesana aja omongan Regan😩😩

normal ya Reg, punya pacar makanya🤣
Addb_Rh
pen nampol Regan pale swallow biar sadar umur🙄

ngalahin anaknya Al, ih kamu Reg.. 😩🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
Its me
kebalik mom
apa Alvaro siap di binor sama Regan
Laila Sarifah
Apa Raynand terlalu di manjakan sama orang tuanya, makanya sifatnya nggak bisa dewasa😌
Laila Sarifah: 😭😭😭 Regan elahh, keyboardnya otomatis kesana😭
total 2 replies
Laila Sarifah
Kapan dewasanya kamu Regan😭
Pengabdi Uji
Wkwk All lu srius udh nyaman sma Regan 😭 agak bingung coy ini Regan obses ke lakinya apa ke bininya🤭
Aii Flow🌷: Nggakkk, ya kali ke lakinya😭🤣
total 1 replies
Its me
nah ini kayaknya yang di bilang Raymond tadi 🤣
Its me: bukan Regan tapi Ahsan 🤭
total 3 replies
Its me
bukan sama Alvero tapi sama bini nya
Laila Sarifah
Makanya jangan terlalu deket sama Alvero. Cari istri gih Gan🤪
Aii Flow🌷: Nggak dulu, lagi nunggu mangsa🤧
total 1 replies
Addb_Rh
makanya cari pacar Regan, sifat manjamu itu, kadang ke Al juga agak agak gimana gt. 🥲
Aii Flow🌷: Terlalu dimanja sama Mamynya🤧
total 1 replies
Pengabdi Uji
Samaa😭 aku jg mkir regan geiy anjayyy😭😭 bner kgk siii wkwk
Aii Flow🌷: Nggak😭 dia normal🤣
total 1 replies
Addb_Rh
malu Regan, udah tua. 😩
Aii Flow🌷: Apa itu tua? Regan masih anak-anak🤧🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!