Di balik megahnya dinding Kerajaan Sanjaya, sebuah takdir kuno mulai terbangun. Pangeran Ares, sang pewaris takhta yang gagah namun menyimpan misteri di balik rajah di lengannya, terikat janji suci sejak balita untuk bersanding dengan Princess Ciara. Perjodohan ini bukan sekadar urusan politik, melainkan segel yang menjaga keseimbangan dua kerajaan besar.
Namun, bayang-bayang masa lalu mulai mengusik saat Naomi, seorang anak pelayan istana yang sederhana, menyimpan rasa yang tak seharusnya pada sang Pangeran. Kehadiran Naomi bukan sekadar bumbu cinta segitiga biasa; ada rahasia gelap dalam darahnya yang perlahan mulai memanggil kekuatan rune terlarang.
Tiga nasib terjalin dalam bayang-bayang masa lalu. Akankah Ares memilih kewajiban demi kedamaian kerajaan bersama Ciara?
Ataukah perasaan tulus Naomi akan menjadi kunci untuk menghancurkan kutukan yang selama ini menghantui Sanjaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran di Balik Pintu yang Terkunci
Matahari sore meredup, memancarkan semburat jingga keunguan yang pucat di atas atap-atap tinggi Kerajaan Sanjaya. Ares melangkah menyusuri lorong panjang menuju sayap pelayan dengan langkah yang terburu-buru. Jubah hitamnya berkibar menepis udara dingin. Setelah perdebatan panjang dengan para tetua kerajaan mengenai kelanjutan perjodohannya dengan Ciara, pikiran Ares sama sekali tidak bisa tenang. Ada satu nama yang terus berputar di kepalanya: Naomi. Saudarinya. Gadis yang telah mengambil alih kutukan rune dari tubuhnya.
Ares ingin melihat keadaannya. Ia ingin memastikan bahwa setelah badai besar kemarin, Naomi mendapatkan perawatan yang layak, meskipun ia tahu status gadis itu kini berada di zona abu-abu yang berbahaya.
Namun, langkah kaki Ares mendadak terhenti saat ia berbelok di koridor terakhir menuju kamar Naomi. Di depan pintu kayu yang biasanya dibiarkan rapuh dan terbuka itu, kini berdiri tegak empat orang dayang senior istana dengan pakaian serba ketat dan wajah sekaku batu. Mereka bukan pelayan biasa; mereka adalah dayang-dayang pribadi Ratu Ara.
"Pangeran Ares," salah satu dayang melangkah maju, membungkuk hormat namun tubuhnya dengan sengaja menutupi akses pintu. "Mohon maaf, Yang Mulia. Anda tidak diperkenankan memasuki ruangan ini."
Ares menyipitkan matanya, alisnya bertaut rapat. Rasa tidak nyaman seketika merayap di dadanya. "Singkirkan tubuhmu. Aku hanya ingin memeriksa keadaan pelayan di dalam."
"Ini adalah perintah langsung dari Ibu Suri, Ratu Ara, Pangeran," sahut dayang itu lagi, suaranya datar tanpa emosi. "Kamar ini sedang dibersihkan dan disterilkan. Siapa pun tidak boleh masuk atas alasan keselamatan."
Ares mengepalkan tangannya di balik jubah. Pertanyaan-pertanyaan besar mulai bermunculan di kepalanya, memicu rasa curiga yang membakar. Ada apa ini? Kenapa kamar seorang anak pelayan harus dijaga seketat ini oleh orang-orang kepercayaan ibundanya? Bukankah Ratu Ara sangat membenci Naomi, bahkan menganggapnya sebagai aib dan monster yang menjijikkan? Mengapa sekarang ibundanya seolah memberikan perhatian berlebih dengan menempatkan penjaga di depan pintunya?
"Di mana Bi Martha?" tanya Ares, suaranya beralih menjadi dingin dan menuntut. "Jika kamar ini dibersihkan, di mana ibu dari anak itu? Dan di mana pelayan Ingdrit?"
Para dayang itu saling melirik sesaat, sebelum kembali menunduk. "Kami tidak tahu, Pangeran. Tugas kami hanya menjaga pintu ini."
Ares tahu ada yang tidak beres. Tanpa membuang waktu berdebat, ia berbalik dan melangkah cepat meninggalkan koridor itu. Ia berjalan menuju area dapur utama dan gudang logistik...tempat di mana pelayan Ingdrit, ayah angkat Naomi, biasanya menghabiskan waktu sorenya untuk memeriksa pasokan makanan istana.
Ares mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan dapur yang luas dan bising oleh denting peralatan masak, namun sosok pria tua bertubuh tegap itu tidak ada di mana pun. Martha juga tidak terlihat di ruang cuci. Keberadaan mereka bertiga seolah menguap begitu saja ditelan bumi sejak fajar menyingsing.
Di dekat sudut gudang penyimpanan gandum, Ares melihat seorang pelayan tua bernama Subek sedang menyusun karung-karung dengan tangan yang gemetar. Subek adalah sahabat karib Ingdrit, pria yang sudah bekerja puluhan tahun bersama ayah angkat Naomi.
Ares melangkah mendekat, bayangannya yang besar seketika menutupi tubuh pelayan Subek. "Subek," panggil Ares berat.
Pelayan tua itu tersentak, hampir menjatuhkan gulungan tali di tangannya saat melihat sang Putra Mahkota berdiri di depannya. Ia segera menjatuhkan diri, berlutut dengan lutut yang bergetar di atas lantai tanah. "Y-Yang Mulia Pangeran Ares... ampun, ada yang bisa hamba bantu?"
Ares berlutut dengan satu kaki, menyamakan tingginya dengan pelayan tua itu agar suaranya tidak terdengar oleh pekerja lain. "Di mana pelayan Ingdrit? Di mana Bi Martha dan Naomi? Jangan berbohong padaku, pelayan Subek. Aku tahu kau tahu sesuatu."
Pelayan Subek menelan ludah dengan susah payah. Matanya bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri, ketakutan yang murni terpancar dari wajahnya yang keriput. "Hamba... hamba tidak berani bicara, Pangeran. Nyawa hamba taruhannya..."
Ares mencengkeram bahu Subek dengan tegas, namun tidak menyakitinya. "Aku adalah Pangeranmu, pelayan Subek. Nyawamu ada di bawah perlindunganku. Katakan padaku, apa yang terjadi pada mereka?"
Air mata ketakutan perlahan menetes dari mata pelayan tua itu. Dengan suara yang luar biasa lirih, nyaris menyerupai bisikan angin sore, ia akhirnya membuka suara. "Mereka... mereka sudah tidak ada di istana ini, Pangeran..."
Jantung Ares serasa berhenti berdetak. "Apa maksudmu tidak ada?"
"Tadi siang... setelah upacara eksekusi yang gagal itu... Ratu Ara datang ke sayap pelayan dengan dikawal pasukan khusus," bisik Subek, tubuhnya gemetar hebat mengingat kejadian itu. "Ratu Ara memberikan titah pengusiran. Beliau sangat marah. Ratu mengatakan kalau Naomi adalah anak dari wanita Tang Yang dan tidak pantas menginjakkan kaki di tanah Sanjaya. Ingdrit dan Martha dipaksa membawa Naomi pergi jauh hari ini juga... mereka diusir ke perbatasan timur, Pangeran. Ratu mengancam akan memenggal kepala mereka jika mereka masih terlihat di wilayah Sanjaya saat matahari tenggelam."
Mendengar penuturan Subek, darah Ares seketika berdesir hebat. Amarah dan kengerian bercampur menjadi satu di dalam dadanya. Perbatasan timur. Kereta logistik yang dijaga ketat di depan kamar tadi hanyalah pengalih perhatian agar ia tidak mencari mereka.
Ares bangkit berdiri dengan napas yang memburu. Ia teringat akan satu hal yang sangat krusial, kitab kuno tentang rune yang pernah ia baca saat ia masih memilikinya. Rune Sanjaya terikat dengan inti tanah kerajaan. Jika seorang inang membawa rune itu keluar dari wilayah Sanjaya, hawa dingin dari sihir itu akan berbalik membekukan darah pemiliknya sendiri.
"Mereka membunuhnya..." desis Ares, matanya berkilat penuh amarah yang mengerikan. "Ibunda sengaja mengusirnya agar dia mati di perbatasan."
Tanpa memedulikan Subek yang masih bersimpuh, Ares berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju kandang kuda istana. Ia harus mengejar kereta itu sebelum matahari benar-benar tenggelam, sebelum dinginnya perbatasan merenggut nyawa saudarinya untuk selama-lamanya.