Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.
Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.
Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.
Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.
Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.
Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Hukuman Pertama
Pak Danu, guru Biologi yang dikenal disiplin, segera menyuruh murid-murid mempersiapkan kertas. Ulangan harian yang sudah dijanjikan sebelumnya dimulai. Beberapa saat kemudian, kelas XI IPA 3 menjadi sunyi senyap, hanya menyisakan deru kipas angin dan langkah kaki Pak Danu yang mondar-mandir mengawasi setiap gerak-gerik siswanya.
"Apa ini?"
DEG! Jantung Sandra seolah berhenti berdetak.
"Kertas apa ini? Kamu menyontek, ya?!" suara Pak Danu meninggi, tangannya memegang secarik kertas dengan tulisan print kecil-kecil berisi kunci jawaban yang ia temukan di laci meja Sandra.
"Nggak, Pak! Bukan saya!" seru Sandra panik.
"Ini buktinya jelas! Ini bahkan kunci jawaban lengkap!" Amarah Pak Danu memuncak. Ia kemudian beralih menatap seisi kelas. "Bapak tidak bisa menoleransi ini. Kalian semua! Keluarkan apa yang ada di bawah bangku kalian sekarang!"
Suasana menjadi gaduh. Satu per satu murid merogoh kolom meja mereka. Mia dan Resi memekik kaget saat jemari mereka menyentuh kertas dengan tekstur yang sama.
"Kalian juga menyontek?!" bentak Pak Danu saat melihat kedua gadis itu memegang kertas serupa.
"Tidak, Pak! Ini bukan punya saya!"
"Iya, Pak! Sumpah, ini juga bukan punya saya!" Mia dan Resi membela diri dengan suara gemetar.
Pak Danu menyambar kertas-kertas itu, membandingkannya dengan soal ulangan di tangannya. "Berhenti mengelak! Ulangan kali ini kalian bertiga dapat nol. Cepat keluar dari kelas sekarang!"
Air mata Sandra mulai menggenang. "Pak, ada orang yang memfitnah kami... Kami dijebak!"
"Sandiwara apa lagi?" tanya Pak Danu dingin.
"Tanyakan saja pada yang lain, Pak! Pasti ada yang menjahili kami!" Sandra menatap teman-temannya dengan tatapan memohon. "Kalian lihat sesuatu, kan? Tolong kasih tahu Pak Danu!"
"Ada yang mau membela mereka? Apa ada saksi yang melihat mereka menyontek atau tidak?" tanya Pak Danu pada seisi kelas.
Hening. Tak ada satu pun suara yang menyahut.
Sandra menatap seorang cowok di barisan depan, berharap ia mau bicara. Namun, cowok itu hanya menatapnya dengan pandangan lempeng, seolah Sandra adalah orang asing. Ia kemudian melirik Vyan. Namun, Vyan bahkan tidak menoleh; ia tetap tenang menekuni soal-soalnya, mengabaikan drama di depannya seolah-olah hal itu tidak penting.
"Waktu terus berjalan. Kalian sudah mengganggu konsentrasi teman-teman kalian yang sedang bekerja. Cepat keluar!" perintah Pak Danu tak terbantahkan.
Dengan wajah kusut dan isak tangis yang mulai pecah, Sandra dan kedua temannya terpaksa melangkah keluar kelas. Pintu tertutup, dan kelas kembali sunyi.
Agil menarik napas panjang, berusaha meredakan ketegangan di dadanya. Ia melirik Vyan yang duduk tepat di sampingnya. Vyan nampak sangat tenang—terlalu tenang. Namun, jika dilihat lebih dekat, ada kilat puas di sorot matanya. Sesungging senyum tipis, hampir tak terlihat, menghiasi wajah pemuda itu.
Vyan menyadari tatapan itu dan melirik Agil sekilas sebelum kembali menulis. Agil hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu... senyum itu bukan senyum biasa.
***
Suasana ruang kantor guru siang itu nampak lengang. Sebagian besar pengajar sedang berada di kantin atau masjid, menyisakan suara dengung AC dan tumpukan kertas yang berantakan. Bu Dinda sedang merapikan beberapa buku referensi di mejanya ketika tumpukan itu merosot dan jatuh ke lantai.
"Mari, saya bantu, Bu," sebuah tangan dengan sigap memunguti buku-buku itu.
Bu Dinda menoleh dan tersenyum sopan. "Terima kasih banyak, Pak Yoga."
"Sama-sama, Bu Dinda," Pak Yoga meletakkan kembali buku-buku itu ke meja dengan rapi. Ia tidak langsung pergi, melainkan menyandar santai di pinggiran meja seberang. "Gimana rasanya mengajar di Tunas Bangsa sejauh ini? Murid-muridnya bisa dikendalikan?"
Bu Dinda mengangguk pelan sambil merapikan jilbabnya. "Mereka menerima saya dengan sangat baik. Saya rasa semuanya berjalan lancar. Pak Yoga sendiri sudah berapa lama mengajar di sini?"
"Sekitar lima tahun," jawab Pak Yoga sambil menerawang sejenak. "Cukup lama untuk melihat banyak hal. Tapi harus saya akui, murid-murid tahun ini agak berbeda dengan angkatan sebelumnya."
Bu Dinda menghentikan aktivitasnya, tertarik. "Berbeda bagaimana maksud Bapak?"
Pak Yoga tersenyum penuh arti. "Yah, ada seseorang yang punya 'kekuatan' besar di kelas dua. Sesuatu yang melampaui otoritas OSIS biasa."
Bu Dinda mengerutkan kening. "Kekuatan apa yang Bapak maksud?"
"Seseorang yang bahkan bisa mengatur agar ibunya sendiri bisa mengajar di sini," jawab Pak Yoga tenang.
Bu Dinda terkesiap, gerakannya membeku seketika. Ia menatap Pak Yoga dengan tatapan yang sulit diartikan, namun pria di depannya itu hanya membalas dengan senyum ramah yang tidak memudar.
"Tidak perlu kaget, Bu. Dia anak yang baik kok," lanjut Pak Yoga. "Kekuatannya sendiri muncul karena orang-orang menaruh kepercayaan penuh padanya. Bukan cuma murid, beberapa guru pun begitu. Banyak yang mendengarkan kata-katanya... termasuk Pak Wiguna."
"Vyan... memang pandai bicara sejak kecil," gumam Bu Dinda, mencoba menetralkan suasana.
"Oh ya, Pak Yoga tahu tentang Yasmin yang ada di kelas sepuluh?" tanya Bu Dinda kemudian, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Tentu saja. Anak itu unik. Saya yakin Ibu pasti penasaran bagaimana dia bisa masuk ke sekolah elit ini dengan... yah, 'kapasitas' seperti itu, kan?"
Bu Dinda menghela napas. "Ya, jujur saja saya sempat bertanya-tanya."
"Dia lolos dengan cara yang sangat biasa kok. Nilai tes masuk dan NEM SMP-nya rata-rata, sama seperti murid lain di jalurnya. Tidak ada yang spesial."
"Oh ya? Lalu bagaimana bisa prestasinya sekarang jadi seperti itu?"
Pak Yoga mengedikkan bahu. "Saya juga sempat bingung melihat perubahannya sekarang. Nampak seperti dua orang yang berbeda." Pak Yoga menatap Bu Dinda lurus-lurus. "Kalau ada hal lain yang ingin Ibu ketahui, tanyakan saja pada saya. Siapa tahu Ibu juga ingin tahu tentang... Ray."
Jantung Bu Dinda serasa berhenti berdetak sesaat. Ia menatap Pak Yoga dengan waspada. Orang ini... sepertinya tahu terlalu banyak hal. Jangan-jangan dia sudah menyelidikiku?
Melihat ekspresi tegang Bu Dinda, Pak Yoga justru tertawa ringan. "Hahaha... soalnya anak itu terkenal sekali sebagai rival abadi Vyan. Di mana ada Vyan, biasanya di situ ada Ray."
Bu Dinda sedikit rileks, meski sisa ketegangannya masih ada. Mungkin aku saja yang terlalu berlebihan berpikirnya.
"Anak-anak biasa seperti itu, Pak. Tidak apa-apa kalau mereka bersaing secara sehat untuk meraih prestasi," sahut Bu Dinda bijak.
Pak Yoga menegakkan punggungnya, bersiap pergi. "Sebenarnya begini, Bu... Vyan itu tidak menyukai saya. Mungkin nama saya ada di posisi teratas dalam blacklist-nya," tutur Pak Yoga tanpa beban.
Bu Dinda terdiam, ia mulai memahami sesuatu. Sifat Pak Yoga yang serba tahu, pengamat yang tajam, dan lidahnya yang terlalu jujur... nampaknya itulah alasan kenapa Vyan yang perfeksionis merasa terancam oleh keberadaan guru ini.
...****************...
Pelajaran usai. Saat kelas mulai bubar, Sandra, Mia, dan Resi yang menunggu di koridor segera merangsek masuk dan mendekati meja Vyan.
"Gue dijebak, Yan! Sumpah, gue nggak pernah naruh kunci jawaban itu di laci gue!" Sandra mencengkeram lengan seragam Vyan, satu-satunya pegangan yang ia rasa aman saat ini. "Lo kan Ketua OSIS, lo punya akses ke mana-mana. Tolong, bantu gue bongkar siapa yang ngelakuin ini. Gue nggak mau reputasi gue hancur cuma gara-gara fitnah murah kayak gini!"
Vyan mengangguk pelan, wajahnya berubah prihatin dalam sekejap. "Gue coba cek CCTV kelas ya..." gumamnya.
"Bener, Yan! Pelakunya pasti ketahuan kalau dilihat dari CCTV!" sahut Resi dengan nada penuh harapan.
Vyan mengambil ponselnya, menekan beberapa menu, lalu terdiam sejenak. Ia kemudian menggeleng lemah. "Sayang sekali, CCTV di kelas kita mati," ucapnya dengan nada penyesalan yang sangat meyakinkan. Ia menunjuk ke arah kamera di sudut plafon yang lampu indikator merahnya memang tidak berkedip.
"Aduh... gimana dong? Kok bisa sih mati? Apa nggak ada cara lain?" keluh Mia frustrasi.
"Kalian punya musuh?" tanya Vyan pendek.
Ketiganya saling lirik, lalu menggeleng ragu. "Nggak ada..."
"Vyan... tolong dong pikirkan cara lain. Jebak kek pelakunya. Lo kan biasanya bisa bongkar kejahatan apa pun di sekolah ini, sekalipun CCTV mati."
Vyan menatap Sandra dengan tatapan yang tidak bisa dimengerti Sandra. Vyan tersenyum, "Masalah kecil. Gue bisa membongkar semua kejahatan yang terjadi di sekolah ini kalau gue mau."
"Serius?" tanya Sandra berbinar penuh harap.
Vyan mengangguk. "Termasuk kejahatan lu juga."
"Ap-apaan, gue ga pernah bikin masalah kok."
Vyan bangun dan menepuk bahu Sandra pelan. "Kalau gitu, lu tenang aja. Lu nanti bisa dapatkan nama pelakunya."
Setelah bicara begitu, Vyan melangkah pergi. Sandra dan teman-temannya tampak gembira.
"Makasih, Vyan!" teriak Sandra yang hanya dijawab oleh lambaian tangan Vyan.
"Beres... " ucap Resi senang.
"Kalau pelakunya ketahuan, kita bisa ujian susulan tambah lagi, sambil menyelidiki, bisa deket sama Vyan... " Sandra menghentakkan kakinya sambil mengepalkan dua tangannya depan mulut mengikuti pose imut.
Resi dan Mia hanya saling pandang sambil menaikan alis.