Hella Adelia menjalani hidupnya dalam diam, memikul peran sebagai seorang ibu sekaligus ayah bagi putra semata wayangnya. Dengan tekad sederhana—melihat anaknya agar bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMK—ia rela menyingkirkan lelah dan gengsi, menerima pekerjaan sebagai asisten rumah tangga di rumah seorang CEO ternama.
Di balik kemewahan rumah itu, Dave Julian Alexander hidup dalam kesunyian. Seorang duda tanpa anak, dengan hati yang masih terikat pada kenangan akan mendiang istrinya. Dingin, tegas, dan tak tersentuh.
Kesederhanaan Hella, ketulusannya sebagai seorang ibu, dan harapan kecil yang ia genggam untuk masa depan anaknya, menghadirkan kehangatan yang lama hilang dalam hidup Dave.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endel_Bagong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERJERAT CINTA SANG BOSS
“Permisi… ada apa ya, Pak?”
Suara Hella membuat Marcel yang tadi terdiam langsung tersadar.
Ia segera mengalihkan pandangan dan berdeham kecil, berusaha kembali terlihat biasa.
“Ehheem… itu…” Marcel terlihat sedikit salah tingkah. “Tuan mengajakmu keluar untuk makan malam.”
“Hah… saya?” tanya Hella kaget.
“Iya,” jawab Marcel singkat. “Pakai baju yang rapi. Jangan asal… biar Tuan nggak malu.”
Hella langsung melongo kecil mendengar ucapan itu.
Namun sebelum ia sempat membalas, Marcel kembali berbicara.
“Dan satu lagi… jangan panggil saya Pak.”
Hella berkedip bingung.
“Usia kita nggak jauh beda,” lanjut Marcel santai. “Kamu tiga puluh lima, saya tiga puluh delapan.”
Hella hanya bisa mengangguk sambil nyengir canggung.
“Iya… eh, baik…”
Setelah memastikan Marcel benar-benar pergi, Hella buru-buru masuk ke kamarnya.
Ia mulai memilih pakaian dengan bingung.
Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Hella mengenakan midi dress bergaya vintage Korean style bermotif bunga.
Dipadukan dengan sandal simple bertali yang tetap terlihat elegan.
Makeup tipis menghiasi wajahnya, sementara rambutnya dibiarkan terurai natural.
Sederhana.
Namun sangat cantik.
Tak lama kemudian, Hella keluar menuju teras depan rumah dan duduk menunggu Dave serta Marcel yang belum juga turun dari lantai dua.
Beberapa menit berlalu.
Tiba-tiba sorot lampu mobil masuk ke halaman rumah Dave.
Hella langsung berdiri refleks. Cahaya lampu yang cukup terang membuatnya menutup mata sebagian dengan tangan.
Setelah mesin mobil dimatikan, seorang pria keluar sambil tertawa kecil santai.
Namun langkah pria itu mendadak berhenti.
Johan, ya dia Johan, Johan terpana.
Matanya menatap Hella beberapa detik lebih lama dari seharusnya.
Penampilan Hella malam itu benar-benar berbeda. Simpel, tapi terlihat sangat cantik dan elegan.
“Hai…” sapa Hella sambil melambaikan tangan kecil.
Johan langsung tersadar dan tersenyum lebar sebelum menghampiri.
Ia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan sebagai tanda sapaan.
Hella menyambutnya dengan ramah.
“Mau keluar?” tanya Johan santai.
“Hm…” Hella mengangguk kecil. “Tadi Pak Marcel… Ehhh bukan, itu tadi Kak Marcel bilang Tuan ngajak keluar. Tapi nggak tahu mau ke mana.”
“Serius?” Johan langsung tersenyum makin cerah.
“Wah sama dong. Aku juga tadi ditelepon Pak Marcel katanya diajak keluar sama Pak Dave.”
Hella langsung mengernyit bingung.
“Eh… kok manggil Pak bukan Tuan?”
Johan mengedikkan bahu santai.
“Entahlah. Semua orang kantor manggil Pak Dave ya Pak. Cuma Pak Marcel aja yang manggil Tuan.”
Lalu Johan balik bertanya sambil tersenyum jahil.
“Kalau kamu manggil apa? Tuan?”
Hella hanya mengangguk.
Johan langsung paham.
Namun suasana santai itu tiba-tiba terpotong.
“Hemmm…”
Suara Marcel muncul dari belakang mereka.
“Sudah selesai? Kalau belum silakan lanjutkan.”
Hella langsung terkejut sampai spontan berdiri. Ponsel yang tadi ada di pangkuannya jatuh ke lantai.
Dave berdiri di samping Marcel dengan wajah datar seperti biasa.
Johan refleks membungkuk mengambilkan ponsel Hella.
Namun saat berdiri kembali—
tatapan tajam Dave langsung tertuju kepadanya.
Membuat Johan otomatis langsung menjaga jarak.
“Maaf… saya teledor,” ucap Hella cepat sambil menunduk.
Dave tidak menjawab.
Namun diam-diam, matanya sempat memperhatikan penampilan Hella malam itu.
Dan entah kenapa—
ada sesuatu dalam dirinya yang terasa terusik.
Cantik.
Tapi Dave memilih menyembunyikan pikirannya sendiri, tak ingin mengakui kecantikan sempurna itu.
“Jalan,” ucap Dave singkat.
Marcel langsung melempar kunci mobil ke arah Johan.
“Setir mobil Tuan.”
Johan sigap menangkapnya seperti sudah biasa.
Saat Hella hendak membuka pintu depan di samping kursi sopir—
Marcel langsung menahannya.
“Kamu ngapain di situ?” tanyanya datar. “Belakang. Bareng Tuan.”
Hella langsung syok.
“Hah? Nggak… aku di depan aja,” tolaknya cepat. “Kak Marcel aja yang di belakang.”
Marcel langsung melotot.
“Diam. Saya bilang belakang ya belakang.”
“Tapi aku takut…” gumam Hella jujur.
“Takut apa?” Marcel menghela napas. “Tuan nggak akan gigit kamu. Dia nggak seganas itu.”
Hella masih tampak ragu.
Namun akhirnya, dengan pasrah dan jantung berdebar aneh, ia masuk ke kursi belakang.
Dan duduk tepat berdampingan dengan Dave.
Suasana mobil seketika terasa jauh lebih sempit bagi Hella.
*Bukan tidak akan, tapi Belom Cel... Belom... Ntar juga Dave gigit Hella* 😌
*Johan, Marcel and Dave 😁
biar gak tua-tua amat...kurang seru soalnya kalau ketuaan pemain nya 👍😁