Diselingkuhi saat hamil besar, ia hampir kehilangan segalanya, termasuk anak yang belum sempat ia peluk.
Di titik terendah hidupnya, seorang pria asing menyelamatkannya.
Berbahaya. Dingin. Dan tidak pernah memberi tanpa imbalan.
Satu syarat.
Satu ikatan yang tak bisa ia tolak.
Demi bertahan… demi anaknya, ia menerima.
Lima tahun berlalu.
Hidup yang ia bangun perlahan terasa utuh, hingga masa lalu datang kembali, menuntut apa yang dulu ia abaikan.
Namun kali ini, ia bukan wanita yang sama.
Dan pria di sisinya…
bukan seseorang yang bisa disentuh tanpa konsekuensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Setelah meninggalkan rumah sakit, mobil Lucien melaju tenang di jalanan kota.
Di kursi belakang, Lucien duduk dengan ponsel di tangannya. Wajahnya dingin seperti biasa, tetapi pikirannya jelas belum tenang setelah kejadian di rumah sakit.
Di kursi pengemudi, Lucas fokus menyetir sambil sesekali melirik ke kaca spion.
“Lucas,” suara Lucien terdengar rendah.
“Ya, Bos,” jawab Lucas cepat.
“Kirim anak buah untuk mengawasi kawasan tempat tinggal Alyssa,” perintah Lucien dingin. “Kalau Darius dan Jean muncul di sana, usir saja. Tidak perlu hormat pada mereka.”
Lucas langsung mengangguk.
“Baik, Bos.”
Lucien menatap layar ponselnya sejenak sebelum melanjutkan, “Sediakan semua kebutuhan Alyssa dan bayi. Jangan sampai ada yang kurang.”
Tangannya mengetik sesuatu di ponsel. “Dan cari beberapa pembantu rumah tangga untuknya.” Nada suaranya tetap datar. “Pastikan Alyssa tidak melakukan pekerjaan rumah sendiri, termasuk mengurus bayi tanpa bantuan.”
Lucas sedikit terdiam mendengar itu.
Di dalam pikirannya muncul pertanyaan yang tidak ia ucapkan.
“Sebenarnya siapa ayah Tuan muda kecil itu…” tatapan Lucas sedikit menyipit, “kenapa Bos malah lebih peduli daripada ayah kandungnya sendiri?”
Namun Lucas segera menyingkirkan pikirannya itu.
“Siap, Bos,” jawabnya cepat. “Saya akan segera lakukan.”
***
Jean dan Darius kini sudah kembali ke rumah Darius setelah dari rumah sakit.
Suasana di dalam rumah terasa tegang sejak mereka masuk.
Jean langsung duduk di sofa ruang tamu dengan wajah kesal.
“Istrimu itu sekarang mulai suka melawan,” ucap Jean dengan nada tajam. “Kurang ajar sekali. Tanpa kamu, siapa yang mau menikahinya saat itu?” Ia mendecak pelan. “Hanya karyawan kecil sudah berani sombong. Menjadi istrimu seharusnya dia merasa bangga.”
Darius berdiri di dekat jendela sambil menghela napas.
“Ma, aku juga heran,” jawabnya pelan. “Kenapa dia tiba-tiba berubah… padahal sebelumnya dia sangat baik padaku dan Vanessa.” Tatapannya mengeras sedikit. “Hanya karena sudah melahirkan dan mendapat perlindungan Kakek serta Paman, dia jadi semakin berani melawanku.”
Jean menyipitkan mata.
“Kita cukup bersabar untuk sementara ini,” ucapnya dingin. “Setelah kita mendapatkan Kael… ceraikan dia dan usir dia dari sini.” Senyumnya terlihat licik. “Nanti kita katakan pada Kakekmu bahwa dia berselingkuh dengan pria lain dan menelantarkan anaknya. Dengan begitu tidak ada lagi alasan Lucien atau Kakekmu untuk membelanya.”
Darius mengangguk pelan.
“Tenang saja, Ma.” Tatapannya ikut berubah dingin. “Kael hanya bisa menjadi anakku dan Vanessa.” Ia mengepalkan tangan. “Alyssa hanya wanita untuk melahirkan anakku. Dia terlalu mencintaiku, aku yakin dua hari lagi dia akan kembali dan meminta maaf.” Senyum tipis muncul di bibirnya. “Pada saat itu… aku akan membuatnya berlutut dan melayaniku serta Vanessa. Lalu menjadikannya pembantu sebelum aku mengusirnya.”
Jean tersenyum puas.
“Bagus. Kael adalah darah dagingmu, pewaris keluarga Fan.” Matanya menyipit tajam. “Pamanmu itu terlalu membela orang luar. Masa depanmu ada di tangan Kael.”
Malam hari.
Alyssa yang baru saja melahirkan dan masih dalam kondisi lemah memaksakan diri berjalan pelan menuju ruang bayi di rumah sakit.
Ia berdiri di balik kaca, menatap Kael yang sedang tertidur pulas di dalam inkubator.
Wajahnya perlahan melembut.
“Kael…” gumamnya pelan.
Tangannya menyentuh kaca dengan lembut.
“Maafkan Mama… karena harus terpisah papamu.”
Air matanya jatuh perlahan.
“Mungkin Mama akan menikah dengan Lucien,” batin Alyssa lirih. “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya… baik atau buruk.”
Ia menunduk sedikit.
“Yang penting sekarang… Mama harus melindungimu.”
Tatapannya kembali pada Kael.
“Asalkan Mama bersama Lucien… dia berjanji akan melindungi kita dan membantuku mendapatkan hak asuhmu.”
Alyssa menggenggam tangannya erat di dada.
“Kalau Mama sendirian… keluarga Fan terlalu kuat.” “Aku tidak akan bisa melawan mereka.”
Ia menarik napas pelan.
“Hanya Lucien yang bisa membantuku.”
Tangannya perlahan mengepal di sisi tubuhnya.
“Darius, Vanessa… kalian bahagia di atas penderitaanku,” gumamnya pelan, suaranya bergetar menahan emosi.
“Darius…” Alyssa menutup mata sejenak. “Pria tidak bertanggung jawab. Saat aku dalam bahaya… kau dan ibumu tidak pernah peduli padaku.” Suaranya menjadi lebih dingin.
“Kau akan menyesal sebentar lagi.”
“Minuman dan makanan di rumah itu…” gumam Alyssa pelan, “…semuanya sudah aku campur obat itu. Semakin banyak kau makan… semakin cepat hasilnya terlihat.”
Alyssa tidak tersenyum. Tidak juga menangis.
Yang ada hanya ketenangan dingin setelah luka yang terlalu dalam.
***
Tempat tinggal Darius.
Malam itu Darius sedang berciuman dengan Vanesaa. Keduanya telah tanpa balutan apa pun.
Darius berbaring di kasur, sementara Vanessa duduk di atas tubuh pria itu.
"Aku sudah tidak tahan, cepat lakukan!" kata Darius yang merem*s dua gundukan wanita itu.
Vanessa melakukan aksinya di atas tubuh pria itu, mengoyangkan pinggulnya sambil mendesah. Darius memejamkan matanya dan menikmati kenikmatan yang diberikan oleh wanita itu.
Beberapa detik kemudian.
Setelah Darius mencapai puncak kenikmatan, ia langsung merasakan aneh pada bagian terpentingnya.
"Darius, ada apa denganmu? Aku belum selesai?" tanya Vanessa.
"Aku juga tidak tahu, ada salah apa denganku," jawab Darius yang mendorong Vanessa berbaring dan mencoba menembus goa milik wanita itu, namun ia gagal berkali-kali.
"Kenapa aku tidak bisa, adikku tiba-tiba lemah seperti ini, padahal aku masih belum puas?" tanya Darius dengan cemas.
Malam itu Darius berusaha memasukan senjatanya namun tetap gagal. Vanessa berusaha mengoda pria itu namun usahanya juga sia-sia.
"Kenapa tiba-tiba saja, biasanya kita melakukan tiga hingga lima ronde. Tapi sekarang belum lima menit kau sudah menjadi lemah?" tanya Vanessa.
ayooooo