"lumpur hitam akan selama nya hitam meski telah di rendam dengan emas dan berlian" celetuk nyonya Sin sinis saat melihat Orjioh keluar dari mobil mewah keluaran terbaru berwarna hitam, seketika senyumnya hilang dan moodnya pun berubah. ia tidak menyangka bahwa ternyata gadis yang ingin di kenalkan Jonathan kepadanya adalah Orjioh, teman sekolah Jonathan ketika mereka masih tinggal di kampung dulu, yang menurut nyonya Sin tidak selevel dengan keluarga nya yang seorang pengusaha dan juga memiliki sebuah restoran mewah yang dilengkapi dengan penginapan kelas atasnya sekaligus. "benar" sambung In su setuju dengan kakaknya padahal tadinya dia sempat sedikit senang karena ternyata keponakan dekat dengan orang berpengaruh, pikir in su saat mobil yang dikendarai oleh Orjioh berhenti dibelakang mobil Jonathan, ia bahkan sudah sempat berangan-angan untuk menjilat, namun semua itu sirna ketika ia melihat Orjioh keluar dari mobil itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lina Kotto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
cinta semusim 14
"malam ini bagaimana kalau kita habiskan dengan membuat bakar-bakaran? seperti barbeque, jagung bakar, kentang bakar dan ubi bakar pasti enak!" ide Sarah salah satu teman sekamar Or ji oh saat mereka akan berjalan ke kantin, bersama dengan empat orang lainnya termasuk Jonathan yang selalu ingin mengekor kemana pun Or ji oh pergi. "ide bagus! dan seperti nya itu enak" ujar Jonathan menanggapi dengan cepat "bagaimana?" dan meminta dukungan dari yang lain.
Sejak dulu ia menyukai Or ji oh, dan menurutnya ini ada kesempatan untuknya, untuk bisa lebih dekat lagi dengan Or ji oh.
"hmm, boleh juga." jawab pacar Sarah yang tak lain adalah teman Jonathan sendiri, karena mereka memang tidak punya acara lain malam ini, "kami sih setuju-setuju saja, tapi bagaimana dengan Or ji oh?" jawab yang lainnya sembari melihat kearah Or ji oh yang sejak tadi sedang sibuk berbicara ditelfon, tidak tahu sedang berbicara dengan siapa, dan semuanya melihat kearah Or ji oh, karena selama ini memang Or ji oh lah yang paling sulit diajak berkumpul.
"ada apa?" tanya Or ji oh bingung setelah menutup telponnya dan menyimpan handphonenya kedalam tasnya, lalu melihat jam tangannya yang masih menunjukkan pukul lima sore, begitu mendapati teman-temannya sedang melihat kearah nya.
"kami berencana untuk menghabiskan malam ini dengan membuat bakar-bakaran, seperti barbeque, jagung bakar, kentang bakar, ubi bakar dan lain-lain," jelas Sarah dengan bersemangat. "bagaimana? apa kamu ikut?" dan bertanya "hmm" semua menunggu jawaban Or ji oh, "kalian saja" ujarnya dengan ekspresi wajah menyesal, dan membuat semua kecewa. "ya! " ujar semuanya kompak, membuat Or ji oh tidak enak hati.
"lain kali, lain kali aku pasti akan ikut dengan kalian!" Ujar Or ji oh menghibur temannya, "hmm, baiklah" jawab mereka pada akhirnya, karena jika Or ji oh sudah bicara seperti itu maka bujukan seperti apa pun tidak akan ada gunanya, sementara Jonathan hanya diam, dia tidak lagi bersemangat setelah mengetahui bahwa Or ji oh tidak ikut.
Pukul tujuh malam disalah satu restoran mewah yang terletak ditepi pantai, restoran dengan gaya khas perdesaan yang tenang dan bersahaja, yang cukup jauh dari hiruk-pikuk kebisingan ibu kota, terlihat presdir Ma yang sedang kesal dan gelisah di tempat duduknya. Ia kesal karena menunggu seseorang yang sejak tadi belum juga datang, padahal ia sudah menunggu sejak setengah jam lalu.
"sebetulnya apa saja yang kamu kerjakan? kenapa begitu sulit sekali untuk bertemu dengan mu? atau jangan-jangan aku harus membuat janji terlebih dahulu agar dapat bertemu dengan mu?!" gerutu presdir Ma terlihat begitu kesal pada gadis yang mengenakan dress biru muda dihadapan nya, yang baru saja datang, bahkan bertemu dengan rekan bisnisnya tidak sesulit ini.
Sementara gadis itu tersenyum, "bukankah ayah sendiri yang salah." katanya sambil duduk, "saat ditelpon tadi bukankah aku sudah bilang tidak bisa keluar, tapi ayah tetap memaksa untuk menunggu disini." kilahnya tidak mau disalahkan, ia berbicara sambil melihat daftar menu yang ada diatas meja.
"hah, jadi aku yang salah?" presdir Ma tak percaya dengan pendengaran nya, bisa-bisanya dia yang salah. "hmm, ayah yang salah." Jawab gadis itu sambil mengangguk membenarkan, "baiklah, aku yang salah." kata presdir Ma pada akhirnya mengalah, di iringi dengan senyum, ia sangat tahu bahwa ia tidak akan menang melawan putri semata wayangnya itu.
"sekarang katakan pada ayah kenapa tidak bisa keluar?" ia ingin tahu apa alasan putrinya itu, "hmm, sebetulnya tidak ada alasan khusus, hanya sedang sibuk berkemas-kemas untuk kepulangan besok." jelas Or ji oh sembari menunjuk pesanan yang ingin ia pesan kepada pelayanan disebelah nya, yang sejak tadi menunggu nya memilih.
"semua sudah siap?" tanya presdir Ma sambil mencicipi makanan dihadapannya yang sudah lebih dulu ia pesan, sebelum Or ji oh datang. "hmm" jawab Or ji oh dengan mengangguk, ia tahu kemana arah pertanyaan ayahnya, dan melihat kearah pelayan yang datang membawa pesanannya. "terimakasih" katanya sambil tersenyum, saat pelayanan wanita yang membawa pesanannya meletakan pesanannya diatas meja, dan dijawab dengan anggukan oleh pelayan tersebut.
"bagaimana dengan program doctor?" lanjut presdir Ma menyelidiki setelah pelayan pergi, ia tahu tidak mungkin putrinya akan membuang kesempatan itu. "sedang dalam proses." ujar Or ji oh yang kini mulai mencicipi pesanannya, karena dia memang baru mengajukan dirinya. "berapa lama?" tanya presdir Ma dengan menatap putrinya. "hmm, belum pasti, lagi pula tidak ada salahnya untuk istirahat sebentar." ujar Or ji oh sembari menggigit ujung sendoknya, kebiasaan yang ia lakukan setiap kali bingung dengan pesanannya sendiri, antara yang mana yang harus lebih dulu ia cicipi.
"yang ini saja, lebih enak!" ujar presdir Ma memberi masukan yang mana yang harus lebih dulu di cicipi oleh putrinya sembari menunjuk kesalahan satu pesanan Or ji oh, karena dia sudah lebih dulu mencicipi nya sebelum Or ji oh. "hmm, seharusnya ayah mencicipi pesanan ayah sendiri." gerutu Or ji oh manja, padahal sebenarnya ia sama sekali tidak keberatan ayahnya mencicipi makanannya, sementara ayahnya hanya tersenyum. "apakah enak?" tanyanya kemudian, terlihat penasaran.
"hmm, enak!" jawab presdir Ma disertai dengan anggukan, ia sama sekali tidak masalah dengan gerutuan manja dari Or ji oh tadi, karena dia sangat mengenal putrinya itu. Mendengar itu Or ji oh pun langsung mencicipi makanannya, "hmm" reaksi Or ji oh setelah mencicipi makanannya, ia terlihat sungguh tidak kecewa dengan pilihannya. "benar-benar enak" ujarnya kemudian sembari menganggukkan kepala, mengakui penilaian indra pengecap ayahnya, sontak membuat presdir Ma tersenyum.
"mengenai tentang istirahat sebentar tadi," mulai presdir Ma melanjutkan topik yang tadi sempat terhenti. "bagaimana kalau istirahat dirumah saja?" kata presdir Ma yang memang ingin Or ji oh pulang kerumah nya, yaitu rumah kediaman keluarga Ma.
Mendengar itu seketika Or ji oh berhenti mencicipi makanannya, "kenapa? apakah ayah takut keluarga oh memperlakukan ku dengan tidak baik?" tanya Or ji oh dengan to the point, sembari meletakkan sendok ditangan.
"jelas saja! kau adalah putriku satu-satunya, bagaimana mungkin aku tidak takut?" tutur presdir Ma jujur, sejak ia tahu Or ji oh menikah dengan Oh pil sun sejak hari itu juga dia tidak bisa tenang. "dan lagi! Dia bukan Min jung yang bisa kamu atur atau pun kendalikan." ujar presdir Ma mengingatkan dengan membawa-bawa nama mantan suami pura-pura Or ji Oh, yang jelas tidak sebanding dengan mereka, dari kedudukannya saja sudah senjang, Min jung hanya seorang menejer biasa, ia tidak punya sedikit pun saham atau pun pendukung dibelakang, jadi wajar saja jika Or ji oh bisa memanfaatkannya dan meninggalkan.
"Dia Oh pil sun! cucu satu-satunya pemilik Oh&Group. Ayah sungguh takut!" lanjutnya jujur, benar-benar mencemaskan putrinya, mengingat hubungannya dengan keluarga oh yang tidak baik. "bagaimana kalau kamu menceraikannya saja?" katanya kemudian begitu kata perceraian terlintas dibenak nya.