Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.
Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Jet Pribadi dan Lamaran Jalur Bocil
Aiswa merasa seperti sedang berada di dalam mimpi yang sangat mahal. Seumur hidupnya, ia hanya melihat jet pribadi di drama Korea atau di akun Instagram para sultan. Sekarang, ia justru berbaring di salah satu kursi kulit yang sangat empuk, dengan kabin yang beraroma kayu cendana dan kemewahan yang sulit dijelaskan.
Tubuhnya masih sangat lemas, efek obat alergi membuatnya terus-menerus mengantuk. Ia ingin memprotes Devan yang terus-terusan menatapnya, tapi lidahnya terasa kelu.
"Istirahatlah, jangan banyak pikiran," suara bariton Devan terdengar sangat dekat.
Tiba-tiba, Aiswa merasakan sebuah tangan besar yang hangat menarik kepalanya perlahan, lalu menyandarkannya di bahu kokoh milik pria itu. Jantung Aiswa sempat berdesir, namun tenaganya benar-benar nol untuk berontak.
Ya Tuhan... kalau teman-temanku di grup Sembilan Nyawa tahu aku bersandar di bahu CEO kaya raya begini, pasti mereka langsung tumpengan tujuh hari tujuh malam, batin Aiswa sebelum akhirnya terlelap karena lelah.
Beberapa jam kemudian, sebuah mobil mewah berwarna hitam legam berhenti tepat di depan pagar rumah minimalis milik orang tua Aiswa di Jakarta. Mama dan Papa Aiswa yang sedang menyiram tanaman langsung mematung.
Pintu mobil terbuka, dan mata mereka hampir melompat saat melihat Aiswa turun dengan wajah pucat, dipapah oleh seorang pria jangkung yang ketampanannya di atas rata-rata manusia biasa.
"Aiswa! Kamu kenapa, Nak?" Mama Aiswa berlari menghampiri dengan wajah panik.
"Sini, biar saya gendong saja sampai ke dalam," ucap Devan tanpa permisi.
Tangannya sudah siap menyusup di bawah lutut Aiswa.
"Jangan! Berhenti!" ancam Aiswa dengan suara serak namun penuh penekanan.
"Bapak sekali lagi bertindak macam-macam, saya tendang Bapak sekarang juga!"
Devan mendengus tipis, lalu akhirnya hanya membantu Aiswa berjalan dengan merangkul pinggangnya posesif. Mama dan Papa Aiswa saling lirik, otak mereka penuh dengan tanda tanya besar.
Siapa pria ini? Dan kenapa dia memperlakukan anak mereka seperti porselen mahal yang mudah pecah?
Setelah Aiswa duduk di sofa ruang tamu, Devan berdiri tegak dengan aura kepemimpinan yang sangat kental.
"Mohon maaf sebelumnya, Bapak, Ibu. Nama saya Devan Argian, investor utama seminar yang diikuti Aiswa di Bali. Terjadi kelalaian di pihak hotel yang mengakibatkan alergi Aiswa kambuh. Sebagai bentuk tanggung jawab, saya mengantarnya pulang secara pribadi," ucap Devan dengan wajah datar namun sopan.
Aiswa memutar bola matanya.
Tanggung jawab atau emang Bapaknya aja yang mau? batinnya kesal.
"Tante Guru sudah minum obat kok, Oma. Jadi akan baik-baik saja," celetuk Zianna yang tiba-tiba muncul dari balik tubuh Devan.
"Oma? Tante Guru?" Mama Aiswa semakin bingung.
"Iya Oma, Zianna panggil Oma boleh kan? Karena Oma kan Ibunya Tante Guru!"
Zianna tersenyum sangat manis, membuat hati Mama Aiswa yang sedang panik seketika mencair.
"Boleh, Sayang... boleh," sahut Mama Aiswa.
Ia kemudian menatap Devan dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih banyak, Pak Devan. Alergi Aiswa ini memang taruhannya nyawa kalau terlambat ditangani. Terima kasih sudah menyelamatkan putri kami."
Mama Aiswa bahkan sempat terisak kecil karena membayangkan hal buruk yang bisa saja menimpa putri sulungnya itu. Papa Aiswa pun menyalami Devan dengan penuh rasa hormat.
Suasana sempat menjadi hangat dan mengharukan selama beberapa menit. Aiswa mulai merasa tenang, berpikir bahwa drama ini akan segera berakhir setelah Devan pamit pulang. Namun, ia lupa satu hal, Zianna tidak punya filter.
Zianna yang sedang duduk di sebelah Mama Aiswa tiba-tiba menarik ujung baju wanita itu.
"Oma... kalau Tante Guru jadi Mamanya Zianna, boleh tidak?"
Hening.
Suasana hangat itu seketika membeku. Mata Mama dan Papa Aiswa membulat sempurna. Aiswa yang sedang minum air putih langsung tersedak hebat hingga airnya keluar dari hidung. Sementara Devan? Pria itu justru menyilangkan kaki dengan santai, bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan yang sangat tipis.
Aiswa menatap Zianna dengan ngeri.
Nih bocah beneran mau ngelamar gue buat bapaknya ke orang tua gue langsung?! Warisan sifat nggak punya malu dari Bapaknya bener-bener murni 100 persen! jerit batin Aiswa frustrasi.
"Zianna sayang, itu... itu..."
Mama Aiswa terbata-bata, bingung harus menjawab apa sambil melirik Devan yang wajahnya tampak sangat setuju dengan usulan anaknya sendiri.
Aiswa hanya bisa menutup wajah dengan bantal sofa. Ia sadar, pelariannya dari Bali hanyalah awal dari drama yang jauh lebih besar di Jakarta.
***
Hai teman-teman maaf ya kalau up nya ga rutin. Soalnya aku lagi Skripsian
Doain ya semoga bulan depan aku bisa ikut sidang dan wisuda di bulan Juni🙏🤲
Supaya bisa fokus nulis kedepannya
Salam hangat dari Author
Jangan lupa like koment and vote ya teman-teman🥰