NovelToon NovelToon
Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Romantis / Cintamanis
Popularitas:623
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)

•••

Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.

Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.

Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Yang jauh tapi tetap dekat

Ruangan itu perlahan kembali tenang setelah percakapan mereka mereda. Tidak ada lagi celetukan ringan seperti beberapa menit yang lalu.

Anindia dan Raisa merapikan buah yang tadi mereka bawa, meletakkannya di atas meja. Yudhi bersandar lebih nyaman, matanya sedikit terpejam. Sementara Edo, masih duduk di tempatnya.

Keanu sendiri berdiri tidak jauh dari jendela. Pandangannya terarah keluar, namun pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana.

Ada satu hal yang terasa kurang sejak tadi, pertemuan itu terasa lengkap tapi tidak benar-benar utuh. Seperti ada sesuatu yang hilang.

Keanu menghembuskan nafas pelan, ingatannya kembali ke masa-masa sekolah. Dan dari semua itu, pikirannya tertuju pada Niko.

Sudah lama mereka tidak bertemu, bahkan untuk sekedar komunikasi pun sudah terbatas. Kesibukan, jarak, dan kehidupan masing-masing perlahan mengambil tempat itu.

Keanu mengambil ponselnya, ia menatap benda pipih itu, seolah masih berpikir. Tanpa benar-benar melihat siapapun, ia akhirnya bersuara.

"Kurang satu orang," ujar Keanu pada akhirnya.

Edo yang sejak tadi diam, sedikit mengangkat pandangannya. Yudhi juga menoleh, alisnya terangkat samar, seolah mengerti tanpa perlu penjelasan panjang. Raisa menghela nafas pelan, sudut bibirnya terangkat tipis.

Sementara Anindia, langsung berjalan menghampiri, menepuk pundak suaminya pelan. "Niko ya, Mas?"

Keanu melirik Anindia, lalu mengangguk singkat. "Iya, Niko. Udah lama gak ada kabar."

"Tuh orang sibuk banget sekarang," ujar Yudhi sembari mendengus kecil dari atas ranjang. "Sok-sokan anak Bandung."

Edo menggeleng singkat, tidak habis pikir dengan temannya itu. "Dia nuntut ilmu."

"Bener tuh, Yudhi." Ujar Raisa menimpali. "Dia juga lagi banyak tugas akhir-akhir ini."

Keanu langsung menoleh ke arah Yudhi, dengan seutas senyum miring, tanda ia puas dengan jawaban Raisa. "Udah di klarifikasi sama ceweknya, masih aja nge-bacot lo."

Anindia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat interaksi suami dan teman-temannya. Semua terasa sama seperti dulu, tidak ada yang berubah. Raisa sendiri terlihat terkejut dengan penuturan Keanu, namun ia justru menyunggingkan seutas senyum.

Yudhi mengernyit, lalu menghela nafas kasar. "Ya, siapa suruh LDR," ujarnya meski nadanya tidak sekuat tadi.

Edo mengangkat sedikit kepalanya. Tatapannya datar, tapi ucapan langsung kena. "Yang jomblo gak usah banyak bacot."

Seketika ruangan itu hening sepersekian detik. Yudhi yang tadinya mau membalas, langsung terdiam. Mulutnya terbuka sedikit, tapi tidak ada kata yang keluar. Ia hanya mendengus pelan, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.

Raisa langsung menahan tawa, sementara Anindia menunduk sedikit, bahunya bergetar pelan. Bahkan, Keanu pun hanya menggeleng tipis, sudut bibirnya terangkat samar. Satu kalimat singkat, tapi cukup untuk membungkam Yudhi tanpa sisa.

"Udah-udah," ujar Keanu di sela-sela keheningan. "Gue hubungi Niko dulu."

Keanu membuka ponselnya, jarinya dengan cepat mencari nama sahabatnya itu.

Tidak ada lagi obrolan santai, digantikan dengan rasa penasaran yang ikut muncul. Seolah, mereka semua menunggu satu sosok yang sejak tadi disebut.

Keanu menekan tombol panggilan. Pada dering ketiga, sambungan telepon tersambung. Layarnya menampilkan wajah yang sudah lama tidak mereka lihat secara langsung. Niko muncul di sana, dengan rambut yang sedikit lebih gondrong dari biasanya.

Keanu langsung menyeringai tipis begitu wajah itu muncul jelas di layar. "Wah, udah gondrong," ujarnya santai. "Masih hidup, lo?"

Niko langsung menyipitkan matanya, ekspresinya berubah seketika. Ia mendekatkan wajahnya ke kamera, jelas tidak terima dengan sapaan itu.

"Ya masih lah, bego!" Balas Niko ketus. "Baru juga muncul, bukannya nanya kabar malah nyinyir."

"Lo yang kemana aja?" Lanjut Niko, nadanya tegas hampir seperti menegur.

Keanu tertawa kecil mendengar respon itu, bahunya sedikit terangkat. "Gue sibuk," ujarnya santai.

"Yaelah, sibuk apaan lo?" Sahut Niko dari seberang layar.

"Sibuk membina rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah," lanjut Keanu. Nada suaranya santai, tapi jelas ada unsur pamer tipis-tipis di dalamnya.

"Ck," decak kesal Niko. "Iya deh, yang udah jadi ortu."

Keanu tidak menanggapi, ia langsung mengarahkan kameranya ke arah Anindia. Anindia sedikit terkejut, tapi langsung tersenyum hangat. Tangannya terangkat, melambai singkat ke arah kamera.

"Hai, Niko. Apa kabar?" Tanya Anindia.

Niko mendengus pelan, masih sedikit kesal dengan Keanu. "Bilangin sama laki lo," ujarnya. "Kalau nanya kabar yang bener."

Niko menggeleng singkat, lalu menatap ke arah Anindia dengan ekspresi yang lebih santai. "Btw, gue baik. Kalian apa kabar?"

Anindia tersenyum tipis, lalu mengangguk kecil. "Alhamdulillah, baik juga, Nik. Tapi, Yudhi..."

Ucapan itu menggantung, dan Niko langsung menangkap nada yang berbeda. "Yudhi, kenapa?"

Keanu menggeser ponselnya, mengarahkannya ke arah tiga temannya secara bergantian. "Liat sendiri," ujarnya singkat.

Niko menatap layar tanpa berkedip, rahangnya sedikit mengeras melihat kondisi temannya itu.

Raisa yang berdiri di samping ranjang, ikut mendekat sedikit ke arah kamera. "Yudhi kecelakaan, Nik." Ujarnya pelan.

Ruangan kembali hening, seolah memberi ruang bagi Niko untuk mencerna apa yang baru saja ia lihat dan dengar.

"Dia nyalip kendaraan, hilang kendali. Nabrak dari arah depan," ujar Edo di sela-sela keheningan, seolah memahami pertanyaan tak terucap dari Niko.

Niko menatap tajam ke arah layar, ekspresinya berubah menjadi kesal. "Ugal-ugalan terus," ujarnya dengan nada sinis. Lalu, ia menghela nafas kasar. "Otak dipake, bukan buat gaya doang."

Yudhi langsung melontarkan tatapan tajam ke arah Niko, merasa tidak terima dengan penuturan temannya itu.

"Ya, gue mau kerja, woi!" Jawab Yudhi ketus. "Telat, ngerti gak lo?"

"Gak semua orang bisa santai kayak lo di sana," lanjut Yudhi, masih dengan nada nyolot, meskipun kondisinya jauh dari kata baik-baik saja.

Anindia yang sejak tadi memperhatikan, menarik nafas pelan. Ia melangkah sedikit lebih dekat ke arah ponsel, tatapannya bergantian antara Yudhi dan Niko.

"Udah-udah," ujar Anindia lembut. "Kalian ini, malah debat."

Anindia kemudian menatap Yudhi sebentar, lalu kembali ke arah layar. "Yang penting sekarang Yudhi selamat. Itu dulu," ujarnya.

Niko terlihat menghela nafas, ekspresinya tidak lagi se-tegang tadi. Lalu, ia menganggukkan kepalanya. "Iya, gue tau." Ujarnya singkat. "Btw, moga lekas sembuh, Dhi."

Ucapan itu terdengar sederhana, tapi justru disitulah letak maknanya. Ada ketulusan yang tersisa di jarak yang memisahkan mereka. Di dalam ruangan itu, suasana kembali berubah, kali ini lebih hangat dan tenang.

Jarak yang membentang antara kota, tidak lagi terasa begitu jauh. Karena pada akhirnya, yang menghubungkan mereka bukan hanya sekedar pertemuan, tapi rasa yang tetap sama meski waktu dan keadaan yang berbeda.

"Anak lo mana, bro?" Tanya Niko, membahas hal lain pada Keanu.

Keanu menarik ponselnya dari arah teman-temannya, lalu menatap layar. "Ada di rumah, sama Oma-nya." Ujarnya. "Lagipula masih satu tahun, kasihan kalau dibawa ke rumah sakit."

Niko mengangguk pelan, seolah memahami.

"Iya, Nik. Lagipula di rumah juga lebih aman," ujar Anindia menimpali.

Niko yang tadinya tampak serius, perlahan mengendurkan ekspresinya. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum tipis. Tatapannya bergeser sebentar, seolah mengingat sesuatu di luar percakapan ini.

Niko melihat sendiri bagaimana Keanu yang dulu keras kepala soal perasaan, perlahan berubah tanpa banyak kata. Sekarang, ia melihat Keanu berdiri di titik ini, dengan keluarga kecilnya. Ada rasa lega yang tidak ia ucapkan secara langsung.

"Ohh, iyalah," ujar Niko singkat.

Obrolan terus berlanjut, tidak hanya antara Niko dan Keanu, maupun Anindia. Tapi, mereka semua.

Percakapan itu terus mengalir, ringan, tapi hangat. Dibalik kesibukan, jarak, dan waktu, persahabatan mereka masih tetap sama, hanya saja caranya yang berbeda.

Niko terlihat melirik jam tangannya, lalu kembali menatap layar dengan ekspresinya yang khas. Tangannya terangkat sedikit, seolah memberi tanda perpisahan.

"Gue nugas dulu, ya. Baik-baik kalian." Ujar Niko, lalu pandangannya berhenti sedikit lebih lama pad Yudhi. "Dan lo, Yudhi... Semoga cepat sembuh."

Yudhi yang mendengar itu hanya mendengus kecil, tapi kali ini tanpa balasan nyolot seperti sebelumnya.

"Iya, sok bijak lo," gumam Yudhi pelan, tidak terlalu serius. "Btw, thanks."

"Iya, baik-baik juga lo bro." Ujar Keanu menimpali. "Jangan aneh-aneh, pacar lo disini nunggu." Lanjutnya dengan kekehan kecil, diiringi dengan gelengan kepala.

Niko yang hendak menutup panggilan, langsung berhenti sejenak ketika mendengar kalimat terakhir Keanu. Alisnya sedikit terangkat, dengan ekspresi yang berubah menjadi setengah kesal, setengah malas.

"Wah, mulut lo gak bisa dijaga, ya," ujar Niko dengan seutas senyum tipis, tidak bisa benar-benar marah dengan Keanu. "Gue lagu nugas, malah diselipin beginian."

Keanu hanya tertawa kecil, jelas puas dengan reaksi sahabatnya. Sementara Anindia hanya menggeleng dengan seutas senyum, ia tahu pasti kebiasaan suami dan temannya itu ketika sudah bersama.

"Udah sana," lanjut Niko sambil menghela nafas. "Jaga tuh anak lo baik-baik. Jangan sampe kayak lo dulu lagi."

Kalimat terakhirnya jelas menyindir, tapi tidak keras. Lebih seperti kebiasaan lama yang tidak pernah padam. Niko mengangkat kembali tangannya ke kamera, kali ini lebih santai.

"Gue off dulu, Assalamualaikum," ujar Niko.

Tanpa menunggu balasan, Niko langsung mematikan panggilan. Keanu memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya.

Anindia merapikan sedikit roknya, lalu tangannya meraih tas yang ia letakkan di kursi. Matanya sempat melirik ke arah Yudhi, memastikan keadaan temannya itu masih stabil, sebelum akhirnya beralih ke Keanu.

"Mas," panggil Anindia pelan, membuat Keanu langsung menoleh ke arahnya. "Kita juga pulang yuk, kasihan Shaka." Lanjutnya dengan nada yang lebih lembut, sebelum Keanu sempat berkata-kata.

Keanu mengangguk pelan, lalu mengusap pelan pucuk kepala Anindia tanpa sadar. "Iya... Ayo kita pulang."

Anindia tersenyum, lalu melangkah sedikit ke depan. Secara bergantian ia menatap ketiga temannya. "Kami juga pamit, ya. Kasihan Shaka nunggu di rumah." Pamitnya.

"Iya-iya, pulang sana. Biar gue istirahat tanpa kalian ganggu," celetuk Yudhi.

Edo hanya mengangguk singkat, "Hati-hati."

Raisa tersenyum hangat. "Iya, hati-hati di jalan ya Mamah dan Papah muda," guraunya.

Anindia menahan senyum, meski wajahnya jelas menunjukkan rona merah. "Iya, Sa."

Keanu melangkah sedikit lebih dekat ke arah ranjang, menepuk pundak Yudhi sejenak. "Cepet sembuh, bro. Jangan lebay."

Yudhi berdecak pelan, "Lo juga jangan sok bijak mulu." Lalu, ia membalas menepuk pundak Keanu singkat. "Btw, thanks udah jenguk gue."

Keanu hanya mengangguk kecil, lalu berbalik pergi. Ia meraih tangan Anindia, menggenggamnya lembut. Mereka berjalan berdampingan keluar dari ruangan itu.

Di lorong rumah sakit, langkah kaki Anindia dan Keanu terdengar bersahutan. Langkah mereka pelan, tapi pasti.

Lorong rumah sakit panjang dan sunyi, hanya sesekali terdengar suara langkah kaki atau roda pasien yang lewat. Mereka terus melanjutkan langkah, menuju tempat parkir.

Dibalik persahabatan, kenangan dan rasa itu tetap sama. Mereka mungkin tidak sering bertemu, namun terasa seperti benang yang kuat, saling menguntungkan.

Anindia dan Keanu mungkin berperan sebagai sahabat bagi teman-temannya. Tapi, bagaimanapun tujuan utama mereka adalah rumah. Terlebih, kini sudah ada seorang anak yang selalu menunggu kedatangan mereka.

^^^Bersambung...^^^

1
Fadillah Ahmad
Kok, sepi sih, yang baca? Padahal Tulisan di Sinopsis-nya bagus loh? Rapi lagi. Kok sepi banget, ya?

Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih udah mampir, kak... Selamat membaca ya, semoga terhibur hehe😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!