NovelToon NovelToon
Di Antara Dua Dunia, Dia Menemukan Tempatnya

Di Antara Dua Dunia, Dia Menemukan Tempatnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:245
Nilai: 5
Nama Author: M.Liss

Di alam para Dewa, aturan sudah tertulis sejak zaman dahulu kala: Laki-laki adalah Dewa, Wanita adalah Malaikat. Namun, Lisa adalah pengecualian. Dalam darahnya mengalir kekuatan agung sang Raja Dewa, dan tanda suci terukir di tubuhnya membuktikan dia layak menyandang gelar "Dewa", bukan sekadar "Malaikat".

Sayangnya, dunia tak siap menerima itu. Lisa tumbuh dengan anggun, lemah lembut, namun kesepian. Ayahnya, sang Penguasa Langit, bersikap dingin dan menghilang sejak ia berusia 5 tahun. Lisa mengira dirinya dibenci dan ditolak.

Namun, kenyataannya berbeda. Sang Ayah bukan tak punya hati, ia justru menyembunyikan Lisa demi melindunginya dari kecemburuan dan bahaya maut dari Dewa-Dewa lain. Ketika Lisa dewasa dan menuntut haknya, ia harus menempuh jalan berdarah, menguasai sihir terkuat, dan memimpin perubahan sejarah. Di tengah pertarungan memperebutkan takdir, ia juga akan menemukan cinta, memecahkan kesalahpahaman besar, dan akhirnya mengerti arti pengorbanan sang Ayah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Liss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB.2 UJIAN TAKDIR

🌌 DI DALAM DUNIA UJIAN TAKDIR

Lisa tersadar di sebuah ruang kosong yang tak berujung. Tidak ada langit, tidak ada tanah, hanya kekosongan abadi.

Tiba-tiba, ribuan ilusi bermunculan di sekelilingnya. Ia diuji berkali-kali.

- Ujian Batin: Ia melihat bayangan dirinya yang lemah dan menangis.

- Ujian Kebijaksanaan: Ia dihadapkan pada pilihan sulit antara menyelamatkan satu orang atau banyak orang.

- Ujian Emosi: Ia kembali merasakan sakit hati ditinggal ayahnya, rasa marah, rasa iri, dan rasa sepi yang mendalam.

Lisa melewati semuanya bukan dengan kelembutan, tapi dengan ketegasan dan hati yang membatu. Ia menolak untuk hancur, ia menolak untuk menyerah.

Hingga akhirnya, di titik terdalam ujian itu, muncul sebuah bola cahaya emas yang berkilauan begitu terang. Itu adalah perwujudan dari Hukum Langit dan Takdir Semesta.

Bola itu berputar di hadapan Lisa, lalu sebuah suara agung namun dingin bergema.

“KAU BUKAN DEWA YANG AGUNG, DAN BUKAN DEWA YANG BIJAKSANA.”

Suara itu mengguncang jiwa.

“KAU ADALAH SESUATU YANG SEHARUSNYA TIDAK ADA DI DUNIA INI. KAU… SEHARUSNYA TIDAK PERNAH DICIPTAKAN!”

Plak!

Seperti ditampar oleh kenyataan pahit. Namun, hati Lisa sudah terlalu perih. Kata-kata itu tidak lagi melukainya, melainkan memicu bara api kemarahan yang sudah lama tertahan. Wajahnya berubah gelap, matanya bersinar liar.

“Oh… begitu?” gumamnya pelan, namun penuh ancaman.

Tanpa pikir panjang, Lisa mengangkat tangannya kanannya. Kekuatan dahsyat, campuran antara aura gelap dan cahaya surgawi, meledak keluar dari telapak tangannya.

“HANCUR!!!”

DORRR!!!

Dengan satu kepalan tangan yang luar biasa kuat, Lisa menghantam bola cahaya itu tepat di tengah-tengah!

KRAKK! TING!

Bola emas itu retak seketika. Ia tak bisa berkutik sedikitpun di hadapan amukan Lisa. Dalam sekejap mata, benda suci yang mewakili takdir itu hancur berkeping-keping menjadi debu cahaya!

Saat bola itu hancur, suara bergema kembali, namun kali ini penuh dengan keterkejutan dan ketakutan.

“TIDAK MUNGKIN!!! KAU MENGHANCURKAN TAKDIR?!”

Lisa berdiri tegak di tengah kepingan cahaya yang berterbangan, napasnya memburu, matanya menyala merah.

“AKU TIDAK PEDULI APA KATA KALIAN!!!” teriaknya memecah kehampaan. “SEKALIPUN KALIAN MENGATAKAN AKU SALAH, AKU TETAP AKAN MENGHANCURKAN SELURUH HUKUM LANGIT YANG TIDAK ADIL INI!!!”

Ia melepaskan seluruh kekuatannya tanpa filter. Booom! Ruang ilusi itu mulai retak, dinding dimensinya pecah seperti kaca yang dihantam palu raksasa. Kekuatannya terlalu besar, terlalu liar untuk ditampung oleh sebuah ujian.

Akhirnya, suara itu berbicara untuk terakhir kalinya, dengan nada yang penuh kesadaran akan bahaya yang baru saja lahir.

“KAU… KAU ADALAH DEWA PENENTANG… DEWA PENGHANCUR HUKUM LANGIT SEMESTA… KAU SESUATU YANG SEHARUSNYA TIDAK ADA DI DUNIA INI…”

Suara itu lenyap. Dunia ilusi itu hancur total, meledak dan tersedot masuk ke dalam kehampaan.

Lisa berdiri sendirian di tengah ledakan auranya sendiri. Ia telah lulus. Tapi bukan sebagai Dewa yang diharapkan, melainkan sebagai Dewa yang membawa perubahan besar—atau kehancuran.

BZZZT! CRACK!

Retakan itu bergetar hebat, seolah tidak kuat menahan kekuatan yang keluar darinya. Tiba-tiba sosok Lisa melangkah keluar dengan langkah tegap. Aura di sekelilingnya berbeda. Matanya tajam, dingin, dan penuh misteri.

Namun… sesuatu yang aneh terjadi.

Biasanya, setiap Dewa yang keluar dari ujian akan disambut oleh cahaya suci, simbol elemen, atau tulisan langit yang menyatakan gelar dan kedudukan mereka. Seperti Dewa Matahari, Dewa Bulan atau Dewa Kehidupan

Tapi pada Lisa… TIADA.

Hening. Sunyi senyap. Tidak ada simbol, tidak ada cahaya, tidak ada gelar yang terpampang di langit.

“A-apa yang terjadi?” bisik salah satu Dewa dengan panik.

“Tidak ada tanda-tanda sama sekali?! Bagaimana mungkin?”

“Selama 10.000 abad, tidak pernah ada yang menghancurkan dunia ilusi itu… dan tidak pernah ada yang keluar tanpa identitas!”

Para Dewa mulai gaduh dan bingung. Mereka ingin tahu, mereka ingin meneliti, mereka ingin mencari tahu apa jenis kekuatan mengerikan yang dimiliki gadis ini. “Dia Dewa apa? Dewa Kiamat? Dewa Kehancuran?” pikir mereka serentak.

Mereka mulai mendekat, mata mereka penuh rasa ingin tahu yang berbahaya.

 Di singgasana, sang Ayah melihat segalanya dengan jelas. Jantungnya berdegup kencang.

“Tidak boleh… Mereka tidak boleh tahu. Jika mereka tahu Lisa adalah ‘Dewa yang Seharusnya Tidak Ada’, mereka akan menganggapnya penyimpangan dan akan berusaha memusnahkannya demi menjaga keseimbangan. Atau lebih buruk lagi, mereka akan memanfaatkannya.”

Tanpa pikir panjang, sang Raja langsung bertindak. Ia menghentakkan tongkat kekuasaannya ke lantai.

DUG!!!

Suara itu begitu keras hingga membuat semua orang terhenti dan diam seketika.

“CUKUP BICARA!!!” seru sang Ayah dengan suara yang menggelegar, wajahnya dibuat seserius dan se-dingin mungkin.

Ia menatap lurus ke arah Lisa.

“Lisa. Kau sudah melewati ujian. Hasilnya sudah jelas. Sekarang… kau sudah siap untuk dikirim ke Dunia Manusia. Segera.”

Lisa terbelalak kaget. Matanya membelalak, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Apa?! SEKARANG?!” suaranya pecah. “Belum semenit pun aku keluar! Aku bahkan belum sempat bicara dengan Ibu! Belum sempat aku menarik napas saja! Kenapa begitu terburu-buru?! Kau benar-benar ingin membuangku secepat ini?!”

Hati Lisa hancur lagi. Ia mengira ayahnya memang sangat membencinya hingga tak mau melihat wajahnya sedetik pun lebih lama.

Tapi ia tidak tahu… sang Ayah melakukan itu justru karena ia terlalu sayang. Ia ingin menjauhkan Lisa dari tatapan-tatapan tajam para Dewa yang sedang penasaran dan berbahaya itu. Semakin cepat Lisa pergi, semakin kecil peluang mereka untuk mencari celah mencelakai atau meneliti putrinya.

“Tidak ada waktu untuk basa-basi,” potong sang Ayah tegas, menyembunyikan rasa sakitnya di balik topeng dingin. “Peraturan adalah peraturan. Karena kau tidak memiliki gelar yang jelas, kau harus segera berangkat. Segala sesuatu yang kau butuhkan akan ada di sana.”

Sang Ayah langsung mengangkat tangannya lagi, tanpa memberi kesempatan siapapun untuk bertanya atau meneliti lebih jauh. Sebuah portal baru terbuka, kali ini berwarna kelabu, menuju dunia fana.

“Pergilah, Lisa. Buktikan dirimu.”

 Lisa berdiri terpaku. Air mata yang tadi sempat kering, kini jatuh lagi. Marah, kecewa, dan bingung bercampur menjadi satu. Ia menatap singgasana itu dengan penuh kebencian saat ini.

“Baiklah… Raja Dewa,” ucapnya parau. “Kau menang. Aku pergi. Tapi ingat, hari ini kau benar-benar telah kehilangan seorang putri...”

Tanpa menoleh ke belakang lagi, Lisa melangkah masuk ke dalam portal dan menghilang selamanya dari pandangan mereka…

Setelah portal menelan sosok Lisa dan menutup selamanya, keheningan yang mencekam menyelimuti Aula Agung.

Florin berdiri terpaku di sudut ruangan. Air mata tak henti mengalir membasahi pipi indahnya. Dadanya sesak, seolah ada yang merobek jantungnya. Ia menatap suaminya, sang Raja Dewa yang duduk gagah di singgasana, namun di mata Florin, ia hanya melihat pria yang kejam.

Dengan suara bergetar dan penuh kepiluan, ia berbicara.

“Kau… kau adalah Raja Dewa yang Agung dan Bijaksana. Kau adalah sosok yang paling berwibawa di seluruh alam semesta…”

Florin melangkah maju, setiap langkahnya terasa berat.

“Kau adalah suamiku… dan kau adalah ayah dari anakku. Namun… bagaimana bisa kau melakukan ini? Kau memisahkanku dari putriku sendiri! Kau merenggut seseorang yang kubesarkan dengan darah dan air mata! Kau memisahkanku dari belahan jiwaku sendiri!!!”

Tangisnya pecah. Rasa sedih yang memancar dari tubuhnya begitu murni dan begitu kuat hingga alam surga pun ikut merasakannya.

Wushhh…

Angin berubah menjadi dingin. Pohon-pohon suci di taman surga perlahan mulai layu. Bunga-bunga keabadian menutup kelopaknya. Seluruh langit menjadi mendung dan kelabu, seakan alam sendiri ikut menangisi perpisahan ini.

Tiba-tiba…

BZZZT!

Cahaya putih yang sangat terang memancar keluar dari punggung Florin. Getarannya dahsyat! Tanda-tanda ia akan membentangkan sayapnya yang sebenarnya—sayap yang tak pernah ia perlihatkan sejak ribuan tahun lalu.

Sang Raja Dewa tersentak hebat. Wajahnya berubah panik. Ia tahu betul kekuatan sayap istrinya. Jika sayap itu terbuka sepenuhnya di dalam aula sempit ini, tekanan energinya saja cukup untuk menghancurkan seluruh istana

“FLORIN, JANGAN!!!”

Tanpa mempedulikan wibawanya sebagai Raja, ia melompat turun dari singgasana secepat kilat. Ia langsung memeluk tubuh istrinya yang sedang gemetar itu dengan sangat erat dan lembut, menahan agar sayap itu tidak benar-benar terbuka.

“Istriku… Malaikatku… Kekasihku… Belahan jiwaku…” bisiknya tepat di telinga Florin, suaranya bergetar menahan tangis.

“Dengarkan aku… Aku melakukan ini semua demi anak kita. Aku melakukan ini agar Lisa bisa selamat.”

Florin memberontak pelan dalam pelukan itu, masih penuh amarah dan kesedihan. “Selamat? Kau mengirimnya ke tempat yang berbahaya!”

“Dunia para Dewa ini… saat ini adalah tempat yang paling berbahaya untuknya,” jelas sang Raja dengan suara parau. “Saat dia menerima gelar sebagai ‘Penentang Langit, Pembawa Hukum Baru, dan Penghancur Alam Semesta’, nyawanya tak lagi aman. Para Dewa tua yang fanatik akan menganggapnya suatu penyimpangan dan akan berusaha membunuhnya demi menjaga keseimbangan. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi!”

“Aku tidak sanggup melihat anakku menderita…” isak Florin pilu.

Tanpa berkata lagi, sang Raja mengangkat tangannya dan membuka portal menuju kediaman pribadi mereka—tempat di mana hanya ada mereka berdua.

Zwuut!

Mereka berpindah seketika ke dalam kamar megah yang sunyi. Di sana, jauh dari mata para Dewa, topeng dingin sang Raja akhirnya runtuh.

Ia menatap wajah istrinya, membelai pipinya yang basah, lalu mencium keningnya lama. Untuk pertama kalinya, ia mencurahkan semua isi hatinya, semua beban yang ia pendam sendirian selama bertahun-tahun.

“Aku lelah, Florin… Aku lelah berpura-pura menjadi batu. Aku takut… Aku sangat takut kehilangan kalian. Aku menyembunyikan rasa sayangku pada Lisa karena aku tahu, semakin dia terlihat berharga bagiku, semakin besar target di punggungnya. Aku membiarkan dia membenciku, asalkan dia tetap hidup.”

Mendengar semua itu, hati Florin hancur berkeping-keping. Ia baru sadar betapa beratnya beban yang dipikul suaminya sendirian.

Ia memeluk suaminya semakin erat, menangis di dada bidang itu.

“Kenapa kau memikul ini semua sendirian…?” ucapnya lirih. “Kenapa kau tidak memberitahuku? Kenapa tidak bicara padaku? Kita suami istri, kita orang tua mereka… Kita bisa memikulnya bersama! Aku bisa menjaga Lisa, kita bisa melindunginya bersama-sama! Jangan lakukan ini sendirian lagi, suamiku…”

Di ruangan itu, untuk pertama kalinya, Raja yang tak pernah menangis itu membiarkan air matanya jatuh, bersatu dengan air mata istrinya, dalam pelukan yang mewakili rasa cinta, rasa takut, dan harapan agar putri mereka selamat di dunia fana.

Di Dunia Fana .....

BUUMMM!!!

Saat tubuh Lisa menghantam bumi, getarannya begitu dahsyat hingga tanah retak mengelilingi tempat ia jatuh, membentuk sebuah kawah besar yang indah namun mematikan. Itu adalah tanda kedatangan seorang makhluk langit.

Lisa tergeletak tak sadarkan diri di tengah lubang itu. Namun, kekuatan yang tak terkendali dari tubuhnya menciptakan badai dahsyat. Angin topan menderu, hujan turun seperti air terjun, dan petir menyambar tanpa henti semalaman.

Tanpa ia sadari, badai itu menghancurkan sebuah desa kecil yang berada tak jauh dari tempat ia jatuh. Rumah-rumah ambruk, pohon-pohon tumbang, dan suasana berubah menjadi kiamat di bumi.

Keesokan harinya, matahari terbit. Lisa perlahan membuka matanya. Tubuhnya terasa ringkih, aneh, dan… perih.

“Aduh… apa ini?”

Ia memegang perutnya. Ada rasa kosong yang menyiksa, rasa ngilu yang aneh. Di Alam Dewa, ia tak pernah mengenal apa itu lapar, apa itu haus. Tubuhnya hidup oleh cahaya dan energi murni. Tapi di sini, di dunia fana, ia merasakan penderitaan fisik yang nyata.

Dengan langkah gontai, gadis kecil berusia 12 tahun itu berjalan keluar dari kawah. Ia ingin mencari sesuatu, entah apa, untuk menghilangkan rasa sakit di perutnya menuju desa terdekat

Namun, apa yang ia lihat membuat darahnya berhenti mengalir.

“T-ini… apa yang terjadi?”

Di hadapannya terbentang pemandangan yang menyedihkan. Desa yang hancur lebur. Bangunan-bangunan rata dengan tanah.

Tiba-tiba, memori semalam kembali. Ia ingat angin kencang, ia ingat hujan deras yang dikeluarkan oleh kekuatan tubuhnya saat jatuh.

“Jangan-jangan… aku yang melakukannya?” batinnya gemetar.

Di sana sini ia melihat orang-orang menangis. Seorang ibu yang menjerit histeris mencari anaknya yang hilang tertimbun puing. Seorang anak kecil yang duduk memeluk tubuh ibunya yang tak bernyawa. Jeritan tangis dan rasa sakit menyelimuti udara.

Lisa merasa dunianya runtuh. “Aku… aku membunuh mereka? Aku membawa malapetaka?”

 

Tiba-tiba, seorang anak kecil berlari ketakutan dan tanpa sengaja menabrak kaki Lisa.

Anak itu mendongak, dan saat melihat wajah Lisa… ia terdiam.

Meskipun kotor, lelah, dan menangis, wajah Lisa tetap memancarkan cahaya suci yang luar biasa. Kulitnya sehalus porselen, matanya bening seperti air surga dan cerminan tata Surya terpancar di matanya, dan auranya begitu lembut namun agung.

“Bunda… lihat!” teriak anak itu dengan suara cerah di tengah kesedihan. “Dia! Dia cantik sekali! Dia bersinar!”

Semua orang di situ menoleh. Mereka melihat Lisa bukan sebagai penyebab bencana, melainkan sebagai harapan.

“Dia… dia adalah Utusan Surgawi!” teriak salah satu orang tua.

“Benar! Lihat wajahnya! Dia Malaikat!”

“Dewa tidak meninggalkan kita! Dia mengirimkan orang suci untuk menolong kita! Dia datang untuk membantu kita membangun kembali desa ini!”

Orang-orang mulai bersorak, mendekat dengan harapan yang besar.

Namun bagi Lisa, itu semua terdengar seperti teriakan kemarahan. Hatinya yang sudah rapuh tak sanggup menerima itu.

“Bukan… aku bukan itu… aku yang menghancurkan segalanya…”

Rasa takut, bingung, dan bersalah membanjirinya. Tubuh kecilnya gemetar hebat.

“JANGAN!!!”

Lisa berteriak lalu berbalik dan berlari sekencang-kencangnya meninggalkan desa itu. Ia lari masuk jauh ke dalam hutan, mencari tempat gelap agar tak ada yang melihatnya lagi.

 Lisa masuk ke sebuah gua yang gelap dan sunyi. Ia duduk memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya di antara lipatan tangan. Air matanya jatuh tak henti.

“Ibu… Aya.. tidak, ibu ... aku takut…” isaknya pelan. “Aku bingung… Kenapa mereka berteriak padaku? Kenapa dunia ini begitu sakit? Aku tidak tahu apa yang terjadi "

Di dunia Dewa, ia mungkin dianggap remaja, tapi di sini, di dunia manusia, ia hanyalah anak perempuan berusia 12 tahun yang lemah, sendirian, dan tersesat. Ia merasa kecil, tak berdaya, dan sangat kesepian.

Ia terdiam lama, mengguncang dirinya sendiri ketakutan, hingga tiba-tiba…

Suara lembut terdengar dari mulut gua.

 Terdapat beberapa sosok kecil bercahaya, peri-peri hutan yang setia pada keluarga kerajaan langit, melangkah masuk dengan hormat. Mereka bersujud di hadapan gadis kecil itu.

“Mulialah Putri kami…” ucap salah satu peri dengan suara merdu. “Kami dikirim dari Taman Surgawi untuk menemani Anda. Kami akan menjadi teman dan membantu Anda di sini.”

Lisa mendongak dengan mata bengkak.

“Tapi… wajahku… mereka sangat aneh saat melihat wajahku…” keluhnya pelan.

“Kami mengerti, Tuan Putri,” jawab peri itu sedih. “Kecantikan dan kesucian darah Anda begitu kuat hingga sulit untuk disembunyikan sepenuhnya oleh sihir biasa. Namun… kami membawa ini.”

Para peri mengeluarkan sebuah benda.

Sebuah jubah panjang berwarna gelap namun terbuat dari bahan yang sangat halus, dan sebuah penutup mata yang ttubuherbuat dari kain sutra berwarna perak.

“Gunakan ini, Tuan Putri. Jubah ini akan menutupi seluruh Anda, dan penutup mata ini akan membantu meredam cahaya mata indah Anda agar tidak menyilaukan mata manusia. Anda bisa berjalan dengan lebih tenang dan aman.”

Lisa menatap benda itu. Perlahan, ia mengulurkan tangan kecilnya dan menerimanya.

Di dunia yang asing dan kejam ini, setidaknya ia memiliki sesuatu untuk bersembunyi.

Salah satu peri yang lebih besar terbang mendekat, wajahnya penuh kasih sayang melihat keadaan Tuan Putrinya yang kurus dan lemas.

“Yang Mulia Tuan Putri,” ucap peri itu lembut. “Jika Tuan Putri berjalan ke arah Selatan, di sana terdapat sebuah desa yang cukup besar. Di desa itu ada sebuah Panti Asuhan yang diurus oleh orang-orang yang sangat baik hati dan berhati suci.”

Peri itu menunjuk arah melalui celah-celah pepohonan.

“Mereka pasti akan menerima Tuan Putri dengan baik. Di sana, Putri bisa mendapatkan tempat tinggal, dan siapa tahu… ada keluarga yang baik yang mau mengadopsi Putri dan menjadi keluarga baru bagi Putri.”

Lisa mendengarkan dengan kepala tertunduk, suaranya kecil dan lemah.

“Benarkah…? Mereka mau menerimaku…?”

“Tentu saja, Yang Mulia,” jawab peri itu tersenyum. “Kami akan selalu menemani Putri dari jauh. Kami akan membantu semampu kami agar Putri bisa menjalani hidup dengan mudah. Tapi… maafkan kami, karena aturan alam, kami tidak bisa selalu muncul dan membantu Putri secara langsung setiap saat. Putri harus berusaha sedikit demi sedikit sendiri.”

Lisa mengangguk pelan, mencoba menerima kenyataan. Namun tiba-tiba…

PRRRUT…!!!

Suara perut Lisa berbunyi sangat keras, memecah keheningan hutan. Wajah gadis kecil itu langsung memerah padam karena malu. Ia memegang perutnya yang terasa melilit sakit.

“Aku… aku lapar…” isaknya. “Aku sangat lapar dan haus… Kakiku terasa berat, aku tidak sanggup berjalan…”

Melihat itu, para peri langsung bergerak sigap dan panik.

“Aduh, maafkan kami Yang Mulia! Kami terlalu banyak bicara! Tentu saja Putri pasti sangat lemas!”

Salah satu peri segera terbang mengambil sesuatu dari balik bekal mereka. Mereka mengeluarkan buah-buahan berwarna-warni yang bersinar lembut, hasil kebun peri yang sangat lezat dan mengenyangkan, serta sebuah tempat kecil berisi air kristal murni dari mata air peri.

“Silakan, Yang Mulia. Makanlah ini. Ini buah dari hutan peri dan air suci yang bisa mengembalikan tenaga Putri dengan cepat.”

Lisa tidak perlu disuruh dua kali. Dengan tangan gemetar, ia mengambil buah itu dan memakannya dengan lahap. Rasanya manis, segar, dan begitu lezat hingga ia merasa seluruh lelahnya hilang seketika. Air yang diminumnya terasa seperti cairan kehidupan yang membasahi tenggorokannya yang kering.

Setelah kenyang dan minum, wajahnya kembali memerah segar dan tenaganya kembali pulih sedikit demi sedikit.

“Terima kasih…” bisiknya pelan. “Aku merasa lebih baik sekarang.”

“Syukurlah,” kata para peri lega. “Ayo, Yang Mulia. Kita berangkat ke arah Selatan sebelum hari mulai gelap. Panti Asuhan itu sudah menunggu kehadiran Tuan Putri.”

Lisa berdiri, menyesuaikan jubahnya agar menutupi tubuhnya dengan sempurna, dan mulai melangkah meninggalkan gua, ditemani oleh cahaya-cahaya kecil para peri yang terbang mengelilinginya seperti kunang-kunang.

Bersambung...

1
T28J
keren kak, saya subscribe, semoga ceritanya konsisten dan sampai tamat ya ✍️
Chen: terimakasih 🙏😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!