Eva dan Purbaya menikah karena cinta. Rumah tangga mereka tampak utuh hingga jarak dua tahun terakhir mengubah segalanya. Saat Purbaya menempuh studi doktoral di Jerman, Eva berjuang mempertahankan pernikahan sambil membesarkan Noya, putra mereka yang terlahir dengan Down Syndrome.
Purbaya berusaha setia, namun kebosanan dan jarak emosional perlahan menggerus rumah tangga mereka. Sepulang ke Yogyakarta, Eva mulai menyadari bahwa cinta yang ia jaga sendirian tak lagi sama.
Di tengah kelelahan batin, kehadiran seorang pria sederhana yang lebih dulu menerima Noya apa adanya mengguncang keyakinan Eva tentang arti cinta, keluarga, dan kesetiaan.
Ketika cinta tak lagi sama, apakah bertahan masih menjadi pilihan?
Ig deemar38
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Adra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANTARA HASRAT DAN ANAK
Noya duduk di kursi sebelah sambil memainkan bus kecilnya. Rodanya diputar-putar di atas pahanya, lalu kadang ditempelkan ke kaca jendela.
Purbaya menyalakan mesin mobil dan perlahan keluar dari halaman tempat terapi.
Beberapa menit mereka hanya ditemani suara mesin dan jalan yang mulai ramai.
“Capek, Noya?” tanya Purbaya akhirnya.
Noya menoleh sebentar.
“Terapi...” jawabnya pendek.
“Iya. Terapi tadi susah?”
Noya menggeleng kecil, lalu kembali memainkan busnya.
Purbaya melirik anak itu sekilas. Wajahnya tenang, seolah tidak ada yang perlu dipikirkan selain mainan kecil di tangannya.
Di lampu merah, mobil berhenti.
Purbaya kembali melirik jam tangannya.
Tanpa sadar pikirannya kembali ke kamar hotel itu... ke Alya... ke kata-kata yang baru saja mereka ucapkan.
Ia menarik napas panjang.
Tiba-tiba Noya mengangkat bus kecil itu ke arahnya.
“Papa... bis.”
Purbaya menoleh.
“Iya, bus.”
Noya tersenyum kecil, lalu menjalankan bus itu di dashboard mobil.
Purbaya menatapnya beberapa detik.
Entah kenapa, melihat anaknya bermain sederhana seperti itu membuat sesuatu di dadanya terasa lebih ringan.
Lampu berubah hijau.
Mobil kembali melaju.
Dan untuk beberapa saat, Purbaya mencoba tidak memikirkan apa pun selain jalan di depannya... dan anak kecil yang duduk di sampingnya.
Beberapa menit kemudian kepalanya mulai miring. Anak itu terlihat mengantuk.
“Noya ngantuk, ya?” tanya Purbaya.
Noya tidak menjawab. Ia hanya menggosok matanya pelan.
Di lampu merah lagi mobil berhenti.
Purbaya menoleh sekilas.
Tiba-tiba Noya mengulurkan tangannya.
“Papa.”
“Iya?”
Noya tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya memegang tangan Purbaya yang sedang berada di atas setir.
Pegangannya kecil dan hangat.
Seperti memastikan sesuatu.
Purbaya sedikit terkejut, tapi tidak menarik tangannya.
Beberapa detik mereka diam begitu saja.
Lalu kepala Noya perlahan bersandar ke kursinya. Matanya mulai terpejam, namun tangannya masih menggenggam tangan Purbaya.
Seolah takut kalau dilepaskan... Papanya akan pergi lagi.
Di dashboard, ponsel Purbaya tiba-tiba bergetar.
Nama yang muncul di layar: Asisten Riset.
Purbaya meliriknya sebentar.
Ia tidak mengangkatnya.
Tangannya yang satunya tetap berada di dalam genggaman kecil itu.
Mobil berhenti di halaman rumah.
Noya masih tertidur di kursinya, kepalanya miring ke samping, bus kecilnya masih tergenggam di tangan.
Purbaya membuka pintu mobil perlahan agar tidak membangunkannya. Ia melepas sabuk pengaman anak itu, lalu mengangkat tubuh kecil itu dengan hati-hati.
Noya sedikit bergerak dalam tidurnya, tapi tidak benar-benar terbangun. Kepalanya bersandar di bahu Purbaya.
Purbaya membawanya masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar Noya. Ia menidurkan anak itu di tempat tidurnya, lalu menyalakan AC agar ruangan terasa sejuk.
Tak lama kemudian Mbok Sri muncul di pintu kamar sambil membawa bus kecil dan tas bekal Noya.
“Niki bise, Pak,” katanya pelan agar tidak membangunkan anak itu.
Purbaya mengambil mainan itu lalu menaruhnya di meja kecil.
Ia menoleh pada Mbok Sri.
“Mbok... Ibu belum pulang?”
Mbok Sri mengangguk.
“Dereng, Pak.”
Purbaya hanya mengangguk pelan. Tidak ada kata lain yang keluar dari mulutnya.
Mbok Sri memperhatikan wajah majikannya sekilas. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda, tapi seperti biasa ia tidak berani bertanya.
Perempuan tua itu hanya berdiri sebentar di ambang pintu, lalu berkata hati-hati,
“Mungkin sebentar lagi Ibu pulang, Pak. Biasane jam segini sudah di jalan.”
Purbaya tidak menjawab. Ia hanya menoleh sekilas ke arah Noya yang masih tertidur pulas di tempat tidurnya.
Mbok Sri akhirnya memilih mundur perlahan.
“Inggih, saya ke dapur dulu, Pak.”
Purbaya kembali mengangguk singkat.
Kamar itu kembali hening, hanya terdengar suara lembut AC yang mulai mendinginkan ruangan.
Purbaya keluar dari kamar Noya dengan langkah pelan agar tidak membangunkannya. Ia menutup pintu kamar itu setengah saja, lalu berjalan menuju kamar kerjanya.
Di sana ia langsung menyalakan laptop.
Minggu depan ia sudah harus kembali aktif di kampus. Beberapa berkas dan materi kuliah masih perlu ia rapikan. Layar laptop menyala, menampilkan beberapa dokumen yang belum selesai.
Namun pikirannya tidak benar-benar fokus.
Matanya memang menatap layar, tapi sesekali ia hanya diam, jemarinya berhenti di atas keyboard.
Beberapa menit kemudian terdengar suara mobil memasuki halaman rumah.
Dari jendela kamar kerjanya, Purbaya melihat mobil Eva berhenti di garasi.
Eva sudah pulang.
Purbaya menarik napas pelan, lalu menutup layar laptopnya sebentar.
Entah kenapa, tiba-tiba ia merasa tidak siap bertemu istrinya.
Dari jendela kamar kerjanya, Purbaya melihat Eva turun dari mobil. Ia membawa tas kerjanya sambil menutup pintu mobil dengan gerakan agak keras.
Beberapa detik kemudian pintu depan terbuka.
Suara langkah Eva terdengar di ruang tengah.
“Mbok, Noya sudah pulang?” suara Eva terdengar dari bawah.
“Sudah, Bu. Tadi sama Bapak.”
Purbaya mendengar semuanya dari kamar kerjanya.
Langkah Eva terdengar menuju kamar Noya.
Purbaya tanpa sadar ikut berdiri dan berjalan ke pintu kamar kerjanya, tapi ia tidak keluar.
Beberapa saat kemudian terdengar suara Eva lebih pelan.
“Noya... sudah tidur?”
“Iya, Bu. Tadi di mobil ketiduran,” jawab Mbok Sri.
Hening beberapa detik.
Lalu suara Eva lagi, kali ini lebih dingin.
“Mas Purbaya di mana?”
Mbok Sri menjawab hati-hati.
Tak lama kemudian langkah Eva terdengar lagi di lorong.
Namun langkah itu tidak menuju kamar kerja.
Langkah itu justru melewati pintu kamar kerjanya... lalu berhenti di kamar tidur mereka.
Pintu kamar tertutup.
Beberapa menit kemudian terdengar suara air dari kamar mandi.
Eva langsung mandi.
Purbaya tetap di tempatnya, di ruang kerja.
Entah kenapa... sikap saling menghindar seperti itu justru terasa lebih menekan daripada pertengkaran.
Beberapa saat kemudian Purbaya menutup laptopnya. Ia keluar dari kamar kerja dan berjalan menuju ruang keluarga.
Purbaya duduk di sofa, menyandarkan punggungnya sambil memijat pelipisnya perlahan.
Tak lama kemudian terdengar pintu kamar terbuka.
Noya keluar dengan langkah kecil. Di tangannya masih ada bus kecil yang tadi dibawanya.
Begitu melihat Purbaya di ruang tengah, wajahnya langsung cerah.
“Papa!”
Purbaya menoleh dan tersenyum tipis.
“Iya, Noya.”
Anak itu berjalan mendekat lalu mengangkat bus kecilnya.
“Main... Papa?”
Purbaya baru saja hendak menjawab ketika Mbok Sri muncul dari arah dapur.
“Noya, mandi dulu, Le. Sudah sore.”
Noya berhenti di tengah langkahnya. Ia menoleh ke arah Purbaya seolah meminta keputusan.
Purbaya mengangguk pelan.
“Mandi dulu ya. Nanti kita main.”
Noya berpikir sebentar, lalu akhirnya mengangguk kecil.
“Main... nanti.”
“Iya, nanti,” jawab Purbaya.
Mbok Sri kemudian menggandeng Noya menuju kamar mandi.
Pada saat yang hampir bersamaan, pintu kamar terbuka.
*
*
Eva keluar dengan rambut yang masih sedikit basah. Ia sudah berganti pakaian rumah. Begitu melihat Purbaya di ruang keluarga, langkahnya berhenti sebentar.
Namun ia tidak menyapa.
“Mas,” katanya langsung, “besok aku harus ke Surabaya.”
Purbaya menoleh pelan.
“Surabaya?”
“Ada urusan kantor. Dua hari.”
Hening.
Purbaya menatapnya beberapa detik, seolah mencoba memastikan ia tidak salah dengar.
“Besok?” tanyanya lagi.
“Iya.”
Nada Eva datar. Seolah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.
Sesuatu di dada Purbaya tiba-tiba terasa panas.
Purbaya berdiri dari sofa.
“Dek, keluarga ini kapan jadi prioritasmu?”
Wajah Eva langsung berubah.
“Mas, hati-hati bicara.”
“Kamu pulang cuma untuk bilang besok pergi lagi. Itu saja?” suara Purbaya kini benar-benar meninggi.
Eva tertawa pendek bukan karena lucu, tapi karena tidak percaya.
“Jadi sekarang aku yang salah?”
“Ya!” bentak Purbaya. “Karena kamu selalu menomorduakan rumah ini!”
Kalimat itu menggantung.
Eva menatapnya lama.
Matanya berubah dingin.
“Menarik,” katanya pelan.
“Baru kali ini kamu mempertanyakan tanggung jawabku pada keluarga.”
Purbaya mengerutkan kening.
Eva melangkah mendekat satu langkah.
“Padahal kamu sendiri yang paling sering tidak ada di rumah, Mas.”
Kata-kata itu seperti pisau yang dilempar tepat ke arahnya.
Purbaya terdiam sesaat.
Namun ketegangan di ruang keluarga sudah terlalu tebal.
Eva menatap Purbaya lurus-lurus.
“Kalau kamu mau bicara tentang keluarga,” lanjutnya dingin, “pastikan dulu kamu sendiri tidak sedang meninggalkannya.”
Hening.
Purbaya tidak langsung menjawab.
Tangannya mengepal di samping tubuhnya.
Dan untuk beberapa detik... tidak ada satu pun dari mereka yang mau mengalah.
terimakasih telah membuat cerita yang hebat👍👍
aku seneng banget akhirnya irgi dan eva menjadi sepasang kekasih semoga cepat diresmikan ke jenjang yg lbh serius kalian kan udah cukup dlm segala hal ga perlu ditunda lg menikahlah kalian secepatnya
yaa Allah yaa Allah aku yang ikutan baper maaas 😄😄
tapi hidup harus tetap dijalani.
semangat mas pur..
gusti Alloh ora sare. kejujuran pasti ada balasannya
bgm mas pur.. boleh😄😄