Aku hanya diminta untuk mengandung anaknya.
Tidak untuk dicintai, tidak untuk dipertahankan.
Setelah melahirkan, aku harus pergi… membawa hati yang hancur, dan meninggalkan bayi yang kukandung dengan air mata.
Namaku Naira.
Aku bukan siapa-siapa — hanya wanita yang dijodohkan demi rahimku, agar keluarga besar Arga punya pewaris.
Pernikahan ini semu, cinta ini tidak pernah diminta.
Tapi di setiap detik aku merasakan kehidupan tumbuh di dalam perutku, aku juga mulai merasakan sesuatu yang tak seharusnya: aku jatuh cinta pada suamiku sendiri.
Namun di rumah itu, ada satu nama yang tak pernah bisa kulewati — Raisa, istri pertamanya.
Wanita sempurna yang tak bisa mengandung, tapi memiliki seluruh hatinya.
Aku hanyalah bayangan, tapi bagaimana jika bayangan ini mulai memiliki cahaya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiw1tt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAKUT KEHILANGAN
Pintu kamar Naira tidak benar-benar tertutup rapat. Sejak tadi, sejak suara Raisa mulai meninggi, Naira sudah mendengarkan nya, ia bangun dari tidurnya dan berjalan sedikit ke arah pintu.
Bukan karena tubuhnya sudah membaik, tapi karena suara itu terlalu jelas untuk diabaikan. Awalnya hanya samar, tapi lama-lama setiap kata terdengar jelas.
Setiap kalimat, setiap emosi, dan sampai akhirnya terdengar kalimat
"Karena Naira bisa memberikan aku keturunan!"
Naira membeku di tempat, ia langsung berjalan ke arah kasur dan mendudukkan dirinya di sana, kepalanya kembali pening.
Tangannya yang tadi menggenggam ujung selimut perlahan mengencang. Dadanya terasa sesak, bukan karena sakitnya, tapi karena sesuatu yang lain, sesuatu yang jauh lebih berat.
Naira tidak bergerak tidak juga menangis. Hanya diam. Matanya menatap kosong ke arah pintu, sementara suara di luar perlahan mereda, sampai akhirnya sunyi, tidak ada suara siapapun.
Naira menarik napas pelan, tapi terasa berat. Tenggorokannya terasa kering.
"A-aku jadi penA-aku Mereka bertengkar" Suaranya lirih. Hampir tidak terdengar.
Ia menunduk, menatap tangannya sendiri. Tangan yang tadi dipegang Arga. Tangan yang sekarang terasa bersalah.
Semua yang Raisa katakan tidak sepenuhnya salah. Sekarang Hal-hal kecil yang Arga lakukan pada dirinya justru yang membuatnya akan semakin tidak nyaman.
Naira menggeleng pelan, seolah ingin menepis pikirannya sendiri.
"Seharusnya ini memang bukan tempat ku" Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia menahannya, jika bukan karena hutang ayahnya ia tidak akan berada di sini. Ia terlalu lelah untuk menangis.
Perlahan, Naira kembali berbaring. Menarik selimut sampai ke bahu, seperti yang Arga lakukan tadi. Gerakan kecil itu justru membuat dadanya semakin sesak.
Ia memejamkan mata, Bukan untuk tidur. Tapi untuk menghindari semua pikiran yang datang bersamaan.
🌻🌻🌻
Sementara itu... Di luar rumah, Arga sudah menyalakan mobil dengan tergesa. Tangannya mencengkeram setir lebih keras dari biasanya. Rahangnya mengeras, pikirannya kacau.
"Bodoh!" Ucapnya memaki diri sendiri. Satu kalimat itu keluar pelan, penuh penyesalan.
Mesin mobil meraung saat ia langsung melaju keluar halaman, mengejar mobil Raisa yang sudah lebih dulu pergi.
Jalan pagi itu belum terlalu ramai, tapi Arga tidak peduli. Fokusnya hanya satu, yaitu Raisa. Matanya terus melirik kanan dan kiri mencari keberadaan mobil yang di naiki Raisa.
Beberapa menit kemudian, akhirnya ia melihat mobil yang ia kenal di depan. Arga menekan klakson singkat.
Sekali.
Dua kali.
Mobil Raisa tidak berhenti.
"Raisa" gumamnya, napasnya mulai tidak stabil. Sepertinya Raisa menyadari keberadaan nya. Semakin Arga menaikan kecepatannya, Raisa juga semakin menaikan kecepatan mobilnya.
"Sial!" Umpat Arga sambil terus menambah kecepatan mobilnya lalu menyalip sedikit ke samping, mencoba menarik perhatian.
Akhirnya Mobil Raisa melambat dan berhenti di pinggir jalan.
Arga langsung menghentikan mobilnya di depan, lalu turun dengan cepat tanpa pikir panjang. Ia berjalan cepat menuju mobil Raisa, lalu mengetuk kaca jendela.
"Raisa... buka"
Tidak ada respon.
Arga mengetuk lagi, kali ini lebih keras.
"Raisa, please" Beberapa detik hening. Lalu jendela perlahan turun. Wajah Raisa terlihat, tapi sama sekali tidak melirik ke arah Arga
Matanya merah. Ekspresinya datar.
Arga langsung merasa sesuatu menekan dadanya.
"Aku minta maaf, Raisa" Tidak ada pembuka. Tidak ada basa-basi.
Raisa tertawa kecil...kering, tanpa emosi.
"Cepet banget minta maafnya" Sindir Raisa.
"Aku nggak bermaksud bilang kayak gitu" lanjut Arga cepat.
"I'm so sorry... Aku kebawa emosi. Aku lagi banyak tekanan, Raisa. Masalah bank... "
"Ngga usah bawa-bawa itu lagi", potong Raisa pelan. "Ini bukan soal bank."
Hening.
Arga menelan ludah. "I know"
Raisa menatap ke depan, bukan ke Arga. Terlihat Raisa menghala napasnya pelan, sebelum melanjutkan perkataan nya.
"Yang kamu bilang tadi... itu jujur, kan?"
Pertanyaan itu sederhana, Tapi menghantam. Dengan cepat Arga langsung menggeleng.
"A-aku ngga bermaksud... "
"Kamu ragu" Potong Raisa.
"Aku nggak ragu", tegas Arga, suaranya sedikit lebih dalam.
"Aku cuma Kebawa Emosi, Raisa" Raisa akhirnya menoleh. Menatap Arga langsung.
"Arga, aku nggak butuh Kamu buat jadi sempurna" ucap Raisa pelan.
"Aku cuma butuh kamu jujur... dan tetap jadi orang yang sama.” Lanjut Raisa.
Hening lagi.
"Kamu sekarang berubah" lanjut Raisa lagi. "Dan aku bisa ngerasain itu."
Arga menghela napas panjang, lalu menunduk sebentar sebelum kembali menatap Raisa.
"Aku capek, Raisa" ucapnya jujur.
"Semua... terlalu numpuk. Masalah bank, tekanan keluarga... dan sekarang ini." Arga berhenti sebentar.
"Tapi itu bukan alasan aku buat nyakitin kamu. Aku salah, Aku minta maaf" Arga terlihat begitu menyesal, Ia mencoba meraih tangan Raisa, tapi Raisa masih menolak.
Raisa tidak langsung menjawab, Matanya kembali berkaca-kaca, tapi kali ini ia tidak menahannya sepenuhnya.
"Aku... Cuma takut kehilangan kamu Arga" Suara Raisa jauh lebih kecil sekarang. Dan itu jauh lebih menusuk Arga.
Arga terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak tadi, emosinya benar-benar turun.
"Raisa...lihat aku"
Perlahan, Raisa menoleh Ke arah Arga.
"Aku masih di sini," ucap Arga. "Dan aku nggak ke mana-mana."
Kalimat itu menggantung di antara mereka. Belum sepenuhnya memperbaiki. Tapi cukup untuk menahan sesuatu agar tidak benar-benar hancur.
🌻🌻🌻
Setelah mengantar Raisa kembali pulang, meskipun suasana di antara mereka masih canggung dan dipenuhi diam yang panjang, Arga tetap langsung menuju kantor.
Gedung tinggi bercermin itu biasanya memberinya rasa kontrol. Tempat di mana semua bisa ia atur. Semua bisa ia selesaikan.
Tapi hari ini berbeda. Langkah Arga saat memasuki ruang kerjanya kini terasa lebih berat dari biasanya.
Pikirannya terpecah, Ucapan Raisa terus terngiang. Tatapan terluka itu juga mengganggu pikiran Arga.
Belum lagi wajah pucat Naira yang sempat ia lihat pagi tadi. Arga mengembuskan napas panjang sebelum duduk di kursinya. Mengontrol dirinya agar bisa menyelesaikan masalah satu per satu.
"Pak Arga, tim legal sudah menunggu di ruang rapat." Suara sekretarisnya_Dimas, membuyarkan lamunannya.
Arga mengangguk singkat. "Saya ke sana"
🌻🌻🌻
Ruang rapat lantai dua belas terasa tegang.
Beberapa dokumen berserakan di atas meja panjang. Tim legal, auditor internal, dan pihak bank sudah duduk dengan ekspresi serius.
Arga berdiri di ujung meja sambil membuka map hitam.
"Tolong jelaskan sekali lagi" Perintah Arga.
Seorang pria berkacamata dari divisi legal mendorong beberapa lembar hasil analisis ke depan.
"Tanda tangan penjamin pada dokumen pinjaman ini dipastikan palsu, Pak"
Arga menatap lembaran itu tajam. Nama yang tercetak di sana membuat rahangnya mengeras.
Ia membalik halaman berikutnya, Ada jejak transfer, Rekening penampung dengan Nominal yang fantastis. Dan semuanya dibuat seolah-olah Naira terlibat penuh.
"Pelakunya?"
"Kami sedang melacak, tapi besar kemungkinan orang dalam bekerja sama dengan pihak eksternal".
Arga memijat pelipisnya. Masalah ini jauh lebih besar dari yang ia kira. Jika sampai bocor ke publik, bukan hanya reputasi perusahaan yang hancur tapi nama Naira juga akan terseret.
Dan dalam kondisi gadis itu sekarang, Arga tahu ia tidak akan sanggup menghadapi tekanan tambahan.
"Cari siapa pun yang terlibat" ucap Arga tegas.
"Saya mau semua data transaksi tiga bulan terakhir di meja saya sebelum sore."
"Baik, Pak"
🌻🌻🌻