Seina, adalah seorang gadis kampung yang hidupnya penuh dengan kesederhanaan, dia dari keluarga baik-baik, dia juga mendapatkan pendidikan yang baik dari keluarganya, namun dia harus kehilangan anggota keluarganya karena sebuah bencana.
Seina pun satu-satunya yang selamat dan dibawa ke tempat pengungsian oleh para relawan, gadis itu cukup terpuruk dengan nasibnya, namun dia tetap harus menjalani hidupnya.
Karena yang bernasib sama dengannya itu juga cukup banyak.
Hal itu membuatnya bangkit dan merangkul anak-anak yang bernasib sama dengannya.
Suatu hari dia bertemu dengan seorang wanita cantik jelita, dari atas kepala sampai bawah kakinya, terlihat bernilai mahal, bahkan kibasan rambutnya pun berbau dollar.
"Jadi kamu ya Seina?" tanya wanita itu dengan angkuh.
"Ya, ada apa Nyonya?" tanya balik Seina.
Wanita itu segera membuka koper besar, dan di sana terlihat sangat banyak tumpukkan uang.
"Aku sewa rahimmu!" Tegas wanita itu.
Yuk kepoin baca lanjutannya 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie Alfredo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Teman baru
Setelah di periksa Seina pun berkonsultasi dengan dokter.
Dokter pun mengatakan, jika memang Seina menyukai tempat yang ramai, tidak sepi, anaknya juga terbiasa beraktifitas, tiba-tiba harus berdiam diri membuatnya menjadi jenuh dan tertekan.
Dokter juga menyarankan untuk sering-sering mengajak Seina keluar atau memberikan kegiatan agar anak itu tidak bosan, apalagi di usia yang masih sangat muda.
Dia selalu ingin menyalurkan energinya jika tidak seperti itu, dia akan merasa tertekan, dan membuat tubuh kurang nyaman dan stress.
Matthew pun mengerti.
" Kenapa kau tidak bilang kalau bosan Seina?" ujar Matthew bertanya.
" Iya, saya juga tidak tahu harus bagaimana, saya terbiasa lari sana sini, mengurus korban bencana, tiba-tiba saya harus tenang untuk menjaga anak ini agar aman." ujar Seina.
" Kau ingin beraktivitas seperti apa?, tapi ya jangan lari-lari lah." ujar Matthew.
" Apa Tuan?, saya tidak tahu juga, apa yang boleh dan tidak boleh saya lakukan hehehe." ujar Seina terkekeh.
" Kau bisa yoga Cina, atau senam ibu hamil." sahut Martin.
" Lah Martin malah tahu." ujar Olive.
" Saya mau pindah boleh tidak di pinggir pantai, saya suka membuat kerajinan dari kerang seperti ibu saya." Seina langsung mengutarakan keinginannya.
" Boleh saja, kami juga ada kediaman di dekat pantai, kalau mau besok pagi kita pindah saja, tapi aku tidak bisa menemanimu lama-lama di sana, aku serahkan semua pada Martin ya." ujar Matthew.
Matthew masih terus memikirkan perasaan istrinya.
" Ibu tidak suka pantai, Ibu tidak bisa menemani Seina mungkin akan melihatnya sekali seminggu." ujar Olive menyayangkan itu.
" Kau tidak bisalah meminta Martin menjaganya sendirian, kau dan istrimu itu bagaimana caranya ikut menjaga Seina." ujar Olive.
" Iya Ibu, aku akan membicarakannya dengan Gladys." ujar Matthew.
Seharusnya Gladys mau mengurus Seina, lagian anak itu juga akan menjadi anak mereka, tapi malah rencana Olive gagal yang ingin memanfaatkan Seina.
" Belum sekarang lah, yang terpenting anak itu nyaman dan aman." Gumam Olive segera pergi.
Dia tidak bisa egois dengan keinginannya, kalau di pikir - pikir lagi kasihan juga Seina, tapi ya jangan sama Martin sendirian.
" Anak itu jelas tertarik dengan Seina." Gumam Olive.
Olive pun juga tidak mau ambil pusing, karena kalau dia turun tangan, ada menantu gilanya, sudah pasti akan ada perdebatan dan pertengkaran, dia juga kasihan dengan putranya harus tertekan dengan ketidak harmonisan di keluarganya.
...----------------...
Kediaman pinggir pantai.
Setelah berbicara dengan Gladys, akhirnya Gladys pun mau untuk ikut merawat Seina, meskipun terpaksa.
Namun tidak setiap hari, Gladys hanya akan datang sebisanya saja atau semaunya saja, kesepakatannya begitu dengan Matthew.
Begitu sampai di pantai Seina langsung berlari menuju bibir pantai dengan sangat senang.
" Seina jangan berlari." Teriak Martin sambil mengejar Seina.
"Astaga anak itu sebahagia itu melihat pantai. " Gumam Matthew tersenyum.
Matthew pun segera memindahkan barang bawaannya masuk ke dalam dan meminta orangnya untuk menata semua barang-barang milik Seina.
" Akhirnya rumah ini ada yang menempati, Ibu sangat suka rumah di pinggir kota, aku kira ibu akan menyukai rumah ini, rupanya ibu tidak suka pantai, akhirnya hanya akan ditempati para pelayan, Gladys juga sangat suka di kota, padahal tempat ini menurutku nyaman, mereka tidak mau, rupanya Seina menyukainya, biar saja ku berikan pada anak itu sebagai salah satu propertinya." gumam Matthew.
Suatu saat nanti Seina pasti akan rindu negara asalnya, seberapa pun dia pergi jauh, karena Seina menyukai tempat di pinggir pantai maka Matthew akan memberikannya, dari pada tidak bertuan.
Seina dan Martin masih sangat asyik bermain.
" Kenapa dengan Martin dia bisa leluasa, denganku dia tampak tertekan, padahal dia sangat enak dipandang kalau penuh dengan energi seperti itu, apa aku menakutkan?" gumam Matthew.
" Tuan semua barang sudah selesai di tata, apakah ada lagi yang bisa saya kerjakan?" tanya pelayan itu.
" Oh, kau anak mendiang bibi Jana, sekarang kau umur berapa?" tanya Matthew.
" 15 tahun Tuan." jawab pelayan itu.
" Sekarang, gadis itu majikanmu, kau harus melayani dia sepenuh hati, apa kau masih sekolah?" tanya Matthew.
" Ya?, saya tidak sekolah setelah ibu saya tiada, saya hanya mengerjakan pekerjaan di sini setiap harinya." jawabnya.
" Siapa namamu?" tanya Matthew.
Saat bibi Jana meninggal, Matthew hanya meminta anak itu tetap tinggal dan membersihkannya setiap hari, anak itu juga diberi uang untuk makan, dan kebutuhan hidup tiap bulannya, tidak terpikirkan oleh Matthew untuk menyekolahkannya.
" Saya Mona." jawab Pelayan muda itu.
" Apa kau mau sekolah?" tanya Matthew.
" Tidak, saya akan melayani Nona itu saja Tuan, saya senang akhirnya ada seseorang yang bisa saya layani." ujar Mona.
" Kalau begitu mohon bantuannya ya." ujar Matthew.
Ya Matthew juga tidak memaksa anak itu untuk sekolah.
Yang terpenting dia bisa menjadi teman dan melayani Seina dengan baik.
Matthew pun memanggil Seina, dan mengatakan akan pergi ke kota, untuk menjemput istrinya.
" Tuan, jangan merasa terbebani, saya sudah merasa baikan kok di sini." ujar Seina.
" Iya, baiklah oh kenalkan ini Mona, dia akan melayani mu mulai hari ini." ujar Matthew.
" Hallo Mona, aku Seina, mohon bantuannya ya." ujar Seina sangat senang mendapatkan teman perempuan.
" Kak, kakak di kota saja, ada aku yang menjaganya, iya kan Cina?" ujar Martin.
" Iya Tuan, saya aman dengan Martin." ujar Seina.
" Ya, aku akan datang dengan istriku sebulan sekali kalau begitu, maaf ya." ujar Matthew.
" Ya itu bagus." ujar Seina malah senang.
Sebenarnya Seina tidak mau bertemu dengan Gladys, karena masih takut.
Matthew pun pergi meninggalkan tempat itu.
" Wah akhirnya aku bebas." ujar Seina merasa lega.
" Astaga, kau juga takut dengan kakakku?" ujar Martin.
" Iya, saya takut dengan Tuan dan Nyonya." jawab Seina.
" Nona, apa anda ingin makan sesuatu?, tadi saya mendapatkan udang besar-besar dari nelayan, dan beberapa jenis ikan laut, apa anda mau saya masakkan?" tanya Mona.
" Mona, kau masih muda sekali, kau bisa masak?" tanya Seina.
" Saya bisa Nona, jangan khawatir." ujar Mona bersemangat.
" Boleh, aku mau udang goreng saja dan sambel mata." ujar Seina.
" Baik saya akan buatkan." ujar Mona senang.
" Heh, apa kau tidak lihat ada aku?, kenapa yang kau tawari makan cuma Seina, mulai sekarang aku juga tinggal di sini." Tegas Martin.
" Ah, maafkan saya, saya kira anda supir tuan Matthew, saya akan masakan sekarang." ujar Mona langsung kabur.
" Hahahaha." Seina langsung tertawa mendengar hal itu.
" Sialan, apakah wajahku ini seperti sopir, anak itu awas saja ya." Martin sangat tidak terima.
" Lagian kamu juga pakai baju seperti sopir pribadi." ujar Seina.
" Aku belum beli baju lagi, dan pakaianku masih di loundry, kau istirahat dulu Cin, aku mau beli baju." tegas Martin segera pergi untuk membeli baju.
semangat seina, semoga author cepat membuat bahagia 🤣