Nuraa tersentak, di tangannya ada sebuah undangan pernikahan yang baru saja di kirim oleh seseorang entah siapa, mungkin saja seorang kurir. Nuraa tertegun memandangi 2 nama di bagian depan dari undangan tersebut. 2 nama yang sangat Nuraa kenal, bahkan kedua nama tersebut memiliki tempat istimewa di hatinya.
"Bagaimana mungkin? Tidak!" teriak Nuraa.
"Tidak mungkin mereka menikah." Undangan itu pun lolos begitu saja dari tangan Nuraa, bersamaan dengan tubuhnya yang merosot dan luruh ke lantai.
Penasaran dengan kelanjutan kisah Nuraa?
Ikuti terus dengan membaca novel ini yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Benar saja ... pukul 2 dini hari di saat orang lain terlelap Nuraa justru gelisah dalam tidurnya, Nuraa terus saja membuat gerakan ke kiri dan ke kanan.
"Dasar si Evelyn ... apa susahnya sih tinggal bilang aja langsung isi diary si Vivi, kaya gini kan aku jadi gak bisa tidur, nyebelin banget," gerutu Nuraa.
"Apa Vivi menyimpan banyak keburukan yang aku gak tau ya ... padahal kita sahabatan udah lama, parah sih kalo dia ternyata menyembunyikan banyak hal dari aku, sementara aku selalu terbuka sama dia."
Keesokan paginya Nuraa bangun terlambat karena semalaman dirinya sulit untuk tidur.
Samar-samar Nuraa mendengar suara yang sangat berisik dari luar kamarnya, sesekali ada suara tawa dan juga suara teriakan kecil wanita, Nuraa yang tersadar langsung lompat dari kasurnya dan menuju ke luar kamar.
"Om Rahardiaaannn!" Teriak Nuraa sembari berlari kecil menghampiri Rahardian dan memeluknya dengan erat.
Rahardian adalah keluarga Nuraa satu-satunya yang tersisa, karena mendiang ibu Nuraa sama seperti dirinya yang hanyalah anak tunggal, sementara mendiang ayah Nuraa hanya 2 bersaudara.
Selesai melepaskan kerinduan dengan sang om, Nuraa langsung menghampiri tante nya dan juga sepupu kecil kembarnya.
"Tante Salma ... aku kangen banget tau sama tante dan juga si kembar, mereka tambah lucu ya." Nuraa bersandar manja di bahu Salma, matanya menatap penuh cinta ke arah 2 anak kembar yang sedang bermain di jaga oleh bi Sarti.
"Tante juga kangen sama kamu, Raa ... sekarang kamu kurusan ya, apa kamu diet?" Salma berbalik memperhatikan wajah Nuraa yang di lihatnya sedikit lebih tirus dari biasanya.
"Gak kok ... apa aku kelihatan kurus ya," balas Nuraa.
"Pipi kamu kempot, gak usah diet- diet entar kelihatan kaya nenek-nenek loh, Kevin gak mungkin dong mau calon istrinya kaya nenek-nenek," Salma mencandai Nuraa.
Mendengar nama Kevin di sebut, wajah Nuraa langsung murung, Salma yang menyadari hal tersebut langsung bertanya.
"Kenapa? Kok jadi murung? Kamu lagi bertengkar sama Kevin?" tanya Salma penuh perhatian.
"Non Nuraa, maaf ... di luar ada non Vivi marah-marah dan maksa masuk," sela satpam Nuraa yang masuk ke dalam rumah dengan napas terengah-engah karena berlari kecil.
"Loh kenapa gak biarin aja Vivi masuk, Pak. Biasanya juga kan Vivi keluar masuk rumah ini," timpal Rahardian dengan raut wajah keheranan.
"Bentar ya, Tant...." Laura berdiri dari duduknya.
"Aku ke depan bentar, Om." Nuraa pun berjalan bersama-sama satpam mereka keluar rumah.
Rahardian menatap heran kepergian ponakannya tersebut.
"Bi ... ada apa ini? Kenapa Vivi sampe gak boleh masuk ke rumah ini? Apa Vivi dan Nuraa lagi berantem? Mereka kan sahabatan dari kecil," tanya Rahardian.
Rahardian berjalan menghampiri Salma dan duduk di sampingnya.
"Maaf den, rasanya gak pantas bibi yang ceritain, biar non Nuraa aja yang ceritain semuanya ke den Rahardian," jawab bi Sarti.
Rahardian pun tidak lagi banyak bertanya, tetapi wajahnya tampak seperti orang yang sedang berpikir keras.
"Mas ... nanti kita bisa tanya ke Nuraa, mas gak perlu khawatir, mereka berdua udah dewasa." Salma menenangkan Rahardian, membelai lembut lengan suaminya tersebut.
Nuraa berjalan cepat menghampiri Vivi yang dilihatnya berdiri dengan berkacak pinggang membelakangi pagar rumahnya.
"Ada perlu apa lagi kamu ke sini? Apa ucapan aku kemarin kurang jelas, Vi?"
Mendengar suara yang sangat Vivi kenali, ia langsung berbalik dan melihat Nuraa sudah berdiri di balik pagar rumah.
"Begini cara kamu memperlakukan sahabat kamu, Raa? Seenggaknya biarin aku masuk dan bicara di dalam rumah kamu, bukan di depan pagar kaya gini," protes Vivi, karena Nuraa hanya diam saja, berdiri dengan tangan yang terlipat di depan dada.
"Sorry aku ralat, yang benar itu mantan sahabat, kamu pikir aku masih sudi sahabatan sama wanita yang tega mengkhianati sahabatnya sendiri," cibir Nuraa.
"Oke lupakan soal itu, aku ke sini cuma mau nanya ke kamu, apa kamu kemarin ke apartemen aku? Kamu masuk tanpa ijin, dan ambil barang-barang di dalam apartemenku tanpa ijin juga, kamu gak bisa seenaknya kaya gitu Raa, apartemen itu di beli bukan dari uang pribadi kamu!" imbuh Vivi.
"Ya aku emang ke apartemen kamu kemarin, dan aku masuk tanpa ijin dari kamu, salah sendiri kenapa kamu belum ganti sandi nya," jawab Nuraa enteng.
Sementara Vivi yang mendengar jawaban Nuraa, wajahnya merah padam, menahan gejolak emosi yang sebenarnya ia tahan dengan sekuat tenaga, agar tidak meledak dan hilang kendali di hadapan Nuraa.
"Soal barang yang aku ambil, kamu gak salah bilang begitu ke aku, Vi?!"
"Kamu gak amnesia, kan?" tanya Nuraa lagi.
"Barang yang aku ambil itu milikku! Kalung berlian, dress dan juga tas yang pernah kamu pinjam tanpa kamu ingat untuk kembalikan!"
"Lagian selain ambil itu, apa yang bisa aku ambil di apartemen kamu? Gak ada benda yang berharga, kalo pun ada aku bisa beli benda itu lebih dari 1."
"Gak ada yang menarik di dalam apartemen kamu, Vi!" remeh Nuraa.
Mendengar hinaan yang keluar dari mulut Nuraa kedua tangan Vivi mengepal dengan kuat, jika saja tidak di batasi oleh pagar, rasanya Vivi ingin meremas mulut wanita yang saat ini berdiri di hadapannya tersebut.
"Nuraa sialan! Selama aku masih ada, aku gak akan biarin kamu bahagia, sudah cukup waktu yang aku kasih buat kamu Raa ... setelah ini, gak lagi," bathin Vivi tangannya masih mengepal kuat.
Vivi pun akhirnya memilih pergi, dengan langkah kaki yang ia hentak-hentakkan Vivi kembali masuk ke dalam mobilnya.
Sementara Nuraa yang melihat hal itu tersenyum puas, Nuraa juga kembali masuk ke dalam rumahnya.
"Mana Vivi Raa ... om juga kangen sama dia, kenapa gak di ajak masuk?" tanya Rahardian, melihat Nuraa hanya masuk ke dalam rumah seorang diri.
"Udah pulang," jawab Nuraa singkat.
Rahardian semakin heran mendengar dan juga melihat raut wajah Nuraa, biasanya Nuraa akan senang sekali saat ada Vivi datang ke rumah ini, keduanya selalu saja bersama kemana pun.
"Raa...," panggil Rahardian, lirih.
"Om aku mau mandi dulu ya, rasanya gerah banget badanku." Nuraa berlalu pergi begitu saja dari ruang keluarga menuju kamarnya.
"Sabar Mas ... kita baru aja datang, masih banyak waktu untuk cari tau apa yang terjadi di antara Vivi dan juga Nuraa."
"Sebaiknya kita fokus membantu persiapan untuk pernikahan Nuraa, kamu loh yang akan jadi walinya nanti, Mas," seru Salma.
"Iya kamu benar, Sayang ... lagi pula kita bakalan menetap terus di indonesia, kita gak akan ninggalin Nuraa sendirian lagi."
"Mas Rama nitipin Nuraa ke aku, jadi aku harus pastikan Nuraa bahagia." Rahardian menatap lurus ke arah Nuraa yang berjalan ke kamarnya.
Bersambung...