NovelToon NovelToon
PUSAKA TAMBUN TULANG

PUSAKA TAMBUN TULANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:40.1k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Pusaka Tambun Tulang: Bangkitnya Pendekar Terbuang
Arya Wiguna, seorang yatim piatu yang difitnah mencuri Kitab Pusaka Jurus Pedang Penggetar Langit, diusir dari padepokan oleh pamannya sendiri, Bujang Larang. Dibuang ke Bukit Tambun Tulang yang menyeramkan, Arya diselamatkan oleh Panglima Hijau, seorang pertapa sakti. Di sana, Arya ditempa untuk menguasai Pedang Pusaka Tambun Tulang yang memberinya kekuatan kebal dan tenaga dahsyat, menjadikannya pendekar tak terkalahkan.
Kembali untuk membalas dendam, Arya harus menghadapi Bujang Larang yang kini bersekutu dengan komplotan bandit Bajing Bukit Tiga Puluh. Di tengah perjuangannya, ia bertemu dan jatuh cinta pada Anggun Sari, pendekar cantik dari Bukit Sanggar Puyuh, yang menjadi sekutu setia dan kekasihnya. Namun, pesona Arya menarik banyak gadis lain, memicu intrik romansa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Petuah Suci dan Jalan Sang Penegak Keadilan

Matahari pagi menembus celah gua, membasuh pulau tersembunyi dengan cahaya keemasan.

Danau Cahaya memantulkan pantulan langit yang jernih, dan gemericik air Sungai Batanghari terdengar merdu, seolah mengiringi suasana khidmat.

Arya Wiguna berdiri tegap di hadapan Panglima Hijau, memegang Pusaka Harimau Putih yang terasa menyatu sempurna dengan tangannya. Ia tahu, momen perpisahan dan penentuan jalan hidupnya telah tiba.

Panglima Hijau menatap Arya dengan tatapan penuh kebijaksanaan.

"Arya, kau telah menguasai ilmu-ilmu yang tak terbayangkan oleh banyak pendekar.

Pusaka Harimau Putih memberimu kekebalan dan tenaga gajah purba. Kitab Jurus Pedang Tiada Tanding membekalimu dengan Ilmu Harimau Seribu dan dua belas jurus pedang yang mematikan. Namun, semua itu hanyalah alat, anak muda," ujar Panglima Hijau.

Panglima Hijau melangkah mendekat, mengulurkan tongkat kayunya ke arah Arya.

"Kekuatan sejati bukanlah apa yang bisa kau hancurkan, melainkan apa yang bisa kau bangun. Bukan berapa banyak nyawa yang bisa kau renggut, melainkan berapa banyak kehidupan yang bisa kau lindungi. Ilmu dan tenaga yang kau miliki ini adalah amanah, Arya. Sebuah tanggung jawab besar," kata Panglima Hijau lagi.

Arya mengangguk, menyerap setiap kata gurunya.

"Dunia di luar sana," lanjut Panglima Hijau, suaranya berat, "telah dikuasai oleh kegelapan yang merajalela.

Kejahatan menyebar seperti wabah, mencengkeram kehidupan masyarakat kecil. Orang-orang lemah tertindas, keadilan terinjak-injak, dan kekuasaan disalah gunakan oleh mereka yang berhati kotor."

Panglima Hijau memejamkan mata sejenak, seolah merasakan penderitaan dunia luar.

"Dulu, kau datang kemari dengan bara dendam yang membara, ingin membalas sakit hatimu pada Bujang Larang. Aku tidak melarangmu membalasnya, karena memang kejahatan harus dibayar. Namun, ingatlah, balas dendam yang tulus adalah membersihkan nama baikmu dengan kebenaran, bukan hanya dengan pertumpahan darah. Jadikan amarahmu itu kendali, bukan penguasa," kata Panglima Hijau menasehati.

Panglima Hijau membuka matanya kembali, menatap Arya tajam.

"Jika kau masih ingin membalas dendam, gunakanlah kekuatanmu untuk menegakkan keadilan yang lebih besar. Jangan biarkan dirimu menjadi seperti mereka yang kau benci. Jangan biarkan pusaka ini ternodai oleh niat yang keruh. Jadilah pelita di tengah kegelapan, bukan api yang membakar segalanya," ujar Panglima Hijau penuh kebijaksanaan.

"Aku akan selalu ingat semua pesanmu, Kakek Guru," janji Arya, sungguh-sungguh.

"Bagus," Panglima Hijau tersenyum tipis, "Maka, inilah tugas pertamamu, Arya."

Jantung Arya berdebar. Ia tahu, tugas ini pasti akan menjadi ujian berat bagi ilmu dan kebijaksanaannya.

"Kau belum diizinkan kembali ke Padepokan Macan Putih. Belum tiba saatnya kau menghadapi Bujang Larang. Jiwamu belum sepenuhnya siap untuk itu. Kau masih harus melalui ujian di dunia luar, mengasah ilmu dan batinmu dengan menghadapi berbagai macam kejahatan," kata Panglima Hijau lagi.

"Di mana tugas pertamaku, Kakek Guru?" tanya Arya Wiguna.

"Pergilah ke Desa Lingkar Naga," Panglima Hijau memerintahkan. "Desa itu terletak beberapa hari perjalanan ke arah timur dari sini, melewati hutan lebat dan beberapa anak sungai Batanghari. Di sana, terdapat sebuah perguruan bernama Perguruan Mawar Putih," kata Panglima Hijau.

Arya mengernyitkan dahi, ia belum pernah mendengar nama perguruan itu.

"Perguruan Mawar Putih didirikan oleh adikku sendiri," Panglima Hijau melanjutkan, ada sedikit nada kerinduan dalam suaranya, "Ketua Perguruan itu adalah seorang pendekar wanita yang gigih, berhati mulia, dan bertekad melindungi masyarakat kecil. Namun, akhir-akhir ini, Desa Lingkar Naga sedang dilanda teror. Para penculik gadis merajalela, membawa ketakutan dan penderitaan bagi penduduk," jelasnya.

Arya mengepalkan tangannya. Penculik gadis? Kejahatan seperti itu sangat ia benci. Ini adalah kesempatan baginya untuk menggunakan kekuatannya demi kebaikan, seperti yang diajarkan Panglima Hijau.

"Tugasmu adalah membantu Perguruan Mawar Putih, Arya," Panglima Hijau menjelaskan.

"Hentikan teror penculikan itu. Selamatkan para gadis yang diculik. Dan berantas lah kelompok penjahat yang menyebar teror itu hingga ke akarnya," perintah Panglima Hijau.

"Aku akan melakukannya, Kakek Guru!" Arya menyatakan dengan tegas.

"Ingatlah, Arya," Panglima Hijau menambahkan, suaranya kembali ke petunjuk petuah.

"Jangan terburu-buru menghakimi. Selidiki dengan cermat. Gunakan kecerdasanmu, bukan hanya kekuatanmu. Musuhmu mungkin licik, dan bersembunyi di balik orang lain. Carilah kebenaran di setiap peristiwa, bahkan jika itu menyakitkan," kata Panglima Hijau tunjuk ajar.

"Selama ini kau hidup dalam pengasingan di sini, dikelilingi ketenangan dan bimbingan. Di luar sana, kau akan menghadapi tipu daya, kepalsuan, dan godaan.

Akan ada saat-saat di mana kau merasa putus asa, di mana amarah kembali ingin menguasai. Namun, pada saat itulah, kau harus ingat semua ajaran yang telah kuberikan. Ingatlah Danau Cahaya ini, yang menjadi cermin jiwamu. Ingatlah kekuatan sejati berasal dari hati yang bersih," lanjut Panglima Hijau.

Panglima Hijau melangkah maju, meletakkan tangannya di bahu Arya.

"Dengarkan petuah ini baik-baik, Arya. Pertama, jangan pernah menyombongkan kekuatanmu. Kekuatan yang kau miliki adalah karunia, bukan hak. Gunakan ia untuk melindungi, bukan untuk menindas. Pendekar sejati merendah, sekalipun ilmunya setinggi langit," kata Panglima Hijau menatap Arya.

"Kedua, selalu pegang teguh kebenaran. Bahkan jika kebenaran itu pahit atau membahayakan dirimu. Kebenaran adalah fondasi dari keadilan. Tanpa kebenaran, keadilan hanyalah ilusi."

"Ketiga, belajarlah untuk mengampuni, namun jangan melupakan kejahatan. Mengampuni bukan berarti membiarkan kejahatan berlanjut. Mengampuni adalah membebaskan dirimu dari belenggu kebencian, agar kau bisa berpikir jernih dalam menegakkan keadilan."

"Keempat, jadilah pelindung bagi yang lemah. Masyarakat kecil, orang tua, anak-anak, mereka adalah jantung sebuah negeri. Mereka membutuhkanmu. Lindungi mereka dengan segenap jiwa dan ragamu."

"Kelima, jangan pernah berhenti belajar. Dunia ini adalah sekolah tanpa batas. Setiap orang yang kau temui, setiap pengalaman yang kau lalui, adalah pelajaran. Teruslah mengasah ilmu, dan yang terpenting, teruslah mengasah jiwamu," kata Panglima Hijau panjang lebar, pertapa tua itu memandang langit.

Panglima Hijau lalu menarik tangannya. "Aku tidak akan menemanimu, Arya. Jalan ini harus kau tempuh sendiri. Namun, aku akan selalu mengawasimu dari jauh. Dan jika kau menghadapi masalah yang tak bisa kau atasi, pusaka itu akan memberimu petunjuk," lanjutnya.

Arya menundukkan kepala dalam-dalam, memberi hormat. "Terima kasih, Kakek Guru. Untuk semua ilmu, semua bimbingan, dan kepercayaan yang telah kakek berikan. Aku tidak akan mengecewakan Kakek Guru. Aku akan melaksanakan tugas ini dengan segenap kemampuanku."

Arya Wiguna mengacungkan Pusaka Harimau Putih ke langit. Pedang itu berkilauan indah, seolah menyambut tekad Arya.

Arya tahu, Bukit Tambun Tulang telah memberinya kelahiran kedua.

"Pergilah, Arya Wiguna. Pergilah dan jadilah penegak keadilan yang sejati. Nama baikmu akan dibersihkan, bukan oleh tanganmu yang penuh dendam, melainkan oleh kebaikan yang kau tabur," kata Panglima Hijau tersenyum.

Arya mengangguk terakhir kali, lalu berbalik, dengan langkah yang ringan namun penuh keyakinan.

Arya meninggalkan pulau dan danau, menembus celah gua yang dulu terasa menyeramkan, kini terasa seperti gerbang menuju takdirnya.

Arya Wiguna keluar dari Bukit Tambun Tulang, kembali ke dunia yang penuh gejolak, siap menghadapi segala kejahatan yang merajalela.

Tugas pertamanya: Desa Lingkar Naga dan para penculik gadis. Dan ia tidak akan berhenti sebelum keadilan ditegakkan.

Bersambung....

1
Idwan Syahdani
maaf gan, kondisi author lagi kurang fit,soalnya habis demam...🙏🙏🙏
Was pray
up nya semakin tidak menentu, lama2 Hiatus
Was pray
baru nyadar kalau kekuatan manusia ada batasnya Arya? selama ini kemana aja?
Was pray
dibalik kerendahan hatimu terselip percik meremehkan orang ang lain dan terlalu mengagungkan kekuatan diri, dan itu bisa menjadi akar kesombongan ,dan itu terkadang tidak kau sadari arya
Sugeng Toboali
keren
Was pray
terlalu lemot alur ceritanya...
Was pray
orang memberi nasehat bukan karena menganggap kita bodoh , tapi karena memiliki rasa peduli dan empati, menerima nasehat tidak membuat kita jadi bodoh Arya, walaupun nasehat datang dari orang yg dipandang lemah sekalipun, paling tidak diterima walau itu tidak selaras dengan hati, itu suatu penghormatan bagi orang lain
Was pray
kau terlalu bangga dengan jekuatanmy Arya. sehingga meremehkan lawan2mu, dan itulah yg jadi kelenahanmu sehingga kewaspadaan hilang. .seharusnya kamu pakai ilmu padi arya
Was pray
orang yg mengaku salah setelah kalah itu udah hal umum, terlalu mudah memaafkan pengkhianat maka akan mudah dimanfaatkan oleh orang lain dan itu suatu kelemahan fatal, orang yg lemah pendirian dan pengkhianat maka suatu saat kemungkinan mengulangi lagi dengan cara yg lebih terorganisir dan itu lebih berbahaya
Zamo: makasih bang
total 3 replies
Sugeng Toboali
💪
Rafly Rafly
lanjutkan Thor..
makin seru kisahnya
Idwan Syahdani: oke tunggu aja ya...
total 1 replies
Arsi Oke
cerita yang bagus 👍🌟
Pandeka Garang
jurus kitab pedang tanpa tanding, gajah purba dan harimau seribu jg tidak pernah muncul lg, agak aneh aja, malah yg lebih sering muncul penggetar langit yg sama sekali blm dipelajari
Idwan Syahdani: sabar gan, bakal muncul kok di pertarungan yang lain nanti sabar ya... 🤣🤣🤣
total 1 replies
Pandeka Garang
tiba2 sdh tau kalau yg datang dewi racun dan si bisu, dewi racun jg tidak kaget arya tau namanya, lucu jg alurnya
Yatin Sahmuri
hi
Slow ego
👍👌jos..,,
wan.trado
lho ada 2 ya pedang harimau putih nyaa, tapi ditancapkan di kuburan.. kapan diambilnya.. 🤣🤣
wan.trado
meninggalkan pedang pusaka harimau putih di kuburan..??? sungguh perbuatan aneh dan sia-sia juga kesombongan
wan.trado
tau darimana itu Arya wiguna? bertemu juga baru kali ini..
wan.trado
bujang larang, sebagai seorang yang menguasai ilmu tinggi, rasanya mustahil tidak mengetahui adanya penyusup yg mencari bukti disamping tempat tidurnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!