Azelia Jhonson gadis periang berusia 17 tahun, duduk di bangku sekolah menengah kelas sebelas, di usianya yang muda dia terlalu menjadi gadis ceroboh yang selalu mengalami hal-hal tak terduga dalam hidupnya, hingga dia bertemu dengan seorang pria bernama Andrew, semua berubah drastis dalam kehidupannya.
Dia lah Andrew Tan, pria satu sekolah dengan Azelia Jhonson bahkan mereka satu kelas, sifatnya berbeda dengan Azelia namun takdir mempertemukan mereka dengan cara-cara yang unik lebih tepatnya sebuah kesialan bagi keduanya bisa bertemu.
Karena kehendak sang nenek dan kakek mereka harus terjebak dalam pernikahan yang rumit, mulai dari pacaran palsu hingga perjodohan yang berakhir dengan pernikahan.
Kedekatan mereka berawal dari rumah yang bersebelahan,membuat keduanya terjebak dalam masalah yang lebih sulit.
Kisah cinta mereka akan di bumbui dengan persahabatan dan juga persaingan yang begitu mendebarkan, jadi tetap stay ya bersama author.
Mari kita simak kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dipta Erna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Bisa Menghindar
Pov Author
James tengah bersiap dengan pakaian rapinya, dia hari ini akan menemui neneknya Zelia, setelah pembicaraan mereka di telepon semalam,Zelia akhirnya mengiyakan ide Andrew meski mereka harus menanggung hal yang akan terjadi pada mereka selanjutnya.
"Kakek udah siap ke sana?" tanya Andrew pada kakeknya yang kini mereka sedang berada di ruang keluarga, tampak Zulian dan Merry juga sedang bersama mereka.
"Tentu saja ayo kita berangkat sekarang," ajak sang kakek.
"Pah apa kami benar-benar tak perlu ikut?"tanya Zulian pada papanya.
"Tidak perlu ini hanya pacar Andrew bukan gadis yang aku jodohkan dengannya," jelas Afziel Tan pada anaknya.
"Baiklah, hati-hati kalian," Zulian tampak kecewa namun dia tahu ini belum saatnya dia bertemu dengan wanita yang menjadi pacar Andrew.
Di sisi lain Zelia tengah gelisah menunggu Andrew dan kakeknya, dia kini sedang berada di rumah neneknya, tanpa mom dan dadynya.
Zelia sengaja tidak memberitahu rencananya kepada mereka berdua termasuk juga dengan James, dia tidak ingin masalah ini menjadi lebih runyam lagi.
"Zelia," panggil sang nenek pada Zelia, wanita itu muncul begitu saja di belakang Zelia.
"Ya nek, ada apa?" tanya Zelia.
"Apa mereka tidak jadi datang?" tanyanya.
"Tentu saja datang nek, nenek tenanglah!" ucap Zelia meyakinkan neneknya.
Beberapa menit kemudian deru suara mobil tengah berhenti di depan gerbang rumah sang nenek, seorang satpam membukakan gerbangnya, tampak sebuah mobil mewah masuk ke dalam area perumahan mewah milik sang nenek.
"Nah itu mereka," Zelia menunjuk ke arah Andrew dan kakeknya, dia bersiap-siap untuk menyambut mereka.
"Selamat datang kakek," ucap Zelia menyalami tangan kakek Afzriel ketika mereka masuk ke dalam rumah.
"Iya nak." Sang kakek melirik ke arah nenek yang berada di belakang Zelia, mereka saling tersenyum satu sama lain.
Andrew menatap Zelia penuh tanda tanya begitu pula gadis itu merasa ada atmosfer yang aneh di sekitar mereka.
"Selamat datang Afzriel Tan," ucap sang nenek.
"Kamu ini masih sama seperti dahulu," ucap kakek.
"Eh mereka saling kenal?" batin kedua cucu mereka masing-masing.
Andrew melirik ke arah Zelia meminta penjelasan, gadis itu hanya mengendikkan bahu tak mengerti apapun hubungan kakek dan nenek mereka.
Kini mereka tengah di meja makan, suasana menjadi hening seketika.
"Kek kenapa sepertinya kakek sudah lama mengenal neneknya Zelia?" tanya Andrew di sela-sela mereka makan.
Sang kakek melirik ke arah Andrew dan tersenyum simpul, pertanda buruk bagi Andrew.
"Kami berteman dari kecil," ucapan sederhana sang kakek membuat Andrew berfikir jauh tentang perjodohannya, apakah mungkin Zelia lah gadis yang di jodohkan dengannya, kebetulan Zelia juga pernah bilang dia di jodohkan dengan seseorang, jika memang iya siapa orang yang Andrew temui di restoran dahulu.
Afzriel melihat kebingungan pada wajah cucunya, begitu pula Zelia yang tampak sedang berfikir.
"Ya apa yang kalian pikirkan benar," tiba-tiba pria tua itu berbicara begitu membuat Andrew dan Zelia semakin bingung.
"Kami senang kalian berpacaran sebelumnya, ini membuat langkah perjodohan kalian semakin mudah di laksanakan," ucap sang nenek.
Jedeer tiba-tiba kilat muncul di atas kedua kepala Zelia dan Andrew, keduanya membeku tak percaya.
"Maksud nenek aku dan Andrew di jodohkan?" tanya Zelia, sang nenek mengangguk.
"Bukankan kalian sudah pernah bertemu?" tanya sang kakek pada kedua cucu di depannya.
Andrew dan Zelia saling menatap, mereka mengingat pertemuan mereka di restoran yang lalu, jadi mereka sama-sama menyamar, tiba-tiba wajah Zelia memerah karena marah.
"Aku tidak mau perjodohan ini!" bentak gadis itu sambil berdiri.
"Kalian egois!" ucapnya kemudian dan berlalu pergi meninggalkan meja makan itu, Andrew pun merasa kecewa seperti Zelia, tapi dia kecewa pada gadis itu kenapa harus menyamar dan juga dirinya pun menyamar saat itu, sekarang semuanya menjadi semakin kacau.
"Zelia!" teriak neneknya, hendak berdiri mengejar Zelia namun di cegah oleh Afzriel.
"Biarkan dia tenang dulu, Andrew kamu tenangkan Zelia sana ni!" ucap pria tua itu pada cucunya, Andrew terpaksa mengikuti kemauan kakeknya, dia pergi mengikuti Zelia ke taman belakang rumah.
Terlihat Zelia tengah duduk di kursi panjang di taman, banyak bunga indah didepannya, dia tampak meneteskan air mata.
"Apa segitu buruknya kah aku sebagai calon suaminya, sampai dia tidak mau?" batin Andrew.
Dia mendekati Zelia dan duduk di sampingnya, Zelia beringsut menjauh dari Andrew.
"Jadi waktu itu kamu menyamar?" tanya Andrew.
"Kamu juga?" Zelia balik bertanya, mereka saling menatap.
"Huuh," keduanya saling membuang nafas kasar, ada sesak yang bergelayut di paru-paru keduanya.
"Apa kita tidak bisa menghindar dari perjodohan gila ini?" Zelia tampak pasrah dengan keadaan, semakin mereka menghindar semakin mereka harus bersama.
"Aku juga tidak mau menikah denganmu, lagian kamu bukan seleraku," ucapan Andrew menusuk kalbu paling dalam dari Zelia.
"Hei kamu pikir kamu cowok paling sempurna apa!" Zelia makin kesal.
"Lalu apa yang kamu takutkan, ini hanya perjodohan saja, kita bisa berpura-pura bersama!" ucap Andrew membuat Zelia mengkerutkan keningnya.
"Maksud kamu?" tanya Zelia.
Andre menatap serius gadis di sampingnya itu.
"Kita bersama tapi kita tak perlu saling mengganggu urusan pribadi masing-masing," ucap Andrew, dia memutuskan untuk menerima perjodohan itu, tak mungkin lagi kakeknya membatalkan hal ini.
"Apa kamu bisa ku percaya?" Zelia mencari kepastian.
"Tentu saja," ucap Andrew, keduanya lalu saling diam larut dalam pikiran mereka masing-masing.
Awal dari sebuah kebohongan berpacaran membuat mereka semakin terjebak dalam perjodohan gila ini, semua sudah terjadi mereka tak bisa menghindari lagi.
Setelah di rasa tenang, keduanya kembali ke dalam rumah untuk menyelesaikan masalah mereka.
Zelia menelan ludah dengan susah payah, Andrew menatap kedua orang tua yang berada di depan mereka.
"Gimana?" tanya kakek Afzriel pada keduanya.
"Kami menyetujuinya kek," ucap Andrew.
"Bagaimana denganmu Zelia?" tanya sang nenek kali ini.
"Zelia akan mengikuti kemauan nenek," ucap Zelia pasrah.
Dadanya sesak saat memutuskan hal yang begitu besar dalam hidupnya, namun semua terlanjut terjadi, Zelia tidak bisa untuk mundur kembali, mereka melakukan kebohongan karena telah berpura-pura berpacaran, jadi tidak ada alasan bagi mereka untuk menolak pernikahan itu.
"Bagus seminggu lagi kalian akan bertunangan, dan menunggu usia kalian ke sembilan belas kalian akan menikah," ucap kakek Afzriel.
Andrew dan Zelia mendelik tak percaya,seminggu lagi mereka harus bertunangan, masa-masa sulit akan mereka mulai dari hari ini.
Kakek dan Andrew akhirnya pamit pulang saat matahari sudah mulai tenggelam di ufuk barat, Zelia juga pamit kembali ke rumahnya dengan di antar oleh Andrew, sang kakek di jemput oleh sopir pribadinya, para tetua sengaja membuat mereka saling berdekatan terlebih dahulu agar semakin menyayangi diantara keduanya, mereka tidak tahu bahwa Zelia dan Andrew tidak sedikitpun saling menyayangi seperti yang mereka pikirkan.