NovelToon NovelToon
My Golden Husband

My Golden Husband

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 4.8
Nama Author: Citra Gtw

Dodik Aksara Bintara Bangga. Calon pewaris Maha Dewi Group yang mewarisi lebih dari sebagian saham di sana.

Suatu hari, Dodik mengetahui kebenaran orang tuanya yang tersembunyi selama bertahun-tahun. Karena marah, ia kabur dari rumah. Tanpa sengaja, ia tidur bersama seorang perempuan--

Ini hanya tidur! Tidur dalam artian sebenarnya, bukan khusus. Namun, warga desa malah memaksanya menikahi perempuan, yang tak lain adalah anak Pak RT.

Kehidupan Dodik berubah 180 derajat. Tinggal di desa, dikelilingi sapi, dan ibu mertua yang menyebalkan ....

Bagaimanakah kisah kehidupan Dodik selanjutnya?

Instagram: @citragtw_

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Citra Gtw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Pertanyaan Sakral

“Kalau gitu … karena kita udah nikah … berarti kamu benar-benar istriku.” Dodik mulai bertingkah bertele-tele. Dodik berhati-hati dalam berkata, meski akhirnya membuat orang lain selalu terluka.

“Emangnya kenapa?” sahut Citra.

“Kamu harus memenuhi tugasmu sebagai seorang istri dengan memenuhi kebutuhanku selama tinggal di sini.” Akhirnya Dodik menyelesaikan kalimatnya.

“Tugas seorang istri?” Citra mulai berpikir macam-macam. “A-apa maksudmu?”

Seketika Dodik mengerti apa yang Citra pikirkan. “Jangan salah paham!” serunya. “Maksudku, seluruh kebutuhanku yang seperti pakaian, makanan, tempat tinggal, kenyamanan, kecuali ranjang. Tulis setebal mungkin, ‘Tidak ada satu ranjang bersama!’. Artinya kita harus tidur secara terpisah!” tegas Dodik.

Ah, sial! Apa yang sudah kupikirkan? batin Citra menyesal. Dia menunduk untuk menyembunyikan rasa malu yang menyelimuti wajahnya. Kemudian dia mulai menuliskan aturan ketiga dan keempat.

Tiba-tiba Citra menghentikan gerakan tangannya. Dia teringat sesuatu. Dia pun mendongak lagi. “Bisakah aku tetap tidur di sini?” tanyanya.

Dodik menyisir rambutnya ke belakang. Dia tengah membanggakan ketampanannya. “Kita emang suami istri, tapi kita enggak saling memiliki. Jadi aku enggak setuju dengan keinginanmu itu,” sahut Dodik angkuh.

“Enggak gitu maksudku …,” kata Citra.

“Kamu mungkin merasa malu karena penolakanku, tapi aku bisa mengerti dirimu. Sebenarnya aku memiliki kecerdasan yang menurun dari nenekku. Jadi dengan mudah aku bisa menggali maksud di pikiranmu,” sahut Dodik merasa benar.

“Maksudku bukan tidur seranjang!” seru Citra.

Seketika Dodik menurunkan bibirnya. “Apa maksudmu?” tanyanya heran.

“Aku khawatir pada orang tuaku kalau mereka sampai mengira aku enggak bahagia dengan pernikahan ini. Jadi biarkan aku tidur di kamar ini. Terserah di mana pun,” jelas Citra.

Dodik membuang mukanya. Dia menutupi wajah malunya dengan rasa kesal. “Bukannya kamu enggak bahagia dengan pernikahan ini?” tanya Dodik ketus.

Apa ada perempuan yang tidak bahagia karena menikahimu, Tuan? tanya Citra di dalam hati. Sedangkan mulutnya terlalu malu mengeluarkan pertanyaan itu. Dia pun menjawab, “Aku emang enggak bahagia, tapi bukan berarti aku merasa terluka. Sedangkan kedua orang tuaku akan berpikir negatif tentang dua kata itu.”

“Terserahmu, lah! Yang penting jangan tidur di ranjangku!” tegas Dodik ketus.

“Terima kasih, Tuan, terima kasih,” sahut Citra semringah.

Dodik melirik sinis. Akhirnya dia menambah kata baru selain ‘maaf’ dalam kamusnya, batinnya.

“Lalu aturan selanjutnya apa, Tuan?” tanya Citra sembari bersiap menuliskan kalimat baru.

“Udah, enggak ada. Enggak usah nulis lagi!” Dodik sudah malas berpikir.

“Baik, Tuan.”

“Bukannya udah kubilang, berhenti memanggilku Tuan?” sahut Dodik mengingatkan.

“Ah, iya. Rupanya aku belum terbiasa.” Citra menggaruk-garuk kepalanya Sebenarnya dia merasa canggung. Dia masih melihat sinar kekuasaan mengelilingi tubuh Dodik.

“Baik, Yah,” kata Citra mengulangi kalimatnya.

Citra segera menandatangani kontrak singkat itu. Kemudian menyerahkan bukunya kepada Dodik. Dodik tidak segera menandatangani. Sebagai calon pemimpin perusahaan besar, ketelitian adalah keharusan yang dimilikinya.

“Oh, ya, Tuan … maksudku, Yah,” panggil Citra.

“Kenapa?” sahut Dodik tanpa menoleh. Akhirnya dia menandatangani kontrak itu.

“Gimana kamu bisa ke sini?” Akhirnya Citra mencuatkan pertanyaan yang dipendamnya sekian lama.

Dodik pun menoleh ke Citra. Sebenarnya pikirannya kebingungan mencari alasan. “Ke-kenapa kamu menanyakannya?” balas Dodik.

“Aku masih tidak percaya saja kamu bisa terjebak di sini, bahkan menjadi suamiku: seorang Dodik Aksara Bintara Bangga,” jelas Citra.

.

.

.

Selalu like dan koment🤗

1
ulfa lingga
ga jelas
ulfa lingga
nevel ga jels
ulfa lingga
ini novel apa ya
ga jelas2 ceritanya
pusing bacanya ceritanya TDK berkembang itu dan itu lagi di bolak balik
Triiy Ariiez
gw ngakak
Sya'wanah
sooooo sweetttttt..,...
Sya'wanah
aich, ikutan berkaca2 mataku n akhirnya jatuh 2 tetes air nya
Devisafitriharahap
crtanya tjunnya kmn Thor🙏
Gina Savitri
Jadi kangen bu rt sama pak rt orang tuanya citra gimana kabar mereka setelah dodik dan citra pergi ke kota 🤔
Siti Damra
up up up thor seru 👍👍💪💪💪💪
Siti Damra
up thor 💪💪💪
Lia
adeh....c citra
Lia
sabarrrr dodikkkk
Lia
begadang deh...
Lia
hahahahaha....
Lia
🤣🤣🤣🤣🤣
Lia
ceritanya 👍👍👍
Lia
,seru....
Lia
anak buah c radi yang ngebegal dodik kayanya.
Lia
hahahahahahaha...aku cape seserian wae 🤣🤣🤣
Lia
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!