Calia Averie Katarina, seorang model berbakat yang selalu disebut sebagai figuran.
Pengkhianatan yang ia terima dari sang kekasih membuat Calia terikat dalam sebuah pernikahan bersama pria yang baru saja ia kenal, Ronan Lysander. Pria sederhana berprofesi sebagai kurir yang mendapatkan pengkhinatan yang sama dari tunangannya.
Namun siapa sangka, pria yang selalu melakukan pekerjaan sebagai kurir itu menyimpan rahasia besar.
Ketika Calia menunjukkan kepada publik bahwa ia bisa menjadi model sesungguhnya, Ronan menunjukkan identitas aslinya dan membuat rahasia dibalik pernikahan mereka terungkap. Lalu, bagaimana dengan nasib pernikahan mereka?
Ikuti kisah mereka....!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Rencana
'Tok... tok... tok...
"Masuk!"
Max berseru kala mendengar suara ketukan dari pintu ruangannya, meletakkan ponsel dan mengarahkan pandangan pada pintu untuk melihat Retha melangkah masuk.
"Kamu memanggilku?" tanya Retha.
"Ya, duduklah," sahut Max.
Retha mengangguk, melangkah mendekat setelah menutup pintu dan duduk di kursi yang berada di depan Max dengan pembatas meja.
"Aku sudah mengatakan padamu bahwa Calia membuka agensinya sendiri bukan?" Max memulai.
"Ya, lalu?" sambut Retha.
"Aku ingin kau mendekati si kurir itu lagi..."
"Dan kau akan mendekati Calia lagi?" Retha menyela, suaranya menyiratkan rasa tidak senang.
"Ya," jawab Max singkat.
"Aku tidak mau!" tolak Retha.
"Itu sama saja aku membiarkan dia kembali lagi ke agensi ini,"
"Seharusnya kau juga sadar bahwa Calia yang berhasil menarik investor terbesar saat ini," ucap Max.
"Tapi, mereka masih tetap memberikan dana meski Calia tidak berada di sini, itu artinya bukan Calia yang menjadi alasan investor menanamkan dana di agensi ini," jawab Retha tak mau kalah.
Max menghembuskan napas kasar, mulai bosan dengan sikap Retha yang sangat sulit di atur. Berbeda dengan Calia yang selalu menuruti apapun yang menjadi keinginannya tanpa perdebatan panjang hanya dengan rayuan sederhana darinya.
"Dengar! Aku tidak ingin berdebat terlalu panjang denganmu. Tapi, aku tidak ingin jika agensi yang mereka dirikan berhasil. Dekati mantan kekasihmu, gali informasi tentang apa yang akan mereka lakukan, karena aku tidak yakin si kurir itu akan membuka semua kartunya pada orang yang baru dia kenal," ucap Max.
"Dan aku akan kembali mendekati Calia dengan tujuan sama. Atau,,, kau lebih senang jika mereka bisa bahagia dengan pernikahan mereka dan berhasil dalam mendirikan agensi mereka?"
Provokasi yang diberikan Max membuat Retha terdiam, dalam benaknya ia tidak rela jika kembali dikalahkan oleh orang yang sudah ia singkirkan.
"Calia bersama para model yang aku keluarkan," Max kembali berbicara.
"Tidakkah kamu merasa bahwa Calia bisa saja berhasil membuka agensinya bersama para model yang aku tolak? Dan jika mereka berhasil, kau-lah yang akan menanggung malu karena dikalahkan oleh seorang figuran yang keluar dari agensi tempatmu berada sekarang,"
"Kenapa kamu tidak menjadikan salah satu dari mereka sebagai mata-mata saja," sahut Retha.
Max tersenyum, menyandarkan punggung tanpa melepaskan pandangannya dari Retha.
"Aku sudah melakukannya," ucap Max.
"Kalau begitu, aku tidak perlu bergerak bukan?" sambut Retha.
"Pikirkan ini! Jika kau mendekati si kurir itu, dan aku mendekati Calia, mereka berdua hanya akan fokus pada kita dan tidak akan menaruh curiga pada orang yang aku beri perintah," Max menjawab.
"Jika suatu saat terjadi sesuatu, mereka berdua akan saling melempar tuduhan satu sama lain, dan orang yang aku suruh terhindar dari masalah tapi mendapatkan apa yang kita inginkan,"
"Selain kita menghancurkan kerja keras mereka, kita juga mengacaukan hubungan mereka, dan pandangan publik terhadap mereka yang tersisa hanyalah penilaian buruk,"
"Dan kita,,, bisa meninggalkan mereka setelah tujuan tercapai, selesai,"
Retha kembali diam memikirkan semua yang Max katakan. Ia mencintai Max, pemikiran bahwa Max bisa saja kembali bersama Calia membuat ia tidak ingin berurusan dengan Calia. Tetapi, hatinya juga memanas jika melihat Calia memiliki kehidupan lebih baik darinya.
"Baiklah, akan kulaukan," jawab Retha pada akhirnya.
"Kemarilah!" Max tersenyum, mengulurkan satu tangannya.
Retha tersenyum samar, merasa tidak bisa sepenuhnya melakukan apa yang diinginkan Max. Meski begitu, wanita itu tetap berdiri dan menyambut tangan Max yang segera menariknya hingga ia duduk di atas pangkuan Max.
"Ayolah, sayang. Aku mendekati Calia bukan untuk kembali padanya. Kau-lah yang aku cinta," ucap Max.
"Entahlah," sahut Retha mendorong dada Max menjauh.
"Dia cantik, dan kamu tentu menilai dia lebih cantik dariku," lirih Retha.
"Tapi dia tidak seseksi dirimu," jawab Max mulai menjalankan jemarinya di atas paha Retha yang terbuka.
Kedua mata Retha terpejam sembari menggigit bibir bawahnya merasakan sentuhan tangan Max yang bergerak semakin naik.
"Max,,, kita masih di kantor," tegur Retha.
"Apa bedanya kita di sini atau di Apartemenku? Aku selalu tidak bisa melakukan apa yang aku suka di rumah karena ayahku tidak akan menyukainya, hanya di sini dan di Apartemen pribadiku saja aku bisa bebas," jawab Max.
Retha tersenyum, memberikan ciuman lembut dan dalam pada pria itu, lalu menjauhkan wajahnya.
"Tidak siang ini," ujar Retha.
"Aku perlu menyelesaikan urusan di luar, sekaligus memikirkan cara untuk mendekati Ronan,"
"Baiklah, temui aku di Apartemen malam ini," sahut Max.
"Tentu," jawab Retha.
Mereka kembali berciuman selama beberapa saat sebelum Retha bangun dari pangkuan Max dan pergi meninggalkan ruangan.
"Kita akan bertemu lagi, Calia,"
......>>><<<......
.
.
.
"Tuan Muda..."
"Panggil aku Ronan saat kita sedang di sini, Bas! Aku tidak ingin istriku curiga!"
Bas menghembuskan napas lelah, memperhatikan majikan mudanya tengah serius menatap layar laptop yang memperlihatkan barisan kode yang memenuhi layar sementara jemari tangannya bergerak cepat menekan keyboard seiring dengan kode-kode baru yang terus bermunculan, mengetik serangkaian kode progam dengan cepat di laptopnya.
Menyerang dan bertahan, itulah yang Ronan lakukan. Satu waktu ia mendorong keluar serangan virus yang mencoba untuk masuk ke dalam jalur akses miliknya, detik berikutnya ia mencoba menerobos pertahanan lawan untuk mencuri data, tetapi kembali gagal.
"Aneh..."
"Bagaimana bisa data istriku tidak bisa ditembus sama sekali?" Ronan bergumam.
"Tuan,,,"
"Ronan,,, berapa kali aku harus memperingatkanmu, Bas? Atau kau sudah bosan bekerja padaku!" potong Ronan tanpa mengangkat wajahnya.
"Anda menempatkan saya diposisi sulit, Tuan," keluh Bas.
"Anda bahkan meminta saya memanggil Nyonya Muda dengan panggilan nama, bagaimana saya melakukannya?"
"Apakah dia memintamu untuk melakukan sesuatu?" Ronan bertanya, mengabaikan keluhan asistennya.
"Ada, Tuan," sambut Bas.
Ronan menghembuskan napas kasar, mengangkat wajah dan menatap asistennya. Pria yang memiliki usia lebih tua darinya dan menjadi asisten kepercayaan keluarga itu tetap bersikap hormat terhadap Ronan.
Sejenak, Ronan mengedarkan pandangan, tidak melihat siapapun selain hanya mereka bedua yang ada di dalam ruangan.
"Apa yang istriku minta untuk kamu lakukan?" tanya Ronan.
"Mengawasi Silvester Group," jawab Bas.
"Apa?"
"Nyonya Muda memiliki firasat bahwa Max Morgen tidak akan diam jika mengetahui Nyonya Muda mendirikan perusahaan sendiri bersama Anda," Bas menjelaskan.
"Saat Nyonya Muda masih bekerja di bawah naungan Silvester Group, Nyonya mengenal tabiat Max Morgen yang akan menggunakan segala cara untuk menyingkirkan saingannya. Jadi, Nyonya meminta saya untuk mengawasi mereka dalam pemasaran,"
Ronan mengangguk setuju. "Lakukan saja apa yang dia minta,"
"Saya mengerti, Tuan,"
"Apakah ada jadwal pertemuan untukku?" tanya Ronan kembali berkutat dengan laptop di depannya.
"Untuk hari ini sampai tiga hari kedepan, tidak ada jadwal khusus untuk Anda. Sementara pekerjaan kantor, saya masih bisa mengatasinya dengan bantuan orang-orang kepercayaan Anda," jawab Bas.
Ronan kembali mengangguk.
"Bolehkan saya bertanya, Tuan?" tanya Bas.
"Katakan saja!" sambut Ronan.
"Apakah Anda menikah dengan Nyonya karena ancaman dari Nyonya besar tentang warisan?" tanya Bas.
"Konyol!" sambut Ronan tertawa.
"Tentu saja bukan! Aku melakukannya murni untuk menuruti keinginan Grandma. Jika tentang warisan, aku lebih menyukai apa yang kuhasilkan dengan kedua tanganku,"
"Aku menyayangi Grandma dan Daddy lebih dari apapun," Ronan menambahkan.
"Apakah Anda mencintai Nyonya Muda, Tuan?"
. . . .
. . . .
To be continued...
pen kasihan tapi ngakak liat Retha /Facepalm//Facepalm/
huft😮💨😮💨