Lyra mencoba untuk bertahan meski ia terluka oleh kenyataan pahit yang baru saja ia ketahui setelah 6 bulan lamanya. Suami tercinta tega menduakan cintanya dan bermain api dengan Ibunya sendiri.
Rumah Tangga seumur jagung bagai neraka untuk Lyra. Lantas bagaimana ia harus menghadapi situasi ini?
Baca kisahnya yuk readers...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Numpang Tinggal
Bab 14. Numpang Tinggal
(POV Author)
"Lo pengacarakan? Tolongin Gue ya. Gue Lyra..." Ujar Lyra menyodorkan tangannya untuk di jabat.
Teguh yang masih di landa kebingungan karena Lyra tiba-tiba menarik lengan bajunya untuk segera menuju ke mobil Farhan, masih terdiam terpaku menatap wajah Lyra.
"Lama!" Ujar Lyra seraya mengambil tangan Teguh dan menggenggamnya seperti orang berjabat tangan pada umumnya.
Teguh terkesiap, kemudian nampak canggung sesaat.
"Gue Teguh." Ujar Teguh.
"Gue udah tahu dari kartu nama Lo. Jadi nggak nih, mau nolongin Gue? Gue masuk ya?"
"Eh tunggu jangan di situ, di belakangan aja. Biar Gue duduk depan, bahaya!" Ujar Teguh.
Tidak menolak Lyra segera masuk dan duduk di kursi belakang. Setelah di dalam barulah Lyra sadar, bahwasanya Teguh tidak sendirian.
"Nggak jadi!" Ujar Lyra hendak membuka pintu mobil dan berencana pergi meninggalkan mereka berdua.
Namun sayang, pintu itu di kunci otomatis dari depan.
"Lo pikir kita orang jahat? Gue juga pengacara tahu!" Ujar Farhan tidak terima, karena tadi ia sempat mendengar pembicaraan mereka walau samar.
Lyra mengurungkan niatnya untuk keluar.
"Jadi Lo mau kemana, kita anter." Kata Teguh.
"Gue nggak tahu." Jawab Lyra pasrah.
"Lah, kok malah nggak tahu?"
"Gue baru aja minggat dari rumah, masa iya pulang lagi."
"Jaman gini masih main minggat-minggatan?" Celetuk Farhan.
"Niat nolong nggak sih?!" Gerutu Lyra.
"Nggak ada tujuan selain rumah? Tempat temen misalnya, atau keluarga lainnya?" Tanya teguh.
"Nggak punya. Tadi Gue udah kerumah sahabat Gue, tapi dia nggak ada." Ujar Lyra.
"Bawa ke Apartemen Lo aja, udah deket ini." Saran Farhan.
"Etdah, Lo mau Gue di grebek warga?" Kata Teguh.
"Lo lupa ini dah malam. Dan besok kita mesti ke Sumatera? Gue lelah, butuh istirahat mana Gue belum menyiapkan datanya lagi."
Teguh tampak memikirkan ucapan Farhan.
"Ya udah bawa ke tempat Gue." Ujarnya.
Lyra hanya mendengarkan perdebatan sesaat dua lelaki yang baru saja ia kenal.
Farhan pun menjalankan mobilnya kembali menuju Apartemen Teguh.
Sesekali Teguh melirik ke arah Lyra yang tampak memejamkan matanya. Bibirnya tampak pucat karena dingin dan wajahnya tampak sayu entah karena apa.
Teguh merasa kasihan. Ia paling tidak bisa melihat wanita yang lemah dalam keadaan seperti Lyra ini.
"Pasrah banget, nggak takut dia kita culik."
"Lo mau banting profesi?"
"Bukan gitu, kayanya dia kecapekan banget sampe tertidur gitu. Oh ya, singgah sebentar di depan dekat tikungan sebelum Apartemen Gue. Ada pecel lele dan ayam enak disana." Ujar Teguh.
"Oke."
Sesuai permintaan Teguh, Farhan menghentikan mobilnya ditempat yang di maksud Teguh. Teguh lalu keluar dari mobil, lalu memesan 2 pecel ayam dan 1 pecel lele. Teguh baru teringat ada Lyra yang juga malam ini akan menginap di tempatnya. Karena tidak tahu selera wanita itu, Teguh memesan tambahan 1 pecel lele, dan 1 pecel ayam.
Setelah menunggu 15 menitan, pesanan Teguh pun siap. Dan ia segera membayar kemudian masuk ke dalam mobil.
"Nih, buat Lo dan Aisyah." Ujar Teguh memberikan 1 pecel ayam dan 1 pecel lele.
"Apa nih?" Tanya Farhan.
"Ayam sama lele. Bener kan?" Kata Teguh.
"Emang pria idaman Lo, tahu banget selera Gue sama isteri Gue."
"Yok lah, dah lelah banget Gue."
Segara Farhan kembali menjalankan mobilnya. Selang 10 menit mereka pun tiba di gedung Apartemen Teguh.
Teguh kemudian membangunkan Lyra karena sudah sampai. Sambil mengucek matanya, Lyra mengikuti langkah Teguh menuju Unit Apartemen nya.
Pintu Apartemen pun terbuka setelah Teguh memasukan sandinya. Lyra tampak takjub sesaat akan suasana dalam Apartemen itu. Rapi, bersih dan tampak nyaman.
"Lo bisa pakai kamar di ujung sana. Kamar ini punya Gue. Di dalam lemari sana ada daster. Lo bisa pakai itu setelah membersihkan diri sambil nunggu baju Lo kering." Ujar Teguh.
Lyra mengangguk. Tanpa sungkan ia langsung menuju kamar yang ditunjuk oleh Teguh.
Teguh meletakkan makanan yang ia beli. Kemudian menyiapkannya di atas piring-piring untuk makan malam dirinya dan juga Lyra.
Aroma makanan itu ternyata sampai tercium di kamar yang Lyra gunakan. Ia pun bergegas menyelesaikan mandinya dan menggunakan daster baru yang ternyata ada selusin di dalam lemari di kamar itu.
Dengan langkah malu-malu Lyra mendekati meja makan yang sudah ada Teguh disana. Lelaki itu sedang duduk manis sambil menatap serius smartphone-nya dan mengutak ngatik sesuatu disana. Teguh tampak segar dengan mengunakan kaos putih dan celana trening. Ternyata lelaki itu lebih dulu selesai membersikan dirinya sebelum Lyra selesai.
"Oh, Lo dah kelar mandi. Sini duduk. Laper kan, kita makan bareng. Gue nggak tahu selera Lo apa. Jadi Gue beliin Lo ayam sama lele." Ujar Teguh sambil menatap Lyra yang mengenakan daster berwarna jingga dengan motif bunga besar.
Untung ada daster Umi. Batin Teguh.
"Makasih." Ujar Lyra, kemudian menarik salah satu kursi dan duduk di sana.
"Kalau ada yang mau Lo ceritain, cerita saja. Mumpung Gue masih punya waktu senggang sebelum tidur."
Lyra diam sesaat. Kemudian mulai meraih pecel ayam dan meletakkannya di piring. Setelah itu, Lyra hanya melamun memandangi makanannya.
Sikap Lyra itu tidak luput dari perhatian Teguh.
"Ehem. Nggak di makan?"
"Apa bayar pengacara seperti Lo ini mahal?" Tanya Lyra tiba-tiba.
"Tergantung dari kasus yang di tangani. Lo punya masalah apa, sampe kabur dari rumah?"
"Lo dah nikah?"
Aneh nih cewek, Gue nanya nggak dijawab malah nanya Gue dah nikah apa belum. Batin Teguh.
"Kalau sudah, mana berani Gue bawa Lo kesini. Ini juga Gue takut di gerebek masa." Ujar Teguh apa adanya.
"Kalau begitu apa boleh Gue numpang tinggal disini selama beberapa hari?"
Teguh mengerutkan dahinya.
"Coba dulu cerita apa masalah Lo. Gue nggak bisa main tampung sembarang jika ternyata Lo bandar narkoboy."
"Gila, Gue nggak make barang haram begituan!" Respon Lyra tidak terima.
"Ya kan kali aja. Gue jadi duga begitu karena nggak tahu cerita Lo sebenarnya."
Lyra membuang napas berat.
"Gue dah nikah, dah suami Gue selingkuh." Ujar Lyra menunduk.
Giliran Teguh yang terdiam. Dan akhirnya membuang napas panjang.
Yah, bini orang. Nyaris aja Gue salah jalan. Batin Teguh.
"Berapa sih usia Lo?" Tanya Teguh.
"Gue baru 21 tahun."
"Bujug, masih bocil Lo dah nikah? Nikah paksa Lo?"
"Ish, nggak. Emang usia Lo berapa?" Tanya Lyra balik.
"Gue 28 tahun."
Eh beda 7 tahun, Gue kira seumuran. Tapi looknya masih oke. Masih kelihatan muda. Batin Lyra.
"Salah panggil ya Gue. Maaf Bang..." Ujar Lyra yang tampak terlihat tulus.
"Baiknya selesaikan dulu makan malam kita. Besok Gue ke Sumatra, mungkin selama 2 hari. Lo bisa tinggal di sini. Setelah Gue pulang kita urus urusan Lo." Ujar Teguh.
Mengingat jadwalnya yang padat, Teguh tidak bisa berlama-lama membuang waktu kosongnya. Setelah makan malam selesai, mereka masuk ke kamar masing-masing. Lyra merebahkan dirinya, sementara Teguh berkutat dengan berkas dan laptop, menyiapkan data untuk bertemu kliennya besok.
Bersambung...
hempaskn para bunga bangkai itu
maksain diri amiiiittttt
salah sangka..tiwas berbunga hati tryt berbunga bangkai
harus nya selidiki diam diam saat mereka mengira kamu gak curiga klo gini kan mereka waspada dasar. Polos apa goblok. gregeten akunya 😄