Series ke dua dari novel 14 Februari, yang menceritakan kehidupan karir dan asmara seorang Charity Lilybelle Tjaidjadi, atau yang lebih akrab di sapa Lily.
Bagaimanakah kisah selanjutnya?
Baca terus novel Lily ya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER - 14
Saat makan malam, Fay membuka obrolannya dengan Lily dengan meminta maaf kapadanya. "Harusnya aku yang harusnya meminta maaf, tidak selasaknya aku bermain-main di saat nilai-nilaiku sungguh sangat mengkhawatirkan. Aku janji, aku tidak akan main-main lagi, aku akan belajar dengan sungguh-sungguh." Lily beranjak dari tempat duduknya. "Permisi," ia membungkukan badannya kemudian kembali ke kamarnya.
Di dalam kamar ia membuka laptop dan buku-buku pelajarannya, ia bertekad untuk memperbaiki nilai-nilainya yang tak pernah mengalami peningkatan. "Ya hanya tinggal 5 tahun lagi, dan setelah itu aku akan memiliki kehidupan sendiri dan tak akan menjadi beban untuk keluarga ini lagi," ia mulai mencatat materi-materi penting yang belum ia kuasai untuk ia tanyakan pada guru onlinenya.
Lily memilih untuk mengambil bimbingan belajar online yang harganya jauh lebih murah di banding dengan mendatangkan guru privat ke rumahnya atau les di tempat yang mahal seperti Tara yang memang sudah mengincar universitas di luar negeri.
Di tengah keseriusan Lily mengerjakan latihan soal, tiba-tiba saja Kendra datang menghampiri putrinya. "Ada yang bisa daddy bantu?" tanya Kendra dari balik pintu, ia berjalan me dekat ke arah Lily.
Lily bergegas menarik hijab yang ia letakan di atas tempat tidur, kemudian dengan cepat ia langsung mengenakannya dan menarik lengan bajunya hingga ke pergelangan tangan. "Hampir selesai, dad," jawab Lily.
Kendra agak sedikit heran melihat tingkah laku Lily sejak makan malam tadi, baru kali ini ia melihat putrinya mengenakan hijab saat di dalam rumah, biasanya Lily mengenakan hijabnya saat ada tamu pria atau ketika keluar apartement.
"Boleh daddy lihat apa yang sedang kamu kerjakan?" Kendra duduk di samping putrinya, namun Lily agak sedikit bergeser, menjauh dari Kendra.
"Sebentar lagi ya, dad." Lily menyelesaikan jawaban akhir soalan matemematinya kemudian ia menyerahkan ke daddynya.
Kendra memeriksa jawaban soal yang di kerjakan oleh putrinya dengan teliti. "Anak daddy pintar sekali," puji Kendra. Dari 5 soal yang Lily kerjakan hanya ada 1 soal yang jawabannya kurang tepat. "Yang soal nomor 5, daddy perbaiki sediki ya." Kendra mengambil kertas dan pulpen milik putrinya.
Suatu lingkaran berpusat di O(0,0). Jika lingkaran tersebut melalui titik (4,2), maka persamaan lingkaran tersebut adalah….
"Kamu catat dulu ya rumusnya," ucap Kendra.
"Baru setelah itu kita masukin angka-angkanya ke dalam rumus," lanjutnya.
"Nah, sekarang, kamu tinggal masukin ke rumus persamaan lingkaran dengan pusat (0,0)." Kendra memberikan pulpen dan kertas tersebut kepada putrinya agar Lily menyelesaikan jawabannya.
"Selesai deh, gampangkan?" tanya Kendra.
'Pantas saja Tara sangat pintar, mommy dan daddynya memang benar-benar pintar,' bantin Lily.
"Hei kok bengong," Kendra menepuk lengan Lily dengan lembut. "Apa masih ada yang belum kamu mengerti?" tanya Kendra.
Belum sempat Lily menjawab, Fay sudah masuk ke kamarnya. "Bagaimana belajarnya?" tanya Fay, ia berdiri di belakang Kendra, kemudian ia mengambil dan memeriksa latihan soal yang putri sulungnya kerjakan.
"Teruslah berlatih seperti ini, mommy yakin kau mampu mengejar ketertinggalanmu, setidaknya nilai ulangan harian yang kemarin kosong bisa terisi." Fay menaruh kembali latihan soal milik Lily di atas meja belajarnya.
Lily mengangguk. "Iya, mom."
"Oh ia Ly, barusan mommy cek mutasi kartu debit dan kreditmu. Hari ini tidak ada transaksi yang keluar, apa aunty Luna yang membayar belanjaanmu tadi?"
Lily mengangguk. "Iya mom, tadi aunty Luna yang membayarnya."
"Lain kali jangan begitu ya, kami kan sudah memberikanmu uang dan kartu kredit. Pakailah untuk membeli semua kebutuhan yang ingin kau beli. Jangan pernah memanfaatkan kebaikan orang lain meskipun itu orang yang sudah sangat kamu kenal, mengerti?!!"
"Baik mom."
Kendra berdeham, untuk mengurangi ketegangan yang terjadi. "Ini sudah malam, kamu istirahat ya, nak. Takut besok kesiangan!!" ia ingin mengelus kepala Lily, namun lagi-lagi Lily menghidar, ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju tempat tidurnya.
"Good night mom, dad." Lily menyusup ke tempat tidurnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Good night," melihat putrinya mulai menjaga jarak darinya membuat hati Kendra terasa sakit, ia tak mengerti mengapa hubungannya dengan Lily tiba-tiba bisa sedingin ini.
Kendra memandangi Lily sesaat, sebelum akhirnya ia mematikan lampu kamar putrinya dan pergi ke kamarnya untuk menyusul Fay.
Kendra memandangi istrinya yang tengah mengenakan skin care malamnya di depan meja riasnya. "Fay, apa kamu masih kesal dengan Lily?"
"Tidak. Aku hanya tidak suka Lily terkesan memanfaatkan kebaikan keluarga mba Luna, lagi pula kitakan masih mampu membiayai semua kebutuhannya, jadi alangkah lebih baiknya jika Lily berbelanja dengan menggunakan uang yang kita berikan."
Untuk kali ini Kendra tidak sependapat dengan istrinya. "Luna itu kan sudah menganggap Lily seperti putrinya sendiri, wajarlah jika sesekali dia mengajak Lily jalan-jalan dan berbelanja. Dulu kamu tidak seperti ini?"
"Justru itu jangan di biasakan lagi, tidak bagus." Fay beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan menuju meja kerjanya, lalu kembali lagi mendekat ke arah Kendra.
"Ini laporan keuangan toko bulan ini," Fay menyerahkan laporan keuangan yang di berikan oleh salah satu staf keuangan yang bekerja di toko perhiasan DNA milik almarhumah Amanda. "Masih belum ada perubahan dari bulan-bulan sebelumnya."
Kendra hanya melihatnya sekilas kemudian ia menaruhnya kembali di meja samping tempat tidurnya. "Besok setelah pulang dari kantor, aku akan ke sana untuk mengontrolnya secara langsung," ucap Kendra, ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, di susul Fay yang perlahan merayap di atas tubuh Kendra.
Fay mulai membuka satu persatu kancing piyama Kendra, dan memberikannya kecupan kecil di dada Kendra. Ia mendongak menatap Kendra. "Ken, kalau terus seperti ini, lama kelamaan bisa mengganggu keuangan keluarga kita."
"Maka dari itu, besok aku akan ke sana agar aku bisa mengevaluasinya," Kendra menggulingkan tubuh Fay ke tempat tidur di sisinya. "Sudah malam, ayo kita tidur." Kendra membawa Fay ke dalam dekapannya.
'Tumben Kendra menolakku,' gumam Fay dalam hati, melihat suaminya sudah tertidur lelap, ia pun memejamkan matanya.
Pokoknya sukses untuk semua karya²nya dan semangat berkarya ❤❤
Terimakasih banyak buat Irma yang sudah menghadirkan kisah Lily yang memberikan begitu banyak pelajaran hidup tentang cinta, kesetiaan dan kesabaran.
Semangat terus untuk berkarya dan semoga kesehatan, kesuksesan dan keberkahan selalu membersamai, Aamiin....