Gabriel Arshaka, pria dengan sejuta pesona yang digilai banyak wanita. Tak ada satupun wanita yang memiliki tahta tinggi dihatinya selain kekasihnya.
Namun karena sebuah kesalahan, ia terpaksa menikahi Jingga, wanita yang menjadi sahabat adiknya dan juga sudah dianggap sebagai adiknya sendiri.
"Aku tidak akan berhenti mengejarmu, sebelum aku berhasil membuatmu jatuh cinta padaku kak" ~ Jingga Oceana.
"Berhentilah melakukan hal sia-sia, tidak ada dalam kamusku jatuh cinta pada bocah ingusan sepertimu" ~ Gabriel Arshaka.
Akankah cinta tumbuh di hati Gabriel untuk Jingga? Bagaimana caranya Jingga menaklukkan hati Gabriel yang selalu menganggapnya seperti anak kecil?
JANGAN LUPA TEKAN TOMBOL LIKE, KOMEN, FAV DAN VOTENYA YA KAK. KARENA ITU SANGAT BERARTI BAGI AUTHOR.
*****
Sebuah Spin off dari novel MARRIAGE BY MISTAKE. Menceritakan putra kedua pasangan Bella dan Axel dengan putri dari pasangan Dio dan Karin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Kesalahan Bermula.
Eril datang ke kantor dengan wajah lesu dan tak bersemangat. Semalam ia tak bisa tidur karena selalu kepikiran wajah Jingga. Hatinya selalu terusik saat melihat sorot mata Jingga yang menaruh harapan begitu besar untuknya.
Kenapa Jingga harus memberinya cinta sebesar itu? Eril menjadi takut akan semakin membuat wanita itu kecewa jika tak bisa membalasnya. Terkadang Eril saja sangat bingung dengan perasaannya, ia sangat nyaman bersama Jingga, tapi ia juga tidak bisa melupakan Jenny.
"Tuan, ini berkas yang harus Anda tanda tangani," ucap Rafi memberikan beberapa laporan untuk Eril.
Eril tak banyak bicara, ia segera mendatanginya dengan cepat. Bersamaan dengan itu, ponselnya berdering menandakan pesan masuk. Eril mengerutkan dahinya, siapa yang mengirimkannya pesan.
Eril langsung membukanya, wajahnya terlihat terkejut namun juga sedikit senang.
"Setelah ini apa jadwalku?" tanya Eril pada asistennya.
"Siang ini kosong Tuan, Anda sudah memindahkan jadwal menjadi besok pagi," sahut Rafi langsung.
"Baiklah, aku akan pergi. Jika ada yang mencari ku, katakan saja aku sedang meeting," ucap Eril mengambil jasnya lalu beranjak dari duduknya.
Eril sesekali menyugar rambutnya tak sabar saat ia melangkahkan kakinya menuju mobil. Jantungnya kembali berdetak kencang sama seperti sebelumnya jika ingin bertemu dengan kekasihnya.
Tak selang beberapa lama setelah Eril pergi, terlihat Jingga datang ke kantor dengan membawa makan siang untuk Eril. Sebuah kebiasaan rutin yang setiap hari Jingga lakukan.
"Selamat siang Nona Jingga," Resepsionis yang kini sudah mengenal Jingga langsung menyapa saat wanita itu datang.
"Siang Kak," Jingga menyapa balik dan langsung menuju ruangan suaminya.
"Kak Rafi, Kak Eril ada di ruangannya nggak?" tanya Jingga pada Rafi yang sedang duduk di kursi kerjanya.
"Nona Jingga? Anda kesini? Tuan Eril baru saja keluar," ucap Rafi sedikit terkejut melihat Jingga.
"Oh lagi keluar ya? Aku mau nganter makan siang," kata Jingga menunjukkan bekal makan siang yang dibawanya.
"Mungkin Anda bisa menitipkan disini Nona, nanti biar saya sampaikan ke Tuan Eril," ucap Rafi juga tak tahu kapan Eril akan kembali.
"Memangnya Kak Eril sedang kemana? Meeting 'kan? Aku tunggu aja deh, biasanya dia udah tahu kalau aku bawa makan siang," kata Jingga ingat kalau Eril memang sering di kantor jika ia mengantarkan makan siangnya.
*****
Eril membawa mobilnya ke sebuah Restoran yang letaknya tak jauh dari kantornya. Restoran itu memiliki ruangan privat yang sudah sangat Eril pahami. Ia langsung masuk ke salah satu ruangan dan menemukan sosok wanita yang sudah menunggunya.
"Jenny?" panggilnya membuat Jenny langsung menoleh.
Jenny sedikit tersenyum, ia bangkit dari duduknya lalu menubruk Eril dan pelukan erat. Eril juga langsung membalasnya seraya memejamkan matanya.
"Aku tahu kau pasti datang," ucap Jenny tersenyum dalam pelukan Eril.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Eril lebih khawatir dengan keadaan Jenny. "Apa kekasihmu masih menyakitimu?" tanya Eril lagi membaca pesan Jenny yang mengatakan kalau pacarnya melakukan kekerasan fisik.
"Sudah tidak lagi, tapi dia masih sering mengancam ku Eril, aku takut," ucap Jenny kembali memeluk Eril seraya menangis ketakutan.
"Ssttt, jangan takut. Aku akan membuat ba ji ngan itu tidak akan mengganggumu lagi," kata Eril mengelus punggung Jenny.
"Jangan ... nanti kamu yang akan terluka," kata Jenny menggelengkan kepalanya, mencegah Eril untuk berurusan dengan David.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu Jenny, jadi biarkan aku membalasnya," kata Eril memandang Jenny serius.
"Ini semua salahku, seharusnya aku tahu kalau hanya kau pria yang terbaik untukku. Bukan David, maafkan aku ..." ucap Jenny sendu.
"Sudah jangan pikirkan itu, semuanya sudah terjadi," kata Eril tak mau membahas masalah itu.
"Apa kita bisa seperti dulu lagi?" ucap Jenny kali ini memandang Eril dengan tatapan dalamnya.
"Kenapa kau berkata seperti itu? Apa aku pernah meninggalkanmu sebelumnya?" kata Eril memegang pipi Jenny, mengusapnya perlahan dengan penuh kasih.
"Aku memang bodoh Eril, sekarang kau sudah menjadi milik orang lain," kata Jenny benar-benar tak rela jika melepaskan Eril, untuk itulah dia memutuskan David karena ingin kembali kepada Eril.
"Maksudmu Jingga?" ucap Eril.
"Ya, kalian sudah menikah," kata Jenny dengan wajah sedihnya.
"Dia itu hanya wanita payah, anak kecil yang tidak bisa melakukan apa-apa, kau tahu? Hanya memasak saja teriakannya akan sampai ke penjuru rumah," ucap Eril tertawa jika mengingat tingkah Jingga.
Jenny tersenyum sinis. "Bibirmu memang meledeknya, tapi tidak dengan sorot matamu Eril. Kau sudah jatuh cinta padanya, hanya saja kau belum tahu. Sebelum kau sadar, kau harus kembali padaku," batin Jenny tak akan membiarkan Eril dan Jingga bersatu.
"Jadi, kau memaafkan 'kan?" tanya Jingga memeluk Eril seraya memainkan kancing bajunya.
"Kenapa tidak? Aku juga salah sudah membuatmu kecewa waktu itu, maafkan aku ..." ucap Eril mencium kedua tangan Jenny.
"Tidak, aku yang salah. Aku minta maaf," kata Jenny memegang kedua telinganya dengan wajah memohon yang imut.
"Dasar, aku tidak akan memaafkan mu kalau kau belum makan. Iya 'kan? Kau pasti belum makan?" kata Eril mengelus rambut Jenny dengan gemas.
"Aku mau makan kalau kau yang menyuapiku," kata Jenny manja.
"Apa imbalannya?" kata Eril mengerlingkan matanya.
"As you wish ..." bisik Jenny membuat Eril gemas sekali.
Hari itu Eril benar-benar melalukan kesalahan yang sangat besar. Ia menghabiskan waktunya hampir seharian dengan Jenny tanpa tahu jika Jingga sudah menunggunya selama berjam-jam di kantor hingga wanita itu ketiduran.
Eril baru kembali ke kantor saat pukul empat sore, wajahnya tampak berseri-seri karena akhirnya Jenny mau kembali padanya. Ia bersiul sepanjang langkahnya menuju ruangan. Tapi ia begitu kaget saat melihat Jingga meringkuk di sofa ruangannya seraya tertidur pulas.
"Jingga ..." batinnya terkejut seraya memejamkan matanya singkat. Eril lalu mendekatkan dirinya, duduk di samping wanita itu dan mengguncang lengannya pelan.
"Jingga, hei ... bangun," ucap Eril dengan suara lembut.
Jingga orang yang sangat peka, ia langsung terbangun saat Eril menyentuhnya. "Kak Eril sudah pulang, ya ampun aku ketiduran. Maaf ya kak, Kakak pasti sudah lapar, aku akan menyiapkan makanan untuk Kakak," Jingga langsung gelagapan membuka kotak bekalnya, tapi Eril langsung mencegahnya.
"Aku sudah makan Jingga," ucap Eril menekan giginya, tak tega melihat Jingga yang rela menunggunya pulang hanya demi memberikan makan siang. Sepertinya ia harus segera melakukan sesuatu agar tidak terus menyakiti Jingga nantinya.
"Oh, Kakak udah makan ya. Aku bawa pulang lagi aja kalau gitu makanannya," kata Jingga tertawa hambar menutupi rasa kecewanya. Ia tahu apa alasan Eril tidak makan di kantor, karena Jingga bisa mencium bau parfum wanita yang masih tertinggal di baju Eril.
Jingga langsung mengemasi semua barang-barangnya dan bersiap beranjak dari ruangan Eril. Tapi sebelum sampai diambang pintu, Jingga mengehentikan langkahnya saat mendengar ucapan Eril.
"Kedepannya tidak perlu membawakan aku makan siang. Aku sepertinya akan sibuk di luar nanti,"
Jingga mengigit bibirnya, berusaha keras agar tidak menangis. Dia bukan wanita cengeng, hanya karena Eril menolak makanannya, ia tak boleh menangis.
"Baik Kak, sesuai keinginanmu," sahut Jingga dengan suara bergetar lalu pergi dengan membawa luka yang begitu perih.
Happy Reading.
Tbc.
Bonus Visual Jingga dan Eril __