Anastasya yang biasa di panggil Ana, meneruskan pendidikan perguruan tingginya di Ibu Kota Jakarta.
Ana bukan hanya gadis desa biasa. Dia gadis yang pintar dan cerdas. Orang tuanya bekerja keras untuk bisa membiayai pendidikan Ana hingga lulus nanti.
Apakah nasib Ana akan selalu beruntung saat berada di Ibu Kota, apakah sebaliknya?
Yuk baca kisah lengkapnya hanya di Pesona Gadis Desa😊
Follow ig: mayarentika
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maya rere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 PGD
Sesampainya di rumah, Ana segera membersihkan diri karna badannya terasa lengket. Setelah selesai membersihkan diri, Ana segera melakukan kewajiban sholat 5 waktu. Ia selalu berdoa untuk kebahagiaan kedua orang tuanya dan semoga ia di kelilingi orang-orang baik di sisinya.
Setelah selesai sholat ashar, Ana merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Waktu 1 jam bisa membuat ia melepaskan lelahnya. Ana pun tertidur dengan pulas.
2 jam pun telah berlalu, Ana masih berada di alam mimpinya. Bunyi ponsel milik Ana mengagetkannya. Ana pun meraih benda pipihnya lalu menggeser tombol berwarna hijau.
''An, aku udah ada di depan rumahmu,'' ucap Fadil. Ana segera membuka matanya dengan lebar. Bahkan ia tertidur lebih 1 jam.
''Maaf Kak aku ketiduran. Aku siap-siap dulu,'' ucap Ana. Ana segera berlari ke kamar mandi dan mencuci mukanya. Tanpa mandi, Ana segera mengganti pakaiannya dengan celana panjang jeans dan kaos polos lengan pendek. Tak lupa rambut yang selalu ia kuncir kuda. Ana segera menyambar tas kecilnya yang berada di atas meja. Tanpa make up atau hanya mengolesi lipstik di bibirnya. Ana selalu percaya diri. Ia tak peduli dengan tatapan orang kepadanya, yang terpenting ia berpenampilan sopan.
''Lufi aku berangkat dulu,'' teriak Ana di ruang tamu. Kamar Lufi berada di lantai atas. Lufi tak menyahut. Ternyata Lufi sedang berada di balkon kamarnya, ia memperhatikan seseorang yang tengah berada di atas motor di depan rumahnya.
Terlihat Ana keluar dari rumah setengah berlari. Fadil yang sudah siap, memberikan helm kepada Ana.
''Terima kasih Kak,'' Ana menerima helm dari Fadil. Fadil segera melajukan motornya membelah jalanan Ibu Kota.
''Pegangan An, aku akan sedikit ngebut. Kayaknya kita akan telat,'' ucap Fadil sedikit berteriak. Ana yang mendengar ucapan Fadil, mengencangkan pegangannya di jaket Fadil.
Fadil menarik tangan Ana agar melingkar di perutnya. Detak jantung Ana seperti lari maraton. Ana membatu, Ana bingung harus bagaimana. Ini pertama kali bagi Ana memeluk seorang laki-laki seperti ini.
''Biar tidak jatuh,'' ucap Fadil yang tau jika Ana merasa tak nyaman.
''Aduh An, nyaman sekali kamu peluk kayak gini. Andaikan tiap hari bisa kayak gini,'' batin Fadil.
Selang beberapa menit, mereka sampai di Cafetaria. Ana turun dari motor lalu melepasakan helm yang ia pakai.
''Terima kasih Kak, dan Aku minta maaf. Kita udah telat setengah jam,'' ucap Ana merasa tak enak hati kepada Fadil.
''Tidak apa-apa. Semoga bos Kevin tidak ada di sini,'' ucap Fadil. Mereka pun masuk bersama-sama. Dugaan Fadil salah, ternyata Kevin sudah berada di Cafetaria. Kevin menatap Ana dan Fadil bergantian. Raut wajah datarnya membuat Ana takut sendiri.
''Kalian telat setengah jam. Apa kalian lupa jika jam masuk kalian pukul 6 sore?'' tanya Kevin ketus. Ana baru kali ini mendengar Kevin berbicara ketus seperti itu.
''Maaf Kak,'' ucap Ana menunduk. Ana merasa bersalah. Jika ia tak tidur maka semuanya tak akan terjadi.
''Kamu tau kan apa hukumannya jika telat?'' tanya Kevin menatap ke arah Fadil.
''Saya tau bos,'' ucap Fadil mengangguk.
''Jadi saya tak perlu repot-repot memberi tau,'' ucap Kevin berlalu dari hadapan Ana dan Fadil.
''Apa maksud Kak Kevin Kak?'' tanya Ana.
''Sebelum pulang nanti kita harus membersihkan semua ruangan disini. Termasuk dapur,'' ucap Fadil.
''Kak, maafin Ana, ini semua salah Ana. Biar Ana yang menanggung hukuman dari Kak Kevin,'' ucap Ana.
''Jangan An. Kita lakukan sama-sama ya. Aku nggak pa-pa kok,'' ucap Fadil tersenyum kepada Ana.
''Tapi aku merasa nggak enak sama Kakak. gara-gara aku Kakak juga ikut kena hukuman,'' ucap Ana.
''Udah nggak pa-pa,'' ucap Fadil. ''Aku malah senang bisa di hukum kayak gini, jadi bisa berdua-duaan sama kamu lebih lama,'' batin Fadil tertawa jahat.
*
Sementara di ruangan Kevin. Kevin terlihat memendam amarahnya karna melihat Ana dan Fadil berangkat bersama. Kevin tadi juga tak sengaja melihat Ana yang memeluk Fadil dari belakang. Berbeda jika dengannya, Ana terlihat hanya berpegangan pada jaket yang ia pakai. Jarak tubuh mereka pun sedikit jauh.
''Akhhhhhhhh masa aku kalah sama karyawanku sendiri,'' ucap Kevin geram. Kevin meninju tembok yang ada di ruangannya saking kesalnya.
Tiba-tiba bunyi ponsel mengagetkannya.
''Hem ada apa?'' tanya Kevin datar.
''Bro, cewek itu cari masalah lagi. Tadi pagi dia mengancam Ana untuk tidak dekat-dekat lagi dengan kamu,'' ucap Nino.
''Pantesan Ana seperti menghindariku,'' batin Kevin.
''Siapa yang bilang?'' tanya Kevin.
''Lufi yang bilang. Tapi kamu jangan bilang sama Ana. Soalnya tadi Lufi juga tidak boleh berbicara kepada siapapun,'' ucap Nino.
''Oke,'' ucap Kevin langsung memencet tombol warna merah.
''Aku kira kamu menghindariku karna kamu sedang dekat dengan Fadil, ternyata hanya gara-gara fans beratku,'' ucap Kevin tersenyum smirk.
Kevin tak akan bicara apapun kepada Ana. Nanti sepulang dari kerja, Ana akan tetap menerima hukuman darinya. Kevin tak mau jika nanti ia tiba-tiba baik kepada Ana, Ana akan curiga kepadanya.
Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Para karyawan yang lain sudah pulang ke rumah masing-masing, tinggal lah Ana dan Fadil yang masih sibuk membersihkan ruangan-ruangan yang berada di Cafetaria. Mereka tak tau jika ada seseorang yang memperhatikan gerak gerik mereka melalui CCTV.
Keringat pun membasahi wajah cantik Ana. Saat mengepel lantai, Ana tak jarang mengelap keringat yang ada di wajahnya. Tiba-tiba tangan terulur mengusap keringat di wajah Ana dengan sapu tangan.
''Kalau capek istirahat saja. Biar aku yang memberekan semuanya,'' ucap Fadil. Ana tentu membeku dengan sikap Fadil yang seperti sekarang ini. Ana segera meraih tangan Fadil yang sedang memegang sapu tangan.
''Biar aku saja Kak,'' ucap Ana merasa tak enak hati.
''Istirahat lah, sedikit lagi akan selesai,'' ucap Fadil. Ana hanya mengangguk dan kemudian ia duduk di kursi. Semua perlakuan Fadil kepada Ana tak luput dari penglihatan Kevin.
''Sial sial siall, Aku kalah banyak dari Fadil,'' Kevin pun merasa cemburu melihat Ana dan Fadil yang terlihat mesra.
Kevin segera keluar dari ruangan miliknya. Jelas itu membuat Ana dan Fadil kaget. Mereka tak tau jika bos nya masih berada di Cafetaria semalam ini.
''Kak Kevin,'' gumam Ana pelan. Ana yang semula duduk ia langsung berdiri.
Kevin hanya menatap Ana dan Fadil dengan tatapan datar. Kemudian ia berlalu meninggalkan Cafetaria menggunakan motor sportnya.
*
*
Jangan lupa dukungannya gaesssss.
Pemain utama belum muncul loh ini😁😁😁
Yuk like, coment, vote, fav dan beri hadiah😍😍😍😍