"Baiklah saya langsung saja, saya Dean D, umur sembilan belasa tahun saya cerdas dan cantik, saya juga orang yang setia." gadis itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum lembut dan suarah yang mantap, Hermawan mengangguk sembil menahan senyumnya karena gadis itu sangat percaya diri.
'Apa hubungannya denganku?' pikir Hermawan, mencoba bersikap biasa saja, walau sebenarnya dirinya ingin tertawa sekeras-kerasanya, gadis kecil itu sangat mengemaskan.
"Saya datang kesini untuk melamar anda Hermawan untuk menjadi suami saya." gadis itu tersenyum setelah mengatakan hal itu senyum yang sangat lembut.
Hening sesaat.
'Apa aku di lamar gadis ini?' Hermawan melongo sesaat kemudian tertawa lepas. "Hahahah, anda salah orang nona, saya tidak mengenal anda dan saya tidak tertarik pada anda." Jawab Hermawan sambil tertawa bahkan memengangi perutnya, yang mulai terasa sakit, beberapa cairan keristal mulai muncul di sudut mata Hermawan, laki-laki itu tertawa sambil mengelap air matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka July, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 Maaf (2)
Hari ini cuaca cukup cerah, matahari bersinar dengan sangat indah menyalurkan semangat pada setiap makhluk di bumi untuk memulai harinya, tapi tidak dengan Hermawan hari ini berangkat ke kantor dengan keadaan kacau, ia benar-benar tidak tidur semalaman memikirkan tentang Dean.
Apa yang di lakukan Dean ?
Apa Dean masih marah ?
Apa dia sudah makan dan meminum obatnya?
Dimana Dean menginap semalam?
Apa dia bisa tidur dengan nyenyak?
Serta masih banyak pertanyaan lainya yang terus berputar di kepala kepala Hermawan, sunggu kepalanya ingin pecah, hanya karena seorang wanita yang memaksanya menikah sebulan yang lalu dengan cara menjebaknyak mengunakan keterangan palsu di kantor polisi atas perbuatan yang tidak pernah ia lakukan, dan sekarang berstatus sebagai istrinya.
Bahkan sampai detik ini ia tidak tahu apa motif Dean memaksanya menikah, pernikahan mereka tidak seperti pernikahan pada umumnya, tidak ada cinta dan kasih sayang, bahkan Hermawan tidak tahu siapa Dean sebenarnya, mereka tidak perna saling mengenal satu sama lain?
“Selamat pagi!” sapa Beny dengan rama membuat Hermawan kembali pada alam sadarnya setelah sibuk dengan pemikirannya.
“Pagi,” Hermawan menjawab dengan malas.
“Kamu tampak kacau?” Beny bertanya setelah melihat sahabatnya ini yang memasang wajah dinginnya, Hermawan bukan tipe laki-laki yang suka berekspresi rama pada orang asing, tapi ia akan bersikap sangat baik pada orang yang ia kenal.
Sudah lama Beny tidak melihat raut wajah datar dan dingin itu, terakhir ia melihat itu satu bulan lalu, setelah hampir selama sebelas tahu Hermawan selalu bersikap baik dan rama pada semua orang, memang pada tahun pertama awalnya Hermawan tertutup pada teman-teman sekantornya tapi sekarang ia sedikit lebih terbuka, walau tidak semuanya, bahkan sampai detik ini Beny hanya tahu bahwa Hermawan hanya anak yatim piatu karena orang tuanya meninggal karena kecelakaan waktu ia kecil, selebihnya baik Beny, Rio, atau Herndra tidak tahu apapun mengenai kehidupan pribadi Hermawan.
Mungkin itu juga yang membuat Hermawan di kagumin banyak wanita karena sikap misteriusnya yang menurut sebagian wanita itu sangat menarik dan membuat penasaran, selain sikap sederhana dan kebaikan hatinya yang suka menolong orang lain.
“Aku tidak bisa tidur semalamam ist, ehem, maksudku banyak tugas yang harus aku selesaikan.” jawab Hermawan, hampir saja dia keceplosan soal Dean.
“Tapi mengapa aku harus menyembunyikan kalau aku sudah menikah dengan Dean?Karena aku tidak mencintainya, wanita itu memaksaku menikahinya, dan aku hanya mencintai Aulia.” batin Hermawan.
“Baiklah, ingat jangan terlalu memaksakan diri nanti kamu sakit.” Beny mengingatkan.
Temanya yang satu ini memang terkenal gila kerja, ia bahkan sering mengabaikan kesehatanya karena terlalu fokus bekerja, sehingga membuat teman-teman yang lainya menjadi repot di buatnya, bagaimana tidak jika Hermawan mendadak tidak enak badan, semua pekerjaan yang mereka kerjakan akan terhambat, karena itu para sahabatnya tidak perna bosan menginggatkan Hermawan atau sekedar membelikanya makan siang atau malam, jika pekerjaanya sedang menumpuk.
***
Aulia tersenyum lebar saat melihat sosok yang ia cari, kejadian semalam membuat wanita itu sedikit gugup tapi bagaimanapun Aulia harus melakukanya, mungkin semalam terlalu mendadak untuk Hermawan dan dirinya, mungkin mereka harus memulai semuanya dari awal.
“Her, malam ini, kita makan yuk,” Aulia menghampiri Hermawan di meja kantin saat laki-laki itu tampak sibuk dengan makannya bersama para sahabatnya Beny, Rio dan Hendra.
“Maaf Aulia, tapi aku merasa kurang enak badan,”
“Apa kamu sakit?” tangan Aulia segera merai kening laki-laki itu menyentuhnya dengan lembut, “Tidak panas.”gumam Aulia.
“Aku sedang-” Hermawan memberhentikan ucapannya saat mendengar Rio berdehem, serta tawa kecil dari para sahabatnya.
Hermawan seharusnya senang karena Aulia mulai memperhatikanya, tapi hatinya berkata lain, ia bahkan tidak ingin berhadapan dengan Aulia saat ini, bukan karena Hermawan menyalakan Aulia atas kejadian semalam hanya saja ia merasa kesal pada dirinya sendiri yang terus memikirkan tentang Dean.
”Semakin mesra saja?” muka Aulia tampak memerah mendengarnya, Hermawan hanya diam, dia benar-benar tidak ingin membahas semua itu hari ini, pikiranya sekarang sedang kalut.
“Jadi aku tunggu jam tujuh, tidak ada tapi-tapian!” Aulian bersuara dengan sedikit memakasa, sebelum pergi meninggalkanya bersama Rio di meja makan, karena Hendra dan Beny baru saja pergi saat Aulia sampai di meja itu.
Hermawan ingin sekali menolak tapi tidak bisa ia selalu tidak bisa berbuat apa-apa saat Aulia mulai memaksanya.
“Kamu menyukai Aulia?” Rio bertanya sambil menatap serius kearah sahabatnya, Rio bisa melihat kalau sahabatnya ini menyembunyikan sesuatu tapi Rio tidak tahu itu apa, walau Rio memaksa Hermawan menceritakan masalahnya tapi pada akhirnya Rio tidak akan pernah mendapatkan apa-apa kerena sikap Hermawan yang selalu tertutup untuk urusan pribadi, ia hanya akan berbagi informasi secara umum saja.
“Dia mantanku waktu SMA,” jawab Hermawan jujur.
Rio mengangguk seakan mengerti, bahwa sekarang Hermawan sedang bingung dengan hatinya, sepertinya Hermawan ingin mengajak Aulia kembali lagi padanya. Aulia sangat cantik, ia juga baik dan yang paling penting Hermawan terlihat sangat nyama saat berada di samping Aulia, itu sudah cukup bagi Rio mendukung hubungan Hermawan dengan Aulia.
Selama ini Hermawan tidak pernah dekat dengan wanita manapun ia selalu menyibukan diri dengan pekerjaan, walau banyak wanita yang mengodanya tapi itu tidak membuat Hermawan melirik pada mereka.
“Andai aku belum mempunyai calon istri, aku pasti sudah mendekatinya, sayang aku sudah akan menikah sekarang.” Rio bergumam dengan suara pelan namun mampu di dengar oleh Hermawan.
Membuat Hermawan sedikit mengangkat alisnya lalu melihat Rio yang meminum jus jeruknya. Rio adalah laki-laki play boy sebelum bertunangan dengan kekasihnya, ia mempunyai banyak pacar dalam waktu bersamaan, tapi sejak ia merencanakan menikah tahun depan. Rio berubah seratus delapan puluh derajat, dia sekarang menjadi setia dan menyanyangi calon istrinya. Hermawan tercengang mengingat itu semua, tiba-tiba tengorokannya kering, dadahnya terasa sulit bernapas. ‘Apa aku sudah salah selama ini?’
***
Setelah makan malam bersama Aulia, tepat jam sembilan malam ia melajukan mobilnya menuju apartemennya. Apartemen sederhana tapi sangat nyaman bagi Hermawan selama ini, Aparteman yang menjadi saksi bisu awal mulai pertemuanya dengan Dean, Apartemen itu juga sebagai tempat mereka tinggal bersama selama ini setelah pernikahan mendadak itu.
Hermawan membuka pintu itu, ia menghentikan langkahnya saat terdengar suara seorang wanita yang sedang tertawa riang, suara yang sangat Hermawan rindukan, wanita itu tampak asik menonton tivi, ia bahkan tidak menyadari kalau suaminya pulang.
Hermawan segera mendekatinya walau pada awalnya sedikit ragu tapi ia harus meminta maaf atas kejadian kemarin, Hermawan tahu dirinya salah telah berbuat salah karena mengajak Aulia datang kesana tanpa meminta izin pada Dean, tapikan itu aparteman Hermawan.
“Dean, aku, aku minta maaf, kemarin-“
“Ini untukmu!” Dean menyodorkan sebuag gudi bag berwarnah hitam “Ini oleh-oleh dari Surabaya kemarin, semoga kamu menyukainya,” Dean tersenyum lembut ia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
“Apa Dean melupakan kejadian kemarin? kenapa sikapnya bisa saja, seharusnya dia marah padaku.” Hermawan bertanya dalam hatinya bahkan ia masih binggung atas kejadian ini, Hermawan berpikir bahwa Dean adalah wanita yang sulit di tebak.
“Sepertinya kamu tidak suka,” Dean menarik tanganya kembali tapi dengan cepat Hermawan merebut tas kecil itu, memeluknya dengan erat takut-takut Dean mengambilnya kembali.
“Aku akan mencobahnya, kamu tunggu disini!” Laki-laki itu kemudian pergi ke kamarnya sebentar, ia mencobah baju batik berlengan pendek berwarnah hijau mudah. Hermawan tampak tersenyum menghadap Dean, ada rasa senang dalam diri Hermawan saat Dean tahu ukuran tubuhnya, mengetahui salah satu warna kesukaanya selain biru dan putih, ia juga mengukai warna hijau. “Bagaimana?”
“Jelek lepaskan, itu tidak cocok untukmu!” Dean tampak mengeleng sambil belipat kedua tanganya di dada setelah menilai penampilan laki-laki yang berdiri di hadapanya, Dean bahkan tidak tersenyum selama melihat penampilan Hermawan dari tadi.
“Apa? ini bagus, ini sangat cocok untukku!” Hermawan bingung mengapa Dean mengatakan ini jelek?
Hermawan menyukai baju itu, karena sangat nyaman untuk di pakai bahanya tidak panas dan sangat lembut di tubuh, serta motifnya yang khas.
“Kamu tidak cocok, warnanya tidak sesuai dengan warna kulitmu!” Dean menjelaskan alasan mengapa ia mengatakan baju itu tidak cocok untuknya, Dean sangat ingat waktu membeli baju itu, ia memintah salah satu penjaga toko di sana untuk mencobahnya karena bentuk tubuhnya mirip dengan Hermawan, saat itu penjaga tokoh itu terlihat sangat tampan dan gagah mengenakan batik ini, tapi mengapa Hermawan terlihat jelek?
Dean lupa satu hal penjaga tokoh itu memiliki warnah kulit putih bersih, hingga ia cocok mengunaka warna apaun sedangkan Hermawan memiliki warnah kulit sawo matang.
“Ini cocok, dan ukuranya pas, aku menyukainya dan aku akan memakainya!”
“Terserah kamu saja.” Dean masuk kekamarnya ia sudah terlalu lelah untuk berdebat dengan Hermawan saat ini, beruntung kepalanya sudah tidak sakit lagi sekarang ini karena obat yang ia gunakan sudah bereaksi terhadap tubuhnya.
***
“Ayo makan!” Hermawan mengetuk pintu kamar Dean setelah menyelasikan masakanya. Sebenarnaya Hermawan tidak ingin memasak, tapi saat Dean masuk ke kamarnya setelah perdebatan itu, Laki-laki itu merasa sangat haus, lalu pergi kedapur, semua perabotan di sana sangat rapi, bahkan Hermawan tidak menemukan sampah kotak makan di sana hanya ada beberapa kulit buah.
Dengan cepat wanita itu membuka pintu kamarnya, ia sangat bersemangat untuk makan malam ini, dari tadi dia hanya mengunya buah pisang. Dean menyantap makan malamnya dengan lahap walau hanya sup ayam, tapi Dean sangat menikmati makanya.
“Kamu sudah makan?” Dean bertanya saat melihat laki-laki di hadapanya menuangkan nasi di piring.
“Aku belum makan,” Hermawan mencobah menjelaskan, benar tadi dia pegi makan malam bersama Aulia tapi laki-laki itu hanya menemani Aulia makan malam, ia tidak bernapsu tadi, bukan karena menu makan di sana tidak enak tapi karena ia teringat akan Dean.
“Oh...” wanita itu mengangguk sambil mengunya sup ayamnya, tanpa berniat bertanya lagi.
Cukup lama keduanya hanya diam sibuk dengan makanan dan pikiran mereka masing-masing.
“Dean soal kemarin malam-”
“Masakan mu sangat enak aku menyukainya, nanti kamu harus menanbahkan sedikit lada agar lebih pedas.” wanita itu segera memotong pembicaraan Hermawan, sungguh ia sangat suka masakan yang di buat laki-laki itu, sudah lama rasanya ia tidak memakan masakan yang di buat langsung oleh suaminya.
“Apa kamu lupa, penyakit maag mu? kamu tidak boleh terlalu sering makan pedas.” jawab Hermawan cepat, sepertinya Hermawan juga menyadari jika Dean tidak ingin membahas apa yang terjadi kemarin malam.
“Iya, dasar cewet.” Dean menekuk mukanya.
Hermawan terkekeh pelan saat melihat Dean yang bertingkah seperti anak kecil jika marah, membuat wanita itu terlihat mengemaskan, dan Hemawan sangat menyukainya, entah mengapa Dean selalu bisa membuatnya tersenyum, kesal, marah dan rindu “Apa! Bagaimana bisa aku merindukan Dean? tentu saja kamu merindukannya. Dia istrimu Hermawan!”