Spin of Senandung Lara.
Baca Senandung Lara lebih dahulu agar tidak bingung dengan jalan ceritanya.
Dendam pada Friska membuat Raka melampiaskan pada Nira yang tak lain adalah adik dari Friska.
Raka memperkosa Nira hingga mengandung dan membuat Nira terpaksa menikah dengan Raka, pria yang tidak Ia cintai.
Akankah pernikahan mereka bahagia jika niat Raka hanya balas dendam, lalu bagaimana dengan kekasih Nira yang tak lain adalah Vans sahabat Raka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apri Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Nira menatap kepergian Vans dengan perasaan sedih. Nira sadar sudah salah bicara hingga membuat Vans pergi dalam keadaan marah. Melihat Vans melajukan mobilnya sangat kencang, membuatnya berpikir Vans sangat marah.
"Ada apa dengan kekasihmu itu?" Tanya Raka yang entah dari mana kedatangannya membuat Nira terkejut.
"Kakak sudah pulang?" Heran Nira karena masih siang dan Raka sudah pulang juga mobil Raka tidak terlihat di garasi rumahnya.
"Aku hanya ingin mengambil sesuatu. Ada apa dengan kekasihmu?" Tanya Raka lagi seolah penasaran dengan apa yang terjadi.
"Entahlah, dia memang suka seperti itu." ucap Nira terdengar pasrah dan lelah karena memang selama berhubungan, Vans sangat pemarah dan protektif padanya. Nira pikir karena mungkin Vans sangat mencintainya namun terkadang Ia juga merasa lelah dengan sikap egois Vans.
Raka tidak berkomentar apapun, Ia memilih masuk untuk mengambil barangnya yang tertinggal.
Raka menuruni tangga, berniat kembali ke kantor, Ia melihat Nira berdiri menunggunya dibawah tangga.
"Kakak sudah makan siang?" tanya Nira pada Raka.
Raka menggeleng, Ia memang tadi berada di restoran namun belum sempat makan karena buru buru mengantar Nada ke rumah sakit.
"Makanlah kak, baru saja aku masak ayam jika memang kakak mau akan ku ambilkan." tawar Nira.
"Boleh."
Keduanya pun berjalan menuju meja makan. Raka melihat di meja ada piring yang masih ada nasi dan lauk yang tidak di habiskan.
"Apa kau memasak untuk Vans?"
Nira mengangguk, "Dia marah dan tidak menghabiskan makanannya."
"Ck, membuang buang makanan saja." omel Raka membuat Nira merasa tak enak hati.
"Maaf kak."
Nira menyodorkan sepiring nasi lengkap dengan lauk buatannnya.
"Enak, kau semakin pintar memasak." puji Raka sesaat setelah menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Padahal baru kemarin kakak mengatakan masakan ku tidak enak!"
Uhukk... Ucapan Nira membuat Raka tersedak.
"Ma maaf kak." Nira mengulurkan gelas berisi air putih yang langsung di teguk oleh Raka.
Raka meletakan gelasnya dan menghela nafas panjang, "Aku minta maaf atas ucapanku yang mungkin menyakitimu." kata Raka akhirnya.
"Tidak apa kak, aku sudah melupakannya." jawab Nira dengan senyuman melekung di bibirnya.
Raka berdecak, "Bagaimana bisa kau mengatakan sudah melupakan, bahkan baru saja kau mengungkitnya."
Nira kembali tersenyum, "Hanya teringat saja."
Raka menghela nafas panjang, "Apapun itu, aku tidak akan memperlakukan mu dengan buruk lagi. bersabarlah sampai anak itu lahir dan setelah itu kau bisa kembali pada Vans." kata Raka yang entah mengapa membuat Nira sedih.
Sejujurnya Nira sangat menyukai hidup dengan Raka jika Raka memperlakukan dirinya dengan baik namun di sisi lain Ia masih sangat mencintai Vans dan ingin hidup bersama Vans.
"Kenapa kakak harus melakukan ini padaku?" tanya Nira membuat Raka menghentikan gerakan tangannya.
"Apa yang membuat kakak melakukan ini? bukankah dulu kakak sangat baik dan hanya menganggap ku adik?" tanya Nira lagi yang sangat penasaran dengan apa yang terjadi oada Raka hingga membuat Raka memperkosa nya hingga hamil.
Raka melirik ke arah arlojinya lalu berdiri, "Aku harus kembali ke kantor sekarang!"
"Kak..."
Raka menghentikan langkahnya,
"Jawab kak, kenapa kakak harus melakukan ini padaku?" tanya Nira lagi namun sayangnya Raka tidak menjawab dan langsung pergi begitu saja.
Raka memasuki mobilnya, Ia terdiam cukup lama memikirkan ucapan Nira yang terdengar begitu menyakitkan untuknya.
"Aku juga tidak tahu kenapa harus melakukan itu, aku... aku sangat menyesal Nira. semua ini bukan salahmu dan aku melampiaskan padamu. maafkan aku Nira. maaf."
Sementara itu Vans memasuki ruangannya dalam keadaan masih marah. Ia bahkan menghancurkan beberapa barang yang ada disana untuk melampiaskan kekesalannya.
"Ada apa bos? apa Nona menyakitimu lagi?" tanya Boni anak buah Vans.
"Dia benar benar sangat menjengkelkan!" umpat Vans pada Boni.
"Sudahlah Bos, lupakan saja. kita cari wanita yang lebih baik dari dia, masih banyak di luar wanita cantik yang menginginkan menjadi kekasihmu bos." ucap Boni membuat Vans menatap tajam ke arahnya.
"Kau pikir semudah itu huh! apa kau belum pernah merasakan jatuh cinta?" tanya Vans sinis.
Boni tersenyum, "Wanita hanya akan membuat kita lemah bos, maka dari itu saya tidak ingin mencintai wanita manapun!"
Vans mendekat, Ia menarik kerah Boni dan hendak melayangkan tinju namun Ia urungkan.
"Sialan, setidaknya carilah ide untuk membantuku agar aku bisa bersama Nira jangan malah membuatku kesal seperti ini!" umpat Vans pada Boni.
"Aku sudah mendapatkan ide bos, tapi tidak yakin apakah bos setuju atau tidak."
"Memang apa idemu?"
Boni tersenyum, Ia membisikan sesuatu ke telinga Vans.
"Apa kau gila?" Vans terlihat sangat terkejut.
"Jika Bos mau, jika tidak ya sudah"
"Sial, kau benar benar sangat licik!" umpat Vans yang hanya membuat Boni tersenyum.
Malam tiba, waktunya untuk Raka pulang. Raka sudah memasuki mobilnya, siap untuk melajukan mobilnya pulang ke rumah namun mengingat apa yang Nira tanyakan tadi siang membuat Raka enggan pulang dan bertemu dengan Nira.
Raka melajukan mobilnya dan baru sadar jika Ia melewati rumah sakit tempat Ibu Nada di rawat. Raka akhirnya memasuki rumah sakit, memarkirkan mobilnya dan berjalan menuju ruangan Ibu Nada dirawat.
"Loh Pak..." Nada terkejut saat Ia akan membuang sampah dan melihat Raka berjalan menuju ke arahnya.
"Bagaimana keadaan ibumu?" tanya Raka.
"Sudah membaik, operasinya berjalan lancar siang tadi." ucap Nada sambil tersenyum.
"Syukurlah. aku senang mendengarnya."
"Semua karena bantuan Bapak, terima kasih banyak pak." ucap Nada.
"Tidak perlu di pikirkan, yang penting ibumu bisa kembali sehat dan kau bisa bekerja lagi." kata Raka.
Nada tersenyum, entah mengapa Ia sedikit salah tingkah mendengar ucapan Raka yang terdengar begitu memperhatikan dirinya.
"Ya sudah aku pulang dulu." kata Raka merasa tidak ada yang di bicarakan lagi.
"Pak... sudah makan malam?"
Raka menghentikan langkahnya, Ia lalu menggelengkan kepalanya karena memang belum makan malam.
"Di depan ada penjual nasi goreng enak, jika Bapak mau saya akan menemani Bapak makan malam." ajak Nada.
"Boleh juga."
Nada tersenyum senang karena Raka mau menerima ajakannya.
"Maaf pak, hanya di tempat seperti ini." kata Nada merasa tidak enak mengajak Raka makan malam di warung pinggir jalan.
"Ck, aku sudah terbiasa makan ditempat seperti ini. santai saja." balas Raka membuat Nada kembali tersenyum.
Entah mengapa malam ini Nada banyak tersenyum tidak seperti malam malam sebelumnya.
Tanpa keduanya sadari, gerak gerik Raka dan Nada di lihat seseorang dari dalam mobil.
"Dasar brengsek! bisa bisanya dia bersama wanita lain saat istrinya sedang hamil dirumah!"
BERSAMBUNG...
jangan lupa like vote dan komenn