Penyesalan selalu ada di belakang, itulah yang di rasakan pria yang sekarang hidupnya berantakan.
Terlebih setelah dia melakukan kesalahan besar dalam hidupnya, “sudah ku katakan jangan pernah berani meninggikan suaramu padaku!” Bentak Nanang.
“Terus aku harus apa, selalu diam melihatmu menyakitiku, kamu tidak menafkahi ku aku diam, tapi berselingkuh kamu tak tau diri mas!” Jawab Sari marah.
Plak...
Sebuah tamparan di berikan pria itu, sedang sari merasa sudah tak bisa tahan lagi.
“Ceraikan aku mas, aku tak mau hidup dengan pria menyebalkan seperti mu!!” kata satinyang marah.
Apa yang di pilih Sari benar?
Atau keputusan ininakan di sesali keduanya?
Atau pilihan ini baik untuk mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pukulan pertama
Nanang melihat dua anak buahnya itu, "aku tau kalian sering main judi di warung ujung desa, mulai sekarang aku akan memberikan informasi gaji pada istri kalian," katanya.
"jangan dong bos, kami bisa tak di kasih jatah sama sekali," mohon keduanya.
"hei kalian ini lucu ya, tolong lihat kedua anak kalian ini, kenapa kalian begitu berharap memiliki kekayaan dengan berjudi, mungkin awal-awal kalian memang, jika terus menerus kalian akan kalah," kata Nanang.
"tapi ini pilihan kami," jawab Arip.
"kalau begitu, besok gak usah kerja di tempat ku, kalian bisa mencari tempat lain untuk kerja," marah Nanang yang pergi meninggalkan mereka.
mendengar itu, mereka berdua ketakutan pasalnya mereka tak ingin jadi pengangguran.
"jangan dong bos, baiklah kami gak akan main judi lagi, kalau begitu kami permisi ya," pamit keduanya.
sedang di rumah Fendi, pria itu belum berani menemui Sari, pasalnya saat acara di rumah Azila dan di warung lesehan.
tanpa sengaja dia melihat Nanang memukul paha Sari, meski tak terlihat jelas karena malam.
tapi dia bisa melihat dari reaksi yang di berikan Sari yang menahan kesakitan.
"ada apa le, kok diem begitu, kamu ada masalah?" tanya ibu dari Fendi.
"inggeh bu, gadis yang Fendi cintai di nikahkan dengan orang, dan gadis itu di pukul di depan mata Fendi, tapi Fendi tak bisa melakukan apapun, itulah kenapa Fendi malas untuk menikah," jawab pria itu sedih.
"ya Allah, kalau suami berani mukul istrinya itu tanda dia itu emosional, semoga gadis itu tak terluka ya le," kata ibu Fendi.
"amiin Bu," jawab Fendi.
sore itu kebetulan Yuni, Dian, Zahra serta Dewi datang ke rumah dari kakaknya.
"assalamualaikum..." sapa Yuni.
"waalaikum salam, ada apa kesini?" tanya Nanang saat melihat adiknya yuni.
"aduh jahatnya, aku datang bareng temen-temen ku nih, mau ketemu mbak Sari," kata Yuni.
Nanang pun melihat siapa yang datang, wajahnya berubah ceria saat melihat Dian yang ikut datang.
"selamat sore mas Nanang,apa Sari-nya ada?" tanya Dian lembut.
"tentu, silahkan masuk, dek ini ada teman-teman mu loh," panggil Nanang dengan penuh semangat.
Yuni pun sadar jika sikap kakaknya itu aneh, dari keluar dari dalam rumah.
"eh kalian datang, ada apa ini? kok tumben?" tanya Sari heran.
"kami datang ingin bertemu dengan mu, karena kami ada proyek di sekolah nih," kata Dewi terus terang.
"apa? apa gak salah kalian bertanya padaku, aku bahkan sudah tak melanjutkannya lagi," kata sari yang madih berusaha tersenyum.
"ya karena kamu yang paling pintar cari ide, pasalnya kami di suruh jualan selama seminggu untuk melihat kemampuan kami dalam berwirausaha, tapi kami bingung mau jual apa?" tanya Yuni.
"untuk anak sekolah ya, salah satu orang tua kalian ada yang punya atau tanam singkong gak?" tanya Sari.
"sepertinya ayah ada deh, memang kenapa?" tanya Yuni yang ingat.
"buat keripik singkong tapi model jadul, tapi kali ini itu kripiknya di bumbu pedes, pasti enak," kata Sari.
"terus caranya?" tanya mereka kompak.
"wani Piro!!" kata Sari dengan wajah meledek.
"Sari!!" teriak keempat gadis itu.
mereka pun tertawa bersama, ya seandainya sari tak menikah, mungkin mereka bisa sekolah bersama dan menikmati masa remaja mereka.
"memang modal awal di batasi berapa sih?" tanya Sari penasaran.
Dewi mengeluarkan perincian modal yang belum tersentuh apapun, "modal awal seratus ribu,dan kalian di suruh jualan, itu mudah non, ya sudah besok belanja singkong, ingat beli tidak boleh minta, minyak goreng satu liter dan bumbu yang aku tulis, ingat," kata Sari yang sibuk dengan pena untuk mencatat bumbu dan apa saja yang harus di beli.
"eh terus kemasan plastiknya gimana?" tanya Dian.
"ya tinggal di rekatkan dengan lilin dong, kan mudah, kamu mah gak ada idenya," kata Sari tertawa.
"ya maaf dong, kan aku gak pernah melakukan hal seperti itu," kata Dian.
"ya sudah besok belanja ini, sekarang pulang gih," kata Sari yang bercanda dengan teman-temannya.
tapi Nanang malah mengira Sari serius mengusir keempat gadis itu, terlebih baru kali ini Nanang bisa makan bersama Dian mungkin.
"apa-apaan dek kamu ini, tamu kok di usir gini, suruh masuk dan ikut makan, di jamu selayaknya tamu gitu loh," kata Nanang.
"wah ini baru bener, tapi gak usah deh Sari sudah minta kami pulang, lagi pula bapak akan marah jika aku pulangnya kemaleman," kata Dian yang langsung berdiri.
"tidak aku hanya bercanda, ikut makan malam saja dulu, Yuni..."kata Sari meminta bantuan.
"tau nih,udah ayo masuk kayak di rumah siapa saja," kata Yuni menarik Dian.
"tapi nanti bapakku marah," kata Dian yang juga takut
"biar aku yang izin," kata Yuni yang langsung menelpon kakak Dian.
beruntung kalo ini bapak Dian mengizinkan karena mereka perginya bareng teman dan ke rumah Sari.
Sari menyiapkan Semuanya di bantu Nanang, mereka makan lesehan sambil menonton tv.
sore ini Sari tadi masak lele goreng dan Bali lele sedikit karena Nanang suka jika ikan itu di goreng.
"kamu kenapa sibuk terus sih Sari, sini duduk dan makan," panggil Dian.
"iya sebentar aku ambilkan air dingin dulu," kata Sari.
Yuni pun merasa jika kakak iparnya sekarang lebih tepat di panggil pembantu dari pada istri pemilik rumah.
"sudah kalian makan saja, Sari memang begitu tak mau diam," kata Nanang.
"iya mas, wah kebetulan aku suka sekali dengan Bali lele, boleh aku makan ya," kata Dian memohon izin.
"habiskan, gak papa kok masih banyak di belakang," kata Nanang.
setelah makan, semuanya pun pamit pulang, Yuni memutuskan untuk tinggal karena membantu Sari membersihkan bekas makan mereka.
"Sari aku pamit pulang dulu ya," kata Yuni yang pamit karena sudah jam delapan malam.
tapi tak di duga sari mengenggam tangan Yuni seperti ingin menahan gadis itu agar tak pulang.
"hati-hati di jalan ya," kata Sari.
kebetulan tadi toko sudah di tutup oleh Nanang, "kenapa kamu begitu buruk jika ada tamu, kamu harus ingat jangan membuatku malu dengan ucapan ku tadi," kata Nanang menarik rambut sari.
"maafkan aku mas, kami dulu sering bicara begitu hanya untuk bercanda," kata Sari memegang tangan Nanang karena rasa sakit akibat dari cengkraman tangan suaminya.
"tapi tidak di rumah ini, lain kali kamu harus sopan dan tak boleh bicara seperti itu, terutama saat ada teman Yuni," kata Nanang.
Sari pun diam, dia tak berontak lagi, Nanang mendorong tubuh istrinya itu hingga terjatuh ke lantai.
"aku sekarang jika kamu itu bukan gadis baik, terlebih lihat kamu bahkan belum hamil setelah sebulan kita melakukannya untuk pertama kali," kata Nanang.
"maaf... lain kali aku akan bersikap baik saat ada Dian, begitu bukan, seperti semua pria yang jatuh cinta padanya, termasuk kamu salah satunya," kata Sari yang tanpa sadar mengatakan isi hatinya.
"tutup mulutmu!!" bentak Nanang yang melayangkan sebuah tamparan keras, hingga membuat kepala sari menghantam tembok.
Sari bahkan langsung jatuh pingsan dan di atas pelipisnya mengucur darah segar.
"Sari, Sari... bangun Sari!!" panik Nanang melihat kondisi istrinya.
dia pun bergegas membawa Sari ke klinik terdekat, bahkan tanpa dia sadari bekas pukulan tangan nya juga membekas.