NovelToon NovelToon
Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Spiritual / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Mel Rezki

Apa yang menyebabkan mereka melakukan perbuatan laknat itu? Hingga Anisa hamil di luar nikah, padahal mereka dikenal pribadi yang soleh dan solekha.

Naas menimpa Faisal Mubarak tunangan sekaligus lelaki yang telah menghamilinya meninggal dunia karena tersengat listrik. Hingga kondisi yang begitu mendesak bunda Rosmawati ibu dari Faisal memutuskan untuk menikahkan Panji Alam Darmawan dengan Anisa.

Sebagai bentuk bakti kepada ibunda, Panji menerima keputusan ibunda untuk menikah dengan calon adik iparnya. Walaupun dengan berat hati dan terpaksa pernikahan itu berlangsung.

Akankah ada benih cinta di antara mereka? Karena Panji juga memiliki kekasih hati yang juga luar biasa baiknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mel Rezki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

"Nisa...Anisa...," panggil Panji masih dengan mode menggoda gadis yang masih betah menenggelamkan wajahnya di bantal. Dia sengaja terus memanggil Anisa hingga suaranya tidak terdengar oleh Anisa lagi karena Panji sudah masuk ke toilet kamar.

Lima belas menit dia keluar dari kamar mandi, dia menatap heran pada Anisa yang tertidur masih mengenakan mukena. Dua, tiga panggilan dia serukan tidak juga membangunkan Anisa dari tidur.

"Nis...," kali ini Panji menepuk bahu Anisa karena Anisa tertidur dan panggilan saja tidak juga membangunkannya.

"Oma jahat," igau Anisa dengan menampik tangan Panji.

"Ni bocah," geram Panji dan kedua tangannya kini menepuk pipi Anisa. Namun tetap saja Anisa tak bangun dan menampik lagi tangan Panji.

"Jangan sentuh-sentuh aku," seru Anisa tapi matanya tetap terpejam.

Panji melangkah mengambil jas kotor yang tadi pagi dia pakai untuk kerja. Jas itu dia dekatkan ke Anisa. Benar tebakannya, Anisa mencoba mengejar aroma dari jas tersebut hingga dia bangun tapi tetap dengan mata terpejam, dan...

bug.

Wajah itu mentok pas di dada. Panji langsung mendorong dahi Anisa hingga dia terbangun. Mulutnya tersenyum nyengir menatap Panji.

Panji membalasnya dengan tatapan yang tajam.

"Lepaslah mukena itu nanti dikira ada pocong di ranjang tidurku," celetuk Panji.

Anisa menampakkan muka cemberut kemudian melepas mukenanya hingga rambut panjang yang diikat asal itu nampak oleh mata Panji.

Ini bukan pertama kalinya Panji melihat Anisa tanpa kain penutup rambut tapi entah mengapa tetap saja ada rasa penasaran untuk selalu menatapnya hingga dia sempurna mengenakan hijab di kepalanya.

"Kenapa Kak?" tanya Anisa melihat Panji masih dalam mode bengong.

"Oh...tidak apa-apa, itu..."

Belum selesai Panji mengakhiri kalimatnya, Anisa sudah terkekeh mendengar Panji berbicara terbata. Merasa tersindir dengan tawa Anisa, bola mata Panji menatap tajam ke arah Anisa.

Anisa langsung mengatupkan mulutnya dengan tangan.

"Ada yang lucu?" telisik Panji masih menatap lekat Anisa dan bicara tepat di mukanya, hanya berapa centi jarak itu. Anisa langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Takut tiba-tiba saja di mangsa oleh laki-laki yang kadang terlihat lucu, dingin, dan kadang pula menyeramkan seperti sekarang ini.

Panji menurunkan kakinya dari ranjang, kemudian melangkah membuka laci nakas dan mengambil satu benda berbentuk apel. Sebuah parfum yang biasa dia pakai. Parfum dengan merek NR dari Paris.

"Jangan sekali-kali mengejar aroma wangi parfumku," ucap Panji sebagai peringatan ke Anisa.

Anisa menerima parfum itu, memandangnya dengan teliti dan menyemprotkan sekali di punggung tangannya.

"Kenapa aromanya berbeda," ucap Anisa yang tentunya hanya mampu terbendung di batin tidak mungkin dia lontarkan langsung ke lelaki yang kini sudah membaringkan tubuhnya di kasur.

Anisa menaruh parfum itu di nakas sebelah ranjang tidurnya.

"Terima kasih Kak," ucap Anisa yang kemudian ikut membaringkan badannya.

Tidak ada kata yang terlontar dari mulut Panji, hanya dengungan yang menandakan Panji mengiyakan ucapan Anisa.

"Kakak," panggil Anisa

Panji tidak bergeming.

"Kak," ulang Anisa.

"Apa lagi?"

"Tadi oma...,"

"Kenapa dengan oma?" potong Panji.

"Oma... sepertinya tahu aku dari klinik Keluarga Sehat Ibu dan Anak."

Panji langsung terbangun, " Bagaimana bisa?" tanyanya kemudian.

Anisa menggeleng, "Aku juga tidak tahu kenapa oma bisa tahu aku dari klinik itu."

"Kamu ceritakan kronologisnya,"

Anisa menceritakan kronologis kejadian tadi malam sewaktu berbincang dengan oma Sartika.

"Cepat atau lambat oma akan tahu, tidurlah tidak usah kamu risaukan," pinta Panji.

Anisa mengangguk kemudian membaringkan tubuhnya.

...****************...

"Oya Mas, kapan oma akan menemui bapak?" tanya Tiwi di sela-sela makan siang mereka.

Panji mengajak Tiwi untuk makan bersama di resto favorit Tiwi, kebetulan Panji baru ada jadwal chek SPBU sore hari, menunggu Arlan menyelesaikan urusannya.

"Kapan-kapan Wi, kita jalin hubungan yang baik dulu dengan oma," jawab Panji.

Tiwi mengangguk. "Aku masih belum percaya kalau oma telah merestui hubungan kita," gumam Tiwi.

Panji hanya menanggapi dengan senyum kecil.

"Apakah Mas Panji merasakan hal yang sama denganku? Maksudnya apa ini tidak terlalu aneh? Misalnya, oma merencanakan sesuatu?" tebak Tiwi.

Panji tersenyum kecil, "Itu hanya perasaan kamu saja. Lanjutkan makannya, jam istirahat hampir selesai."

"Ya," jawab Tiwi kemudian melanjutkan makanannya yang sempat tertunda.

"Apa yang menjadi firasat kamu benar Wi," batin Panji.

"Nanti malam jalan-jalan yuk Mas," ajak Tiwi ketika hendak pulang dari resto menuju kantor.

"Jalan-jalan kemana?"

"Terserah Mas mau ajak Tiwi kemana," pasrah Tiwi.

"Yang ngajak itu kamu, bukan aku," sanggah Panji.

"Ya ya, aku yang ngajak. Emm ...kalau ke taman kota saja gimana?"

"Ngapain taman kota? Toh setiap hari kita melewatinya."

"Issst...Mas Panji, kan kita hanya melewatinya tidak pernah mampir di sana," protes Tiwi.

"Ya nanti kita ke sana, tapi kapan-kapan ya, takutnya nanti aku belum pulang dari SPBU cabang."

"Aku sampai lupa, nanti sore Mas kan berkunjung ke SPBU cabang."

"Arlan tidak masuk lagi kenapa?" tanya Tiwi kemudian.

"Mengurus adiknya."

"Silvani?"

"Ya."

Tiwi tersenyum mendengar jawaban Panji. Dia kini teringat dengan gadis bernama Silvani, adik dari Arlan sang asisten. Datang ke metropolitan untuk kuliah. Anak yang manja, bar-bar, keras kepala, dan tidak ada malunya. Walaupun masih beberapa bulan di metropolitan dia sering membuat repot sang kakak. Pernah dia diajak ke kantor SPBU pusat oleh Arlan dan itu pertama kalinya pula Tiwi dan Panji melihatnya. Panji yang memang memiliki paras yang rupawan bak selebritis langsung dikejar Silvani dan tanpa malu Silvani menyatakan cinta ke Panji.

"Jangan senyum-senyum terus," seru Panji dengan melepas seat belt-nya karena sudah sampai di kantor, Panji juga melepaskan seat belt yang dikenakan Tiwi.

"Jadi teringat adiknya Arlan," ledek Tiwi.

Panji hanya tersenyum kecut menanggapi Tiwi.

Hitungan detik, menit, jam berjalan meninggalkan masa tadi, kemarin, lampau, tanpa sejengkal pun kan terulang. Senja belum nampak dari ufuk barat, Matahari terus bergerak mencapai titik cakrawala dalam kisaran 120 menit.

Di kamar, Anisa masih merebahkan tubuhnya dengan memainkan ponsel. Dia sudah berdandan natural. Namun terlihat cantik, dengan celana panjang dan baju blouse yang menjadi favorit style untuk sekarang.

Sore ini, Panji akan menjemputnya untuk ikut chek di salah satu SPBU. Anisa menyambut tawaran itu dengan girang karena selama tinggal di metropolitan dia hanya sekali keluar, saat chek up kandungan dan sisanya hanya mendiami kamar itu.

"Waalaikum salam, sudah pulang?" sapa Anisa begitu pintu terbuka dan muncul sesosok laki-laki yang memang dia tunggu.

Panji hanya berjalan tanpa membalas sapaan dari Anisa dan langsung masuk ke toilet kamar.

"Kebiasaan! Masuk tanpa salam! Kenapa dia? Wajahnya kelihatan masam?" gerutu Anisa.

"Kalau Kakak capek kita batalkan saja," ucap Anisa begitu Panji sudah keluar dari toilet kamar dan seperti biasanya hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggang.

Anisa agak menundukkan pandangan atau terkadang mengalihkan pandangan agar tidak bersitatap karena entah mengapa malu saja melihat lelaki itu bertelanjang dada dengan menampilkan roti sobek yang terpampang jelas.

"Kenapa tidak kirim foto makan siang kamu?"

"Issst Kakak, karena ini Kak Panji bermuka masam?"

"Karena kesalahan kamu aku kena omel bunda."

"Apa hubungannya dengan bunda?"

"Laporan harian yang harus aku laporkan ke bunda yaitu foto makan siang kamu," terang Panji dengan geram.

Anisa terkekeh, kaya anak kecil saja, makan harus dilaporkan. Panji mendengus kesal malah ditertawakan bocah ingusan sepertinya.

"Sini aku bantu Kak," tawar Anisa mendekat ke arah Panji dan mengambil jas yang akan dikenakan Panji.

"Kuno sekali sih Kak, ini kan sudah bukan jam kerja, kenapa masih pakai jas," ejek Anisa.

"Kalau kamu tidak ikhlas memakaikan, aku pakai sendiri juga bisa," kilah Panji.

"Pantesan cepet tua, sering marah-marah," ledek Anisa dan menarik tangan kiri Panji agar masuk ke lengan jas yang sudah Anisa sodorkan.

"Bocah, jangan kebanyakan omong,"

Anisa mencibirkan bibirnya. "Sudah rapi. Kapan-kapan aku buatkan jas untuk Kakak," tawar Anisa.

"Terima kasih, kamu yang bisanya cuma makan mana bisa buat jas?"

"Kakak lupa? Ibu aku itu penjahit dan di rumah aku sering membantu jahit baju pelanggannya ibu."

"Terserah kamu," pasrah Panji tidak ingin berdebat dengan gadis yang ada di depannya.

"Satu hal lagi! foto USG kandungan belum kamu kirim, itu juga sudah ditagih bunda."

"Ya aku kirim, kemarin aku lupa," jawab Anisa sambil membuka laci nakas dan mengambil hasil check up-nya.

"Itu sudah aku kirim," seru Anisa setelah memoto hasil USG.

Panji hanya mengangguk tanpa melihat hasil kiriman Anisa.

Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata dan telinga yang melihat dan mendengar setiap adegan antara Panji dan Anisa. Semuanya terangkum secara jelas di memori wanita yang kini mencibirkan bibirnya. Kakinya melangkah pergi membiarkan pintu yang tidak tertutup secara sempurna tetap seperti itu.

"Sudah kuduga ini, ada yang tidak beres antara hubungan kamu dengan Panji!" gumam oma Sartika.

"Tunggu aksi dariku bocah ingusan! Hari ini kamu masih bisa tertawa, besok jangan harap!" Ancam oma Sartika dengan mata berapi-api.

Maaf author baru menyapa, badan lagi kurang sehat 🙏. Tetap dukung karyaku dengan like, komen, hadiah, dan vote.😍🥰

1
Nhimasera Sera Sera
Luar biasa
Mel Rezki: terima kasih Kak 🙏
lanjut novel Kak Mel lainnya 😍😘
total 1 replies
arzetti azra
Kecewa
arzetti azra
Buruk
Marhainun Tanjung
bagus banget cerita nya.
Mel Rezki: terima kasih Kak, lanjut novel lainnya kak Mel , karena ustadz aku cacat
total 1 replies
Lismawati Salam
Luar biasa
nesya
knp Nisa hrs ninggalin anak nya sih. hrs nya kan dia tetap bersama anak nya, berjuang demi anak nya, Krn itu adalah harta yg paling berharga yg di tinggalkan oleh Faisal sbg tanda cinta mrk, meskipun kehadirannya mgkin akibat dr ketidak sengajaan.
nesya
akhirnya kebaikan, ketulusan dan keceriaan Nisa mampu merobohkan dinding keegoisan nenek panji.
nesya
di hati panji itu sdh tumbuh benih-benih cinta utk Nisa, tp dia masih blm menyadari itu, makanya dia sll berusaha menyangkal kl perasaan gelisah di hatinya itu cm di karenakan rasa kepedulian aja.
nesya
sdh mulai tumbuh benih-benih kebucinan dlm hati panji buat Anisa. sm spt kata pepatah Jawa, witing tresno jalaran soko kulino, cinta itu bs tumbuh lantaran terbiasa bersama.
nesya
jd serba salah buat panji. tp Panji bnr" laki-laki yg baik dan tulus, meskipun dia nikah terpaksa, tetap sj sikapnya terhadap Anisa sgt bertanggung jawab sbg seorang suami. dia begitu perhatian dan melindungi Anisa. mgkin kesalahan panji dlm hal ini cm satu, wkt dia sampai di rmh nya, knp dia tdk langsung menemui Tiwi utk menjelaskan masalah yg sebenarnya, hingga tak sampai timbul kesalah fahaman diantara mereka berdua. tp siapa yg tahu dgn rencana author, mgkin sj pd akhirnya panji mmg lah jodoh anisa., dan bkn Tiwi.
Medy Jmb
Mau nikahin Tiwi yg penyakitan, nyerein Nisa? cuma di dunia novel
Medy Jmb
menghempaskan Thor bukan mengempaskan
yoona
udah jadian aja bah/Facepalm/
Sumi Ati
masih menyimak.
Elvira Juned
Gk adil bagi Panji menikah dgn Anisa utk menutup aib sama aja mereka sekeluarga menipu semua org, dan memakaikan BIN atau BINTI utk anaknya Faisal dan Anisa kelak
Mmh Astri
👍👍👍👍👍👍👍👍🥰🥰🙏
Mel Rezki: lanjut baca novel kak Mel yang lainnya 🙏
total 1 replies
Mmh Astri
👍💪
Mmh Astri
💪💪💪💪👍🙏🥰
Indah Safitri
Luar biasa
MIZI ZESHIKUMEZI
owo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!