Impian yang dibangun Luna selama bertahun-tahun bersama kekasihnya harus kandas.
Kekasihnya itu pamit tanpa memberikan alasan yang dapat dimengerti.
Luna hancur, padahal kekasihnya itu sudah berjanji akan mengenalkannya pada keluarga besar sang kekasih, setelah ia lulus kuliah.
Tapi malang tak dapat ditolak, kekasihnya itu membatalkan janji dan sumpahnya, tepat sebulan sebelum kelulusan Luna.
Setelah beberapa tahun berlalu, pria yang dulu membuat Luna patah hati kembali datang ke hidupnya.
Luna muak dan semakin membenci pria tersebut.
Akankah cinta Luna tumbuh kembali?
Atau Luna salah mengerti kenyataan? Karena ini adalah cinta yang baru.
Follow ig @poel_story27
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poel Story27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Yang Jadi Benci
Luna yang mulanya enggan mengubris Gio, akhirnya mengulurkan tangan, Luna tidak enak hati mengacuh pria aneh yang kini ada di hadapannya, karena pria ini merupakan keluarga tuan rumah.
"Aku Luna!" Luna menjabat tangan Gio dengan terpaksa.
"Apa yang membuat wanita secantik kamu, datang seorang diri ke sebuah pesta pernikahan?" tanya Gio.
"Bisa jadi, sama dengan alasanmu," jawab Luna cuek.
Gio tersenyum lebar. "Tentu alasan kita berbeda Nona! Aku baru tiba dari italia, mana mungkin aku langsung mendapat pasangan. Ya ... mungkin saja aku akan mendapat pasangan saat ini, itu pun jika kau mau menjadi pasanganku," goda Gio.
"Ucapanmu bisa diartikan, bahwa kau punya pasangan di tempat lain," sinis Luna.
"Hahaha ...." Gio tertawa geli. "Atas dasar apa argumenmu itu, Nona! Tentu saja tebakanmu salah, karena aku belum memiliki pasangan!"
"Ehhmm ... rukun iman akan menjadi tujuh, jika aku percaya padamu," cibir Luna, yang disambut tawa Gio.
Detik kemudian lagu from this moment yang dipopulerkan oleh Shania Twain mulai mengalun, dan membawa semua orang yang berada di ballroom, hanyut dalam suasana romantis
Pasangan pengantin baru, di minta turun ke lantai dansa, untuk melakukan dansa pertama mereka sebagai suami istri, di ikuti oleh beberapa pasang tamu undangan yang ikut turun ke lantai dansa.
"Kau pandai bercanda, Nona! Maukah kau ikut bersamaku ke lantai dansa itu," ajak Gio seraya mengulurkan tangan.
Mendadak tubuh Luna membeku saat mendengar tawaran Gio. Entah apa yang ada di pikiran pria ini, Luna tidak tahu. Yang ingin Luna lakukan saat ini adalah segera menjauh dari pria ini, karena dia sangat membenci kepura-puraan.
"Hei ... Casanova sialan, tidak bisakah kau berhenti menggoda gadis-gadis, meski untuk satu hari saja!" seru Rania sembari melangkah ke arah adik sepupunya itu.
Gio berdecak kesal sambil melihat ke arah Rania, kakak sepupunya itu memang punya hobi mengganggu kesenangan orang.
"Pergilah cari wanita lain untuk kau ajak berdansa, aku ingin bicara dengan Luna," usir Rania seraya mengibaskan tangannya.
Gio pun pergi sambil menggeleng kesal, ia malas harus berdebat dengan Rania, karena ia tahu tidak menang adu mulut dengan singa betina itu.
"Ibu Rania! Anda mengenalku?" tanya Luna heran.
Rania menganggukan kepala. "Tentu saja aku mengenal desainer hebat sepertimu!"
"Terima kasih, Bu! Anda terlalu memuji, senang sekali rasanya bisa bertemu CEO Fashion Glorie di sini, dan terima kasih juga untuk kerja sama kita, itu sangat membantu bagi kami, yang sedang berusaha menapakkan kaki di pasar Internasional," ujar Luna seraya mengulurkan tangannya.
"Sama-sama!" Rania menyambut jabat tangan Luna. "Jangan terlalu sungkan, tidak perlu memanggilku dengan sebutan ibu. Bukankah kau adalah orang terdekat adik iparku, kau bisa panggil namaku, ataupun memanggilku kakak!"
"Baiklah, Kakak! Itu terdengar lebih baik, tidak sopan rasanya memanggil nama," sahut Luna.
Rania mengangguk setuju. "Dan tidak menutup kemungkinan kau juga akan menjadi adik iparku suatu saat nanti."
Luna mengkerutkan dahi, lalu melirik ke arah Gio yang sedang sendirian sambil menyesap sampanyenya.
'Ya, nyaris. Tapi itu tidak akan pernah terjadi, karena mulai saat ini aku akan menanamkan kebencian untuknya,' batin Luna.
"Kau cepat tanggap dan langsung mengerti ucapanku," ujar Rania.
Luna tersenyum malu. "Kami tidak saling mengenal sebelumnya."
"Berhati-hatilah, sudah menjadi pekerjaan utama sepupuku itu, merayu setiap gadis yang ia temui." Rania tersenyum lebar.
Luna menganggukkan kepala lalu melirik Gio. "Sepertinya kamu benar, Kak!"
'Dan aku adalah salah satu korbannya. Aku mencintainya selama bertahun-tahun, tapi sepertinya dia hanya menganggapku mainan semata.' Luna tertengun, sampai akhirnya suara Rania kembali membuyarkan lamunan Luna.
"Oh, ya, Lun! Bagaimana persiapanmu untuk fashion show di Paris nanti?"
"Masih tahap pengerjaan, Kak! Semoga fashion show nanti bisa menjadi pintu bagi kami, untuk mendapatkan tempat di pasar Internasional," sahut Luna optimis.
"Tentu! Dan Fashion Glorie akan selalu mengulurkan tangan untuk membantu kalian," ujar Rania.
Lagu pengiring dansa berhenti, Rara dan Sean membungkukkan badan sebagai penghormatan kepada tamu, lalu beranjak dari lantai dansa.
Luna menatap Nanar ke arah depan. Giovanni yang disangkanya Geovanni itu tampak sedang berbincang akrab dengan Rara. Hatinya menjadi teriris saat ini, bukan karena keakraban Gio dengan Rara, melainkan karena pria itu berpura-pura tidak mengenalnya.
Setelah perbicangan itu selesai, Luna pun menghampiri Rara yang kini sudah bersama Sean.
"Ra, aku pulang, ya. Entah kenapa kepalaku agak pusing," ujar Luna memberi alasan.
Rara menggangukkan kepala, dia tidak bisa menahan Luna, apalagi dengan alasan Luna yang tidak enak badan. Luna pun memeluk sahabatnya itu, sembari mendoakan yang terbaik untuk pernikahan mereka.
Setelah itu Luna langsung beranjak meninggalkan ballroom, dia melangkah cepat melewati koridor hotel.
"Nona, Anda sudah mau pulang?" tanya Wina yang berpapasan jalan dengan Luna.
"Iya, Win. Aku tidak badan," sahut Luna. "Oh, ya. Tolong kamu antar Bi Eni pulang ya, tadi aku tidak melihat keberadaannya."
"Baik, Nona. Kalau begitu saya masuk dulu," pamit Wina, lalu melanjutnya niatnya menuju ballroom.
Luna melanjutkan langkah menuju lift, dia masuk ke sana untuk membawa dirinya ke basement, tempat mobilnya berada.
Begitu tiba di parkiran, Luna hendak masuk ke dalam mobilnya, saat sebuah suara menghentikan gerakan tangannya yang ingin membuka pintu mobil.
"Mengapa buru-buru sekali? Kita bahkan belum sempat berkenalan lebih jauh!"
Bersambung.
Sementara sblm geovani meninggal blm sempet kasih tau siapa cewek yg harus di jaga gio
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu