Wrenny Saragih, wanita berusia 30 tahun yang mewujudkan ambisinya menjadi pengacara di hadapkan pada kisah masa lalu yang mengganggu Hidupnya.
Dominic Sinatria, lelaki bodoh yang menganggap istrinya juga mencintainya.
Alur maju mundur. Diharapkan jika membaca harus teliti di setiap narasi.
Enjoy it ! Thanks....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SheisUgly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAGAR MAKAN TANAMAN
Wajah Kalinda mendadak pucat pasi mendapati Vanessa beserta dayang-dayangnya yang juga teman Kalinda menghadang langkahnya. Tongkat penyangga masih jadi teman setia Kalinda karena dia belum sembuh total.
Vanessa terlihat geram karena Kalinda tidak kunjung menepati janjinya untuk memutuskan hubungannya dengan Dominic. Segala cara akan di tempuh Vanessa untuk meluluskan ambisinya. Termasuk melenyapkan Kalinda jika perlu.
Buku milik Kalinda terjatuh dari tangannya yang gemertar. Mau mundurpun, dibelakangnya ada bangku besi yang tadi di dudukinya. Kalinda tentu saja tidak akan rela melepas Dominic, laki-laki yang di cintai dan juga mencintainya. Dari awal Kalinda memang sudah tahu jika Vanessa, temannya sejak SMU itu menyukai Dominic. Tapi jika Dominic lebih memilih Kalinda di banding Vanessa, Kalinda tidak akan mau mengalah. Memberi pengertian Vanessa jika cinta itu tidak pernah salah, malah membuat Vanessa bertindak arogan bahkan menganiaya hingga tulang betisnya hampir patah.
Jika saja tidak ada Wren, munngkin Kalinda sudah mati ketakutan dikurung di gudang. Ponsel milik Kalinda di banting hingga remuk oleh salah satu dayang Vanessa agar Kalinda tidak bisa meminta tolong kepada siapapun.
Kalinda yang selalu teringat Wren karena belum membalas budi dan berterima kasih, mencari-cari gadis penolongnya itu. Kalinda bertanya pada sebagian besar teman kampusnya. Nama Wren begitu asing. Tidak ada yang kenal. Hingga ke fakultas lain pun, tidak ada yang mengenal Wrenny.
Seandainya Wren bisa di temukan, paling tidak gadis itu bisa bersaksi jika Vanessa yang telah melakukan penyiksaan padanya. Itu akan di lakukan Kalinda jika Vanessa mengancam nyawanya. Berapapun upah yang diminta Wren untuk bersaksi, Kalinda Bersedia menyanggupinya.
"Enak banget nih, tiap hari di antar jemput Ayang !" Sindir Vanessa hiperbola dengan senyum sarkasnya.
"Cowok dia itu beneran pacar atau budak sih. Mau banget nganterin cewek gatel ini !" Dayang Vanessa yang mengenakan cardigan biru navy menimpali.
"Pakai di gendong segala lagi turun dari mobil sampai kelas. Cowok lo itu bego apa tolol !" Sinis teman Vanessa yang lain.
"Kenapa sih lo ngomong gitu ?!! Gue enggak suka ya lo ngingetin gue kalau Domi gendong si penghianat ini !!" Vanessa mendelik ke arah temannya yang menyinggung kemesraan Dominic dan Kalinda.
"Emang Dominic di perbudak ama dia kan??"
Antara takut, cemas dan marah luar biasa, Kalinda hanya bisa diam dengan perasaan gugup. Dia ingin meluapakan amarah, kenapa Vanessa tega menyiksanya. Di sisi lain, gadis cantik itu takut jika melawan, akan mendapat siksaan.
"Ma, mau lo apa Nes???" Akhirnya Kalinda buka suara Juga walaupun tergagap.
"Gue cuma mau lo putusin Dominic. Tapi lo malah mengabaikan ancaman gue dan lo semakin deket ama dia ! Gue kasih waktu satu hari buat lo mutusin Dominic. Atau, lo enggak akan pernah lihat Pacar tercinta lo lagi !" Vanessa bersedekap pongah menatap tajam Kalinda. Suara Vanessa tidak terdengar keras, tapi dengus nafas penuh amarahnya terasa sampai ke permukaan kulit Kalinda dan membuat gadis itu merinding. Namun, Kalinda tidak begitu saja mau menyerah dan mengakhiri hubungannya dengan Dominic. Tidak peduli jika Vanessa yang notabene adalah sahabatnya juga mencintai cowok ganteng itu.
"Gue enggak bisa ! Gue cinta ama dia. Lo enggak bisa paksa gue mutusin Dia !" Ego yanng teramat besar membuatnya berani bicara. Kalinda paham jika cinta memang butuh di perjuangkan.
"Lo berani ya ama gue???" Geram Vanesaa. Matanya mengintai sekeliling, takut jika ada yang mendengar ucapan jahatnya.
"Gue enggak ta..takut. Gue cinta ama Dominic. Dominic juga cinta ama gue. Jadi jangan paksain sesuatu yang bukan buat lo !" Bibir Kalinda bergetar melawan ancaman Vanessa. Mata Vanessa memicing.
"Gue yang pertama kali mengenal Dominic, gue juga selalu cerita ama lo kalau gue suka ama dia dari Dulu. Tapi apa?? Lo rebut dia dari gue !!" Wajah Vanessa merah padam. Perasaan terpendamnya diluapkan seperti boom waktu yang siap meledak.
"Tapi Dominic sukanya sama Gue. Lo enggak bisa paksa dia buat suka ama lo ! Kalau lo cinta ama dia, lo harusnya seneng liat dia bahagia sama gue !" Kalinda pantang menyerah. Yang dia bilang memang realistis kan? Jika tidak cinta tidak usah memaksa. Cinta yang tulus tidak pernah mengharapkan balasan.
"Lo emang bener-bener temen yang enggak setia ya? Kurang ajar !" Hampir saja Vanessa lepas kendali dan menggampar pipi mulus Kalinda.
"Lo harusnya juga sadar. Gue banyak bantuin lo selama ini. Jadi itu sebagai balas jasa lo ke gue. Bukan lo nyiksa gue kayak gini !" Kalinda semakin mengenal kemana arus perdebatan ini bermuara. Vanessa harus di lawan bahkan diingatkan jika Kalinda banyak berjasa dalam kelangsungan Hidup Vanessa dan keluarganya yang hampir mengalami kebangkrutan.
"Sita, Lala, seret cewek keras kepala ini ke Gudang !" Vanessa yang tersulut emosi memerintahkan dayang-dayangnya untuk meringkus Kalinda. Kalinda bukan saja merebut Dominic darinya tapi juga mengoyak harga dirinya. Apa balas budi dan cinta itu adalah hal yang sama?? Keduanya punya definisi masing-masing.
"My pleasure...." Keduanya menyeringai jahat meraih lengan Kalinda.
Ketakutan menggelayuti gadis Itu. Dia trauma jika di kurung di dalam gudang dan mendapat penyiksaan kembali. Bukan hanya penyiksaan, kali ini nyawanya bisa melayang. Kalinda hampir terisak. Vanessa yang dari dulu menjadi sahabat baiknya di SMU , bisa berbuat sedemikian rupa kepadanya hanya karena mencintai pria yang sama. Apa Vanessa tidak ingat ketika Ayahnya bangkrut, Kalinda sering membantu kebutuhan sekolah Vanessa. Bahkan Kalinda membujuk Papanya agar mau membantu perusahaan Ayah Vanesaa hingga bangkit kembali.
Temannya ini memang tidak tahu membalas budi.
"Tega banget Lo Nes !!" Kalinda mencoba melawan cengkraman Sita dan Lala yang akan membawanya ke gudang.
"Lo enggak inget, dulu waktu lo susah siapa yang bantu lo kalau bukan gue !!" Kalinda coba mengungkit-ungkit bantuan yang pernah di berikan untuk Vanessa. Agar gadis jahat itu tidak menyiksanya kembali.
"Oh jadi lo pamrih???" Vanessa semakin geram dan malah ingin segera menyiksa Kalinda.
Gadis cantik itu memejamkan mata. Berharap pertolongan Tuhan datang. Entah kenapa kampus mendadak sepi. Mahasiswa yang lain mungkin sudah pulang.
"Tolong kamu lepasin dia !" Suara datar tidak di kenal masuk ke dalam ranah internal Kalinda dan Vanesa. Kalinda buru-buru membuka mata. Dilihatnya mahasiswi yang tempo hari pernah menolongnya.
"Lo jangan ikut campur urusan orang ya??"
"Wren? Wrenny??"
Wren yang sedari tadi mengintai di balik pohon rindang tergerak hatinya untuk melawan penyiksaan Vanessa. Dia sadar tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Bahkan uang di saku celanapun tidak Ada. Jika Vanessa berbalik menyerang dan melaporkan nya pada Dekan, beasiswanya bisa saja di cabut. Tapi dorongan untuk menegakkan hukum dan membantu orang lemah seperti Kalinda membuat keberaniannya muncul.
Wajah Kalinda menyiratkan kelegaan. Wren datang pada saat yang tepat. Senjata untuk Melawan Vanessa telah muncul di depan mata.
"Kayaknya aku emang harus ikut campur urusan kalian. Aku bisa laporin kalian ke polisi" Wren masih bersikap santai seolah ketakutannya hanya seupil. Menatap Vanesaa dan dayang-dayangnya secara bergantian.
"Lo ngancem gue?? Gue enggak takut !"
"Aku juga enggak takut berhadapan sama kamu !!" Balas Wren tegas.
"Nes, lo ngapain dengerin gembel kayak dia ! Seret aja si medusa ini ke gudang !!" Lala memprovokasi. Agar jangan mempedulikan Wren. Memang apa yang membuat mereka harus takut?? Dari penampilannya Wren memang gembel kan???
"Dia cuma ngulur waktu kita doang" Sita si gadis berpakaian merah menyala dengan lipstik warna senada ikut menimpali.
"Kalian emang bener, ngapain ngurusin gembel ini. Ayo kita seret si cewek gatel ini !"
Pupus sudah harapan Kalinda mendapat pertolongan dari Wren. Pendapat Lala memang benar. Dari penampilan tidak ada yang menarik dari Wren. Jangankan uang, bahkan power untuk melawan Vanessa tidak ada. Tubuhnya kurus meskipun posturnya lumayan tinggi, matanya cekung seperti kurang tidur.
Kalinda masih memberontak saat kedua dayang-dayang Vanesaa menyeretnya menuju gudang. Tapi apalah daya, Kalinda tidak punya kekuatan dan kakinya bertambah sakit. Dia hanya bisa meringis menahan sakit.
'lo pukul aja kepalanya biar mampus !'
Suara dari ponsel menghentikan langkah ketiganya. Mereka buri-buru melepaskan Kalinda hingga gadis itu terjerembab di rerumputan.
Wajah ketiga wanita beringas itu nampak pucat. Bagaimana bisa??
"Gimana? Spoilernya udah cukup??" Wren memainkan ponsel di tangannya memperlihatkan video rekaman yang diambilnya dari gudang saat mereka menyiksa Kalinda.
"Kamu mau ini aku putar keseluruhan ?? Kalau ini diputar di kantin, rame kali ya yang nonton. Atau kalian pengen ini di putar di pengadilan?? Kalian bebas pilih !!"
"Bangsa*t lo ya...!!" Vanessa dan temannya maju mengeroyok Wren tapi gadis itu dengan sigap menghindar menyembunyikan ponselnya di saku celana !
Wren tersenyum geli melihat tingkah jagoan mereka dan sekarang nyali mereka sudah menyusut.
"Aku akan simpan ini sebagai kenang-kenangan kalau kalian janji enggak akan nyiksa Kalinda. Aku anggap ini selesai !"
...❤❤❤❤❤...
Kata mamas Dominic : Patuhi protokol kesehatan ya gaes. Jangan kasih kendor biar PPKM nya enggak di perpanjang lagi.
makasih masih inget wreni belum beres ini, penasaran sampe novel mu yang lain aku baca ulang🤣👍
masih menunggu thor,,,miss uuuuuu😍😘
kak akan dilajut kah