Andi sudah menyukai Viona sejak Viona masih duduk di bangku SD kelas 5, sedangkan Andi duduk di bangku SMP kelas 1.
Tapi Andi hanya berani menyukai Viona secara diam-diam, dan menjadi pengagum rahasia, yang hanya berani memperhatikan Viona dari jarak jauh secara diam-diam.
Sebagai seorang gadis yang berperasaan lebih halus, dan lebih cepat dewasa ketimbang pria dalam hal perasaan.
Tentu saja Viona menyadari hal itu, dia juga cukup tertarik dengan Andi, cuma di tunggu hingga mereka berpisah sekolah
Viona tetap tidak pernah menerima pernyataan dari Andi bahwa dia menyukai Viona.
Baik itu lewat Surat, SMS, maupun pernyataan langsung secara romantis.
Semua nya pun terlewatkan begitu saja, hingga akhirnya mereka kembali bertemu di kampus yang sama.
Akankah Viona dan Andi akan bersama kembali, melanjutkan perasaan mereka yang sempat terputus.
Bagaimana mereka menikmati kisah percintaan mereka selama masa kuliah, hingga terjun ke dunia kerja dalam kehidupan yang lebih nyata.
Menghadapi berbagai ujian hidup yang lebih berat.
Akankah mereka berdua bisa terus bersama hingga jenjang pernikahan, menghadapi berbagai cobaan dan rintangan dalam bahtera rumah tangga.
Akankah mereka terus bisa melewati segala macam ujian hidup dan bisa tetap bersama-sama menghadapi nya hingga maut memisahkan mereka.
Silahkan ikuti kelanjutannya, bagi teman-teman yang suka dengan cerita romantis, suka duka percintaan, dan realita kehidupan, anda boleh coba baca dan mengikuti cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MING2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANDI SANTI MELAWAN JONI DAN SANI
Andi kini memegang paha Sarah yang putih berkulit halus.
Sarah wajahnya memerah, entah kenapa dia merasa sangat nyaman saat tersentuh oleh jari Andi yang lembut tapi kuat.
Sarah merasa seperti dirinya tiba-tiba sesak pipis, terkena sentuhan lembut tangan Andi.
Tangan Andi yang lain memegang tempurung lutut Sarah yang bergeser.
Sentuhan Andi yang seperti sedang bermain piano menari-nari diatas lutut Sarah.
Menimbulkan Sensasi yang geli, tapi juga sulit di lukiskan, Sarah semakin merasa kebelet pipis di buatnya.
Sarah wajahnya semakin merah, dia sampai mengigit bibirnya dengan keras.
Tangan kanan nya tanpa sadar kini mencengkram pundak Andi dengan lembut.
Sedangkan tangan kirinya masih memegang bungkusan kompresan mengompres pergelangan kaki nya.
Di saat Sarah sedang merasa sangat nyaman dan serasa melayang-layang, akibat sentuhan jari Andi di paha bagian dalam nya.
Tiba-tiba dia mencengkram bahu Andi dengan sangat keras sambil berteriak keras.
"Arghhh....!!! Sakit...ampun...Ahhhh....!!"
Sesaat kemudian jeritan Sarah hilang berganti dengan suara nafasnya yang memburu, dengan airmata mengembang di sepasang matanya yang indah..
Bahu Andi yang di cengkram oleh kuku jari Sarah hingga membenam kedalam dagingnya terlihat berdarah.
Setelah Sarah sedikit tenang Sarah secara reflek menarik kakinya dari pegangan Andi sambil merapatkan sepasang pahanya yang putih mulus.
Wajah Sarah menjadi merah menahan malu, tadi karena saking tidak kuatnya menahan sentuhan jari Andi, akhirnya dia kelepasan dan sedikit pipis di celana d*lamnya.
Ketika rasa sakit yang amat sangat menyerang tiba-tiba, dia tanpa sadar kelepasan sehingga dia merasa dirinya telah ngompol cukup banyak.
Jadi dia buru-buru mengatupkan kakinya agar tidak ketahuan oleh orang-orang.
terutama Andi, Sarah tiba-tiba merasa sangat grogi bila berdekatan dengan Andi.
Sarah tidak sadar, dia sekarang sudah bisa menggerakkan kakinya kembali sesuka hati dan tidak begitu sakit lagi.
"Sarah sekarang kompres lutut mu."
ucap Andi membuyarkan lamunan Sarah, yang pikirannya sedang kusut.
Sarah dengan grogi segera mengompres lututnya sendiri.
Ketika melepaskan tangannya dari pundak Andi Sarah baru menyadari pundak Andi terluka karena kukunya.
"Andi maaf itu pundak mu jadi berdarah, aku..aku tidak sengaja.."
ucap Sarah merasa bersalah dan tidak enak hati.
Andi hanya tersenyum lembut dan berkata,
"Jangan khawatir tidak apa-apa cuma luka kulit saja."
"Ok sekarang sudah beres, Santi Viona boleh tolong bantu pindahkan Sarah kepinggir lapangan ?"
ucap Andi sambil menatap kedua gadis itu yang dari tadi menatapnya dengan tatapan kagum yang tidak bisa disembunyikan lagi.
Kedua gadis itu mengangguk cepat, kemudian mereka berjongkok membantu memapah Sarah yang masih sedikit pincang, tapi sudah bisa di gunakan berjalan ke pinggir lapangan.
Tak lama kemudian ambulance pun tiba, Andi segera berpesan pada Sarah,
"Sekarang keadaan mu sudah cukup baik, tapi tidak ada salahnya kamu melakukan Rontgen dan check up dirumah sakit."
"Sebelum benar-benar pulih jangan berlatih atau bermain badminton dulu."
Sarah tersenyum dan berkata,
"Makasih banyak ya di, tapi jangan lupa janji mu ya ?"
Andi tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sambil melirik kearah Viona dengan tidak enak.
Viona pura-pura tidak mendengar yang dikatakan oleh Sarah, dia bertanya pada Sarah "jadi pertandingan kita tadi.?"
Sarah tersenyum dan berkata,
"Aku nyerah kamu dan Rio sedang beruntung."
"Andi Santi titip ya, jangan kasih ampun ke mereka, aku yakin kalian bisa."
ucap Sarah bercanda sambil tertawa.
Mereka berempat pun tertawa bersama, Tak lama petugas ambulance pun datang bersama ketua panitia membawa kasur dorong.
Setelah membantu memindahkan Sarah keranjang dorong, Sarah pun di dorong meninggalkan tempat itu.
Mereka bertiga berjalan mengantar Sarah hingga ke tempat parkir mobil ambulance.
Sarah sambil tersenyum melambaikan tangan nya kearah Andi Santi dan Viona, sebelum di masukkan kedalam mobil ambulance.
Mereka bertiga juga membalas lambaian tangannya sambil tersenyum.
Setelah mobil ambulance pergi, mereka bertiga baru berjalan kembali ke gedung olahraga.
Di mana pertandingan lainnya sedang berlangsung.
Rio menatap Andi dan Santi dengan tatapan dingin kurang bersahabat.
Santi yang sebal dengan Rio, menarik tangan Andi untuk mencari tempat duduk yang agak jauh dari Viona dan Rio.
Viona tak berdaya mencegah kedua sahabatnya, dia hanya bisa duduk di dekat Rio dengan perasaan malas.
Entah kenapa Viona sekarang kurang respek dengan Rio lagi, hatinya mulai malas dan dingin terhadap Rio.
Dia tidak lagi seantusias dulu mengagumi Rio yang tampan gagah keren populer juga kaya raya.
Setelah kembali bertemu dengan Andi Viona jadi merasa tertarik dan ingin berdekatan kembali dengan pengagum setia nya itu.
Viona kini merasa was-was, melihat sikap Santi dan Sarah yang terlihat sepertinya juga menaruh perasaan terhadap Andi.
Tidak, tidak boleh batin Viona, Andi hanya boleh menyukainya, dia tidak akan ijinkan Andi bersama gadis lain.
Aku harus secepatnya jadian dengan Andi sebelum aku benar-benar akan menyesal nantinya, batin Viona.
"Apa yang sedang kamu pikirkan kok jadi melamun ?"
ucap Rio merusak lamunan Viona.
"Ohh...! nggak .nggak apa-apa."
"Cuma mikir siapa musuh kita berikutnya.."
"Ohh ya, bagaimana dengan hasil pertandingan kita tadi ?"
tanya Viona mengalihkan perhatian Rio, setelah dia sedikit berbohong pada Rio soal apa yang sedang di lamunannya barusan.
"Ohh itu, kita di anggap menang karena lawan kita tidak bisa melanjutkan pertandingan lagi."
"Tomy tidak berkomentar apa-apa jadi kita pun sah jadi pemenangnya."
"Lagipula bila tidak ada Sarah Tomy bukan apa-apa."
ucap Rio sedikit sombong.
Viona cuma mengangguk ringan mendengar cerita Rio dengan malas.
Tapi Viona hanya menyimpannya di dalam hati, dia tidak menunjukkan sikap malasnya sedikitpun didepan Rio.
Di tempat lain Santi bertanya kepada Andi,
"Di sejak kapan kamu bisa tehnik ilmu pengobatan tradisional begitu ?"
"Rasanya aku tidak pernah mendengar kamu bercerita ?"
Andi tersenyum dan berkata,
"Itu sebenarnya tehnik Rahasia warisan dari kakek luar ku, bila tidak terpaksa aku tidak akan memamerkan atau pun menceritakannya kepada siapa pun."
"Ohh jadi kakek luar mu sejenis Huang Fei Hung, Huo Yan Jia, Yip Man gitu ya ? aku suka nonton film-film seperti itu seru.."
ucap Santi antusias.
Andi cuma tersenyum menanggapi dan berkata,
"Itu cuma khayalan film yang di lebih-lebih kan orang saja, untuk mencari popularitas dan uang saja."
Santi menatap Andi dan berkata,
"Maksud mu hal-hal itu tidak nyata,?"
"Lalu menurut mu yang gimana yang lebih nyata ? jangan bilang yang kaya Kwee Ceng dengan 18 tapak Penahluk Naga itu yang nyata.
ucap Santi sambil tertawa.
Panitia kini memanggil nama Andi, Santi dan lawan mereka Joni dan Sani.
aku sekalian ijin promosi novel ku yang berjudul PEREBUTAN KEKUASAAN. yuk mampir teman2 jangan lupa like dan commen yah ☺️😄😁