Nggak rekomend novel ini, silahkan bisa baca yang deretan bawah, terimakasih 🙏
Masih tahap Revisi, jika ada typo atau pemakaian kata dan tanda baca yang salah mohon di maklumi, terima kasih.
Bagaimana caramu mendapatkan cinta dari masa lalumu?
"Baiklah! Aku beri kau dua pilihan. Pertama pergi dari sini dan jangan pernah menampakan wajahmu lagi dihadapanku, atau kedua tinggalah bersamaku akan kulupakan tentang masalalu, tapi tinggalkan ayahmu dan lupakan bahwa dia ayahmu!" ucap Jimmy memberi pilihan yang sulit untuk Michelle.
Lalu bagaimana akhir cerita cinta mereka? Baca selengkapnya disini.
Kisah yang dipenuhi cinta,tawa,dan airmata.
Cover from google,editing by din din
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Malam hari
Michell dan livia sudah selesai bekerja,mereka berjalan pulang,sesampainya di depan apartemen,Juan ternyata sudah menunggu mereka.
"Juan,kenapa kau disini?"Livia mendekat kearah Juan.
"Sebenarnya aku ada perlu dengan Michell"Juan menatap Michell.
"Oh,begitu"Livia melihat kearah Michell.
"Ada perlu apa denganku?tidak biasanya kau mencariku."Michell tersenyum.
"Ini mengenai Jimmy"Juan melihat kearah Michell,tapi begitu mendengar nama Jimmy,senyum Michell seketika menghilang.
"Aku tidak mau tau tentangnya"Michell melangkah maju melewati Juan.
"Michell."Livia merasa Michell terlihat tertekan lagi.
"Aku tau aku tidak pantas meminta tolong,tapi kali ini aku benar-benar tidak bisa membujuknya,sudah 2 hari ini dia tidak mau pulang juga tidak pergi kesekolah,tiap hari dia hanya minum minum,sepertinya dia masih merasa bersalah padamu,ibunya terus menghubungi untuk meminta tolong agar bisa membujuk dia pulang,aku sudah kehabisan akal,mungkin hanya kamu yang bisa membujuknya"Juan menjelaskan dengan cepat.
Michell berhenti melangkah,
"Maaf Juan,walaupun aku ingin,tapi aku tidak bisa"Michell masih bersikeras.
"Aku hanya berharap kau mau membujuknya,bukan untuk kepentinganmu ataupun Jimmy,tapi demi ibunya,aku tidak tega dengan ibunya,aku harap kamu mau memikirkannya,jika kau berubah pikiran,dia berada di Club malam H."Juan menghentikan pembicaraannya.
Michell tidak bicara apapun,dia langsung melangkah pergi,Juan masih berada disana,Livia pun tidak tau harus bagaimana.
"Juan,sepertinya Michell belum melupakan kejadian kemarin,aku akan coba membujuknya,kau pulanglah terlebih dahulu"Livia memandang Juan,dia merasa Juan prihatin dengan apa yang terjadi.
"Baiklah,aku minta tolong padamu"Juan mengecup kening Livia.
"Aku pulang dulu"Juan melangkah kearah mobilnya.
Livia masih berdiri melihat Juan pergi,setelah itu Livia kembali masuk keapartement,didalam Livia melihat Michell duduk dibalkon,Livia mencoba mendekatinya,walaupun dia tidak yakin apa Michell mau berubah pikiran.
Dibalkon
Livia perlahan melangkah mendekati Michell,walaupun sedikit ragu,tapi dia harus melakukannya.
"Michell..."Livia membuka percakapan.
"Kalau kau hanya ingin membujukku,lebih baik lupakan saja,aku tetap tidak akan pergi."Michell terdengar tegas,dia tidak bergeming ataupun melihat kearah Livia.
Livia berhenti melangkah,
'''Sepertinya,melihat sikapnya seperti ini akan percuma saja bila meneruskan pembicaraan,memaksanya hanya akan menambah keyakinan untuknya menolak,aku yakin pada michell dia pasti akan melakukan apa yang dia anggap benar.'''
"Baiklah,aku hanya ingin mengingatkan jangan terlalu banyak kena angin malam,atau kau akan sakit,aku akan pergi mandi dan tidur."Livia meninggalkan Michell sendiri dibalkon.
Michell sama sekali tidak mengucapkan sesuatu,pandangannya masih tertuju pada bintang-bintang di langit,mendengar keadaan Jimmy,entah kenapa membuat hatinya sakit dan sesak seolah-olah dia tidak bisa bernafas,sesekali dia melihat jam diponselnya waktu menunjukan pukul 9,dia melihat lagi pukul 10,melihat lagi sudah pukul 11,dia sudah tidak tahan lagi dengan ketidak peduliannya,Michell segera mengambil jaket dan tasnya,dia bergegas pergi,dia memanggil taxi dan pergi ke Clubmalam H.
Club malam H
Michell nampak berhenti didepan pintu,tapi dia ragu untuk masuk.
"Sudah sampai sini apa aku balik saja?tapi,aku harap aku tidak menyesal dengan keputusanku."Michell melangkah masuk.
Michell masuk dan bertanya kepada salah satu pelayan tentang keberadaan Jimmy,pelayan itu membawanya kesebuah ruangan khusus,sesampainya didepan ruangan lagi lagi Michell ragu untuk masuk,tapi semua sudah terlanjur,dia sudah sampai disitu mana mungkin kembali,Michell perlahan membuka pintu dan masuk.
Benar saja Jimmy ada disitu,tapi kondisinya sedikit memprihatinkan,rambutnya yang acak acakan,wajahnya yang biasanya terlihat cerah kini terlihat begitu menyedihkan,sampai Michell tidak yakin apa benar itu Jimmy,bau alkohol tercium disetiap sudut ruangan,Michell hanya berdiri di dekat pintu menunggu Jimmy benar-benar tidak sadar,karena sepertinya membujuk Jimmy dengan keadaannya yang seperti itu pasti akan percuma.
"Michell,apa itu kau?"tiba-tiba Jimmy berdiri memandang kearah Michell berdiri,Michell sedikit gugup apa yang harus iya lakukan bila jimmy mendekat.
"Hahaha...Pasti halusinasi ku lagi,mana mungkin dia kesini,dasar bodoh."Jimmy duduk kembali dia memegangi kepalanya.
'''Nampaknya yang dikatakan juan benar,dia merasa bersalah denganku,tapi aku kesini bukan karena kasian dengannya,aku hanya kasian pada ibunya,aku tidak boleh membiarkan sedikitpun perasaan masuk kedalam hatiku.'''Michell mencoba membohongi dirinya sendiri.
"Hai...Bayangan Michell,kalo kamu memang datang untuk menghiburku,tetaplah disitu,aku akan minum lagi untuk mengurangi beban pikiranku."Jimmy menuangkan minuman digelasnya dan minum lagi.
"Hah..Dasar pria ini bodoh atau tidak sadar karna terlalu mabuk,tapi lebih baik seperti itu,atau aku tidak tau apa yang akan dia lakukan padaku,kalau dia sadar bahwa aku benar-benar asli dan bukan halusinasinya saja."Michell berbicara pelan.
Hampir 2 jam Michell berdiri melihat Jimmy menggila saat mabuk,entah sampai kapan dia benar-benar mabuk dan tidak sadar,kakinya terasa pegal karna terus berdiri,sampai akhirnya Jimmy tertidur disofa,itu kesempatannya membawa Jimmy pulang.
Michell mendekat dan mengecek apa Jimmy benar-benar sudah tidak sadar.
"Jimmy...Jimmy..."Michell melambaikan tangannya didepan muka Jimmy tapi sudah tidak ada respon.
"Baguslah,dia sudah tertidur,tinggal minta tolong seseorang untuk mmbantu memapah dia kemobilnya."Michell mencari kunci mobil Jimmy,dia yakin Jimmy pasti membawa mobil,akhirnya dia menemukannya di saku celananya.
"dapat..."
Michell buru-buru memanggil pelayan dan meminta bantuannya.
"Maaf apa bisa tolong saya memapah seseorang ke mobil?"Michell berbicara ke salahsatu pelayan laki-laki.
"Iya tentu saja nona"Pelayan itu buru-buru mengikuti Michell.
Michell dan pelayan itu memapah Jimmy ke mobil dan memasukannya.
"Terimaksih banyak,ambil uang ini,anggap saja tanda terimaksih ku karna telah membantuku."Michell menyodorkan beberapa lembar uang ke pelayan tadi.
"Terimaksih nona,anda selain cantik juga baik sekali,pacar anda pasti sangat beruntung memiliki anda."Pelayan itu menerima uang dari Michell.
"Eh,itu,dia bukan."Michell tercengang mengetahui pelayan itu mengira Jimmy pacarnya.
"Ya sudah nona,saya kembali kedalam."pelayan itu buru-buru lari.
"Ya sudahlah,dijelaskan juga percuma."Michell menengok kedalam mobil.
"Sepertinya aku sudah gila karena mau melakukan ini."Michell menengok kedalam mobil.
Michell masuk kedalam mobil dan menyalakan mesin,sebelum jalan dia mengecek sabuk pengaman milik Jimmy dan memakaikannya,saat sedang memakaikan dia mendengar Jimmy mengigau memanggil nama Michell dan meminta maaf,entah kenapa tiba-tiba Michell tersenyum.
Mobil mulai melaju,Michell mengantar Jimmy kerumahnya,dia tau alamat rumah Jimmy dari info pelayan diclub,tentu saja saat sampai di depan gerbang,penjaga langsung membukakan gerbang,karena mereka mengira Jimmy yang menyetir.
Sesampainya di depan rumah,Michell melihat seorang pria kira-kira sudah berumur 50 tahunan berada didepan pintu,Michell menghentikan mobilnya dan keluar dari mobil.
"Selamat malam paman,maaf mengganggu,saya hanya mengantar Jimmy pulang dia ada didalam mobil."Michell berbicara dengan sangat sopan.