[Area termehek-mehek, siapkan tisu untuk menyeka air mata]
George selalu memperlakukan Gabby dengan kasar, dingin, dan mereka berdua selalu berseteru. Hingga membuat Gabby sangat membenci George.
Suatu ketika, Geroge mengetahui siapa Gabby sesungguhnya. Orang yang ia cari selama ini. Ia hendak menepati janjinya untuk menikah dengan Gabby setelah mengetahui identitas wanita itu. Namun sayang, hati Gabby sudah terlanjur beku. Ia sudah membenci George.
Disaat George sedang mencoba mendekati Gabby, seorang pria bernama Marvel hadir dengan membawa pembuktian cinta untuk Gabby.
Hingga suatu hari, George dan Gabby terjebak dalam satu ruangan dan terjadilah malam yang membuat Gabby kehilangan kehormatannya.
“Aku akan bertanggung jawab dengan perbuatanku, aku akan menikahimu.” George.
“Jika kau ingin menikah denganku hanya karena ingin bertanggung jawab atas kejadian ini atau ingin memenuhi janjimu dulu. Maka lupakan, aku tak membutuhkannya.” Gabby.
“Aku tetap mencintaimu, walaupun bedebah itu sudah mengambil sesuatu yang berharga darimu.” Marvel.
Siapakah yang akan dipilih oleh Gabby? George yang sudah merenggut kehormatannya atau Marvel yang menunjukkan betapa besar cintanya pada Gabby?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 13
“Ternyata kau itu mesum juga!” George mendorong kening Gabby dengan telunjuknya hingga wanita itu mundur satu langkah untuk mengimbangi tubuhnya yang bisa tersungkur ke belakang jika tak melakukannya akibat dorongan jari George yang begitu kuat.
Plak!
Tangan Gabby balas memukul kening George dengan sekuat tenaganya. Namun bukannya pria itu yang sakit, malah telapak tangan Gabby yang memerah. “Shit! Manusia batu, keras sekali!” umpatnya mengibas-ibaskan tangannya.
George tersenyum sinis, merasa dirinya menang lagi dengan pertarungan sengit itu.
“Kau bisa tidak, jika tak menggunakan kekerasan!” sembur Gabby. Lelah juga dirinya diperlakukan kasar terus.
“Terserahku, tangan-tanganku, kau tak berhak mengaturku!” timpal George tak mau kalah. Pria itu berdiri begitu angkuhnya dengan wajah tak berekspresinya dan kedua tangan yang dilipat di depan dadanya menambahkan kesan sombongnya.
Gabby menggemelatukkan giginya, matanya mendelik kesal, ia maju satu langkah mendekat ke arah George. “Ku pecahkan juga telurmu!” ancamnya, lutut kanannya sudah ia angkat tepat didepan benda tujuannya. Siap menerjang sesuatu disana.
George diam saja, ia tak takut sedikitpun. Membuat Gabby menurunkan kembali kakinya karena gertakannya ternyata tak mempengaruhi pria dingin itu.
“Cih! Wanita bar-bar!” hina George terdengar sangat jelas.
Sudah banyak hinaan dan kata-kata yang membuat Gabby sakit hati akibat ucapan George. Pria itu juga tak mengerti kenapa mulutnya bisa lebih banyak bicara ketika bersama Gabby.
“Mulutmu itu sepertinya hanya bisa kau gunakan untuk menghina orang! Lebih baik kau jual saja mulutmu itu daripada tak bermanfaat! Syukur ada yang membelinya, mulut sampah!” Gabby tak mau kalah. Ia balik menghina. Harga dirinya serasa diinjak-injak jika hanya diam ketika mendapatkan cacian. “Minggir, kau!” Ia menyingkirkan tubuh kekar yang menghalangi pintu.
“Mau apa, kau?” George mencekal tangan Gabby yang sudah berada di handle pintu siap untuk membuka kayu yang terukir indah itu.
“Membukanya lah, kau gunakan matamu untuk apa ha! Jelas-jelas aku memegang handle pintu! Masa iya aku mau makan! Bodoh!” Gabby sungguh sudah tak bisa berkata lembut dengan pria itu. Hatinya sepertinya sudah mulai membeku.
George menyingkirkan tangan Gabby dengan kasar. Pria itu sama saja tak bisa berlaku lembut dengan wanita itu. Apa lagi Gabby juga selalu membalas perbuatannya.
“Kau tak memiliki sopan santun ya! Ketuk dulu!” George menasehati seolah-olah dirinya memilikinya saja. Padahal pria itu juga sudah seenak jidatnya masuk dan tanpa permisi langsung duduk sebelum dipersilahkan oleh pemilik apartemen.
“Cih! Tak mengaca dengan dirimu sendiri! Ku pinjami kaca jika kau tak memilikinya agar kau itu sadar diri!” sembur Gabby untuk kesekian kalinya seraya kakinya mundur sedikit menjauh dari pintu.
George pun mengetuk pintuk kayu dengan ukiran indah itu setelah Gabby menyingkir. Menunggu sang penyewa kamar membukanya.
Si empunya kamar akhirnya membuka pintu itu setelah tiga kali kayu diketuk. Kegaduhan di luar kamarnya yang disebabkan oleh perdebatan George dan Gabby ternyata tak terdengar hingga ke dalam ruangan itu. Pantas saja, kamar itu begitu tebal dindingnya dengan lapisan kedap suara. Bahkan pintunya pun terbuat dari kayu yang sangat tebal dan begitu rapat.
Bukannya disambut dengan hangat, mereka malah mendapatkan omelan dari pria yang muncul dari balik pintu, karena datang terlalu lama. Sungguh tak tahu terima kasih Davis yang sudah seenaknya memberi perintah tanpa penjelasan pula.
Mata Gabby menyapu seluruh ruangan. Korneanya tertuju pada sosok wanita yang tertidur dengan wajah pucat.
“Apa yang kau lakukan dengan Diora!” teriak Gabby. Ia langsung menarik baju Davis, tangannya sudah terkepal hendak melayangkan tinjunya. Ia sungguh kesal, mungkin karena terbiasa melindungi Diora membuatnya selalu terbawa emosi jika terjadi sesuatu hal buruk dengan sahabatnya itu.
“Dasar wanita kasar!” George menghadang tangan Gabby yang sudah berada di depan wajah tampan Davis.
“Minggir kau! Aku tak ada urusan denganmu!” Gabby mendorong kuat tubuh Geroge yang menghalanginya.
mending mati aja klo kyk gtu
huhuhu😭😭😭
sakit bngt jd gabby
*aku kalau diposisi George mana mau menunggu gabi, ditolak, melihat gabi bermesraan dengan pria lain, melihat gabi bercumbu dengan pria lain, dan hanya dibuat kayak boneka yang pasrah dan megiti gabi selesai dia harus ada
thor aku tanya pribadi padamu, apakah kau diposisi George dan dilakukan kayak gitu kau mau menerima begitu saja
thor jadi novelis netral, lihat lah semua disitu pandang jangan hanya melihat sudut pandang wanita saja
*sudut pandang gabi enak menolak Georg menikah dan bercumbu dengan pria lain didepan Georg setelah dia selesai dengan pria itu, Georgia harus ada untuknya, enak benar hidupnya
*yang kasian geoge, ditolak, harus pasah melihat gabi bermesraan dan bercumbu dengan pria lain, setelah gabi selesai dengan pria itu, George harus menerima begitu saja
thor pakai hati berkarya, kalau kau adil buat gabi berjuang juga untuk George, karena faktanya gabi telah melukai hati George, jangan semudah itu, kalian buat George kayak boneka yang tidak punya hati yang bisa terluka juga
pakai hati thor