"Slebor banget sih jadi orang?" -Delta
"Emang kayak elo? Udah jalan kek Putri Keraton, muka kayak es batu, mana galak lagi. Gak akan ada cewek yang mau sama lo, gue jamin!" -Alpha
Alpha si cewek slebor dengan bentuk super abstrak. Baju berantakan, rambut diikat asal-asalan dan yang paling penting, dia manusia paling kikir sedunia!
Delta dengan sifat batu dan antisosial, tidak ada yang boleh menyentuhnya karena bisa ditebasnya habis-habisan, wajah dingin dengan aura mencekam di sekitarnya membuat semua orang tidak mau berinteraksi cowok itu.
Hingga Alpha membalikkan semuanya.
"Gue bakal buat lo jatuh cinta sama gue! Ingat itu baik-baik!" -Alpha
"Ogah." -Delta
Ngalahin Sang Raja Es? Emang bisa?
Ice Breaker started
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blackblue_re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 | Rooftop
Bel istirahat berbunyi nyaring, dengan asal gue masukin buku ke dalam tas lalu ngacir keluar kelas entah mau ke mana. Yang jelas gue lagi gak mau lihat si es batu berjalan itu, ngeselin cuih!
Ada satu masalah yang harus gue selesaikan, apa perlu gue undang Komo Ricky atau Uya Kuyang? Oh tidak perlu, cukup Mbah Mijan aja di hati.
"Saga si curut Tanah Abang~" nyanyi gue niruin gaya dia yang biasanya bawa-bawa nama gue sambil ngupil di sepanjang koridor.
"Hobinya make semvak kuda poni pinky cucok meong, rawwrrr! Anjay, kok gue goblok sendiri yah?" celoteh gue ke diri sendiri, baru ngeh kalau jadi goblok itu menyenangkan juga.
"Saga---"
"Cukup Al, gak usah malu-maluin gue lagi dah!" tegur Saga memites kepala gue dengan muka amsyong, mungkin semua orang dengar nyanyian rohani gue tadi.
"Yah, gue kan ngepens sama elo Ga," sela gue.
"Dari mananya?"
"Dari matamu... Matamu... Matamu... Kumulai jatuh cintya..." nyanyi gue sambil nyolek pinggang Saga. Cowok itu ketawa geli lalu ngerangkul gue kayak yang biasa dia lakuin.
"Kenapa? Kesepian lo gak ada gue?"
"Iya! Udah kayak anak bebek congek hilang induknya."
"Lo kira gue Emak lo?"
Gue berpikir sebentar, Saga kan udah kayak sodara dunia-akherat gue. Ibaratnya kayak monyet sama pisang, gue pisangnya Saga monyetnya. Yihaaa.
"Maunya apa?" tanya gue.
"Pacar lo."
1 detik.
2 detik.
3 detik.
Canggung.
"Maksud gue---"
"Gak usah canggung, elah!" ujar gue mukulin punggung dia, waktu bilang begitu nyatanya gue sendiri canggung banget.
"Heheh, oh iya gue mau ke ruang guru ngumpulin tugas. Lo ikut gak?"
"Enggak deh."
"Lah tadi lo kata gue kayak induk semang lo?"
"Okeh gue ikut, sampe ke WC kalo bisa," ujar gue membuat Saga salah tingkah.
"GAK USAH! GAK JADI!"
Gue ketawa singkat, mau ke kantin dompet lagi kanker. Ke kelas ada si es batu yaudah lah gue ke rooftop aja.
¢¢¢
Sampai di rooftop gue terkejut bukan main, gak taunya cowok yang gue hindarin malah mencyduk gue pergi ke tempat nongkrongnya.
Terlanjur basah gue langsung berjalan aja, daripada putar balik makin memperjelas kalau gue lagi hindari dia.
Diam, sunyi, sepi.
Gak ada yang angkat bicara.
"De," kata gue tiba-tiba. Gue tersentak beberapa saat sebelum deheman Delta membuat gue menoleh.
"Hm."
Tumben nyahut nih anak.
"Soal yang tadi, sorry udah bentak lo." gue berusaha agak santai, lagian sekarang gue gak punya kewajiban lagi buat ngejar tuh anak.
Dia diam, membuat jeda panjang sampai gue salah tingkah sendiri gak tahu mau bicara apa.
"Harusnya gue." Delta bergumam membuat mata gue menyorot linglung. Gak percaya gimana seorang Delta yang punya gengsi setinggi langit bisa ngucapin kata begituan.
"Gue benci sama cara lo yang gak ada bedanya dengan Mama gue."
Hening.
Gue gak bisa bicara apapun, bibir gue kelu seketika.
"Mungkin bagi lo sepele, tapi tetap aja, makin hari gue semakin kesel kalau lo begitu," ucap dia dengan wajah yang sama sekali gak berubah. Yakin aja kalau gue pegang tuh pipi pasti dingin banget.
"Kedua orangtua gue selalu bawa selingkuhan di rumah sampai gue bingung harus gimana, gue gak tahu harus percaya sama siapa. Mereka egois."
Dari yang gue lihat, kemungkinan besar Delta anak broken home. Kurang lebih gue ngerti gimana rasanya jadi gue pilih buat diam dengarin cerita dia.
"Mama... Selalu jadiin gue kambing hitam kalau mereka berantem. Kalau seandainya gue gak ada mungkin mereka bisa cerai, tapi demi nama baik keluarga..." kata Delta terputus, sedikit emosi mulai kelihatan di tatapan mata dia.
"Mungkin lo harus bersyukur masih punya orang yang lahirin lo di dunia sampai sekarang," ujar gue setenang mungkin.
"Buat orang kayak gue? Ayah pernah bilang, waktu lahirin gue Bunda sempat mau membunuh gue di rahimnya." gue menghela napas berat, membayangkan gimana sakitnya pas dengar penjelasannya dari Ayah waktu dia lagi mabuk.
"Mungkin lo bakal berpikir Bunda gue jahat, gak, dia Bunda terbaik di dunia. Seandainya gue dikasih kesempatan hidup sekali lagi, gue gak akan menyesal lahir dari rahim dia." gue mengulas senyum seraya mengela napas berat.
"Bunda jual badan demi gue sama Bintang. Sebelum kami lahir, Ayah selalu marah-marah, kalau Bunda hamil dia jadi gak bisa kerja, sedangkan Ayah selalu berjudi dengan utang yang makin banyak."
"Lo gak tau sakitnya kalau gak diterima lahir ke dunia, Bunda gue bahkan dipaksa minum banyak alkohol, merokok bahkan sampai hampir bunuh diri. Nyatanya? Gue masih hidup di rahimnya."
Mata kami saling bertemu, tanpa memberi jeda gue langsung bicara, "Mungkin hubungan keluarga lo masih bisa diperbaiki, buat orangtua lo bangga dengan pencapain lo. Supaya mereka sadar, kalau mereka punya anak hebat yang pantas disayang dibanding selingkuhannya."
Sebuah senyum samar tercetak di wajah mahkluk Tuhan di depan gue, langsung aja tanpa basa-basi gue pegang pipi dia.
"Yeeey! Menang! Kan gue udah bilang kapan-kapan gue pegang lo ahahahha!" celetuk gue dengan sumringah. Aneh aja gue ngakak sendiri biasanya tuh anak bakalan marah gue sentuh.
Gue berdalih menatap Delta, tatapan dia membuat bibir gue bungkam.
"ALAHMAAK DE! BESOK AJA LAGI YAH GUE SAMPERIN LO, BYE!"
¢¢¢
Sukses selalu thor
tapi gila keren kak karya mu👍👍👍👍❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️