NovelToon NovelToon
Cinta Terdinginmu

Cinta Terdinginmu

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Contest / Balas Dendam / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: ARIFA IFTITA RAHMA

Butuh waktu lima tahun lamanya bagi Mer untuk siap bertemu lagi dengan cinta pertamanya. Teman masa kecilnya yang begitu ramah dan ceria itu seketika berubah menjadi sesosok pria misterius nan dingin. Akan tetapi, kepribadian Vallen yang berubah tetap tak melunturkan perasaan yang telah lama bersinggah di hatinya. Mer tetap mencintai Vallen meski pria itu tak menganggap Mer ada.

Perjuangan terus Mer lakukan untuk mendapatkan perhatian Vallen. Ia terus mendekati Vallen walau pria itu selalu melontarkan kata yang menyakitkan. Meski sering tak diacuhkan olehnya, bukanlah sebuah alasan bagi Mer untuk menyerah. Semua itu dilakukannya untuk mendapatkan cinta Vallen kembali.

Hanya soal waktu saja Mer dapat meluluhkan hati Vallen. Merubah kepribadiannya kembali menjadi sosok yang hangat. Menjadikan hal yang mustahil dapat diraihnya. Meski begitu, Vallen tetap menolak cintanya dengan alasan takdir yang selalu ia katakan. Akankah alasan takdir itu suatu saat akan menenggelamkan cinta mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIFA IFTITA RAHMA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERJUANGAN CINTA

Rabu, 28 November 2018

Rasa sakit, biarlah itu terus menggerogotiku agar kau puas. Biarlah itu terus menyerangku agar kau tahu seberapa besar perjuanganku supaya kau tetap bersamaku. Supaya aku dapat mendekatimu, menggenggam erat tanganmu untuk sulit kulepaskan. Meski dinginnya hujan harus kurasakan, meski basahnya harus menumpahiku sekalipun, aku tak peduli. Yang kupedulikan saat ini adalah bagaimana cara agar aku bisa membuatmu bersama terus denganku. Membuat aku kamu hingga membentuk kata kita. Membuat kata kita terus selamanya. Aku ingin begitu walau itu memerlukan separuh hidupku.

Sudah dua hari Vallen tak berangkat sekolah, itu tandanya sudah dua kali pula aku berdiri mematung di depan pintu gerbangnya, menatap sedih diriku sendiri yang tertimpa air hujan. Vallen tak sedikit pun membukakan pintu untukku. Soal tante Reta, orang itu tengah pergi mengunjungi ibunya di Jogja selama empat hari. Tante Reta sama sekali tak mengetahui apa yang tengah menimpa anak angkatnya, Vallen tak memberitahukannya. Dan aku tak mau jadi pengganggu urusan mereka. Aku takut jika aku memberitahunya, Vallen akan semakin marah padaku.

Udara dinginnya hujan masih memikul tubuhku. Berkali-kali ku tekan tombol bel namun tak berpengaruh. Aku memeluk tubuhku sendiri, dingin. Seragam yang kukenakan basah kuyup. Daguku bergetar karena dinginnya. Itu tak masalah, aku kuat bahkan jika harus berdiri berjam-jam di bawah hujan.

"Vallen tolong buka gerbangnya!"

Tak ada jawaban, entah apa yang dialaminya, aku ingin mengetahuinya. Ya Tuhan, aku sungguh ingin mengetahui kondisinya saat ini. Mengetahui masalahnya dan juga jalan pikirannya.

"Vallen, gue sayang sama elo, gue rela berdiri berjam-jam demi ngelihat kondisi lo. udah dua hari Len lo ngilang dari sekolah,"

"Vallen, tolong buka gerbangnya!"

Aku masih belum menyerah. Aku akan berdiri disini, diluar, bersama hujan, sampai ia mempersilahkanku menemuinya.

"Lo tau Len kenapa gue sanggup berdiri di bawah hujan?"

"Karena gue suka itu, dan hal yang bikin gue suka karena di bawah hujan penuh kenangan kita Len. Sama-sama suka hujan. Sama-sama bahagia,"

"Ngurung diri di rumah itu memang jadi hobby lo ya Len? itu bukan solusi kalo lo terus-terusan begini!"

"Vallen, buka gerbangnya!"

 

 

---

 

 

“Vallen, buka gerbangnya!”

Suara Mer terdengar hingga dalam. Ya, vallen mendengarnya. Sedaritadi, tubuh itu ia sandarkan di balik pintu rumah, terjongkok. Lengannya ia lipat memeluk kaki. Dan lututnya, sesekali ia gunakan sebagai tempat menopang beratnya kepala.

"Oke Len, fine, gue pergi sekarang,"

Dapat terdengar jelas suara itu, membuat pria di balik pintu semakin melemas.

"Seandainya bisa Mer, seandainya,"

Butiran air mata lepas membasahi wajah. Lucunya, tulang-tulangnya bagai hilang entah kemana. Tak ada bengokoh untuk ia agar tetap bertahan. Dua hari tante Reta pergi, dua hari ia mengurung diri dalam rumah, dua hari pula Vallen tak makan. Bibir manis merah muda itu bagai berubah warna menjadi ke abu-abuan. Badannya mengecil, perutnya membuncit, selera makannya memburuk. Dirinya bagai mayat hidup yang keseharian hanya menunggu kapan ajal datang menghampiri.

 Vallen meluruskan kaki, lengannya menghapus kasar air mata yang mengaliri wajah tirus miliknya. Punggungnya ia biarkan bersandar pada pintu. Tak lama kemudian, bumi terasa berputar-putar. Pandangannya ia pusatkan ke segala arah yang mulai membuyar.

Meremas-remas rambutnya, itu pun masih tak cukup untuk menghilangkan rasa pusing yang menyerang kepalanya.

Mer telah pergi, ia dapat meraung sepuasnya. Berteriak melepas rasa sakit ikatan batin juga fisik yang telah ia rasakan. Jika seandainya takdir lebih berbaik hati, Vallen ingin mati saat ini juga.

"Arrgggghhhh, gue benci mama!"

"Pa, Vallen gak sanggup lagi terus berpura-pura seolah mama nggak ada. Kenapa mama benci banget sama Vallen, bahkan hingga saat ini mama nggak pernah menganggap Vallen sebagai anaknya. KENAPA?!"

BRUK. Vallen membiarkan tubuhnya terhantam lantai. Ia biarkan pusing menghanyuti pikirannya. Memutar-mutar penglihatannya. Bahkan hingga pandangan mulai menggelap, itulah yang sungguh dinanti-nanti olehnya.

 

 

---

 

 

Silau cahaya kembali datang. Mata yang perlahan terbuka memberi kenyataan bahwa belum saatnya ia pergi menyusul papanya. Pusing masih berkelana tapi keingintahuannya memaksa Vallen untuk bangkit dari tidurnya. Vallen terduduk, memijat-mijat keningnya sebelum pandangannya berlarian.

DEG. Detakan ini tak dapat dielak. Ia saling berlarian membuat napas tak beraturan. Gadis itu, perempuan yang belum siap ia temui sedang tertidur menungguinya. Terakhir kali yang dapat diingat, gadis itu telah pergi meninggalkan dirinya yang pingsan sendirian di dalam rumah. Terkulai sendirian di atas lantai tanpa seorang pun yang tahu bahwa ia sedang kesakitan. Saat matanya kembali terbuka, tubuh pria lemah itu telah tertidur di atas sofa ruang tamu. Ada baskom berisi ikan air panas juga handuk kecil yang melekat pada keningnya, selimut yang menghangatkan tubuhnya  dan gadis itu yang tertidur dengan posisi terduduk di atas lantai. Kepalanya ia robohkan di atas sofa yang ia tiduri. Bajunya basah, rupanya, gadis itu masih mengenakan seragam sekolah yang telah tertimpa ribuan tetes air hujan.

  Rasa bersalahnya kian lama makin memuncak, gadis yang ia biarkan berdiri di luar, kehujanan, kedinginan, justru rela merawatnya meski pria itu begitu kejam terhadapnya. Meski pria itu membentaknya, mengusirnya, gadis itu tetap ikut pendiriannya untuk selalu bisa bersamanya.

Titikan air mata keluar dari bola mata Vallen ketika ia mengamati wajah gadis di hadapannya. Jika ia bisa, seandainya Vallen bisa untuk mencintai gadis itu, tentu ia tak akan membiarkan gadis itu berjuang sendirian. Tentu ia dengan senang hati mengulurkan tangan untuk membalas cintanya. Akan tetapi, apa boleh buat jika takdir memaksanya untuk tak boleh mencintai gadis itu.

Gue sayang lo, kalimat itu hanya dapat berhenti di kerongkongan, tak bisa melakukannya. Vallen tak mempunyai nyali untuk mengatakannya. Ia terkadang iri pada gadis itu yang sangat leluasa mengatakan perasaannya. Serasa tak memiliki beban bahwa mengungkapkan perasaan pada dirinya sungguh dilarang.

Vallen bangkit dari duduknya. Meski pusing masih terasa, ia biarkan begitu saja. Cemasnya lebih ke gadis yang sudah pasti kedinginan itu. Vallen menarik selimut yang semula menghangatkan tubuhnya, membentangkannya menutupi tubuh gadis mungil. Ia seakan menjadi monster bagi kehidupannya. Seperti tak peduli tapi hatinya resah, menghindar tapi hatinya memanggil, cuek tapi hatinya menjerit. Jika saja ia bisa melawan egonya, jika saja ia berani menjadi Vallen yang dahulu, ia telah berteriak sekencang-kencangnya bahwa ia sungguh menyayangi Mer. Bahwa ia selalu ingin berada disampingnya, mendekap erat tubuh mungilnya, menariknya dalam pelukannya. Akan tetapi, sayang seribu sayang, itulah yang sangat mustahil dilakukannya. Apa kata orang nanti jika mengetahui segalanya? Tentu akan sangat aneh, tidak normal, atau mungkin ada yang beranggapan bahwa itu sangat gila.

 Vallen tak mau melakukannya dan itu memang seharusnya tak boleh dilakukan diantara mereka. Ia lebih memilih diam menjauh untuk menghilangkan ganjalan aneh pada detak jantungnya yang tak beraturan ketika bersama gadis itu.

 

 

---

 

 

Jum’at, 30 November 2018

“Itu buat lo yang udah deketin dia,”

Pukulan pertama mendarat pada ujung bibir. Dengan sekuat tenaga, pria itu meninju wajah Vallen yang mulai meneteskan darah segar.

BUG

"Itu buat lo yang udah kasih dia harapan,"

Satu tinjauan lagi mendarat pada bawah dagu Vallen. Kali ini, Vallen tak dapat menyeimbangkan posisinya. Ia terpelanting jatuh ke belakang. Kepalanya terhantam sudut tembok ruangan, tempat mereka berdua saat ini.

 Vallen memang lemah, soal bertarung, dari kecil ia tak pernah menghajar orang. Ia habiskan masa kecilnya dengan bermain bersama gadis cilik yang sama sekali tak ada tinju-tinjuan. Selepas itu, waktunya hanya berlalu dengan mengurung diri dalam rumah. Menangisi kepergian almarhum papanya.

Dengan sekuat tenaga, Vallen berusaha bangkit dari posisinya yang terkulai di atas lantai kotor. Darah yang terus saja keluar mewarnai lantai menjadi merah menggenang, semakin banyak mengotori seragamnya.

Denyutan kencang memergoki kepala yang terhantam tembok keras. Nyeri pada bekas pukulan tak kalah memilukan. Bumi terasa berputar-putar, memusingkan. Saat pria itu memberikan jarak waktu untuk Vallen berdiri dengan sempoyongan, tanpa ampun kapalan tangan pria kekar meninju perut Vallen. 

BUG

"Dan itu buat lo yang udah bikin dia nangis,"

Vallen terbanting begitu kerasnya. Kepalanya lagi-lagi terhantam oleh benda keras. Tangannya yang sama sekali tak bisa meninjau itu harus menerima nasib pukulan. Sebelah tangan kirinya ia jadikan tumpu untuk menahan berat badannya, sebelahnya lagi ia gunakan untuk memegangi perut bekas tinjauan. Vallen terbatuk darah, dirinya yang lemah hanya bisa pasrah dipukuli bertubi-tubi. Lembab di mana-mana, luka di sana-sini. Ia tak dapat lagi berdiri seperti semula. Tubuhnya meringkuk kesakitan. Mau menjerit apa gunanya, tak ada seorang pun yang mampu mendengar.

Tak perlu lagi belas kasihan, pria itu menyerang tanpa ampun. Kakinya ia ayunkan dengan kecepatan penuh. Menendang tubuh Vallen, mengguling hingga beberapa putaran. Tubuhnya berhenti di ujung tembok kusam penuh coretan.

"Arrggghhhh,"

Meringkuk, bagai ulat yang kesakitan. Tangannya meremas kepala yang sudah membuat buyar dunia dan seisinya. Menyakitkan, terdapat sisa-sisa darah yang sesekali keluar bersama batuknya. Seluruhnya berputar-putar, buyar ,dan akhirnya menghilang dari pandangan. Rasa sakit itu tak dapat lagi ditahan, nyeri pada sekujur tubuh beserta denyutan kencang yang melanda kepala. semuanya mulai menggelap dan pada akhirnya menghilang sempurna. Sosok bayang di hadapannya menyeringai, menatap Vallen yang tengah kehilangan kesadarannya.

"Mampus lo,"

1
Lusiana Karangan
ditunggi up tetap semangat nulisx
Fugi Martha
😭😭😭 sesulit inikah cinta thor ? merasa terpukul endingnya 😣
Fugi Martha: kapan thor?
total 2 replies
Rize
POV 1 nya mayan bikin ngeh, hehe. nanti tak lanjut baca kak,
Arifata: terima kasih sudah mau mampir dan membaca🤗
total 1 replies
Arifata
hai cilamici👋🏻 terima kasih sudah mau membaca karya saya😀 dukunganmu sangat berarti untuk semangatku😚😇
Cila Mici
karakter via membuat cerita menjadi berwarna. aku suka cara menulisnya, enak dibaca.

aku akan lanjutin nanti... 🥰

salam cilamici
Arifata
habis baca jangan lupa like ya😊 biar author makin semangat ngelanjutin ceritanya🥰 terima kasih pada readers yang sudah mau mampir dan membaca cerita ini😀❤
Fina.zher
aaaaa😭 kok sad thor:/ ga terimaaa!!!! ditunggu buku kelanjutannya thor😭😭
Arifata: iya.. ditunggu cerita kelanjutannya ya😅🙏
total 1 replies
Fina.zher
manisnya mereka😍
Arifata: terima kasih sudah membaca cerita saya😅🙏
total 1 replies
Fina.zher
jadi sebel sama Vallen:/ narik ulur perasaan orang😭 untung Vallen kece:)
Fina.zher
lanjut buku keduanya thor 😍 kasian Mer nya:( jangan dibuat sadgirl lah thor😭
Arifata: iya.. ditunggu cerita kelanjutannya ya😅🙏
total 1 replies
Aisyah Kamila
Ma syaa Allah ta, km udah berhasil bikin aku gregetan bgt loh, gud ta, aku suka. Ada nama aku lagi 😂
Arifata: authornya ga disapa jg nih?🤭🤣💔
total 2 replies
Hulk
Baca cerita kakak kayak lilin yang terkena api.. meleleh banget..
Arifata: Terima Kasih sudah membaca cerita saya😄😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!