Andrea hanya gadis yatim piatu yang hidup menumpang di rumah bibinya, dijadikan pembantu, dihina, dan diajari untuk tidak berharap apa pun. Sampai suatu malam di Catania, tatapan seorang pria mengubah segalanya.
Fabrizio Lutero, Don mafia Sisilia yang dijuluki Sang Iblis, bisa membuat musuhnya memohon mati hanya dengan satu perintah. Tidak ada yang berani menolak, tidak ada yang berani melawan. Namun di depan gadis kecil bermata ketakutan itu, pria paling dingin di Sisilia justru kehilangan kendali.
Dia menginginkannya. Dia akan menjaganya. Dan siapa pun yang berani menyentuhnya akan menyesal pernah dilahirkan.
Tapi dunia Fabrizio berlumuran darah, penuh pengkhianat, dan musuh yang mengintai dari balik bayang-bayang. Bisakah Andrea bertahan di sisi pria yang memilikinya sepenuhnya, dan menjadi ratu di dunia yang tak kenal ampun?
Posesif. Berbahaya. Panas. Dan tak ada jalan keluar.
"Dia milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kakamy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Keluar dari kamar mandi, kulilitkan handuk di pinggang, duduk di kursi di kamarku, menyalakan cerutu, dan membiarkan diriku rileks. Aku mendapati diriku memikirkan gadis kecil di Caffe itu, wajah malaikatnya, bokongnya yang membulat. Kejantananku langsung bangkit, dan aku heran, ini pertama kalinya dia bangkit hanya karena aku memikirkan seorang perempuan.
Aku harus tahu lebih banyak tentang gadis kecil itu, tubuh itu akan jadi milikku. Kumatikan cerutu, naik ke ranjang, dan tak lama kemudian tertidur.
Aku terbangun dengan sensasi luar biasa di antara kedua kakiku. Kuangkat kepala sedikit dan melihat kepala berambut pirang sedang mengulum kejantananku dengan sangat lihai. Seketika aku berpikir, bagaimana jalang Ruth itu bisa masuk ke rumahku dan ke kamarku. Setelah ini selesai, aku akan bicara dengan para pengawalku. Sekarang aku hanya ingin menikmati kuluman nikmat ini. Satu tangannya menggenggam kejantananku, menggerakkannya naik turun, sementara tangan satunya mengelus dan mencakar perutku. Dengan ujung lidah dia berputar di kepalanya, lalu menelannya sekaligus. Dia mengulum dan mengisap kejantananku dengan sangat bernafsu, lidahnya sampai ke buah zakarku, membuatku gila oleh gairah. Kupegang kepalanya dan kupaksa dia bergerak makin cepat. Aku tidak tahan lama dan mencapai klimaks di mulutnya. Masih terhanyut dalam kenikmatan itu, kuangkat kepala, dan begitu menatapnya, yang kulihat ternyata pelayan Caffe itu. Aku melompat kaget dari ranjang, dan terbangun.
"Tidak percaya ini cuma mimpi. Selain menguasai pikiranku, dia juga akan menguasai mimpiku."
Kuraba kejantananku, dan dia keras seperti batu. Aku pergi ke kamar mandi untuk mandi air dingin, berharap temanku di bawah sana tenang. Tanganku bertumpu di dinding kaca, membiarkan air mengalir, dan ketika dia mulai tenang, ingatan akan gadis kecil itu mengulumku muncul lagi di kepalaku, dan dia bangkit kembali. Kuraih dia dan tak sanggup menahan diri, aku mulai bermasturbasi sambil memikirkannya. Aku merasa seperti remaja konyol, tapi tidak berhenti sampai klimaks. Ketika akhirnya mencapai batas, aku mencoba menyelesaikan mandi, tapi api di dalam diriku malah makin besar. Kugelengkan kepala seakan mengusir pikiranku, bertahan beberapa menit lagi di bawah shower, lalu membersihkan diri, berganti pakaian, dan turun untuk sarapan. Meja sudah tertata. Aku duduk, makan sepotong kue, dan minum kopi hitam.
"Selamat pagi, Tuan, kelihatannya suasana hati Anda sangat baik hari ini!"
"Kenapa bilang begitu?"
"Anda turun tangga sambil bersiul, duduk di meja, bahkan makan sepotong kue."
"Kamu melebih-lebihkan, aku selalu begitu."
"Kalau Tuan bilang begitu..."
Sebenarnya aku sendiri tidak sadar suasana hatiku sebaik itu, semuanya terjadi begitu saja. Kutatap Solange dengan serius dan berkata,
"Sudah, cukup bahas itu, aku berangkat kerja. Aku tidak pulang untuk makan malam."
Solange tersenyum miring.
"Baik, Tuan."
Aku masuk mobil dan berangkat ke kantor. Baru tiba, kulihat Ruth menghampiriku dengan gaya menggoda.
"Selamat pagi, Sayang!"
"Sejak kapan kita seakrab itu? Setahuku atasan dipanggil Tuan."
"Astaga, bad mood sekali!"
"Ada pesan untukku?"
Ruth jadi salah tingkah, tapi aku tidak peduli.
"Pemasok klub Still menelepon, katanya hari ini akan mengirim tabel harga baru ke e-mail Anda."
"Oke! Ada lagi?"
"Tidak, Tuan."
"Jangan ganggu aku."
Aku berjalan ke ruanganku, masuk, dan membanting pintu.
Ruth Garcia
Namaku Ruth Garcia, umurku 25 tahun, dan aku sudah lima tahun bekerja untuk Fabrizio. Aku lahir di Positano, kota kecil di pedalaman Italia. Aku berasal dari keluarga sederhana dengan lima adik, dan aku yang tertua. Kami sering kelaparan, orangtuaku bekerja di ladang dan aku harus mengurus adik-adikku. Aku benci semua itu, aku ingin kemewahan, rumah bagus, pakaian bagus, makan yang enak-enak. Anak-anak perempuan di sekolahku memandangku seperti pengemis, pakaianku sangat sederhana, banyak yang hasil sumbangan. Aku hanya ingin lenyap dari sana dan tidak pernah kembali. Pada umur 16 tahun aku bertemu seorang pedagang keliling yang berjanji membawaku keluar dari hidup sengsara itu. Aku tidak berpikir dua kali, aku pergi bersamanya dengan pakaian yang melekat di badan. Tapi hidup bukan dongeng, dia menjualku ke sebuah rumah bordil, dan aku mengalami segala macam pelecehan yang bisa dibayangkan. Di sanalah aku bertemu Fabrizio. Aku berumur 18 tahun dan dia 21 tahun. Aku sudah terbiasa dengan hidup itu, sejujurnya aku bahkan menikmatinya. Fabrizio datang bersama temannya Pepi dan tiga pria lain. Aku selalu cerdik dan ambisius, jadi aku tahu mereka sedang merayakan sebuah aksi yang menghasilkan banyak uang. Secepat kilat aku mendekati mereka, kami minum bersama sampai aku berhasil membawa Fabrizio ke kamar. Itu percintaan terbaik yang pernah kualami, dia benar-benar tahu cara memuaskan perempuan, dan itu hari ketika aku paling banyak mendapat uang. Fabrizio mulai sering datang ke rumah bordil dan selalu mencariku, aku menjadi miliknya seorang. Sampai suatu hari dia menawariku bekerja sebagai sekretarisnya. Saat itu aku yakin sepenuhnya dia jatuh cinta padaku, dan itu bisa memberiku hidup mewah dan nyaman. Kuterima tawarannya dengan niat tersembunyi untuk segera menikah dengannya. Lima tahun sudah berlalu dan dia belum melamarku, tapi aku tahu dia akan melakukannya, hanya soal waktu, karena dia milikku dan tidak ada yang boleh mengambilnya.