Pada malam badai, hidup Beatrice runtuh dalam satu ketukan pintu.
Ayahnya, sang penjudi, terjerat utang enam juta euro kepada Matteo Vitale, mafioso paling ditakuti di Sisilia. Pria dingin yang matanya sebiru langit sebelum badai itu tak menginginkan uang. Ia menginginkan Beatrice.
Untuk menyelamatkan nyawa keluarganya, Beatrice menyerahkan dirinya sebagai "pelayan" di rumah besar Matteo, sebuah benteng penuh pengawal bersenjata. Hari-harinya diatur oleh perintah, tatapan yang menelanjangi, dan kemarahan yang bisa meledak kapan saja. Namun semakin ia melawan, semakin Matteo kehilangan kendali. Dan semakin Matteo mendekat, semakin Beatrice takut pada hal yang paling tidak ia duga: dirinya sendiri.
Di balik pintu-pintu terkunci, ada rahasia yang jika terbongkar bisa menghancurkan segalanya. Di luar tembok, musuh-musuh Matteo sudah mengincar kepala siapa pun yang ia cintai.
Seberapa jauh seorang pria sanggup memiliki? Dan seberapa jauh seorang perempuan sanggup bertahan sebelum ia berhenti ingin pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Carolini Rodrigues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
POV Matteo
Aku turun ke ruang kerja dan menuang minuman, berusaha mengerti apa yang baru saja terjadi. Tidak mungkin dia perawan (aku tersenyum). Di dunia seperti ini mustahil. Dia pasti cuma takut aku memaksanya, dan itu menjelaskan kenapa dia begitu ingin aku pergi. Aku tidak mau melakukan apa pun padanya dengan paksa. Aku ingin dia juga menginginkanku, dan dia akan menginginkanku.
Kuteguk banyak-banyak minumanku, lalu duduk dan menyalakan cerutu. Jam demi jam berlalu. Sudah hampir tengah malam. Kuharap seluruh operasi berjalan sesuai rencana.
Tik tok! Tik tok!
Jam menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Waktu yang cukup bagi seseorang untuk sudah memberiku kabar. Aku berdiri dan mondar-mandir.
* * *
POV Beatrice
Dia keluar dari kamarku dan aku berusaha bernapas. Apa-apaan yang baru terjadi? Siapa dia, bertanya soal hal sepribadi itu padaku? Dia tidak boleh menyentuhku lagi. Bagaimana kalau dia memaksaku?
Aku menaruh tangan di bibirku dan teringat mulutnya menempel pada mulutku.
Aku menggeleng, berusaha mengusir pikiran itu. Kutatap nampan. Seakan tahu ada makanan di sini, perutku mulai keroncongan tak henti-henti. Kutarik kursi dan duduk, kumakan sedikit dari semuanya, dan tak lama makananku habis. Kuelus perutku yang kenyang, lalu aku ke kamar mandi menggosok gigi dan duduk lagi di tempat tidur.
Bagaimana keadaan Papa sekarang?
Apa dia sudah mendapat sedikit uang?
Aku harus bersikap patuh pada Matteo. Pada saat yang tepat aku akan minta izin menemui Papa. Betapa menyedihkannya harus minta izin pada laki-laki yang bukan ayahku!
Aku berbaring dan gelisah ke sana kemari, tak bisa tidur. Untungnya ada balkon di sini. Aku bangun dan keluar ke sana, hanya dengan piyama. Sudah larut dan toh tak ada yang akan melihat. Aku bersandar di dinding pendek balkon. Dingin, tapi aku tak peduli. Apa yang lebih dingin daripada hidup yang kujalani sekarang? Aku menatap langit, berharap Tuhan membebaskanku dari semua ini.
Sampai aku melihat Matteo. Awalnya ia tak menyadariku. Aku mencoba mundur, tapi sudah terlambat. Aku masuk lagi dan cepat-cepat berbaring di tempat tidur.
Gawat, gawat!
Aku menunggu sebentar, tapi ia tidak datang. Kudengar suara mobil. Aku berlari ke balkon dan menghela napas lega. Semoga dia benar-benar pergi. Aku kembali ke tempat tidur dan, meski tak bisa tidur, tetap di sana.
* * *
POV Matteo
Aku sedang di ruang kerja ketika ayahku menelepon dan bilang kakakku tertembak. Kutinggalkan semuanya dan aku pergi menemui mereka. Rencana ini tidak mungkin bisa salah!
Aku harus tahu apa yang terjadi!
Begitu keluar dari pintu, aku merasa ada yang mengawasiku. Aku berhenti dan menengok ke balkon kamarnya. Saat kulihat dia, amarahku naik. Anak buahku bisa saja melihatnya. Apa yang ia kenakan itu!
Di lemari pakaiannya ada sejuta mantel dan jubah mandi sialan. Kenapa ia berdiri di balkon dengan secarik kain itu?
Begitu ia sadar aku melihatnya, ia berlari masuk. Aku memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam.
Rasanya ingin sekali naik ke sana dan memberinya pelajaran. Tapi aku harus berkonsentrasi pada kakakku. Aku menggeleng, menarik napas dalam-dalam, lalu berangkat ke rumah ayahku.