NovelToon NovelToon
Lidah Perak Tinta Darah

Lidah Perak Tinta Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di istana, kebohongan lebih mematikan daripada pedang.

Kian Arselio, anak haram jenius yang terbuang, menyewa Sura—seorang pencopet jalanan ulung—untuk menyamar sebagai putri bangsawan. Bersama, mereka merancang penipuan mematikan: memenangkan Turnamen Debat Kerajaan demi merebut kekuasaan.

Namun, kemenangan mereka justru melempar keduanya ke dalam sarang ular sesungguhnya. Terjebak di tengah konspirasi Perdana Menteri yang licik, intrik berdarah, dan sekte rahasia kuno, Kian dan Sura harus terus menipu untuk bertahan hidup.

Berbekal "lidah perak" Sura dan taktik jenius Kian, mampukah dua orang buangan ini meruntuhkan sebuah kerajaan? Mereka bukanlah pahlawan suci, melainkan pembohong yang siap mengukir sejarah dengan tinta darah.

Genre: Fantasy, Political Thriller, Heist/Con, Morally Grey MC, Fake Identity.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

BAB 12: Teh Pahit dalam Cangkir Porselen

[Sudut Pandang: SURA]

Undangan itu tidak dikirim lewat kurir biasa. Undangan itu diantar langsung oleh Wakil Ketua Faksi Silver Quill, seorang gadis berkacamata tebal yang membungkuk terlalu dalam saat menyerahkan amplop perak itu pada Kian.

"Ketua Lysander mengundang Anda dan... rekan Anda, untuk minum teh sore di Rumah Kaca Putih."

Wajah Kian yang biasanya penuh percaya diri mendadak keruh. Rahangnya mengeras. Sura bisa melihat otot di leher Kian menegang, seolah-olah dia sedang bersiap untuk dipukul.

"Katakan pada kakakku," jawab Kian kaku, "Kami akan datang."

Rumah Kaca Putih adalah permata mahkota Akademi. Bangunan itu seluruhnya terbuat dari kaca kristal impor, berisi ribuan mawar putih yang mekar sempurna sepanjang tahun berkat sihir pemanas ruangan yang mahal.

Di tengah kebun itu, duduklah Lysander Arselio.

Dia sedang menggunting dahan mawar yang layu. Gerakannya presisi. Klik. Klik. Dahan yang dianggap tidak sempurna jatuh ke tanah, dibiarkan mati.

Lysander berbalik saat mendengar langkah kaki mereka.

Sura menahan napas. Jika Kian adalah "Ular Emas" yang memikat tapi berbahaya, Lysander adalah "Patung Marmer". Dia tampan, tapi dengan cara yang dingin dan tidak tersentuh. Rambut peraknya disisir rapi tanpa satu helai pun yang keluar jalur. Matanya berwarna biru pucat, seperti langit musim dingin.

"Kian," sapa Lysander lembut. Suaranya rendah dan melodius. "Sudah lama sekali kau tidak mengunjungi kakakmu ini. Apakah asrama murid buangan begitu nyaman sampai kau lupa jalan pulang ke rumah utama?"

Serangan pertama. Halus, tapi menusuk.

"Aku sibuk, Kak," jawab Kian pendek. Dia tidak membungkuk. Sura menyadari Kian berdiri sedikit lebih tegak dari biasanya, postur defensif.

Mata Lysander beralih ke Sura. Tatapan itu menelanjanginya, seolah Sura adalah serangga yang menarik untuk dikoleksi.

"Dan ini pasti... Nona Valerine," Lysander tersenyum. Senyum itu tidak mencapai matanya. "Debat tadi siang cukup menghibur. Agresif. Kasar. Tapi efektif. Seperti melihat kucing liar mencakar anjing ras."

Sura merasakan darahnya mendidih. Kucing liar?

"Terima kasih, Tuan Lysander," jawab Sura, memaksakan senyum manis. "Terkadang kucing liar diperlukan untuk menangkap tikus-tikus yang bersembunyi di balik lemari emas."

Lysander tertawa kecil. "Silakan duduk. Tehnya White Peony. Langka. Kuharap lidah kalian bisa menghargainya."

Mereka duduk di kursi besi tempa yang dingin. Seorang pelayan menuangkan teh bening ke cangkir porselen yang tipisnya setipis kertas.

"Jadi," Lysander meletakkan gunting tanamannya. Dia menatap Kian. "Aku dengar kau membuat mainan baru. The Sanctum? Klub Judi yang menyamar jadi Klub Statistik?"

Kian meletakkan cangkirnya. "Itu usaha mandiri, Kak. Sesuatu yang Ayah selalu suruh aku lakukan: 'Belajar berdiri di atas kaki sendiri'."

"Ayah bilang begitu karena dia tidak mau kakimu yang kotor mengotori karpet rumah utama," balas Lysander santai, sambil mengambil kue kering. "Tapi aku terkesan. Kau mengumpulkan sampah-sampah akademi—penipu, pemalsu, dan..." Lysander melirik Sura, "...gadis antah berantah. Dan kau menyebutnya Faksi."

"Mereka bukan sampah," suara Kian mulai meninggi. "Mereka punya bakat yang tidak dimiliki boneka-boneka cantik di faksimu."

"Bakat?" Lysander mendengus geli. "Kian, Kian... kau selalu punya kelemahan pada hal-hal rusak. Dulu kau memungut anjing pincang. Sekarang kau memungut manusia pincang."

Lysander mencondongkan tubuh ke depan, menatap Sura lekat-lekat.

"Nona Valerine. Berapa Kian membayarmu?"

Sura terdiam. "Maaf?"

"Untuk bermain peran ini," lanjut Lysander. "Aku sudah mengecek silsilah seluruh bangsawan di benua ini. Valerine tidak ada. Kau penipu yang cerdas, aku akui itu. Kian pasti memungutmu dari selokan mana, lalu memandikanmu dan memakaikanmu baju bagus."

Jantung Sura berdegup kencang. Kedoknya terbongkar di depan musuh utama. Kian hendak membuka mulut untuk membela, tapi Lysander mengangkat tangan.

"Aku tidak peduli kau siapa," kata Lysander bosan. "Yang kutawarkan adalah ini: Tinggalkan Kian. Bergabunglah dengan Silver Quill."

Lysander meletakkan sekantong koin platinum di meja. Platinum. Nilainya sepuluh kali lipat emas.

"Di sisiku, bakat manipulasimu akan diasah menjadi senjata politik sesungguhnya. Kau akan menjadi penasihat menteri, bukan penjaga kasino bawah tanah. Kau akan mendapatkan nama, gelar, dan masa depan. Kian hanya bisa memberimu mimpi kosong dan pemberontakan remaja."

Sura menatap kantong platinum itu. Lalu menatap Kian.

Wajah Kian pucat. Dia tidak bicara. Dia menunduk menatap tehnya. Dia sudah siap untuk ditinggalkan. Seolah-olah ini sudah sering terjadi sebelumnya: Lysander mengambil apa pun yang Kian miliki hanya dengan menjentikkan jari.

Sura merasakan rasa muak yang luar biasa. Bukan pada Lysander, tapi pada ketidakberdayaan Kian.

Sura mengambil cangkir tehnya.

"Tuan Lysander," kata Sura tenang. "Teh ini... White Peony, kan?"

Lysander mengangkat alis. "Benar."

"Rasanya hambar," kata Sura datar.

Sura menuangkan sisa tehnya ke tanaman mawar di pot sebelah meja.

"Sama seperti tawaran Anda."

Mata Lysander menyipit. Kian mendongak kaget.

Sura berdiri, menatap mata biru es Lysander tanpa rasa takut.

"Anda menawarkan saya menjadi senjata? Di tangan Anda, saya hanya akan menjadi satu lagi gunting tanaman. Alat yang dipakai untuk membuang apa pun yang tidak sempurna, lalu disimpan kembali di laci gelap."

Sura menunjuk Kian.

"Kian tidak menawarkan saya masa depan yang aman. Dia menawarkan saya risiko. Dia tidak menganggap saya alat, dia menganggap saya mitra. Dan bagi seseorang yang besar di 'selokan' seperti saya, Tuan... rasa hormat itu harganya jauh lebih mahal daripada platinum Anda."

Sura mendorong kantong platinum itu kembali ke arah Lysander.

"Simpan uang Anda untuk membeli teman, Tuan Lysander. Karena sepertinya itu satu-satunya cara Anda bisa mendapatkannya."

Keheningan di rumah kaca itu mematikan. Hanya suara tetesan air kondensasi yang terdengar.

Wajah Lysander tidak menunjukkan kemarahan yang meledak. Sebaliknya, wajahnya menjadi datar sempurna. Tanpa emosi. Itu jauh lebih menakutkan.

"Sayang sekali," bisik Lysander pelan. Dia mengambil kembali gunting tanamannya. Klik. Dia memotong sekuntum mawar putih yang sempurna.

"Mawar yang menolak dirawat... biasanya akan layu dimakan hama," kata Lysander, meremas bunga mawar itu di tangannya hingga kelopaknya hancur.

"Ayo pergi, Kian," kata Sura, menarik lengan Kian yang masih terpaku.

Kian berdiri, sedikit goyah, lalu mengikuti Sura keluar dari rumah kaca itu tanpa menoleh lagi pada kakaknya.

Mereka berjalan dalam diam sampai mencapai jembatan batu di dekat danau. Kian tiba-tiba berhenti. Dia berpegangan pada pagar jembatan, napasnya berat.

"Kau bodoh," kata Kian parau. "Kau seharusnya ambil uang itu. Itu cukup untuk membeli pulau kecil."

"Aku tidak butuh pulau," jawab Sura, bersandar di sebelahnya. "Aku butuh tantangan."

Kian menoleh menatap Sura. Matanya yang biasanya tajam kini terlihat rapuh. Anak kecil yang terluka.

"Dia selalu begitu," gumam Kian. "Apapun yang aku punya... mainan, hewan peliharaan, teman... dia akan mengambilnya. Atau menghancurkannya. Dia ingin membuktikan bahwa aku tidak layak memiliki apa pun karena aku anak haram."

Kian mengepalkan tangannya di pagar batu hingga bukunya memutih.

"Aku takut, Sura. Saat dia menawarkan uang itu... aku pikir kau akan pergi. Semua orang selalu pergi ke sisi Lysander."

Sura menatap Kian. Dia melihat ketakutan yang nyata di sana. Di balik semua arogansi dan rencana jeniusnya, Kian Arselio hanyalah seorang adik yang selalu kalah.

Sura mengulurkan tangan, menepuk punggung tangan Kian di pagar jembatan. Sentuhan manusia yang sederhana.

"Dengar, Partner," kata Sura tegas. "Aku adalah pencopet. Pencopet itu setia pada kawanannya. Selama kau tidak mengkhianatiku, aku tidak akan mengkhianatimu."

Sura menyeringai.

"Lagipula, mengalahkan kakakmu yang sempurna itu terdengar jauh lebih menyenangkan daripada menjadi pelayannya."

Kian menatap Sura lama. Perlahan, senyum miring khasnya kembali muncul. Meski masih lemah, tapi senyum itu ada.

"Kita akan menghancurkannya," bisik Kian. "Kita akan memenangkan Turnamen Debat ini, makan malam dengan Raja, dan membuat Lysander melihat kita duduk di meja yang sama dengannya."

"Itu baru Kian yang kukenal," kata Sura. "Sekarang ayo kembali ke The Sanctum. Ren baru saja selesai memalsukan surat izin sakit untukku. Aku butuh tidur siang setelah minum teh hambar tadi."

Kian tertawa pelan. Tawa yang tulus.

Di belakang mereka, di bukit yang tinggi, Lysander masih berdiri di dalam rumah kaca, menatap dua sosok kecil di jembatan itu. Dia membersihkan getah mawar dari tangannya dengan sapu tangan sutra.

"Bagus," gumam Lysander sendiri. "Permainan ini akhirnya punya lawan yang layak."

1
riana rayyan
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!