NovelToon NovelToon
LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

LINGKARAN TAKDIR YANG KEMBALI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:418
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Septianti

Kisah ini mengikuti perjalanan jiwa seorang wanita yang terjebak dalam siklus reinkarnasi lintas zaman demi mengejar satu cinta sejati yang selalu berujung tragis.
Pada kehidupan pertama (Era Romawi), ia adalah wanita dari kasta rendah yang mencintai seorang putra mahkota. Cinta mereka terhalang status sosial dan berakhir tragis dengan kematian.
Terlahir kembali di era kolonial (kehidupan kedua) sebagai putri gangster kaya raya, ia membawa ingatan masa lalunya dan berhasil menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, takdir kembali merenggut kebahagiaan mereka akibat permusuhan darah antar keluarga besar.
Merasa lelah dengan takdir yang selalu menyakitkan, pada kehidupan ketiga (Era Modern) ia terlahir di keluarga biasa yang harmonis dan bertekad untuk menyerah serta menghindari cinta masa lalunya. Sialnya, semesta mempertemukannya kembali dengan pria tersebut yang kini menjadi CEO dingin di perusahaannya. Terikat kontrak kerja tiga tahun dengan penalti besar, ia mati-matian menghindar. Namun, tingkah lucunya justru meluluhkan hati sang CEO. Seiring berjalannya waktu, sang pria juga mulai mengingat kembali memori masa lalu mereka. Dan badai tidak di restu itu kembali menghatam cinta mereka, akan mereka kembali berpisah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 : Malam Perpisahan Yang Menyesakan Dada

Kegelapan malam menyelimuti sudut-sudut Kota Roma dengan pekat, tetapi atmosfer di dalam kompleks istana kekaisaran jauh lebih kelam dari sekadar malam tanpa bintang. Di paviliun pelayan rendahan yang sempit dan berbau lembap, lampu minyak tanah menyala dengan kelap-kelip lemah, memantulkan bayangan gemetar di dinding batu yang kasar. Di atas ranjang jerami yang usang, Callista duduk meringkuk sambil mendekap lututnya ke dada. Matanya bengkak dan merah, menyisakan jejak air mata yang mengering di pipinya yang pucat.

Berita tentang keputusan mutlak Dewan Senat siang tadi telah menyebar bagaikan angin badai ke seluruh penjuru istana dalam hitungan jam. Bisik-bisik para pelayan, tatapan iba bercampur takut dari sesama budak, hingga peringatan keras dari Nenek Rhea yang menyuruhnya untuk segera mengubur dalam-dalam impiannya.

"Kau harus kuat, anakku," bisik Nenek Rhea sesaat sebelum wanita tua itu terpaksa kembali ke biliknya karena jam malam pelayan telah diberlakukan. "Keputusan dewan tidak bisa ditawar. Besok pagi, sebelum fajar menyingsing, para pengawal bawah komandan Panglima Decimus akan menjemputmu untuk membawamu ke wilayah tambang selatan. Jika kau terus melawan takdir ini, nyawamu melayang malam ini juga."

Callista menundukkan kepalanya, membiarkan tetes air mata kembali meluncur bebas membasahi punggung tangannya. Ia tidak peduli jika nyawanya harus berakhir di tiang gantung atau di bawah bilah pedang prajurit. Yang membuatnya merasa sesak hingga seolah kehabisan udara untuk bernapas adalah kenyataan bahwa ia harus berpisah dari Marcus—pria yang telah mempertaruhkan segalanya, bahkan kedudukannya sebagai putra mahkota, demi melindunginya.

Di tengah kesunyian yang mencekam itu, suara derap langkah kaki bersandal kulit yang berat dan tergesa-gesa terdengar mendekati pintu kayu paviliun. Langkah itu bukan langkah pengawal patroli yang berpatroli dengan lambat dan disiplin, melainkan langkah seseorang yang berlari dalam kepanikan.

Ceklek.

Pintu kayu yang reot itu terbuka tanpa diketuk. Callista terperanjat, mendongakkan kepalanya dengan napas tertahan. Di ambang pintu, di bawah temaram cahaya koridor istana yang remang-remang, berdiri sosok pria berbalut jubah gelap yang tudungnya tersingkap ke belakang. Wajah Marcus tampak basah oleh keringat malam, napasnya memburu, dan manik mata hazelnya memancarkan kepedihan yang teramat sangat.

"Marcus..." lirih Callista, suaranya hampir tak terdengar di antara deru angin malam.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Marcus melangkah masuk ke dalam ruangan sempit itu, menutup daun pintu rapat-rapat, lalu menjatuhkan diri berlutut di hadapan ranjang jerami tempat Callista duduk. Pria itu langsung meraih kedua tangan Callista, mendekapnya erat-erat ke dada bidangnya, seolah ingin menyatukan raga mereka agar tak terpisahkan oleh waktu.

"Aku mendengarnya..." suara Marcus bergetar hebat, nyaris pecah. Pria yang dikenal sebagai sosok paling dingin, tegas, dan tak tersentuh di kekaisaran itu kini terlihat begitu hancur di hadapan wanita yang dicintainya. "Dewan Senat... mereka bergerak di belakang punggung ayahku. Mereka merencanakan pengirimanmu ke tambang budak selatan besok pagi. Sialan... sialan mereka semua!"

Callista menggelengkan kepalanya pelan, jemarinya yang gemetar terulur menyentuh pipi sang pangeran, menghapus sisa keringat dan air mata yang tanpa sadar jatuh dari mata pria itu. "Jangan, Marcus... jangan menangis untukku. Seorang putra mahkota kekaisaran tidak boleh meneteskan air mata untuk seorang budak rendahan."

"Aku bukan putra mahkota!" bentak Marcus pelan namun penuh keputusasaan, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia menepis segala gelar bangsawan yang melekat pada dirinya dengan penuh kebencian. "Untuk apa mahkota kekaisaran ini jika aku harus mengenakannya di atas penderitaanmu? Untuk apa takhta dunia jika aku harus hidup berdampingan dengan takdir yang merenggut nyawa satu-satunya orang yang benar-benar kucintai?"

Marcus menarik tubuh Callista ke dalam pelukannya, mendekapnya begitu erat hingga Callista bisa merasakan debaran jantung sang pangeran yang memukul liar di balik dadanya. Aroma wangi khas istana yang biasanya melekat pada jubah Marcus kini bercampur dengan bau keringat dan keputusasaan malam yang pekat.

"Dengarkan aku, Callista,"bisik Marcus di dekat telinga gadis itu, suaranya terdengar mendesak penuh tekad terakhir. "Malam ini, kuduskan janji kita. Aku telah menyiapkan kuda di gerbang belakang distrik utara. Kita tinggalkan istana ini sekarang juga. Kita lari ke pelabuhan, menyeberangi lautan menuju daratan bebas di mana para senator busuk itu tidak akan pernah bisa menemukan kita."

Mendengar ajakan pelarian itu, secercah harapan sempat menyala di hati Callista. Namun, bayangan kenyataan pahit seketika memadamkannya. Di luar sana, seluruh pasukan kekaisaran berada di bawah kendali Panglima Decimus. Setiap gerbang kota dijaga ketat, dan pelarian seorang putra mahkota bersama budak buronan pasti akan dianggap sebagai makar yang langsung berujung pada eksekusi mati di tempat.

"Tidak, Marcus..." Callista melepaskan pelukannya perlahan, menatap mata hazel kekasihnya dengan pandangan penuh ketulusan yang menyayat hati. Ia menggelengkan kepalanya lemah. "Jika kita lari sekarang, mereka akan memburumu sampai ke ujung dunia. Kau akan dicap sebagai pengkhianat negara, kehilangan hak warismu, dan mati di tiang gantung sebagai buronan. Aku tidak ingin hidup dalam pelarian sambil membawa beban kehancuranmu."

"Aku tidak peduli dengan semua itu, Callista!" sergah Marcus putus asa.

"Tapi aku peduli!" potong Callista, air matanya kembali tumpah membasahi pipinya, namun senyuman tipis dan tegar terukir di bibirnya. "Cinta kita terlahir di tempat yang salah, pada era yang menuntut kesempurnaan kasta. Cukup biarkan aku menjadi bagian dari masa lalumu yang terlupakan. Pergilah kembali ke istana, jadilah kaisar yang hebat bagi Roma, dan hiduplah... demi aku."

Malam perpisahan itu dipenuhi oleh isak tangis yang tertahan di balik dinding kayu paviliun yang sempit. Di bawah temaram lampu minyak yang perlahan-lahan meredup kehabisan bahan bakar, mereka menghabiskan sisa malam dengan mendekap erat satu sama lain, menyatukan jiwa dalam kebisuan yang menyiksa dada—sebuah perpisahan tragis yang menjadi fondasi kutukan waktu dan takdir kelam yang akan terus mengejar mereka lintas abad di kehidupan-kehidupan berikutnya.

*•*

*•*

*•*

*•*

*•*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!