Pada malam ketika sebuah bintang jatuh menghantam bumi, takdir sebuah kerajaan berubah selamanya.
Ditemukan di dalam bola perak misterius dan dibesarkan sebagai pangeran, ia dianggap sebagai kegagalan karena tak memiliki mana di dunia yang menjadikan sihir sebagai segalanya.
Namun, di balik kelemahan itu tersembunyi kekuatan kosmik yang jauh melampaui sihir.
Kini, ia hanya ingin hidup normal sebagai siswa Akademi Sihir. Sayangnya, ketika kegelapan mengancam dunia yang telah menjadi rumahnya, pemuda dari bintang-bintang itu tak punya pilihan selain melepaskan kekuatan sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dorin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 — Ancaman Baru Setelah Pertempuran.
Keesokan harinya, Edward dengan didampingi oleh Bernard berjalan menuju Sayap Medis Utama yang terletak di bagian barat istana.
Bangunan tersebut memang dikhususkan untuk merawat anggota keluarga kerajaan yang sedang sakit atau para pejabat tinggi pemerintah. Salah satunya adalah Duke Vermont.
Sejak dievakuasi akibat pertarungan sengit melawan Florence, kondisi sang Jenderal masih dikategorikan kritis. Meski sudah tersadar dan mampu diajak berbicara, ia diwajibkan menjalani perawatan intensif selama dua bulan penuh.
Sebab, luka-luka yang dideritanya amat parah, ditambah Inti Mana milik sang Jenderal yang hampir hancur total akibat pertempuran tersebut.
Setibanya di ruang perawatan, pandangan Edward langsung tertuju pada sang Jenderal. Pria itu tampak didampingi oleh seorang wanita anggun beserta dua orang anak kecil yang menatapnya dengan raut khawatir.
Begitu menyadari kehadiran Edward, wanita berambut cokelat tersebut segera bangkit berdiri.
Ia menarik kaki kanannya ke belakang dan menekuk kedua lututnya secara anggun sembari menurunkan pandangannya. Gaun sutra mewahnya menyapu lantai marmer dengan amat halus.
Di sisinya, kedua anak kecil itu bersembunyi malu-malu di balik lipatan gaun sang ibu.
“Salam hormat dan doa panjang umur untuk Yang Mulia Pangeran,” sapa wanita itu penuh kesopanan.
Edward menyunggingkan senyum tipis. “Angkat kepala Anda, tidak perlu sesopan dan seformal itu.”
“Hamba tidak mungkin berbuat tidak sopan di hadapan Anda, Yang Mulia,” sahut sang Duchess lembut namun mantap.
“Terlebih lagi, Anda adalah sosok penyelamat suami hamba. Tanpa keajaiban dari Anda, kami keluarga Vermont dipastikan tidak akan bisa melihat sosoknya lagi di dunia ini.”
Edward menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak perlu berlebihan. Aku hanya melakukan apa yang memang sudah seharusnya kulakukan.”
Sang Duchess lalu melirik ke arah Bernard yang berdiri setia di belakang Edward.
Ia kembali menarik gaunnya dan menundukkan kepala dengan gerakan anggun yang serupa.
“Salam hormat untuk Anda juga, Tuan Bernard,” ujar sang Duchess lembut.
“Anda juga sangat berjasa atas keselamatan suami hamba. Jika bukan karena bantuan Anda, hamba sungguh tidak tahu lagi apa yang akan terjadi padanya.”
Bernard membungkukkan tubuhnya sedikit, menangkupkan tangan di dada dengan penuh kesopanan.
“Ucapan terima kasih itu tidak perlu, Duchess Lilia,” sahut Bernard dengan suara tenang.
“Ini juga merupakan kelalaian saya karena terlambat tiba di lokasi. Andaikan saya bisa datang lebih cepat, mungkin kemalangan yang menimpa Duke Vermont dapat dicegah sejak awal.”
Duchess Lilia menggelengkan kepalanya perlahan, lalu menyunggingkan senyuman hangat.
“Anda terlalu merendah, Tuan Bernard.”
Sang Duchess menatap Bernard dan Edward bergantian dengan binar mata yang tulus.
“Bagi kami, Anda dan Yang Mulia Pangeran adalah sosok yang telah menyelamatkan nyawa suami hamba. Karena itu... hamba beserta seluruh keluarga Vermont akan terus berutang budi atas kebaikan Anda berdua.”
“Y-Yang Mulia... Edward...? A-ada di mana Beliau...?” bisik Jenderal Vermont tiba-tiba dari atas pembaringan dengan suara yang teramat lemah.
Edward melangkah mendekat, menatap iba kondisi sang Jenderal.
Sekujur tubuh pria tangguh itu kini dipenuhi balutan perban ketat dan terhubung dengan berbagai cairan obat penyembuh. Di dekatnya, seorang tabib kerajaan tampak berulang kali memeriksa denyut nadinya sebelum mencatat perkembangan pada lembaran perkamen.
“Aku di sini, Duke Vermont,” ujar Edward tenang.
Sang Jenderal mencoba memaksakan tubuhnya untuk bangun, membuat istri dan kedua anaknya memekik cemas.
Namun, pergerakannya terhenti seketika saat telapak tangan Edward mendarat dan menekan pelan bahunya.
Meskipun sentuhan itu terasa lembut, Jenderal Vermont sama sekali tak sanggup bergerak menentangnya. Ia merasa seolah-olah ada beban tak kasat mata yang menahan tubuhnya agar tetap berbaring.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tegur Edward dengan nada tegas. “Apakah kau sengaja ingin membuat luka-lukamu terbuka kembali? Yang paling penting bagimu saat ini adalah diam dan tidak banyak bergerak.”
“Saya tidak mungkin hanya bisa terbaring lelah saat Anda berkenan hadir melangkah ke tempat ini, Yang Mulia,” ringis sang Jenderal menahan sakit.
“Anda adalah penyelamat nyawa saya. Saya harus memberikan penghormatan yang paling pantas bagi Sang Pangeran.”
Edward mengibaskan tangannya santai.
“Itu sama sekali tidak perlu. Jika kau benar-benar ingin memberiku penghormatan, maka fokuslah untuk sembuh total. Itulah penghormatan tertinggi darimu untukku.”
Sang Jenderal tersenyum tipis. “I-iya, Yang Mulia....”
Pandangan Jenderal Vermont lantas teralih pada sesuatu yang memancing rasa penasarannya sejak tadi. Rambut Edward yang biasanya berwarna hitam bergradasi oranye, kini tampak berubah warna secara drastis menjadi merah tua pekat.
“Ra... rambut Anda.... Kenapa warnanya bisa berubah seperti itu, Yang Mulia?” tanya Jenderal Vermont ragu.
Edward refleks menyibak helai rambutnya santai.
“Oh, ini? Hal seperti ini sudah biasa terjadi padaku,” jawab Edward terkekeh pelan.
“Setiap kali cadangan energiku terkuras banyak, warna rambutku memang akan berubah seperti ini. Biasanya sih paling sering hanya turun sampai warna kuning cerah. Tapi sepertinya kemarin aku sedikit terlalu berlebihan, sampai-sampai tingkat energinya drop drastis.”
Mendengar penjelasan santai dari mulut Edward, dada sang Jenderal mendadak terasa terhantam beban berat.
Rasa penyesalan mendalam seketika menyayat hatinya. Sosok Pangeran yang seharusnya ia lindungi dengan pertaruhan nyawa, justru harus memutarbalikkan keadaan demi menyelamatkan dirinya—bahkan sampai menguras habis energi sang Pangeran ke titik terendah.
Tatapan mata sang Jenderal seketika meredup, menunduk dalam-dalam.
“S-saya... sungguh merasa amat malu...” bisik sang Jenderal dengan suara yang serak dan bergetar.
Pria itu memejamkan matanya rapat-rapat, mengepalkan jemarinya di atas kain seprai hingga buku-buku jarinya memutih.
“Seharusnya sebagai Jenderal Kerajaan, saya bisa menjadi perisai yang melindungi Anda dan seluruh rakyat. Namun kenyataannya, saya justru tidak berdaya dan kalah dengan sangat memalukan...”
Jenderal Vermont mengatupkan rahangnya ketat, menahan rasa penyesalan yang membakar dadanya.
“...Hingga membuat Anda harus menguras energi sebanyak ini. Saya sungguh tidak pantas lagi menyandang gelar Sword of Aureliania.”
“Sudah, jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati,” potong Edward menenangkan.
“Lagipula kemarin memang musuhnya saja yang tidak masuk akal. Sangat wajar jika kita berdua babak belur.”
Edward menarik napas sejenak sebelum melanjutkan.
“Insiden ini juga membuat sistem pengamanan di sekitar kawasan kerajaan makin diperketat. Kemarin saat makan malam, Ayahanda mengusulkan untuk menggelar rapat darurat bersama seluruh pemimpin negara di gelaran acara The Grand Masquerade yang akan diadakan di wilayah utara.”
“Surat undangan resminya sudah dikirimkan hari ini. Paling lambat besok kita sudah akan menerima balasan dari mereka. Yah, situasi dunia memang sedang agak runyam sekarang. Siapa yang bisa menyangka jika salah satu Panglima Raja Iblis era kuno bisa bangkit kembali?”
Edward memandang hangat sang Jenderal sembari menyunggingkan senyuman tipis yang menenangkan.
“Jadi kau tidak perlu khawatir berlebihan. Fokus saja sepenuhnya pada proses penyembuhanmu. Untuk urusan sisanya, biar aku yang menangani. Kau sudah menjalankan tugasmu dengan sangat baik, Duke Vermont.”
Jenderal Vermont bungkam seribu bahasa.
Rasa hormat dan ketenangan merayapi sanubarinya. Pria tangguh itu perlahan tersenyum dan mengangguk pelan.
“Baiklah... Saya hanya bisa mendoakan keselamatan dan keberhasilan Anda dari sini, Yang Mulia....”
“Kalau begitu, kami pamit dulu. Ada beberapa hal lain yang harus kuselesaikan,” ujar Edward seraya melirik bergantian ke arah sang Jenderal dan istrinya sebelum berbalik melangkah, keluar meninggalkan ruangan medis tersebut bersama Bernard.
Jangan lupa ke naskah aku juga ya