Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"Apa urusannya dengan Toni?" tanya Leo, nada suaranya berubah defensif.
"Sebagai seorang pemimpin, Leo tugas utamamu adalah Manajemen Risiko (Risk Management)," Bella memulai sesi konsultasinya, nada suaranya mengalir tenang, hipnotik, namun penuh logika. "Toni adalah sebuah risiko (liability). Dia memiliki ambisi, tetapi tidak memiliki kecerdasan strategis. Di pelabuhan tempo hari, dia mencoba menyerangku setelah kamu secara verbal menyetujui gencatan senjata. Dalam organisasi mana pun, itu disebut insubordinasi tingkat berat."
Leo terdiam, tangannya yang terkepal di atas meja perlahan mengendur. Jauh di lubuk hatinya, Leo tahu Bella benar. Ia telah mencoba mengendalikan Toni selama berbulan-bulan, namun perilaku Toni semakin ekstrem dan tak terkendali.
"Lalu? Kamu mau aku memecatnya?" Leo mendengus sinis. "Ini jalanan, Bella. Bukan kantor ayahmu. Kalau aku mengusirnya, dia akan membawa separuh anggota Serigala bersamanya dan menciptakan perang saudara."
"Itu adalah Pemikiran Defisit (Deficit Thinking)," potong Bella tanpa ampun. "Kamu mempertahankan seorang karyawan yang merusak budaya perusahaan hanya karena kamu takut kehilangan headcount (jumlah anggota). Dengarkan aku, Leo. Organisasi yang diisi oleh dua puluh orang bodoh yang reaktif jauh lebih lemah daripada organisasi yang diisi oleh lima orang cerdas yang terstruktur."
Bella mengambil tablet-nya, membuka sebuah grafis bagan organisasi (Organizational Chart), dan menunjukkannya kepada Leo.
"Pemimpin yang efektif tidak memerintah menggunakan rasa takut atau otot, Leo. Kepemimpinan sejati diukur dari bagaimana kamu mengelola sumber daya dan menciptakan visi," papar Bella dengan penuh wibawa, mengaplikasikan pendekatan HRD-nya secara langsung kepada sang ketua preman. "Jika Toni mengambil alih, organisasimu akan dicap sebagai residivis, dan kalian semua akan berakhir di penjara. Jika kamu memegang kendali penuh, kamu bisa mengubah Geng Serigala menjadi sesuatu yang memiliki value (nilai)."
Leo menatap layar tablet itu, lalu menatap Bella dengan mata yang sedikit melebar. Selama ini, otoritas yang Leo kenal hanyalah tentang siapa yang memukul paling keras. Tidak pernah ada satu orang pun, apalagi musuh bebuyutannya yang duduk di depannya, memberitahunya bahwa ia memiliki potensi, dan mengajarkan kepadanya seni manajemen organisasi yang nyata.
"Apa yang sebenarnya kamu tawarkan, Bella?" tanya Leo, suaranya kini melunak, kehilangan nada permusuhannya.
"Aku menawarkan Strategic Partnership (Kemitraan Strategis)," jawab Bella tenang. "Kendalikan Toni, lakukan restrukturisasi internalmu. Jika kamu membutuhkan cetak biru (blueprint) SOP kedisiplinan atau sistem kas yang sehat, aku akan memberikannya secara gratis. Ubah serigala-serigalamu menjadi anjing penjaga yang patuh, atau biarkan Toni menghancurkan kalian dari dalam. Keputusan ada di tangan Manajemen Eksekutifmu."
Pertemuan B2B itu berakhir tidak lama setelahnya, Leo pulang dengan pikiran yang berkecamuk. Benih rasionalitas dan prinsip manajemen telah ditanamkan ke dalam otak sang Serigala. Namun, Bella dan Leo sama-sama tahu, waktu mereka tidak banyak. Di tempat lain, sel kanker di dalam tubuh Geng Serigala sudah mulai menggerogoti inangnya.
Di malam yang sama, saat Leo sedang merenungkan pertemuannya dengan Bella, sebuah rapat gelap yang tidak masuk dalam agenda resmi (Unsanctioned Meeting) sedang berlangsung di sebuah taman kota yang terbengkalai. Toni duduk di atas sebuah ayunan besi yang berkarat, mengisap rokoknya dalam-dalam lalu membuang puntungnya ke tanah. Tangan kanannya masih dibalut perban elastis akibat cedera keseleo saat ditendang oleh Dion di pelabuhan, rasa sakit di lengannya itu menjadi pengingat konstan akan penghinaan terbesar dalam hidupnya.
Di sekeliling Toni, berkumpul sekitar sepuluh orang anggota Geng Serigala. Mereka adalah faksi radikal, anak-anak yang lebih suka berkelahi, memalak, dan membuat kerusuhan daripada menuruti aturan "diam" yang baru saja ditetapkan Leo.
"Gue nggak ngerti lagi sama otak si Leo," Toni membuka pembicaraan, meludah ke tanah untuk menekankan rasa jijiknya. "Dia nolak nyerang anak-anak Garuda. Tadi sore, ada yang lihat dia ngopi bareng sama si Bella di mal. Ngopi bareng, Coy! Sama musuh yang udah ngancem mau menjarain kita!"
Keriuhan marah langsung meledak di antara kesepuluh remaja tersebut.
"Gila! Masa ketua kita tunduk sama cewek sok pintar itu?!" protes salah satu anggota berambut cepak. "Malu-maluin nama Serigala! Tongkrongan lain udah pada ngetawain kita, Ton. Katanya kita sekarang jadi anak manis peliharaannya Bone Breakerz."
Toni menyeringai sinis, ini adalah momen yang ia tunggu-tunggu. Dalam teori organisasi yang Bella jelaskan, ini adalah fase di mana 'Karyawan Toksik' melakukan provokasi massal untuk membentuk serikat pekerja tandingan yang bertujuan merusak operasional perusahaan.
"Leo udah kehilangan nyalinya. Dia lembek," hasut Toni, suaranya dipenuhi racun provokasi. "Dia pikir selembar kertas gencatan senjata bisa ngelindungin kita? Di jalanan, kertas itu cuma buat bungkus gorengan. Kalau Leo nggak berani ngambil tindakan buat ngebalikin harga diri kita, maka kita yang harus gerak sendiri."
"Tapi Ton," sela seorang anggota lain yang sedikit ragu. "Leo bilang kalau kita nyentuh anak Garuda, si Bella bakal nyebarin bukti kriminal lo sama anak-anak lain ke polisi."
"Itu cuma gertakan HRD sialan itu!" bentak Toni dengan mata mendelik. "Dan kalaupun dia punya buktinya, kita tinggal bikin mereka nggak sempat mencet tombol lapor. Kita nggak bakal nyerang secara terbuka. Kita main pintar. Kita rusak fasilitas mereka, kita teror mereka diam-diam (Guerilla Tactics), sampai sekolah mereka yang ngebuang si Bella dan gengnya!"
Toni melompat turun dari ayunan, berjalan ke tengah lingkaran dan memosisikan dirinya sebagai pemimpin baru (de facto leader) bagi faksi pemberontak ini.
"Besok malam, kita lakuin serangan pertama. Nggak perlu bawa nama Serigala, biar Leo nggak tahu. Kita pakai masker, kita hancurin aset-aset berharga anak-anak Garuda di luar sekolah," Toni membeberkan rencananya dengan seringai sadis. "Kita bikin si manajer sombong itu tahu, bahwa teori manajemen sampahnya nggak berlaku buat orang-orang kayak kita."
Para anggota radikal itu mengangguk setuju, sorot mata mereka memancarkan kehausan akan kekerasan yang tertahan selama berminggu-minggu. Di saat Bella Anastasia sedang menyusun rencana besar untuk memodernisasi SMA Garuda dan Leo sedang mencoba merenungkan arti kepemimpinan yang sesungguhnya, Toni telah memilih jalannya sendiri. Ia menolak cara Bella. Ia menolak rasionalitas. Bagi Toni, kekerasan adalah satu-satunya mata uang yang sah.
Insubordinasi telah terjadi. Kanker di dalam tubuh Geng Serigala akhirnya pecah, dan imbas kerusakannya akan segera menghantam sistem operasional Bella seperti badai kategori lima.