NovelToon NovelToon
After We Died

After We Died

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Transmigrasi
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nongnong

Lima orang tewas dalam malam yang sama.

Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.

Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.

Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.

Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keira

Sesampainya di dalam...

"Mau makan sambil di tato?" tanya Viana.

"Emang gapapa?" tanya Keira polos.

"Ya gabisa dong. Makan ya makan, tato ya tato," ucap Viana sedikit kesal.

"Oh."

Hening sesaat.

"Makan aja dulu."

Viana mengangguk.

"Nomor dua puluh empat, silakan masuk."

Sementara Viana menato pelanggannya, Keira menikmati pizza pesanan Viana. Satu kotak pizza telah ia habiskan.

"Kenyang?" tanya Viana yang baru saja menyelesaikan tato pelanggannya.

"Hmm. Sekarang giliran gue kan?"

Viana mengangguk. Keira duduk di kursi, di depan Viana, bersiap untuk ditato.

"Sudah kenyang tidak tahu terima kasih ya? pintar..." ucap Viana menyindir.

"Nanti aja. Sekalian pas bilang makasih udah bikin tatonya," jawab Keira santai, sambil membuka kancing bajunya.

"Mau ngapain?" tanya Viana.

"Di tato lah," jawab Keira ketus.

"Di leher, perut dan dada ya," ucap nya lagi dengan santai.

"Di leher jangan dulu ya. Sekolah kita nggak memperbolehkannya," ucap Viana memperingatkan.

"Jadi... Mau tato apa?" tanya Viana.

"Laba-laba."

"Laba-laba seperti apa?" tanya Viana lagi.

"Seekor laba-laba berwarna hitam pekat dengan tubuh ramping dan delapan kaki panjang yang melengkung elegan. Di bagian punggungnya terdapat pola menyerupai retakan halus, membuatnya tampak hidup saat terkena cahaya."

"Hah?"

"Kenapa hah?" bingung Keira.

"Kenapa? Keberatan?" Keira mendekatkan wajah "Atau nggak bisa?"

Viana tersenyum tipis. "Bisa kok. Cuma... Deja vu."

"What?" Keira memiringkan kepalanya.

"Lupakan." Viana kembali tersenyum. "Ayo mulai."

Jarum tato mulai bekerja. Suara mesin berdengung ringan.

"Ramai banget," celetuk Keira.

Viana mengangguk bangga.

"Pendapatannya lumayan?" tanya Keira penasaran.

"Hm... Kalau lagi ramai begini... Sehari bisa dapat jutaan."

"Sebanyak itu?" tanya Keira hampir tak percaya.

"Iya. Karena tempat ini sempat viral."

"Viral karena apa?"

"Yang natonya cantik kek peri," ucap Viana sombong.

"Gue serius lho..."

"Hehe... Viral karena karya gue bagus lah."

Keira mengangguk pelan.

"Kalau gitu... Mau pacaran sama gue gak?" tanya Keira tanpa ekspresi.

"Hah?" Viana langsung membelalak.

"Ravian sepertinya suka sama lo. Gue juga. Bedanya... Gue lebih tertarik sama duit lo," goda Keira sambil menatap Viana.

Viana tertawa sampai hampir menjatuhkan jarumnya.

"Gue nggak suka tunangan lo. And I'm straight."

"It's okay." Keira mengangguk santai.

"Wait..." Viana berhenti sejenak.

"Jangan bilang... tadi lo langsung kabur begitu lihat gue, gara-gara Ravian sempat megang tangan gue dan ngajak gue kenalan pas di sekolah?" Viana memicingkan matanya

"Hmm." Keira hanya menjawab dengan deheman singkat, sementara Viana hanya bisa menggelengkan kepala.

...****************...

Sementara itu...

Malam itu, Aleta memilih bermalam di apartemen pribadinya yang berada tak jauh dari pusat kota.

Meski memiliki sebuah mansion yang jauh lebih luas dan mewah, setiap kali menerima misi, ia lebih sering menggunakan apartemen tersebut sebagai tempat singgah sekaligus markas sementara. Lokasinya yang strategis membuatnya lebih mudah bergerak tanpa menarik perhatian.

Suasana apartemen itu sunyi. Hanya cahaya dari layar laptop yang menerangi ruang kerja kecil di sudut ruangan.

Aleta duduk di depan meja sambil menggulir daftar misi yang baru saja masuk ke dalam sistem. Satu demi satu berkas ia lewati.

Hingga...

Sebuah laporan membuat jemarinya terhenti. Tanpa membuang waktu, ia langsung meraih ponselnya dan menghubungi Aura.

"Au."

"Iyaa, Let. Kenapa?"

"Ada misi menarik nih. Bisa buat dua orang. Mau ikut nggak?"

"Tumben ngajak-ngajak? Emang misi apaan, Ta?"

"Targetnya pelaku KDRT."

Aleta membaca kembali berkas di layar laptopnya.

"Istrinya meninggal akibat kekerasan yang selama ini dia alami."

Aura terdiam beberapa detik.

"Terus... kita jadiin suaminya samsak hidup, gitu?"

"Yeah."

"Okay... I'm coming."

Panggilan pun berakhir. Aleta segera mengirimkan alamat apartemen pribadinya kepada Aura. Tak lama kemudian, balasan singkat masuk.

Aura: On my way.

Aleta kembali mengalihkan pandangannya ke layar laptop.

Klien: Yenny Pratama

Hubungan dengan target: Anak kandung.

Nama target: Yeko Pratama.

Kasus: Kekerasan dalam rumah tangga yang menyebabkan korban meninggal dunia.»

Ia menggulir ke bagian berikutnya. Terdapat pesan langsung dari Yenny, kliennya.

"Saya sudah melaporkan ayah saya kepada pihak berwajib. Namun, hukuman yang dijatuhkan tidak sebanding dengan penderitaan ibu saya. Saya tidak ingin saya menjadi korban berikutnya."

Di bawahnya tertera riwayat hukum target.

Yeko Pratama divonis 12 tahun penjara atas tindak kekerasan dalam rumah tangga yang mengakibatkan kematian istrinya. Namun, berkat remisi dan berbagai pengurangan masa hukuman, ia dibebaskan kemarin pagi.

Aleta menutup laptopnya perlahan. Tatapannya berubah dingin.

"Memang pantas diselesaikan di luar hukum."

Kalimat itu meluncur pelan dari bibirnya. Bukan karena ia membenci hukum. Melainkan karena, menurutnya, ada beberapa orang yang telah kehilangan hak untuk memperoleh belas kasihan.

...****************...

Sementara itu, di Venom Ink Studio...

Setelah selesai di tato, Keira berdiri sambil memperhatikan hasilnya melalui cermin.

"Bagus. Terima kasih."

Saat hendak mengenakan kembali pakaiannya, pandangan Keira tak sengaja jatuh ke arah dada kiri Viana untuk yang kesekian kalinya.

"Your tattoo...."

Viana ikut menoleh. Dalam hati, Viana mulai panik.

'Mampus... Kalau dia tahu tato gue mirip punya Ravian gimana...? Gue lupa sembunyiin. Mana tadi sempat pamer lagi, di awal.'

Keira hanya tersenyum kecil.

"Mirip tato teman gue dulu. Tapi sayang dia udah gak ada."

Deg.

Viana terdiam beberapa detik.

"Oh... Turut berdukacita ya."

"Iya. Lagipula... Itu udah lama banget."

Drttt...

Ponsel Keira yang sejak tadi diisi daya tiba-tiba bergetar. Di layar tertulis satu nama.

Ravian.

Keira segera mengangkat panggilannya.

"Pulang." Suara Ravian terdengar singkat dari seberang sana.

"Gue baru aja selesai makan malam. Gue segera pulang."

Tut.

Panggilan langsung terputus. Keira memasukkan ponselnya ke dalam tas.

"Bye, Vi."

"Bye."

Viana melambaikan tangan sambil tersenyum. Matanya tidak lepas dari Keira yang perlahan masuk ke dalam taksi.

"Sebaiknya gue jauhin Ravian. Berurusan sama cewek gila kayak Keira, cuma buat hidup gue yang rumit ini jadi lebih rumit," gumam Viana, ia lalu bergidik ngeri membayangkan jika suatu hari Ravian dan Keira memperebutkannya.

Sementara itu, di sisi lain....

Keira melambaikan tangan singkat sebelum taksi yang ditumpanginya perlahan meninggalkan depan studio tato.

Begitu ia menutup kaca jendela mobil, senyum tipis yang tadi ia tunjukkan langsung menghilang.

"Cih..."

Entah mengapa, wajah Viana terus terbayang di kepalanya.

"Kenapa dia baik banget, sih? Padahal baru kenal."

Belum sempat ia melanjutkan lamunannya, ponselnya kembali bergetar.

Ravian

Keira menghela napas panjang sebelum mengangkat panggilan itu.

"Apa?" tanya Keira dengan nada ketus.

"Naik apa?" tanya Ravian dingin, dari seberang sana.

"Taksi."

"Shareloc"

"Buat apa?" Keira langsung mengernyit.

"Biar gue tahu lo benar-benar lagi di jalan."

"Lo pikir gue bohong?"

"Nggak juga."

"Lalu?"

"Share." Nada bicara Ravian tetap datar.

"Ck." Keira mendecak pelan. "Iya, iya."

Panggilan terputus. Beberapa detik kemudian, ia membagikan lokasi secara langsung kepada Ravian.

Keira: Puas?

Tak ada balasan.

"Huh."

Keira kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.

'Sama-sama nyebelin bukan berarti jodoh kan?'

'Nggak! gue nggak akan biarin Ravian jatuh ke tangan Viana. Ataupun sebaliknya, gak akan pernah.'

Beberapa menit berlalu. Keira mulai menyadari ada yang aneh. Jalan yang dilalui taksi terasa semakin sepi. Ia menoleh ke luar jendela.

"Pak... Ini bukan jalan ke rumah saya."

"Jalan depan macet, Mbak. Saya cari jalan pintas." Sopir itu tersenyum tipis melalui kaca spion.

Keira mengamati google maps di ponselnya. Tidak ada tanda kemacetan. Tatapannya langsung berubah waspada.

"Pak, tolong berhenti. Saya turun di sini saja"

"Ga bisa begitu, mbak."

"Saya bayar lebih deh."

"Bentar lagi sampai, Mbak."

Nada suara sopir itu terdengar santai, tetapi pandangannya melalui kaca spion membuat Keira merasa tidak nyaman.

"Aduh... Cewek secantik Mbak pulang sendirian malam-malam sayang banget."

Keira langsung memasang wajah dingin.

"Berhenti."

"Jangan galak, dong." Sopir itu justru terkekeh pelan.

"Pak, saya minta terakhir kali. Berhenti," pinta Keira yang masih mencoba sopan.

Alih-alih menjawab, sopir itu malah mengulurkan tangan ke arah belakang. Belum sempat menyentuh Keira—

Bugh!

Keira menendang pergelangan tangan pria itu hingga membentur pintu mobil. Sopir tersebut terkejut dan spontan menginjak rem.

"Heh... lumayan juga." Ia menyeringai tipis.

"Mau main-main denganku? Baiklah. Kita selesaikan di sini," ucap sopir itu lagi.

Keira langsung membuka sabuk pengamannya dan bersiap menyerang. Begitu sopir itu bangkit dari kursinya, Keira lebih dulu melayangkan tendangan ke arah dadanya hingga pria itu terpental.

Namun pria tersebut rupanya sudah terbiasa berkelahi. Ia menghindari pukulan Keira, lalu diam-diam menekan sebuah tabung kecil yang terselip di balik jok.

Sssshhh...

Gas tipis tak berwarna perlahan memenuhi kabin mobil. Keira reflek menutup hidung dan mulutnya dengan lengan baju.

"Apa..." lirihnya.

Pandangan matanya mulai berkunang-kunang. Tubuhnya masih berusaha melawan, tetapi tenaga di kedua kakinya perlahan menghilang.

"Tidur saja." Sopir itu kembali mendekat.

Tepat saat pria itu hendak meraih Keira—

Brak!

Pintu pengemudi ditarik paksa dari luar hingga rusak. Seseorang langsung menarik sopir itu hingga terjatuh ke aspal.

Ravian.

Tatapannya begitu dingin. Tanpa banyak bicara, ia melumpuhkan pria itu hanya dalam beberapa gerakan.

Tak lama kemudian, dua mobil hitam berhenti di belakang mereka. Beberapa anak buah Ravian segera turun dan mengamankan pelaku.

"Serahkan dia pada kami, Tuan."

Ravian hanya mengangguk singkat. Perhatiannya kini sepenuhnya tertuju pada Keira yang masih bersandar lemas di kursi belakang.

"Keira," panggilnya.

"Ravian..." Keira membuka mata perlahan.

Tanpa basa-basi, Ravian langsung menggendong Keira ala bridal style dan membantunya duduk di kursi penumpang mobilnya.

"Gapapa?" tanya Ravian.

"Panas..." lirih Keira.

Deg.

"Kita ke rumah sakit ya?"

Keira mengangguk pelan. "Cepat..."

Ravian segera menutup pintu mobil lalu berlari ke kursi pengemudi. Mesin mobil langsung menyala. Ravian menginjak pedal gas, melaju menuju rumah sakit terdekat.

"Tahan Kei..."

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ravian kembali merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan.

Khawatir.

Tatapannya tak pernah lepas dari Keira yang duduk lemas di kursi penumpang. Wajah gadis itu memucat, napasnya terdengar tidak beraturan, sesekali mengeluh kepanasan sambil memintanya agar mengemudi lebih cepat.

"Ravian... cepat..."

"Gue tahu." Jawabnya singkat, tetapi kakinya semakin dalam menginjak pedal gas.

Melihat kondisi Keira yang semakin memburuk, rahang Ravian mengeras. Kedua tangannya mencengkeram setir begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarahnya perlahan memuncak.

Bukan kepada Keira...

Melainkan kepada sopir taksi yang telah berani mencelakai calon tunangannya.

...****************...

Mobil Ravian berhenti tepat di depan pintu Instalasi Gawat Darurat.

Bahkan sebelum mobil benar-benar berhenti, beberapa petugas medis sudah berlari keluar sambil mendorong brankar.

Seorang pria berjas hitam lebih dulu menghampiri Ravian.

"Tuan, pihak rumah sakit sudah kami beri tahu. Direktur rumah sakit juga sudah turun."

Ravian hanya mengangguk singkat.

"Selamatkan dia. Itu perintah."

"Baik, Tuan!"

Begitu pintu mobil dibuka, para tenaga medis langsung memindahkan Keira ke atas brankar.

"Pasien perempuan, penurunan kesadaran!"

"Tekanan darah!"

"Siapkan ruang tindakan!"

Beberapa perawat berlari ke sana kemari. Tak lama kemudian, seorang dokter datang dengan napas memburu.

"Mana pasiennya?"

"Di sini, Dok!"

Dokter itu baru saja hendak memeriksa Keira ketika melihat Ravian berdiri tak jauh darinya. Wajahnya langsung berubah tegang.

"Pastikan tidak ada keterlambatan sedikit pun."

Suara Ravian terdengar datar. Namun justru itulah yang membuat semua orang semakin gugup.

"Ba-Baik, Tuan Ravian."

Direktur rumah sakit yang baru tiba segera menghampiri.

"Semua dokter terbaik segera ke ruang tindakan. Apa pun yang dibutuhkan pasien, siapkan sekarang juga."

"Ya, Pak Direktur!"

Suasana rumah sakit mendadak sibuk. Semua bergerak lebih cepat dari biasanya. Bukan semata-mata karena pasien itu dalam kondisi darurat, melainkan karena pasien tersebut adalah calon tunangan Ravian Alexandra Lee.

1
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
prasaan kemarin masih lo gue deh, kok tiba-tiba udah aku kamu aja 😭😭
mana dipanggil honey lagi /Doge/
Chika
Akhirnya ktm mommy kandung 😍
Chika
Adrian lo jgn kayak Joe ya, lucu² setan /Smug/
Chika
Joe sama Anneta selucu itu kok harus pisah sihhh 😭😭
Yuni
wkwkwkwk waajr sih mak nya Aleta marah/ga terima Aleta ngaku Anneta. secara kan dia ga percaya adanya reinkarnasi. Apalagi pas awal Aletanya kayak plenger bangt, siapa yg ga kesel cba. Anak tunggal udh meninggoy belasan thn trus tb² ada yg ngaku 🤣🤣
Yuni
ih udah honey aja nih 🤭
Peach
loh kok udah lopyu lopyu aja nih? udah jadian apa begimana? apa cuma aku yg ketinggalan berita?
Peach
circle ini isinya manusia lantam smua 💜
Yuni
🥀💔
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
ternyata orang seasik dan setengil joe juga bisa jahat
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
awas jodoh 😂🤭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
makin deket niehh
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
demen bgt sama cw yg pemikirannya begini 🤣🤭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
kocak umur sndiri pun tak ingat 😂🤣
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
yg ini agak lain ya, malah ngakunya wlw 😭😭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
perempuan nyembelin
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Viana sendiri aja ributnya minta ampun. Apalagi kalu ditambah Keira sama Ravian trus Gavin Ezra. ga kebayang ribut & berantakannya bakal kayak apa 😂
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Mampus lo Ravian, siapa suruh udah bikin gue nangis tiap baca kisah lo ama Keira
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Gitu deh manusia, kehilangan dulu baru menyesal
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
LOHHH
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!