Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.
Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Koki di Akhir Dunia
Jessica Tan.
Nama itu tidak membuat Hendry turun dari balkon.
Ia hanya mengangkat radio kecil. "Bagus, buka gerbang luar setengah. Jangan biarkan dia masuk halaman utama. Ikat tangannya. Periksa tubuh dan tasnya. Kalau dia melawan, patahkan lutut."
Di bawah, Bagus menjawab tanpa ragu. "Siap, Bos."
Melati yang berdiri di dekat pintu balkon menatap Hendry. "Lu kenal dia?"
"Tahu namanya."
"Musuh?"
"Belum tentu. Tapi Nasi tidak suka."
Seolah mendengar namanya, kucing merah muda di ambang jendela menggeram pelan ke arah gerbang. Tubuh kecilnya menegang, bulunya mengembang, ekornya lurus.
Raja berdiri di sampingnya, kali ini tidak protes ketika hidungnya hampir tersentuh ekor Nasi. Jika kucing itu merasa ada yang salah, anjing hitam itu memilih percaya.
Bagus dan Melati membawa Jessica ke pos satpam kosong di dekat gerbang. Tangan perempuan itu diikat ke depan, bukan ke belakang, cukup manusiawi tetapi tetap tidak mudah kabur. Tasnya dipisahkan. Air mineral diberikan. Pintu dikunci dari luar. Raja duduk di halaman antara pos dan villa, mata hitamnya tidak lepas dari pintu.
Jessica berteriak sekali, "Aku cuma mau bantu!"
Hendry tidak menjawab.
Di hari kelima kiamat, orang yang terlalu cepat menawarkan bantuan biasanya sedang mencari harga.
"Kita interogasi sekarang?" tanya Melati.
"Tidak."
"Kenapa?"
Hendry turun dari balkon. "Karena perut tim lebih penting daripada mulut orang asing."
Bagus yang baru kembali mengusap keringat dari lehernya. "Bos, itu kalimat paling benar yang pernah gue dengar sejak dunia hancur."
Mawar sudah menyiapkan air dan perban di ruang tengah. Ia melirik ke arah gerbang dengan cemas, tetapi tidak membantah. Sejak Nasi memperingatkan Level 1, semua orang belajar satu hal: kucing kecil itu tidak menggeram untuk hiburan.
Hendry membuka peta. "Hari ini kita perlu dua hal. Zona aman melebar, dan dapur yang benar."
"Dapur yang benar?" Mawar mengulang.
"Kalian sudah lihat sendiri. Makin banyak orang, makin banyak waktu habis untuk masak, cuci, bagi makanan, rebus air. Kalau semua petarung sibuk urus kompor, kita mati lebih cepat."
Bagus mengangkat tangan. "Gue setuju punya orang khusus makanan. Sangat setuju. Setuju secara ideologis."
Melati mendengus. "Lu setuju karena lapar."
"Lapar itu ideologi tertua, Mbak."
Hendry menunjuk area di luar cluster utama, dekat deretan rumah kontrakan dan ruko kecil. "Ada seorang perempuan di sini. Dewi Rahayu. Koki. Kalau timeline belum rusak total, dia masih hidup."
Mawar menatapnya. "Kamu yakin?"
"Cukup yakin untuk pergi."
Ia tidak menjelaskan bahwa di kehidupan sebelumnya, Dewi pernah membuat satu panci sayur nangka bertahan menjadi alasan dua puluh orang tidak berkhianat pada malam kelaparan. Orang seperti itu bukan sekadar koki. Di kiamat, orang yang bisa mengubah beras dan daging menjadi moral pasukan adalah aset strategis.
Formasi hari itu lebih rapat.
Jessica tetap dikunci di pos satpam, diberi air, satu bungkus roti, dan ember kosong. Bagus menambahkan borgol plastik di kaki kursi. Melati memasang satu tanda arang di pintu: Jangan dibuka tanpa Hendry.
"Kalau dia jerit?"
"Biarkan."
"Kalau dia benar-benar punya info?"
"Info tidak basi dalam setengah hari," kata Hendry. "Mayat bisa."
Mereka bergerak keluar menjelang siang. Mawar tetap di villa bersama Nasi. Kucing itu sempat melingkar di dekat tas medis, seolah memilih posnya sendiri. Raja ikut Hendry. Bagus dan Melati menyusul, kali ini tidak berdebat soal formasi.
Keluar dari cluster utama membuat bau kiamat berubah.
Di dalam Pondok Indah, rumah besar dan pagar tinggi memberi ilusi bahwa dunia masih bisa diatur. Di luar, ilusi itu hancur. Motor terbalik di tengah jalan. Warung pecel lele setengah terbakar. Minimarket dijarah, raknya kosong, lantainya penuh kaca dan bungkus snack. Dari salah satu ruko, suara sendok jatuh terdengar, lalu diam.
Bagus mengangkat linggis.
Hendry memberi isyarat berhenti.
Bukan suara zombie.
Ada bau Indomie rebus.
Tipis, tapi nyata.
Di dunia yang sudah tiga malam dipenuhi darah, bau mi instan bisa lebih mencurigakan daripada bau mayat.
Mereka mendekati rumah makan kecil yang papan namanya miring: Warung Rahayu. Pintu depannya ditutup meja. Jendela samping disumpal karung beras kosong. Dari celah dapur, api kecil menyala biru-oranye di bawah panci.
Bukan kompor.
Api itu keluar dari telapak seorang perempuan.
Dewi Rahayu berdiri di belakang meja dapur dengan celemek kotor dan rambut diikat sederhana. Wajahnya lelah, matanya merah karena kurang tidur, tetapi tangannya stabil. Api dari telapak kirinya memeluk dasar panci, tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Air mendidih pelan, mi matang tanpa hangus.
Di sudut ruangan, tiga orang tua duduk berdekatan. Seorang kakek memegang tongkat, seorang nenek memeluk tas kain, dan seorang bapak tua memakai sarung di atas celana pendek. Mereka menatap pintu dengan takut sekaligus lapar.
Dewi mengangkat pisau dapur ketika melihat Hendry.
"Jangan masuk sembarangan, Mas."
Sopan. Tegang. Tetap ada unggah-ungguh, bahkan saat kiamat berdiri di depan pintu.
Hendry menurunkan parang. "Kami bukan penjarah."
"Semua penjarah bilang begitu."
"Penjarah tidak bawa anjing yang bisa menyetrum zombie."
Raja melangkah maju sedikit. Listrik tipis menyala di bulunya.
Tiga orang tua di sudut langsung menahan napas.
Dewi tidak mundur. Api di telapaknya mengecil, bukan padam. Ia menempatkan tubuhnya di antara mereka dan Hendry.
Bagus berbisik, "Bos, dia berani juga."
"Makanya kita ke sini."
Dewi mendengar itu. Matanya menyipit. "Mas tahu saya?"
"Dewi Rahayu. Koki. Dulu kerja di restoran Padang dekat jalan utama, lalu buka warung sendiri karena ingin bumbu sesuai tangan sendiri."
Wajah Dewi berubah. Bukan karena tersanjung. Karena terlalu tepat.
"Siapa yang kasih tahu?"
"Orang yang pernah makan masakanmu."
"Sekarang semua orang bisa mengarang."
Hendry mengangkat tangan kosong, lalu mengeluarkan dari Ruang Dimensi satu karung beras lima kilogram, dua ekor ayam beku, sekotak telur, minyak goreng, santan kemasan, cabai hijau, bawang merah, bawang putih, kunyit, lengkuas, serai, daun jeruk, dan satu kantong daging sapi.
Barang-barang itu muncul di lantai warung satu per satu.
Tiga orang tua di sudut seperti lupa bernapas.
Api di tangan Dewi padam.
"Mas..." Suaranya turun. "Itu dari mana?"
"Tempat aman."
"Maksud saya, bagaimana?"
"Kemampuan gue. Yang penting sekarang, gue punya bahan. Lu punya tangan."
Dewi melihat bahan makanan itu seperti melihat hujan setelah kemarau panjang. Tetapi ia tidak langsung mengambil. Matanya kembali ke tiga orang tua di sudut.
"Kalau saya ikut, mereka ikut."
"Itu syarat pertama gue juga."
"Mereka bukan petarung."
"Tidak semua orang harus petarung. Ada yang jaga air, cuci alat, sortir bahan, bersihkan sayur, lipat perban."
Kakek bertongkat itu bergetar. "Nak Dewi, jangan percaya gampang."
"Betul," kata Hendry. "Jangan percaya gampang. Makanya gue kasih pilihan jelas. Tetap di sini dengan mi terakhir dan pintu meja. Atau ikut ke tempat yang ada pagar, obat, air, bahan makanan, dan aturan. Dewi masak. Tiga Bapak-Ibu bantu dapur ringan. Tidak ada yang dipaksa bertarung."
Dewi menatapnya lama.
Melati yang sejak tadi diam akhirnya berkata, "Dia dingin, tapi dia tidak bohong soal makanan. Adikku hidup karena obatnya."
Bagus mengangguk serius. "Gue juga hidup karena rendang."
Melati memutar mata. "Itu bukan kesaksian penting."
"Buat gue penting."
Ketegangan di warung retak sedikit.
Dewi menunduk pada panci Indomie yang sudah hampir terlalu lembek. Api kecil kembali menyala dari jarinya, tetapi kali ini ia hanya mematikannya dengan sekali gerak.
"Kalau saya masak untuk kelompok Mas, saya butuh dapur bersih, air, garam, cabai, dan orang yang mau dengar aturan dapur."
Bagus langsung berdiri lebih tegak. "Gue dengar."
"Tidak boleh comot lauk sebelum dibagi."
Bagus menurunkan pandangan. "Aturan keras."
"Bisa?" tanya Dewi.
Bagus melihat Hendry, seperti meminta bantuan hukum.
Hendry datar. "Bisa."
Bagus menghela napas. "Bisa."
Dewi akhirnya mengangguk. "Baik, Mas Hendry. Saya ikut."
Perjalanan pulang tidak mulus. Dua zombie Level 0 muncul dari minimarket. Bagus menjatuhkan satu dengan linggis. Melati membakar kaki yang lain secukupnya. Dewi melihat cara mereka bertarung, lalu melihat Hendry mengambil Kristal dari dahi zombie tanpa ekspresi berlebih.
Ia tidak bertanya lagi.
Saat gerbang villa terbuka, Mawar keluar menyambut dengan tas medis. Nasi duduk di bahunya, menatap Dewi tanpa menggeram. Itu tanda cukup baik.
Jessica berteriak dari pos satpam, "Hei! Aku sudah nunggu dari tadi!"
Nasi langsung menoleh ke arah pos dan menggeram.
Hendry bahkan tidak melihat. "Nanti."
Dewi menatap pos itu, lalu memilih diam. Koki yang baik tahu kapan panci harus ditutup agar tekanan matang sendiri.
Sore itu, dapur villa berubah menjadi pusat komando kedua.
Dewi tidak banyak bicara, tetapi setiap instruksinya tepat. Nenek yang tadi memeluk tas kain mencuci daun singkong dan sayur nangka. Kakek bertongkat duduk mengupas bawang pelan-pelan. Bapak tua bersarung menyusun piring dan sendok. Mawar membantu membilas beras. Melati berjaga dekat pintu dapur, tapi berkali-kali melirik cara api Dewi bekerja.
Api Melati seperti senjata.
Api Dewi seperti napas kompor yang tunduk.
Ia mengecilkan nyala sampai santan tidak pecah. Membesarkannya sebentar untuk menumis bumbu. Membiarkan rendang mendidih lambat, gelap, berminyak, wangi serai dan lengkuasnya menempel di dinding. Gulai ayam menguning tebal. Sambal ijo ditumbuk kasar, pedasnya naik ke hidung. Sayur nangka dimasak sampai bumbunya meresap. Perkedel kentang digoreng sampai pinggirnya renyah.
Hendry mengeluarkan bahan tanpa pelit, tetapi juga tanpa pamer. Beras. Daging. Santan. Cabai. Telur. Udang galah untuk dibakar sedikit, bukan untuk semua, hanya sebagai tes komandan meal tier yang kelak akan menjadi aturan.
Bagus berdiri di pintu dapur seperti orang menunggu vonis pengadilan.
"Keluar," kata Dewi.
"Mbak Dewi, gue cuma memastikan keamanan."
"Keamanan lauk?"
"Itu bagian dari keamanan nasional."
Dewi menunjuk pintu dengan spatula. "Keluar."
Bagus keluar.
Raja mencoba masuk.
Dewi menunjuk juga. "Kamu juga."
Raja menatap Hendry, seolah meminta status Wakil Komandan dipertimbangkan.
Hendry berkata, "Aturan dapur."
Raja keluar dengan martabat yang terluka.
Nasi duduk di atas kulkas kecil dan tidak diusir. Raja melihat ketidakadilan itu dari pintu.
Ketika makan malam akhirnya disajikan, ruang tengah benar-benar diam.
Bukan karena takut.
Karena semua orang melihat piring masing-masing seolah tidak percaya.
Nasi putih panas. Rendang gelap berminyak, serat dagingnya empuk dan bumbunya menempel tebal. Gulai ayam kuning dengan kuah santan yang harum. Sambal ijo yang mengilap. Sayur nangka lembut. Perkedel kecil. Untuk Hendry, ada satu potong udang galah bakar di samping piring sebagai uji standar komandan. Untuk yang lain, lauk dibagi adil dan jelas. Untuk Raja dan Nasi, Dewi menyiapkan ayam rebus tanpa bumbu di mangkuk terpisah.
Bagus mengambil suap pertama.
Matanya langsung merah.
Melati berhenti mengejek.
Mawar menutup mulut, lalu tertawa pelan karena air matanya jatuh lebih dulu.
Tiga orang tua makan perlahan, dengan tangan gemetar. Kakek bertongkat berkali-kali mengucap terima kasih tanpa suara keras. Nenek itu menyisihkan sedikit rendang di pinggir piring, kebiasaan orang yang terlalu lama takut besok tidak ada makanan.
Dewi melihat itu dan berkata lembut, "Bu, makan saja. Besok saya masak lagi."
Kalimat sederhana itu membuat ruangan lebih hangat daripada api mana pun.
Bagus menatap Hendry dengan wajah seperti mendapat wahyu.
"Bos..."
"Jangan lebay."
"Gue rasa gue bisa lawan seratus zombie lagi demi makan begini."
Melati mengangkat alis. "Tadi pagi empat zombie saja napasmu kayak knalpot rusak."
"Itu sebelum nasi padang."
Mawar tertawa lebih jelas.
Bahkan Hendry membiarkan sudut mulutnya naik sedikit.
Inilah yang tidak dipahami banyak pemimpin kiamat. Senjata membuat orang takut. Kristal membuat orang kuat. Tapi makanan panas yang dibagi adil membuat orang memilih bertahan di tempat yang sama besok pagi.
Dewi Rahayu bukan sekadar koki.
Ia fondasi.
Setelah makan, Hendry menaruh peta kecil di meja. Di satu sisi, daftar bahan. Di sisi lain, nama orang dan tugas dapur. Dewi diberi wewenang penuh atas pembagian makanan harian. Bagus langsung protes kecil, lalu diam begitu Dewi menatapnya.
"Mulai besok," kata Hendry, "dapur ikut aturan. Yang bertarung dapat porsi tempur. Yang menjaga basis dapat porsi kerja. Yang sakit dapat porsi pemulihan. Tidak ada yang mengambil sendiri."
Dewi mengangguk. "Kalau ada yang ambil diam-diam?"
Hendry menatap Bagus.
Bagus mengangkat kedua tangan. "Kenapa lihat gue?"
"Contoh."
"Fitnah preventif."
Ruang tengah tertawa pendek.
Tawa itu berhenti ketika Nasi tiba-tiba turun dari kulkas kecil.
Ia berjalan ke arah pintu depan, lalu menghadap pos satpam.
Mrrrrr.
Jessica.
Hendry mengambil kain lap, membersihkan tangannya, lalu berdiri.
"Sekarang," katanya, "kita dengar informasi penting itu."
Di pos satpam, Jessica duduk dengan wajah lelah dan mata yang terlalu cepat menghitung. Begitu pintu dibuka, ia langsung memasang ekspresi rapuh.
"Akhirnya," katanya lirih. "Aku pikir kalian mau membiarkan aku mati."
Nasi berdiri di kaki Hendry.
Bulu merah mudanya mengembang.
Jessica menelan ludah, lalu memaksakan senyum.
"Namaku Jessica Tan. Aku tahu lokasi kelompok penyintas. Sekitar tiga puluh orang. Kalau kalian mau, aku bisa antar."
Nasi menggeram lebih keras.
Hendry memperhatikan mata Jessica, bukan kata-katanya.
"Besok," kata Hendry.
Jessica membeku. "Besok?"
"Malam ini lu makan, minum, dan tidur di sini. Tangan tetap diikat. Besok lu bicara lagi."
"Tapi mereka bisa mati kalau terlambat."
Hendry menatapnya datar. "Kalau mereka bertahan sampai lu sampai ke gerbang gue, mereka bisa bertahan satu malam lagi."
Untuk sepersekian detik, wajah rapuh Jessica retak.
Nasi melihatnya.
Hendry juga.