NovelToon NovelToon
Gadis Desa Hamil Anak CEO

Gadis Desa Hamil Anak CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Anak Genius / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tianse Prln

Di balik pesta megah dan sorotan lampu kristal, ada rahasia yang tak pernah terungkap.

Aga, pewaris muda perusahaan ternama, tampak memiliki segalanya, karier cemerlang, masa depan gemilang, dan keluarga yang berkuasa. Namun satu malam penuh gemerlap mengubah segalanya—malam ketika ia dan Nadia, sahabat masa kecil sekaligus rekan kerja, melakukan kesalahan yang tak bisa dihapus.

Nadia menyimpan rahasia besar, seorang anak yang lahir dari cinta tak direstui. Dipaksa oleh ibu Aga untuk pergi, ia memilih mengorbankan dirinya demi masa depan pria yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di desa, ketika Aga melihat seorang bocah dengan wajah yang begitu mirip dirinya.

Di antara ambisi keluarga, perjodohan dengan putri konglomerat, dan bisikan masyarakat desa, Aga harus memilih: reputasi atau cinta, bisnis atau keluarga. Sementara Nadia harus berani membuka luka lama, mengakui kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tianse Prln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengenang Masa Lalu

Perjalanan panjang selama berjam-jam dengan bus dan angkutan umum menuju desa akhirnya membawa Nadia pulang ke tempat yang selama ini menjadi pelarian hatinya. Desa kecil yang terletak di kaki pegunungan itu masih sama seperti yang ia ingat—udara segar yang beraroma tanah basah dan daun-daunan, suara sungai yang mengalir tenang, serta hamparan sawah dan kebun yang terhampar luas sejauh mata memandang. Jauh dari hiruk-pikuk kota besar, jauh dari gedung pencakar langit, dan jauh dari segala aturan serta tekanan keturunan Santoso.

Begitu turun dari kendaraan, ia langsung mencium bau yang sangat dikenalnya—bau tanah kampung halaman. Langkah kakinya terasa lebih ringan, meski beban di hatinya masih terasa berat. Ia membawa hanya satu koper besar berisi pakaian dan barang-barang penting, serta amplop pemberian Nyonya Ardila yang kini ia simpan rapat di bagian paling aman, berniat menggunakannya hanya untuk kebutuhan anaknya nanti.

Rumah ibunya berdiri sederhana di ujung jalan setapak yang ditumbuhi rumput hijau. Rumah bercat putih yang sudah mulai pudar itu terasa hangat menyambut kedatangannya. Ibunya, Bu Siti, sudah menunggu di teras dengan wajah terkejut sekaligus gembira melihat putrinya pulang tiba-tiba.

"Nadia? Kok pulang enggak kasih tahu Ibu? Biasanya kamu paling susah loh kalau disuruh pulang. Selalu saja bilang enggak bisa cuti, sekarang tiba-tiba kamu pulang. Pasti kamu sengaja ya mau kasih ibu kejutan?" tanya Bu Siti sambil memeluk putrinya erat, merasakan bahwa tubuh Nadia terasa lebih kurus dan lemah dari biasanya.

Nadia membalas pelukan ibunya, menahan tangis yang hampir tumpah. Di sini, di dalam dekapan ibunya, ia merasa aman untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

"Aku memutuskan berhenti bekerja, Bu," jawabnya lembut. "Aku ingin pulang, tinggal di sini untuk sementara waktu. Aku lelah, Bu... dan aku butuh tempat yang tenang untuk memulihkan diri."

Bu Siti menatap wajah putrinya dengan tatapan penuh perhatian. Ia merasakan ada sesuatu yang disembunyikan Nadia, namun melihat raut lelah dan sedih di wajah anaknya, ia memilih untuk tidak bertanya terlalu banyak untuk saat ini.

"Enggak pa-pa, Nak. Rumah ini selalu terbuka untukmu. Tinggallah selama yang kamu inginkan. Di sini kamu bisa beristirahat sepuasnya," ucapnya lembut sambil mengusap punggung Nadia.

*

Hari-hari berikutnya di desa itu berjalan jauh lebih tenang. Nadia mulai terbiasa dengan ritme hidup yang sederhana. Ia membantu ibunya mengurus rumah, mengurus kebun cabai yang hanya berukuran seperempat hektar, menanam sayuran di halaman, dan menghabiskan waktu dengan beristirahat yang cukup. Ia tetap meminum vitamin dan menjaga pola makannya dengan baik, memastikan janin di dalam kandungannya tumbuh sehat. Rasa takut dan cemas yang selalu menghantuinya perlahan berkurang, digantikan oleh ketenangan yang hanya bisa ia temukan di tempat kelahirannya ini.

Namun, meski tubuhnya tenang, pikirannya sering kali melayang jauh ke masa lalu.

Sore itu, setelah selesai membantu ibunya menyiapkan makan malam, Nadia memutuskan berjalan-jalan keluar untuk menghirup udara segar. Matahari mulai condong ke barat, mewarnai langit dengan nuansa jingga keemasan yang lembut. Ia melangkah perlahan menyusuri jalan setapak yang sudah ia hafal betul sejak kecil, hingga tiba di tempat yang sudah sangat ia kenal—pagar pembatas kebun teh yang sangat luas dan terawat rapi.

Hamparan kebun teh itu membentang menuruni lereng bukit, daun-daunnya yang hijau gelap berkilau terkena sinar matahari sore. Angin berhembus lembut, membawa serta aroma khas teh yang harum dan menenangkan. Nadia berhenti sejenak, bersandar pada pagar kayu tua yang sudah mulai lapuk dimakan waktu, dan menatap ke dalam hamparan hijau itu.

Kebun teh milik Kakek Santoso... batinnya.

Kakek Santoso, ayah dari ayahnya Aga, alias kakeknya Aga adalah pemilik tanah terluas di desa itu. Ia adalah orang yang baik hati dan dihormati warga, meski keluarganya kini sudah tinggal menetap di kota besar. Dulu, saat Aga masih berusia sekitar tujuh tahun, ia dibawa ke sini untuk tinggal dan bersekolah selama beberapa tahun, karena orang tuanya sibuk mengurus bisnis.

Saat itu, Nadia baru berusia enam tahun. Ia masih ingat betul bagaimana seorang anak laki-laki berambut ikal, berpakaian lebih rapi dari anak-anak desa lainnya, sering kali terlihat sendirian menjelajahi kebun teh itu. Nadia yang penasaran dan berani, akhirnya mendekatinya, mengajaknya bermain, dan sejak saat itu mereka menjadi teman yang tak terpisahkan.

Kenangan itu melayang masuk dengan jelas, seolah baru terjadi kemarin.

Ia teringat bagaimana mereka sering berlari-lari kecil di antara barisan tanaman teh, tertawa lepas tanpa beban. Aga yang saat itu sudah terlihat tegas dan pendiam, sering kali menjadi pelindungnya saat ia takut melewati semak-semak yang lebat. Mereka sering duduk di atas batu besar di tengah kebun, berbagi makanan ringan yang dibawa Nadia dari rumah, dan bercerita tentang apa saja yang terlintas di pikiran anak-anak.

"Suatu hari nanti, aku akan punya kebun teh sendiri yang lebih besar dari ini," ucap Aga saat itu dengan mata berbinar penuh impian. "Dan kamu boleh datang kapan saja, Nadia. Tempat ini akan selalu terbuka untukmu."

Nadia tersenyum tipis mengingat ucapan itu, senyum yang perlahan berubah menjadi getir dan menyakitkan.

Mereka berpisah saat Aga harus kembali ke kota untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Bertahun-tahun tidak bertemu, hingga takdir mempertemukan mereka kembali dalam dunia yang berbeda, dalam posisi yang tidak lagi sama seperti saat mereka masih kecil. Anak laki-laki yang dulu ia kenal kini telah menjadi pewaris kerajaan bisnis, memiliki masa depan yang sudah ditentukan, dan terikat pada janji yang tidak bisa diingkari.

Angin sore kembali berhembus lebih kencang, menerpa wajah Nadia dan membuat rambutnya terurai sedikit. Ia mengusap lembut perutnya yang kini mulai terlihat sedikit membulat, tanda bahwa nyawa kecil itu terus tumbuh di dalam sana.

"Kakek buyutmu... beliau tinggal di sini, Nak," bisiknya lirih, suaranya hanya terdengar oleh angin. "Dan Ayahmu juga pernah bermain dan tumbuh besar di tempat ini. Dulu, saat kami masih kecil, dia sering bercerita tentang impiannya. Siapa sangka jalan hidup kami akan berubah sejauh ini...."

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes perlahan, mengalir turun membasahi pipinya. Bukan air mata kesedihan semata, tapi campuran antara rindu yang mendalam, rasa terima kasih atas kenangan indah yang pernah dimiliki, dan keteguhan hati untuk melanjutkan hidup.

Di tempat yang sama, di tanah yang pernah menjadi saksi persahabatan mereka, Nadia merasa seolah ada bagian dari Aga yang masih tertinggal di sini. Mungkin itulah sebabnya ia merasa lebih tenang, seolah takdir membawanya pulang ke akar yang sama, meski takdir memisahkan mereka di masa kini.

"Kita akan hidup dengan baik di sini," lanjutnya berbisik pada anaknya. "Di tempat yang pernah menjadi rumah bagi ayahmu juga. Mungkin suatu hari nanti, jika dia tahu keberadaanmu, dia akan mengerti. Tapi untuk saat ini, kita cukup berdua saja, ya. Kita akan menjaga satu sama lain, seperti yang Mama janjikan."

Ia berdiri tegak kembali, mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu menatap jauh ke arah matahari yang perlahan terbenam di balik puncak bukit. Langit yang mulai berwarna jingga keunguan terasa indah dan damai. Di sini, di antara kenangan masa kecil dan harapan untuk masa depan, Nadia merasa siap menghadapi apa pun yang akan datang.

Meskipun jarak memisahkan mereka, meski takdir membawa mereka ke jalan yang berbeda, kenangan di kebun teh ini akan selalu menjadi tempat di mana cinta mereka dimulai—dan tempat di mana kehidupan baru mereka kini tumbuh dengan tenang.

1
sutiasih kasih
jgn smpe km brjumpa dgn mereka nad.....
demi hrga dirimu...
sutiasih kasih
dri prnikahan aga & jenna slm 8 th... apakah mereka sdh punya keturunan thor??
sutiasih kasih
kakek santoso kn msih ada anak n menantu jga cucu.... msa iya g ada yg sering mngunjungi beliau di desa..🤔🤔
sutiasih kasih
harusnya jgn km ambil uang itu nad....😔😔
sutiasih kasih
mario mario.... km jga cm kacung keluarga santoso..... tpi sikapmu dlm merendhkn org lain.... seolah km orang paling kaya tiada tandingan🙄🙄
Rdznr
Semoga raka jadi anak yg hebat. buktiin ke kluarg santoso kamu bs sukses tanpa mereka💪
Rdznr
lanjuuuut😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!