NovelToon NovelToon
Ketika Rekor Bertemu Rindu

Ketika Rekor Bertemu Rindu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:149
Nilai: 5
Nama Author: Ella

Rindu Prameswari memiliki segalanya rekor nasional, popularitas, dan masa depan yang cerah. Setidaknya begitulah yang dilihat orang lain. Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali berdiri di atas balok start, Rindu merasa seperti boneka yang hidup untuk memenuhi harapan keluarganya.

Saat konflik dengan ayah dan ibu tirinya semakin memburuk, performa Rindu mulai menurun. Demi menyelamatkan kariernya, ia dikirim ke program pelatihan khusus yang dipimpin oleh seorang pelatih muda bernama Kenzo Adhyaksa.

Kenzo berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Rindu. Ia tidak peduli dengan medali, rekor, atau nama besar keluarga Prameswari.

"Kalau tidak ada lomba, tidak ada rekor, dan tidak ada tuntutan keluarga... apa yang sebenarnya Rindu inginkan?"

Pertanyaan sederhana itu justru menjadi awal perubahan terbesar dalam hidup Rindu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

"Ih, sakit, Kak!" protes Rindu langsung, wajahnya auto cemberut. Ia refleks memundurkan kepala sambil mengelus-elus pucuk kepalanya yang baru saja diketuk pelan oleh Kenzo. Matanya mendelik tajam, mencoba memberikan tatapan mengintimidasi yang sayangnya malah terlihat menggemaskan di mata pelatihnya itu.

Kenzo hanya membalas protes itu dengan kekehan renyah, sama sekali tidak merasa bersalah. Ia melipat kedua tangan di dada, memamerkan senyum asimetrisnya yang super tengil.

"Buruan sana ganti baju. Kakak tunggu di sini," ujar Kenzo sengaja menekan kata 'kakak' dengan nada yang dibuat-buat manis, bermaksud menggoda balik Rindu yang mulai berani meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka.

Rindu yang mendengar penekanan kata tersebut langsung merasakan desiran aneh di dadanya. Pipi cewek itu mendadak terasa hangat. Gak sudi memperlihatkan kalau dirinya salah tingkah, Rindu buru-buru menyambar tas olahraganya dengan hentakan kesal yang dramatis.

"Iya, iya! Gak usah pakai 'kakak' juga kali, geli dengernya!" ketus Rindu sambil memutar tubuhnya cepat-cepat menuju ruang ganti.

Kenzo menatap punggung Rindu yang menjauh dengan gelengan kepala sambil tersenyum tipis. Begitu bayangan gadis itu menghilang di balik pintu ruang ganti, ekspresi santai di wajah Kenzo perlahan berubah menjadi serius. Ia menatap papan klip di tangannya, meneliti lembar program latihan khusus yang sudah ia rancang semalaman.

Hari ini bukan cuma soal melatih fisik, tapi Kenzo berkomitmen penuh untuk membantu Rindu mengikis habis trauma airnya. Di bawah pengawasannya, sang Ratu Lintasan harus kembali bersinar tanpa ketakutan lagi.

Begitu pintu ruang ganti tertutup rapat di belakangnya, Rindu langsung menyandarkan punggungnya ke daun pintu. Tas olahraga yang ia pegang merosot begitu saja ke lantai.

Deg... deg... deg...

Dada Rindu bergemuruh hebat, berdetak dengan ritme yang jauh lebih cepat dari biasanya. Ia refleks menyentuhkan telapak tangannya ke dada, mencoba meredam debaran yang terasa begitu kencang hingga membuatnya sedikit sulit bernapas.

"Gila... lo kenapa sih, Rin?" bisiknya pada diri sendiri, menatap langit-langit ruang ganti dengan frustrasi.

Ini bukan pertama kalinya jantung Rindu berpacu cepat. Sebagai seorang atlet, ia sudah terbiasa dengan pacuan adrenalin menjelang pertandingan. Tapi debaran kali ini sama sekali berbeda. Ini bukan karena ketakutan akan air, bukan pula karena tuntutan kompetisi.

Bayangan tubuh atletis Kenzo yang basah di bawah siraman matahari pagi tadi mendadak berputar kembali di kepalanya, disusul oleh suara berat cowok itu saat memanggil dirinya sendiri dengan sebutan 'Kakak'. Sialan, nada suara Kenzo yang tengil tapi terdengar begitu intim itu benar-benar sukses mengacaukan sistem pertahanan diri Rindu.

"Sadar, Rindu! Dia itu pelatih lo! Dia itu mantan juara dunia yang lagi bantuin lo lepas dari trauma, gak usah lebay!" omel Rindu pada refleks bayangannya di cermin besar ruang ganti.

Ia memandangi wajahnya di cermin. Kedua pipinya ternyata sudah merona merah seperti kepiting rebus. Rindu langsung membuka keran wastafel, membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali untuk menenangkan diri dan membuang semua pikiran aneh yang mendadak memenuhi otaknya.

Setelah beberapa tarikan napas panjang, Rindu mulai mengganti pakaiannya dengan baju renang profesional. Sambil mengikat rambutnya tinggi-tinggi, ia memaksakan fokusnya kembali. Badai di luar kolam sudah selesai semalam berkat Kenzo, dan sekarang adalah waktunya bagi dia untuk membuktikan di depan sang legenda bahwa dia layak menjadi atlet bimbingannya.

Rindu membuka pintu ruang ganti dengan tatapan yang kembali tajam, siap menghadapi air kolam dan pelatihnya yang menyebalkan itu.

Begitu Rindu melangkah mendekat dengan baju renang profesionalnya, atmosfer di tepi kolam langsung berubah. Kenzo tidak lagi menampakkan senyum tengil yang tadi membuat pipi Rindu merona. Ekspresinya kini berganti menjadi sangat fokus dan profesional, layaknya seorang pelatih kelas dunia yang siap mencetak juara.

"Lakukan pemanasan terlebih dahulu," perintah Kenzo langsung begitu Rindu berdiri di hadapannya. Tatapan matanya menyapu postur tubuh Rindu, memastikan atletnya siap secara fisik.

"Lakukan seperti yang biasa kakak ajarkan di darat dulu, setelah itu baru lanjut ke kolam," sambung Kenzo. Suaranya terdengar begitu berat namun menenangkan.

Rindu sempat terpaku sesaat. Ia tidak membantah sama sekali, sebuah pemandangan langka mengingat betapa keras kepalanya gadis itu biasanya. Ada sesuatu yang berbeda di dalam dada Rindu setiap kali mendengar nada bicara itu. Kenzo selalu menjadi sangat lembut ketika ia menyebut dirinya sendiri dengan sebutan "kakak". Sisi protektif dan penuh perhatian dari seorang senior sekaligus pelatih legendaris begitu terasa, membuat Rindu merasa benar-benar dijaga dan aman.

Tanpa banyak bicara, Rindu langsung mengambil posisi di area kering tepi kolam. Ia mulai melakukan gerakan peregangan dinamis, memutar persendian bahu, kaki, dan meregangkan otot-otot intinya persis seperti rutinitas yang pernah diajarkan Kenzo.

Kenzo berdiri tidak jauh dari sana, melipat tangan di dada sambil terus mengawasi setiap detail gerakan Rindu dengan cermat. "Bagus, Rin. Tarik lebih dalam lagi bahunya. Jangan buru-buru, rileks aja."

Di bawah tatapan hangat namun tegas dari pelatihnya, Rindu membuang semua sisa kegugupannya semalam. Fokusnya kini terkunci penuh. Di tempat ini, di pagi yang tenang ini, ia siap menyerahkan rasa takutnya untuk dituntun oleh sang legenda.

Kenzo melangkah mendekat, memotong jarak di antara mereka begitu melihat Rindu menyelesaikan gerakan peregangan terakhirnya. Ia mengetuk-ngetukkan ujung pulpennya ke papan klip, lalu membalik lembar catatan ke sebuah skema latihan baru yang sengaja ia susun secara khusus.

"Ok, perhatikan kakak. Ini menu latihan kamu kali ini," ujar Kenzo. Suaranya rendah namun terdengar sangat fokus, membuat Rindu otomatis menegakkan tubuh dan mengunci pandangannya pada kertas di tangan Kenzo.

Kenzo menunjukkan beberapa baris coretan taktik yang tertulis rapi di sana.

Menu Latihan Hari Ini:

Confidence & Endurance Recovery

Water Feeling (Aklamasi & Ketenangan):

4 X 50 metergaya dada santai.

Goal: Fokus pada regulasi napas yang stabil dan merasakan ritme air, bukan kecepatan.

Main Set (Peningkatan Stamina):

6 X 100 metergaya bebas dengan intensitas bertahap (60\%, 70\%, 85\%).

Setiap kali menyentuh ujung dinding, ambil jeda istirahat 30 detik penuh untuk menenangkan detak jantung.

Trauma Drill (Simulasi Fokus):

Di meter ke-75 pada set terakhir, kakak mau kamu sengaja memperlambat kayuhan dan melakukan floating (mengapung) selama 10 detik sebelum menyelesaikan lap

Goal: Mengontrol pikiran jika tiba-tiba rasa panik itu datang lagi di tengah lintasan.

Kenzo menurunkan papan klipnya, lalu menatap langsung ke dalam manik mata Rindu. Lembut, namun tidak menerima bantahan.

"Kakak gak butuh catatan waktu tercepat kamu hari ini, Rin. Yang kakak butuhin adalah kendali penuh kamu atas tubuh dan pikiran kamu sendiri di dalam air. Kalau di tengah jalan kamu ngerasa dada kamu mulai sesak atau panik, langsung kasih kode tangan ke kakak. Paham?"

Rindu menatap menu latihan itu dengan napas yang agak tertahan. Latihan ini jelas dirancang bukan sekadar untuk melatih fisik atlet biasa, melainkan metode pemulihan mental yang sangat taktis dari seorang mantan juara dunia. Di bawah tatapan penuh keyakinan dari Kenzo, Rindu perlahan menganggukkan kepalanya dengan mantap.

“Baik kak, Rin, akan melakukannya sesuai instruksi kakak”

"Bagus. Itu baru Ratu Lintasan yang kakak kenal," ujar Kenzo, sebuah senyuman bangga terukir di wajahnya yang tegas.

Kenzo melangkah mundur satu langkah, memberikan ruang bagi Rindu untuk bersiap di atas starting block. Tangannya bergerak menekan tombol pada stopwatch yang menggantung di lehernya, bersiap menghitung waktu interval, bukan untuk mengejar rekor kecepatan, melainkan demi menjaga ritme napas Rindu agar tetap aman.

Rindu menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara pagi yang segar, lalu membetulkan posisi kacamata renangnya. Semua debaran aneh dan rasa canggung yang sempat menguasainya di ruang ganti tadi kini menguap, digantikan oleh determinasi tinggi. Ia tidak boleh

mengecewakan pelatih sekalas Kenzo.

"Ambil posisi. Set pertama, fokus ke ketenangan air, Rin. Rasakan setiap kayuhannya," instruksi Kenzo dengan nada suara yang dalam dan menenangkan.

Rindu menekuk lututnya, mencengkeram ujung balok tumpuan, dan memusatkan seluruh fokusnya pada permukaan air kolam yang jernih di bawahnya.

Priiittt!

Bunyi peluit Kenzo melengking memecah keheningan pagi. Di detik yang sama, Rindu meluncur mulus ke dalam air, membelah permukaan kolam dengan gerakan yang rapi. Dari atas tepi lintasan, Kenzo berjalan sejajar dengan ritme berenang Rindu, matanya tidak lepas sedetik pun dari setiap gerakan sang atlet, siap menjadi pelindung terdepannya jika ombak trauma itu kembali datang.

Byurrr!

Rindu memunculkan kepalanya ke permukaan air di ujung lintasan, langsung meraup oksigen dengan rakus. Rambutnya yang basah kuyup menempel di wajah, namun sepasang matanya langsung mendongak menatap Kenzo yang sudah berdiri di tepi kolam tepat di atasnya, sambil menekan tombol stopwatch.

Kenzo berjongkok, menurunkan tubuhnya agar sejajar dengan Rindu, lalu mengulas senyum tipis yang sarat akan rasa bangga.

"Good job, Rin. Kali ini menu latihan yang kakak kasih bisa kamu selesaikan dengan baik," puji Kenzo tulus. Nada suaranya yang lembut dan dalam langsung membuat rasa lelah di dada Rindu sedikit berkurang.

Namun, ekspresi Kenzo sedetik kemudian berubah menjadi lebih serius, khas seorang mentor profesional yang tidak pernah melewatkan detail sekecil apa pun. Ia mengetuk-ngetuk papan klipnya pelan.

"Namun... ada kekurangan yang harus kamu perbaiki," sambung Kenzo, menatap lekat ke arah Rindu.

Rindu yang masih memegangi tepi kolam langsung menegakkan tubuhnya, mendengarkan dengan saksama tanpa menyela.

"Di set kedua dan ketiga tadi, kakak perhatikan kayuhan lengan kiri kamu agak terlalu terburu-buru setiap kali kamu mengambil napas ke arah kanan. Kamu kayak terlalu takut kehabisan udara di dalam air," analisis Kenzo dengan presisi.

Ia mengulurkan tangannya, memberikan gestur gerakan lengan yang benar di udara. "Efeknya, ritme body roll kamu jadi gak seimbang dan stamina kamu terbuang percuma. Di meter-meter akhir, itu yang bikin dada kamu jadi gampang kerasa sesak bukan karena panik, tapi karena sirkulasi oksigen kamu gak efisien."

Kenzo kembali menatap mata Rindu, nadanya melembut namun tegas. "Ingat kata kakak tadi, kan? Kamu gak perlu buru-buru. Air ini bukan musuh kamu, Rin. Percaya sama ritme tubuh kamu sendiri, dan percaya kalau kakak ada di sini buat mastiin kamu aman. Paham?"

Rindu terdiam sejenak. Ia membiarkan tubuhnya mengapung diam di dalam air, sementara otaknya sibuk mencerna dan menganalisis setiap detail koreksi yang baru saja diucapkan oleh Kenzo.

Ia memutar kembali ingatan tentang gerakannya di lintasan tadi. Benar. Kenzo sama sekali tidak salah.

Setiap kali mengambil napas, ada letupan ketakutan kecil di alam bawah sadarnya yang membuat lengan kirinya terburu-buru mengayuh. Ketajaman insting Kenzo dalam membaca detail sekecil itu benar-benar membuat Rindu takjub.

Rindu mendongak, menatap langsung ke sepasang mata teduh milik pelatihnya. Rasa lelah di otot-ototnya mendadak sirna, digantikan oleh kobaran semangat yang membara.

"Bisa Rin lakukan sekali lagi, Kak?" tanya Rindu dengan nada suara yang mantap dan penuh permohonan.

Rindu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas yang sedang ada di genggamannya sekarang. Dilatih secara privat oleh seorang legenda hidup seperti Kenzo Adhyaksa Elvaro adalah impian terbesar yang bahkan mustahil digapai oleh sebagian besar atlet renang profesional di luar sana, walau mereka punya uang segunung sekalipun. Dan sekarang, kesempatan itu ada di depannya. Gengsi Rindu runtuh total, berganti dengan hasrat besar untuk belajar dan berkembang menjadi lebih baik.

Kenzo yang mendengar permintaan itu sempat tertegun sesaat. Ia menatap kilat tekad yang menyala-nyala di dalam matanya Rindu sebuah tatapan murni milik seorang juara yang keras kepala.

Perlahan, senyum bangga kembali terkembang di wajah tampan Kenzo. Ia berdiri tegak, memutar peluit di jarinya, lalu memberikan anggukan mantap.

"Oke. Ambil posisi di ujung lintasan," ujar Kenzo, suaranya kembali dipenuhi aura otoriter seorang pelatih top. "Kakak mau lihat kamu perbaiki kayuhan lengan kiri itu di 2 X 50 meter ini. Fokus, rileks, dan buktikan kalau kamu memang pantas menyandang gelar Ratu Lintasan!"

Byurrr!

Rindu melakukan finish dengan sentuhan tangan yang kuat pada dinding kolam. Begitu kepalanya muncul ke permukaan, ia langsung menarik napas dalam-dalam. Kali ini, tidak ada deru napas yang terengah-engah panik atau dada yang terasa terikat ketat. Sirkulasi udaranya jauh lebih plong, dan tubuhnya terasa mengalir ringan mengikuti arus air.

Koreksi dari Kenzo terbukti magis. Dengan memperlambat sedikit kayuhan lengan kirinya saat mengambil napas, keseimbangan tubuhnya terjaga sempurna, dan staminanya tidak terkuras sia-sia.

Kenzo yang berdiri tepat di atasnya langsung menekan tombol stopwatch. Ia menatap layar digital itu sebentar, lalu beralih menatap Rindu dengan sepasang mata yang berbinar cerah. Sebuah senyuman senang murni, tanpa ada guratan tengil seperti biasanya terukir di wajah tampannya.

"Kalau kamu stabil seperti itu terus, Rin..." Kenzo berjongkok di tepi kolam, mengulurkan tangannya untuk membantu Rindu bertumpu. "...kakak percaya kamu bakal tetap menjadi ratu lintasan. Bahkan, level kamu bisa jauh lebih tinggi dari sekarang."

Rindu mendongak, menyandarkan kedua lengannya di tepi kolam. Mendengar pujian tulus dari seorang legenda yang rekor dunianya belum terpecahkan itu membuat dada Rindu membuncah oleh rasa bangga yang luar biasa. Rasa lelah di sekujur tubuhnya seolah menguap begitu saja digantikan oleh kepuasan yang tiada tara.

"Makasih, Kak," ucap Rindu tulus, kali ini tanpa ada nada ketus atau gengsi yang menahan suaranya. Ia menatap Kenzo dengan binar mata yang penuh rasa hormat. "Semua karena koreksi Kakak tadi tepat banget. Rin baru sadar kalau selama ini Rin selalu buru-buru karena takut."

Kenzo terkekeh pelan, lalu mengacak rambut basah Rindu dengan gemas menggunakan telapak tangannya. "Nah, sadar kan sekarang? Makanya, jangan keras kepala lagi kalau dikasih tahu sama pelatihnya yang pintar ini. Sekarang naik, latihan buat hari ini selesai. Kamu harus langsung keringin badan sebelum masuk angin."

__bersambung__

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!