Nadia Prameswari, ibu tunggal driver ojek, terpaksa menikah lagi dengan mantan suaminya Rafi Santoso demi biaya transplantasi sumsum tulang putrinya Aira yang menderita leukemia. Kembali ke rumah keluarga Santoso, ia harus menghadapi Selin yang menggantikan posisinya, dan anak laki-lakinya Raka yang sudah membencinya. Rafi yang dingin terus menghinanya, tapi Nadia hanya punya satu tujuan: menyelamatkan nyawa Aira dengan cara apa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13 - Aira Pulang
Aira boleh keluar rumah sakit tiga hari kemudian.
Bukan karena sembuh.
Dokter Damar menekankan itu berkali-kali.
"Ini hanya pulang sementara. Kondisinya masih harus dipantau ketat. Obat tidak boleh terlambat. Kalau demam naik, mimisan, muntah darah, atau lemas berlebihan, langsung kembali ke IGD."
Nadia mengangguk sambil mencatat.
"Lingkungan rumah harus bersih. Jangan terlalu banyak kontak dengan orang yang sedang sakit. Hindari keramaian. Makanannya juga dijaga."
"Baik, Dok."
Aira duduk di ranjang, memeluk boneka kelinci dan boneka beruang dari Selin. Wajahnya tampak lebih cerah karena tahu akan pulang.
"Dokter, Aira boleh ketemu Kak Raka?"
Dokter Damar tersenyum tipis. "Boleh, asal Kak Raka sehat dan tidak kasar."
Aira mengangguk serius. "Kak Raka baik kok."
Nadia menunduk merapikan tas agar wajahnya tidak terlihat.
Dokter Damar melirik Nadia, mungkin paham sesuatu, tapi tidak bertanya.
Rafi mengirim mobil dan sopir. Ia tidak datang karena rapat. Nadia sudah tidak terkejut.
Sepanjang perjalanan ke rumah Santoso, Aira menempel di jendela mobil.
"Mama, rumah Papa besar?"
"Iya."
"Ada taman?"
"Ada."
"Aira boleh main?"
"Kalau dokter sudah izinkan."
"Kak Raka suka gambar?"
"Dulu suka."
"Aira mau kasih gambar."
Nadia memegang tangan putrinya.
"Kalau Kak Raka belum mau main, Aira jangan sedih, ya."
Aira menoleh. "Kenapa?"
"Mungkin dia belum terbiasa."
"Tapi Aira adiknya."
Nadia tersenyum tipis.
Di dunia anak kecil, darah seharusnya cukup untuk membuat orang saling sayang.
Mobil berhenti di depan rumah. Bi Sari sudah menunggu di teras bersama dua ART lain. Wajahnya tampak cemas tapi berusaha ramah.
"Non Aira, selamat datang."
Aira tersenyum malu. "Terima kasih, Bi."
Bi Sari langsung meleleh. "Ya Allah, manis sekali."
Nadia mengangkat Aira turun. Tubuh anak itu ringan, terlalu ringan. Ia melangkah pelan memasuki rumah besar yang selama ini hanya ia dengar dari cerita samar ibunya.
"Wah," bisik Aira.
Matanya membesar melihat lampu gantung, tangga melingkar, dan ruang keluarga yang luas.
"Mama dulu tinggal di sini?"
"Iya."
"Mama kayak putri."
Nadia hampir tertawa.
"Tidak juga."
Raka muncul dari arah ruang keluarga sambil memegang tablet. Ia berhenti ketika melihat Aira.
Wajahnya langsung berubah.
"Ngapain dia ke sini?"
Aira memeluk leher Nadia.
"Kak Raka?"
Raka menatapnya dari ujung rambut sampai kaki. "Aku bukan kakak kamu."
Nadia merasakan tubuh Aira menegang.
"Raka," katanya pelan, "Aira baru pulang dari rumah sakit."
"Terus?"
"Bicara baik-baik."
"Aku nggak mau."
Raka menatap Aira dengan jijik yang terlalu dewasa untuk wajah anak lima tahun.
"Tante Selin bilang dia gampang sakit. Nanti aku ketularan."
Bi Sari langsung berkata, "Den Raka, leukemia tidak menular."
Raka memelototinya. "Aku nggak tanya Bi Sari!"
Aira berbisik di telinga Nadia, "Mama, Aira nggak nularin kok."
Hati Nadia seperti diremas.
"Mama tahu."
Saat itu Rafi masuk dari pintu utama. Rupanya ia baru tiba. Di belakangnya ada Selin, membawa tas kecil dan sekotak kue.
"Ramai sekali," kata Rafi.
Aira langsung menoleh. "Papa!"
Rafi melihat Aira di gendongan Nadia. Ia tampak sedikit kikuk, tapi mengangguk.
"Sudah pulang?"
"Iya," jawab Aira sendiri. "Dokter bilang Aira boleh pulang sebentar."
Selin maju dengan senyum manis. "Aira, Tante bawakan kue. Tapi nanti tanya Mama dulu ya boleh makan atau tidak."
"Terima kasih, Tante."
Raka mendengus. "Tante Selin, jangan dekat-dekat. Nanti ketularan."
Selin cepat-cepat berkata, "Raka, jangan ngomong begitu. Kasihan Aira."
Tapi nada lembutnya tidak cukup tegas. Bahkan terdengar seperti memberi panggung untuk Raka mengulang.
Rafi mengerutkan dahi. "Raka, minta maaf."
Raka langsung marah. "Kenapa aku harus minta maaf? Aku cuma bilang yang benar!"
"Leukemia tidak menular," kata Nadia.
"Kata siapa?"
"Dokter."
"Dokter bisa bohong!"
Nadia menatap Rafi.
Rafi memijat pelipis. "Raka, cukup."
Cukup.
Selalu cukup.
Bukan maaf.
Bukan penjelasan.
Bukan didikan.
Hanya cukup, seperti menutup suara yang mengganggu.
Aira menurunkan kepala ke bahu Nadia.
"Mama, Aira capek."
"Kita ke kamar."
Rafi berkata, "Kamar tamu lantai dua sudah disiapkan."
Nadia menatapnya. "Kamar yang mana?"
"Yang dekat ruang linen. Lebih tenang."
Nadia tahu ruangan itu.
Kecil. Jauh dari kamar utama. Dulu dipakai menyimpan perlengkapan musim hujan dan koper.
"Aira butuh kamar bersih dengan ventilasi baik."
"Sudah dibersihkan."
Selin tersenyum. "Aku tadi bantu cek, Mbak. Kamarnya nyaman kok. Memang tidak terlalu besar, tapi hangat."
Nadia menatapnya.
"Kamu yang pilih?"
Selin tampak tersinggung. "Aku cuma membantu."
Rafi berkata, "Nadia, jangan mempermasalahkan semua hal."
Aira mengangkat kepala. "Mama, nggak apa-apa. Aira suka kamar kecil."
Nadia menatap putrinya.
Anak itu sedang mencoba menyelamatkan semua orang dari rasa bersalah.
Seperti biasa.
"Baik," kata Nadia.
Ia membawa Aira naik.
Kamar itu memang sudah dibersihkan. Ada ranjang kecil dengan seprai baru, meja samping, dan lampu tidur berbentuk bulan. Tapi jendelanya kecil. AC-nya tua. Bau kapur barus masih tertinggal di lemari.
Aira justru tampak senang.
"Mama, lihat! Ada lampu bulan."
Nadia meletakkannya di ranjang. "Suka?"
"Suka banget."
"Kalau kurang nyaman, bilang Mama."
"Nyaman kok. Ini kamar Aira di rumah Papa."
Nadia menggigit bibir.
Rumah Papa.
Bukan rumah kita.
Aira membuka tas kecilnya dan mengeluarkan gambar keluarga. Ia menaruhnya di meja samping.
"Biar Papa lihat kalau masuk."
Nadia duduk di tepi ranjang.
"Aira, kalau Papa sibuk..."
"Papa pasti lihat nanti."
Nadia tidak melanjutkan.
Malam itu, Rafi tidak masuk.
Yang masuk justru Selin, membawa segelas susu hangat.
"Mbak Nadia, ini untuk Aira. Aku minta Bi Sari bikin."
Nadia menerima gelas itu, lalu mencium aromanya.
"Ada madu?"
"Sedikit. Biar enak."
"Aira belum boleh minum sembarangan setelah obat."
Selin tampak malu. "Oh. Maaf, aku nggak tahu."
"Sekarang kamu tahu."
Selin menunduk. "Mbak selalu dingin sekali padaku. Padahal aku benar-benar ingin membantu."
Aira yang setengah tidur membuka mata.
"Tante jangan sedih."
Selin langsung mendekat. "Aira baik sekali."
Nadia menahan tangannya sebelum menyentuh Aira.
"Dia harus tidur."
Selin terdiam, lalu tersenyum kaku.
"Baik. Selamat malam."
Setelah pintu tertutup, Aira berbisik, "Mama marah sama Tante Selin?"
"Tidak."
"Tante Selin baik."
Nadia menyelimuti putrinya.
"Aira tidur."
"Kak Raka besok mau main sama Aira?"
Nadia tidak menjawab langsung.
"Kita lihat besok."
Aira memejamkan mata, masih dengan senyum kecil.
Di luar kamar, Nadia mendengar suara Raka tertawa bersama Selin dari lantai bawah.
Ia mematikan lampu utama, hanya menyisakan lampu bulan.
Cahayanya lembut sekali.
Tapi kamar itu tetap terasa sempit.
Seperti harapan yang dipaksa muat di tempat yang tidak pernah disiapkan untuknya.
Nadia duduk di lantai setelah Aira benar-benar tidur.
Ia membuka koper kecil dan menata obat sesuai jam minum. Obat pagi di sisi kiri, obat malam di sisi kanan. Termometer, masker cadangan, tisu basah, hand sanitizer, dan buku kontrol ia letakkan di laci paling atas.
Setelah itu, ia mengeluarkan kain lap dan membersihkan lagi meja, gagang pintu, bingkai ranjang, bahkan sakelar lampu.
Ia tahu Bi Sari sudah membersihkan semuanya.
Tetap saja ia melakukannya.
Karena di rumah ini, satu-satunya hal yang bisa ia kendalikan hanya permukaan benda-benda kecil di sekitar Aira.
Tengah malam, Rafi mengirim pesan.
[Aira sudah tidur?]
Nadia menatap pesan itu.
Balasan yang ingin ia kirim terlalu banyak.
Kamu bisa naik dan melihat sendiri.
Kamu bisa mengetuk pintu.
Kamu bisa bertanya pada anakmu langsung.
Tapi akhirnya ia hanya mengetik:
[Sudah.]
Rafi tidak membalas lagi.
Nadia meletakkan ponsel di samping lampu bulan. Cahaya kecil itu menyentuh wajah Aira yang tidur. Di bawah cahaya itu, putrinya tampak seperti anak biasa.
Sehat.
Tenang.
Dicintai.
Nadia duduk di samping ranjang sampai punggungnya sakit, menjaga kebohongan kecil itu tetap hidup beberapa jam lagi.
Sampai pagi datang.
Sampai Aira membuka mata dan bertanya lagi apakah Papa sudah melihat gambar di meja.
Nadia harus siap berbohong lembut.