NovelToon NovelToon
TERJEBAK DI ANTARA DUA CERITA

TERJEBAK DI ANTARA DUA CERITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:333
Nilai: 5
Nama Author: Rhin Pasker

Dua penulis rival.
Dua dunia cerita.
Dua takdir yang seharusnya tidak pernah bertemu.
Namun sebuah kecelakaan mengubah segalanya mereka terlempar ke dalam dunia novel yang mereka ciptakan sendiri.
Mo Chen, pangeran ketiga yang dianggap lemah namun menyimpan kekuatan tersembunyi.
Gu Yanran, putri panglima perang yang difitnah dan ditakdirkan mati demi politik kekaisaran.
Masalahnya… mereka tidak masuk ke dunia mereka sendiri.
Mereka masuk ke dunia satu sama lain.
Dan ketika dua cerita yang berbeda mulai menyatu, alur yang seharusnya sudah ditentukan mulai retak.
Kini tidak ada lagi naskah yang pasti.
Hanya satu pertanyaan yang tersisa:
Apakah mereka bisa mengubah akhir… sebelum cerita mengubah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Draft

Malam telah turun sepenuhnya di ibu kota.

Langit gelap membentang luas, hanya diterangi cahaya bulan yang samar di balik awan tipis. Angin malam berhembus pelan melewati pepohonan di kediaman Jenderal Gu, membuat daun-daun bergesekan lembut. Seluruh kediaman sudah tenggelam dalam keheningan. Para pelayan telah kembali ke kamar mereka masing-masing, lentera-lentera mulai dipadamkan satu per satu, dan hanya para pengawal malam yang masih berjaga di sudut-sudut halaman.

Namun di salah satu kamar yang masih diterangi cahaya lilin redup, Gu Yanran belum juga tidur.

Ia duduk di depan meja kayunya sambil membuka lembaran catatan yang selama ini selalu ia simpan rapat-rapat. Tatapannya serius menelusuri setiap alur cerita yang pernah ia tulis sendiri.

Perlahan, wajahnya berubah tegang.

Tangannya bergerak mengambil kalender kecil di samping meja.

Besok pagi.

Mata Yanran langsung membesar.

“Itu berarti… waktunya sudah tiba…”

Ia berdiri perlahan dari kursinya lalu mulai berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Langkahnya terdengar pelan di lantai kayu.

Murong Meiying akan datang ke kediaman Pangeran Ketiga besok pagi.

Dan di situlah semuanya dimulai.

Yanran masih sangat mengingat bagian itu. Dalam alur cerita asli, Murong Meiying datang dengan alasan sederhana. Namun sejak pertemuan itulah Mo Chen mulai benar-benar memperhatikan sang pemeran utama wanita.

Awalnya hanya rasa tertarik.

Lalu perlahan berubah menjadi cinta.

Dan pada akhirnya… cinta itu membuat Mo Chen rela melakukan apa saja demi Murong Meiying.

Yanran mengepalkan tangannya erat.

“Tidak…”

Ia menggigit bibir pelan.

Kalau semuanya berjalan sesuai alur asli, maka cepat atau lambat Mo Chen akan jatuh cinta pada Murong Meiying.

Dan jika itu terjadi…

Maka ia akan sendirian menghadapi dunia novel ini.

Semakin ia memikirkannya, semakin gelisah hatinya.

“Kenapa semuanya mulai bergerak sesuai cerita…”

Yanran kembali berjalan mondar-mandir.

Perasaannya kacau.

Ia sendiri tidak tahu kenapa hatinya terasa tidak nyaman hanya karena memikirkan Mo Chen akan jatuh cinta pada wanita lain.

Apakah karena ia takut kehilangan satu-satunya orang yang mengetahui rahasianya?

Atau…

Karena ada perasaan lain yang mulai tumbuh tanpa ia sadari?

Yanran langsung menggeleng keras.

“Tidak mungkin…”

Ia segera menepis pikiran itu.

Namun rasa gelisah di dadanya tetap tidak hilang.

Malam semakin larut.

Suasana kediaman Jenderal Gu makin sunyi.

Yanran akhirnya berhenti melangkah. Tatapannya berubah tegas seolah sudah mengambil keputusan.

“Aku harus memperingatkannya.”

Tanpa ragu ia segera mengambil pakaian hitam dari lemari kecil di sudut kamar. Dengan cepat ia mengganti bajunya lalu menutupi sebagian wajahnya menggunakan kain hitam seperti seorang penyusup malam.

Sesaat kemudian

WHOOSH!

Tubuhnya melompat keluar melalui jendela.

Dengan ringan ia berpindah dari satu atap ke atap lainnya. Gerakannya cepat dan nyaris tanpa suara.

Cahaya bulan menerpa sosoknya yang bergerak lincah di antara bangunan-bangunan ibu kota.

Beberapa saat kemudian, ia akhirnya sampai di kediaman Pangeran Ketiga.

Kediaman itu jauh lebih tenang dibanding biasanya. Para penjaga berjaga di pintu utama, namun Yanran dengan mudah menghindari mereka dan masuk melalui sisi belakang.

Saat ia baru mendarat di atas atap paviliun

“Siapa di sana?”

Suara dingin tiba-tiba terdengar dari dalam ruangan.

Yanran sedikit terdiam.

Ternyata Mo Chen langsung menyadari keberadaannya.

Ia melompat turun perlahan lalu berdiri di luar jendela kamar.

“Ini aku.”

Di dalam ruangan, Mo Chen yang baru saja bangkit dari tempat tidurnya langsung mengernyit.

“Yanran?”

Tak lama kemudian jendela dibuka.

Mo Chen muncul dengan pakaian tidur berwarna gelap. Rambut panjangnya terurai sedikit berantakan, namun wajahnya tetap tampan dan tenang.

Tatapannya langsung jatuh pada sosok berpakaian hitam di depannya.

“Kenapa kau datang malam-malam begini?”

Yanran terdiam beberapa detik sebelum menjawab.

“Ada sesuatu yang perlu kuingatkan.”

Mo Chen menyilangkan tangan di dada lalu bersandar santai di sisi jendela.

“Apa itu?”

Yanran menatapnya serius.

“Jangan pernah jatuh cinta pada pemeran utama wanita.”

Suasana langsung hening.

Mo Chen menatap Yanran beberapa saat sebelum senyum tipis muncul di bibirnya.

“Kau datang jauh-jauh hanya untuk mengatakan itu?”

Yanran langsung mengernyit.

“Aku serius.”

Namun Mo Chen justru tersenyum makin samar.

“Jangan bilang… kau mulai cemburu?”

Tatapan Yanran langsung berubah tajam.

“Kau pikir kau pantas untuk kucintai?”

Jawabannya begitu cepat dan menusuk.

Mo Chen tertawa pelan.

“Mulutmu memang sangat tajam.”

Yanran mendengus kecil sambil memalingkan wajah.

Mo Chen memperhatikannya beberapa saat lalu bertanya lagi dengan nada lebih serius.

“Tidak mungkin kau datang hanya untuk mengatakan itu. Apa yang sebenarnya terjadi?”

Yanran akhirnya menarik napas pelan.

“Besok pagi Murong Meiying akan datang ke kediamanmu.”

Ekspresi Mo Chen sedikit berubah.

“Murong Meiying?”

Yanran mengangguk.

“Dalam alur cerita aslinya, itu adalah awal semuanya.”

Ia menatap Mo Chen dengan serius.

“Dia akan mendekatimu. Menggodamu secara perlahan. Dan dari situlah kau mulai menyadari perasaanmu padanya.”

Mo Chen terdiam cukup lama setelah mendengar penjelasan itu.

Tatapannya perlahan berubah dalam.

Yanran kembali berbicara.

“Karena itu aku datang untuk memperingatkanmu. Jangan sampai semuanya berjalan sesuai alur.”

Mo Chen memandangnya cukup lama sebelum tiba-tiba bertanya,

“Yanran.”

“Apa?”

“Kau benar-benar hanya takut alur cerita kembali berjalan?”

Yanran langsung terdiam.

Untuk sesaat ia tidak tahu harus menjawab apa.

Mo Chen melangkah mendekat perlahan.

“Atau sebenarnya kau takut kehilangan sekutumu?”

Yanran mengerutkan kening.

“Jangan bicara sembarangan.”

Mo Chen tersenyum kecil melihat reaksinya.

Namun sebelum ia sempat menggoda lebih jauh, Yanran kembali berbicara dengan nada serius.

“Ada satu hal lagi yang perlu kupastikan.”

“Apa itu?”

Yanran menatap lurus ke matanya.

“Kau sudah tahu siapa pemeran utama dalam ceritaku. Tapi kau belum pernah memberitahuku siapa pemeran utama di dalam cerita milikmu.”

Ekspresi Mo Chen langsung berubah sedikit aneh.

Ia mengangkat tangan ke dahinya seperti baru mengingat sesuatu.

“Benar juga…”

Ia tertawa kecil.

“Aku hampir melupakannya.”

Yanran langsung menatapnya tajam.

“Kau melupakan hal sepenting itu?”

Mo Chen mengangkat kedua tangannya menyerah.

“Baiklah, baiklah. Aku salah.”

Nada suaranya terdengar santai, namun kemudian ekspresinya berubah lebih serius.

“Di novelku…”

Ia berhenti sejenak.

“Pemeran utamanya adalah sang Kaisar.”

Mata Yanran langsung membesar sedikit.

Mo Chen melanjutkan dengan suara pelan namun berat.

“Seorang Kaisar penuh ambisi… dan berdarah dingin.”

Suasana malam mendadak terasa makin sunyi.

Yanran perlahan mengerutkan kening.

“Jadi… pemeran utama di ceritamu adalah Kaisar?”

Mo Chen mengangguk pelan.

“Dan itu berarti…”

Yanran melanjutkan ucapannya perlahan.

“Musuh kita sama-sama pemeran utama.”

Mo Chen tersenyum tipis pahit.

“Sepertinya begitu.”

Keduanya langsung terdiam.

Angin malam berhembus pelan melewati mereka.

Kini mereka akhirnya menyadari satu hal penting.

Mengubah alur cerita mereka tidak akan semudah yang dibayangkan.

Karena dunia ini selalu berpihak pada pemeran utama.

Dan mereka… justru sedang mencoba melawan tokoh utama dalam cerita masing-masing.

Yanran perlahan menghela napas panjang.

“Cerita ini benar-benar makin rumit.”

Mo Chen menatap langit malam sejenak sebelum berkata pelan,

“Tapi setidaknya kita tidak menghadapinya sendirian.”

Yanran sedikit terdiam mendengar kalimat itu.

Untuk pertama kalinya malam itu, tatapannya sedikit melunak.

Mo Chen kembali memandangnya.

“Sudahlah. Kita pikirkan solusinya bersama-sama.”

Yanran akhirnya mengangguk pelan.

“Ya.”

Suasana di antara mereka perlahan berubah lebih tenang dibanding sebelumnya.

Setelah beberapa saat, Yanran melirik langit malam.

“Aku harus pulang. Hari sudah terlalu larut.”

Ia baru saja hendak berbalik seketika suara Mo Chen menghentikannya.

“Tunggu sebentar.”

Yanran menoleh.

“Ada apa?”

Mo Chen tidak langsung menjawab.

Ia berjalan menuju meja kecil di dekat tempat tidur lalu mengambil sesuatu dari sana.

Yanran sedikit bingung.

“Apa itu?”

Mo Chen kembali mendekatinya sambil membawa sebuah gelang kecil berwarna perak halus.

Yanran langsung mengenalinya.

Itu gelang yang sempat dilihat Mo Chen di pasar saat mereka berjalan bersama beberapa waktu lalu.

“Kau…”

Mo Chen tersenyum tipis.

“Aku membelinya waktu itu.”

Sebelum Yanran sempat bereaksi, Mo Chen perlahan menarik tangan kanannya lalu memasangkan gelang itu di pergelangan tangannya.

Gerakannya lembut.

Dan entah kenapa… Yanran tidak menolaknya.

Ia hanya diam menatap gelang itu.

Cahaya bulan memantulkan kilau lembut dari permukaan gelang perak tersebut.

Untuk sesaat suasana menjadi sangat hening.

Mo Chen memperhatikan wajah Yanran.

Dan ia menyadari sesuatu.

Yanran tidak melepas gelang itu.

Bahkan…

Sudut bibir gadis itu perlahan terangkat membentuk senyum kecil yang samar.

Senyum yang sangat jarang terlihat darinya.

Tatapan Mo Chen sedikit melembut.

Tanpa sadar, bibirnya ikut terangkat tipis.

Mereka berdua sama-sama tidak menyadari bahwa perasaan di antara mereka mulai tumbuh perlahan.

Perasaan yang awalnya hanya kerja sama untuk bertahan hidup…

Kini mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Mo Chen akhirnya melepaskan tangan Yanran perlahan.

“Hati-hati di jalan.”

Yanran menatapnya beberapa detik sebelum mengangguk kecil.

“Ya.”

Sesaat kemudian

WHOOSH!

Tubuh Yanran kembali melompat ke atas atap dan menghilang di bawah cahaya bulan.

Mo Chen tetap berdiri di dekat jendela sambil memperhatikan arah kepergiannya.

Angin malam berhembus pelan melewati rambut panjangnya.

Lalu tanpa sadar, ia tersenyum kecil seorang diri.

Sementara itu, di atas atap yang jauh dari kediaman Pangeran Ketiga, Yanran berlari cepat sambil menahan debar aneh di dadanya.

Tangannya perlahan menyentuh gelang di pergelangan tangannya.

Dan untuk pertama kalinya sejak masuk ke dunia novel ini…

Hatinya terasa sedikit hangat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!