NovelToon NovelToon
Darah Di Bukit Manoreh

Darah Di Bukit Manoreh

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Anak Genius
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BARA DI BUKIT MENOREH

"Serang!" teriak Prabu Wijaya, suaranya menggema menyalakan api semangat para prajurit.

"Wooo!" Teriakan para prajurit memecah keheningan malam.

Adipati Sengko dan Punggawa Buksa sudah menunggu serangan di puncak Bukit Menoreh.

Seratus prajurit pemanah bersiap, sementara pasukan lain tetap maju menyerang.

"Panah!" teriak Prabu Wijaya.

Wush! Seratus anak panah terbang ke udara. Punggawa Buksa menatap anak-anak panah itu dengan tatapan tajam. Lalu ia melompat ke udara.

Tubuh kekarnya menunggu anak panah di satu titik. Tepat di waktu yang tepat, ia mencabut pedang yang ia beri nama Getih Abang — pedang berwarna merah darah. Ia menggerakkan tangannya, mengalirkan ilmu tenaga dalam inti.

Srek! Sekali tebasan, seratus anak panah itu langsung berguguran. Bahkan patahannya kini berbalik menyerang pasukan musuh.

Prabu Wijaya menggeram marah. Rahangnya mengeras. Ia tak menyangka satu manusia mampu menumpas seratus anak panah hanya dengan sekali tebas.

"Panah lagi! Buat dua kali serangan!" teriaknya, matanya tak lepas dari pria yang masih melayang di udara.

Pasukan pemanah langsung membentuk formasi, memanah bergantian. Dua puluh panah melesat. Lalu sepuluh anak panah menyusul.

Sekali tebasan lagi, panah-panah yang menyerang berguguran. Bahkan patahan-patahannya malah melukai pasukan mereka sendiri.

"Aarggh!" Teriakan para prajurit dari Kerajaan Jalapati pecah menahan kesakitan.

Panah-panah yang patah menghujam tubuh-tubuh mereka. Banyak prajurit terluka. Prabu Wijaya makin murka. Ia memacu kudanya, binatang itu langsung melesat maju ke arah pasukan pemanah.

Ia merampas salah satu panah, lalu berteriak.

"Panah!" teriaknya.

Sembilan puluh sembilan anak panah melesat kembali. Prabu Wijaya menarik tali panahnya sendiri, mencari celah.

Tepat saat Punggawa Buksa menyabet panah-panah yang menyerang, Prabu Wijaya melesatkan panahnya dengan ilmu tingkat tinggi.

Ketika hujan panah berhasil dihalau, Punggawa Buksa tak menyadari satu panah susulan tengah meluncur ke arahnya.

"Buksa!" teriak Sengko, menyentil sebuah batu ke arah panah yang melesat.

Panah rahasia Prabu Wijaya membelah udara malam.

Wusss!

Panah itu hampir tak mengeluarkan suara. Bahkan hawa murninya sengaja disembunyikan di balik hujan panah pasukan Jalapati. Sebuah serangan yang sangat licik.

Namun Buksa bukanlah punggawa yang baru sehari malang melintang di dunia persilatan. Serangan curang seperti itu bukan hal besar yang mampu merenggut nyawanya.

Matanya menangkap dengan jelas — tepat saat tangannya mengayun pedang, sebuah anak panah hendak menancap dadanya. Buksa memutar Getih Abang dan ...

Trang! Percikan api tercipta dari benturan besi. Serangan curang itu gagal.

Sementara di tempat yang jauh dari medan perang, derap langkah kuda memecah keheningan malam. Sosok tampan berbalut pakaian kerajaan menunggangi kuda berwarna coklat — Putra Mahkota Aryo Seto Wijaya, wajahnya cerah, mengarahkan kudanya menuju istana Jalapati.

Di sisi lain, di rumah pribadi Buksa, Dayang Hayatri baru saja selesai mengemasi seluruh pakaiannya. Wajahnya sendu, penuh penyesalan. Perselingkuhannya dengan Sentot telah terendus oleh Buksa sendiri.

Ketika tangannya meraba bawah bantal, wajahnya tiba-tiba berubah pucat. Ia melempar bantal itu ke sembarang arah.

"Senjata itu ...," matanya melebar. Tubuhnya bergetar hebat. Kepalanya menggeleng pelan.

"Tidak ... Kalau Gusti Punggawa yang menemukan benda itu, kepalaku sudah dari tadi terlepas dari tubuh ini!" Ia sangat yakin.

"Ini ... ini pasti terselip ... Iya, pasti!"

Kembali ke penunggang kuda — Putra Mahkota tiba di halaman istana. Ia langsung turun dari kudanya dan disambut oleh adiknya sendiri.

"Dimas, mana Ayahanda Raja?" tanya Aryo Seto.

"Kangmas, Ayah sedang berperang, ingin merebut wilayah selatan Bukit Menoreh. Kata Ayah, bila Kangmas datang, Kangmas langsung diminta turun tangan!" jawab Arya Seta.

"Apa? Kerajaan mana yang berani menguasai bagian selatan Bukit Menoreh?" tanya Aryo, gusar.

"Kerajaan Kali Ireng," jawab Arya.

Rahang Aryo mengeras. Hampir lima belas tahun ia mengembara, menggali ilmu kanuragan di Gunung Lawu. Ketika pulang, Bukit Menoreh sudah berpindah tangan ke kerajaan lain.

"Baik, Dimas. Aku akan menyusul Ayah!" ujarnya, matanya berkilat.

Aryo kembali menunggangi kudanya. Pemuda itu menghentak tali kekang, dan binatang itu langsung melesat cepat ke arah bukit.

Arya menatap debu yang terangkat di belakang kuda yang berlari. Tangannya mengepal kuat. Sebagian kebenaran tidak ia laporkan kepada sang kakak. Ia menjaga rasa malu — sebab peperangan itu bermula dari ulahnya sendiri.

Kembali ke puncak bukit. Serangan gagal Prabu Wijaya, membuat pria itu langsung melompat dari punggung kudanya. Ia menyerang Punggawa Buksa.

"Heeaaaa!" teriaknya lalu menarik golok.

Trang! Dua benda besi kembali beradu. Dua kekuatan besar tengah bertarung. Para prajurit lain menunggu perintah sang raja.

Kebodohan seorang panglima yang tak berani mengambil alih pasukan. Bukannya melanjutkan serangan, mereka malah menunggu.

Sedangkan di pihak Kali Ireng, Sengko juga tak menggerakkan pasukannya.

"Jangan menyerang!" teriaknya.

"Tapi Adipati. Kita harus pukul mundur pasukan musuh. Dengan begitu, pasti pimpinan perang juga akan kalah!"

Pertempuran di udara berlangsung sengit antara seorang raja dan punggawa berilmu sakti.

"Tidak ada serangan jika tidak ada yang menyerang. Itu titah dari Sri Baginda Raja!" sahut Sengko tegas.

Panglima itu pun terdiam, ia pun hanya jadi penikmat pertarungan yang begitu epik dimainkan di udara.

Dua pendekar sakti mandraguna. Prabu Wijaya memiliki ilmu serat jiwa yang sangat mematikan. Begitu juga Punggawa Buksa, ia juga memiliki pukulan tapak suci yang mampu menjebol dada lawan hingga jantung musuh hancur.

Namun, pertarungan yang disertai kemarahan. Tidak akan menuai kemenangan. Itulah yang dirasakan oleh Prabu Wijaya.

Ia menyerang dengan membabi-buta. Begitu berapi-api dan ingin segera membunuh musuh.

Sementara Buksa yang diserang, menghindari semua serangan yang mematikan itu dengan sangat mudah.

Keringat mulai menetes, dada Prabu Wijaya mulai sesak karena nafas mulai habis. Matanya pun sudah berkunang-kunang. Ia terlalu lama berada di udara, di puncak bukit dan sedang bertarung dengan ilmu kanuragan mumpuni.

Tekanan udara yang tipis, serangan yang semuanya sia-sia. Juga emosi yang membakar. Membuatnya ia lekas kelelahan.

Trang! Prak! Dua senjata tajam dari besi beradu ... Satu senjata patah dan jatuh ke bawah.

Tubuh Prabu Wijaya yang kelelahan nyaris oleng jika, Buksa tak segera menahan bahu pria itu.

"Turunlah Prabu!" suruh Buksa tenang.

Nafas penguasa musuh itu mulai memburu. Perlahan, Buksa menuntun Raja dari musuh itu turun ke pasukannya.

Tangan Prabu yang memegang goloknya yang patah. Ditarik perlahan oleh Buksa, lalu golok patah itu ia tempelkan ke bahunya.

Srek! Semua mata membelalak sempurna, Buksa melukai sendiri bahunya dengan. golok yang ada di tangan raja mereka.

"Aku akan menuntut atas luka ini, Prabu!" ujar Buksa lalu melesat meninggalkan seluruh pasukan musuh.

"Ayah!" Aryo baru tiba, ia terkejut melihat semua prajurit seperti terhipnotis oleh sesuatu, begitu juga ayahnya.

Ia turun dari kudanya dan menghampiri sang ayah.

"Ayah ... Bagaimana! Apa kita kembali menyerang?"

Prabu Wijaya menoleh pada sang putra. Ia baru saja dibuat malu tapi dengan cara yang tak pernah ia pikirkan.

"Kita pulang Nak. Ayah baru saja melukai musuh," ujarnya lirih sambil menunjukkan golok patahnya yang ada setetes darah di sana.

Bersambung.

Ih ... Keren Punggawa Buksa!

next?

1
Anita Barus
Srikandi jengkel PD petinggi istana yg membela kebo Ireng hingga dia menyerah kan benda temuan nya .
vania larasati
lanjut
Benny Badaruddin
adiknya keknya terbuat dari tanah sengketa 😄🤣🤣🤣
Benny Badaruddin
ternyata seperti itu 🤭
Eni Istiarsi
sedikit demi sedikit kebenaran mulai menemukan jalannya
Anita Barus
Srikandi hebat y bisa menciptakan ilmu send8ri
Benny Badaruddin
keren Ki abda👍
vania larasati
lanjut
Deyuni12
hmm
Deyuni12
huaaaa
emang enak ketahuan semua kejahatan dirimu hayatri
Anita Barus
lanjut Thor tumpas habis penghianat
vania larasati
lanjut
Eni Istiarsi
diam diam Nyi Padan Laran sepertinya menjadi tokoh kunci terbunuhnya Ki Abda
Deyuni12
makin seru n menegangkan
Deyuni12
lanjutan
Benny Badaruddin
seru dan menarik lanjut
vania larasati
lanjut
vania larasati
lanjutt
vania larasati
lanjut
Anita Barus
seru juga serem lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!