Lahirnya seorang pangeran yang cerdas dan berbakat seharusnya menjadi keberuntungan suatu kerajaan ataupun kekaisaran, tetapi yang terjadi justru keberadaannya dianggap sebagai ancaman nyata oleh berbagai pihak yang mendambakan kekuasaan semu.
Melalui sebuah konspirasi, sang pangeran harus mengalami musibah. Ia yang sebelumnya dikenal cerdas dan berbakat, berakhir menjadi seorang pangeran yang tidak berguna.
Dengan kondisinya itu, sang pangeran diusir dari istana dan dibuang ke Gerbang Timur, tempat di mana para keluarga istana yang dianggap sampah diasingkan.
Namun, di balik musibah yang terjadi, Gerbang Timur menjadi titik balik kebangkitan sang pangeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nenek Tua
Paviliun Hitam Gerbang Timur.
Tidak heran jika seorang perempuan dipercayakan dalam penataan ruang, hasilnya akan sangat baik jika dibanding dengan seorang lelaki yang biasanya berpikir sederhana. Ruang paviliun yang sebelumnya melompong, kini dipenuhi oleh deretan kursi kayu yang berderet rapi. Pernak-pernik pun nampak menghiasi dinding kayu.
Sederhana namun elegan, itulah yang ada di benak Qin Zhao yang sedari tadi terus memperhatikan hasil kerja pelayannya itu. Sesekali ia mengangguk puas melihat penataan yang begitu rapi.
“Istirahatlah! Beberapa hari ini kau sudah bekerja cukup keras,” ujar Qin Zhao yang duduk di pojokan sambil memainkan kuda kayu hasil ukirannya.
“Terima kasih, Tuan,” sahut Zhi Ruo sambil menepuk kedua tangannya yang kotor.
Wanita cantik itu kemudian berbalik dan menyembur menghampiri Qin Zhao yang asyik memainkan kuda kayu. Ia terus menyunggingkan senyumnya meski dalam kondisi lelah sehabis bekerja.
Ada rasa penasaran yang sejak lama membuncah di hatinya. Ia ingin sekali melihat wajah tuannya itu. Namun, keberaniannya masih belum cukup untuk mengungkapkan isi hati.
“Aku hanya akan berada di balik layar. Jadi, segala sesuatunya aku serahkan kepadamu,” ucap Qin Zhao begitu melihat Zhi Ruo sudah berdiri di dekatnya.
“Terima kasih atas kepercayaannya, Tuan,” sahut Zhi Ruo.
“Hari-hari berikutnya kau akan disibukkan oleh tamu-tamu yang datang.” Qin Zhao berdiri dan menepuk lembut kedua bahu Zhi Ruo. “Jadi, cepatlah merekrut orang untuk bekerja di sini!”
“Baik, Tuan.”
***
Sehari sebelum paviliun dibuka secara resmi, seorang nenek berpakaian lusuh berdiri di ambang pintu. Keberadaannya tidak dirasakan oleh siapa pun yang berada di dalam. Bahkan Zhi Ruo yang berdiri menghadap pintu pun tidak bisa melihatnya.
“Pembudidaya sekarang sangat lemah. Bahkan yang berada di ranah nascent soul pun tidak menyadari keberadaanku,” keluhnya sebelum menghilang meninggalkan paviliun.
Nenek tua itu muncul kembali di tengah hamparan tanah kering. Netranya yang bersinar terus menyapu ke segala penjuru. Tampaknya ia sedang mencari seseorang atau mungkin sesuatu yang berharga.
Seorang pemuda yang sedang bermeditasi di atas lantai batu menoleh ke arah si nenek berada. Matanya menyipit memperhatikan sosok tua yang masih celingak-celinguk di atas hamparan tanah kering.
“Siapa wanita tua itu?” gumamnya bertanya.
Sedetik kemudian, kedua pasang mata mereka beradu. Nenek tua itu menyeringai sinis menatap sosok pria bertopeng lalu melesat mendekatinya.
“Hampir saja aku tertipu oleh penampilanmu,” ucap si nenek ketus. Tampak kekecewaan tergambar dari tatapannya.
“Apa maksud Nenek?” tanya Qin Zhao yang kemudian berdiri mendekati.
“Cih, orang lemah sepertimu tak layak berbicara denganku!” hardik si nenek tua. Ia tidak merasakan adanya fluktuasi energi di tubuh Qin Zhao.
“Kau pun tak layak berdiri di hadapanku.”
Qin Zhao melengos pergi, membiarkan si nenek tua mematung di tempatnya.
“Jangan pergi! Katakan di mana si tua bajingan itu? Mengapa aku tidak merasakan auranya?”
“Bukan urusanku.”
Mendadak si nenek terbelalak kaget. “Kurang ajar! Kau berani tidak menghormatiku.”
“Apa kau pantas dihormati?” balas Qin Zhao tanpa menghentikan langkah dan menolehkan pandangan.
Sikap tak hormat yang ditunjukkan oleh Qin Zhao membuat nenek tua itu geram bukan main. Seketika itu juga auranya meledak, memancarkan tekanan besar yang membuat Qin Zhao terdorong beberapa langkah. Andai ia tidak waspada, mungkin saja tubuhnya terlempar jatuh di atas hamparan tanah kering.
“Nenek ini sungguh menyebalkan,” sungut Qin Zhao seraya memutar tubuh menatap wanita tua yang melotot tajam ke arahnya.
“Mati kau!” pekik si nenek yang sekejap menghilang dari tempatnya.
Qin Zhao terpelangak tidak bisa melihatnya hingga sesuatu yang berat menghantam dadanya, membuatnya terlempar sampai menembus ke dalam perut bukit.
Meski tidak ada luka, serangan mematikan dari nenek tua itu cukup mengejutkannya. Berbagai teknik warisan yang dikuasainya pun terasa sia-sia. Ia bahkan tidak bisa menghindari satu serangan yang menghantamnya.
Qin Zhao kemudian bangkit dan keluar dari dalam bukit. Tatapannya menyapu ke segala penjuru, mencari sosok tua yang kini tidak terlihat keberadaannya.
Meskipun begitu, ia tidak mengurangi kewaspadaan. Langkahnya tenang seraya mengamati area di sekitarnya.
Dari atas si nenek tua tersenyum sinis melihat pria bertopeng di bawahnya.
“Sepertinya dia memiliki institusi tubuh khusus,” gumam si nenek setelah mengamati tidak ada luka yang terlihat di tubuh si pria bertopeng.
“Menarik! Akan kuuji seberapa tangguh dirimu?” imbuhnya kemudian mengangkat kedua tangan.
Seberkas cahaya api bundar keluar dari telapak tangan dan terus membesar hingga seukuran seratus kepala.
Seketika Qin Zhao menghentikan langkah. Ia merasakan adanya tekanan energi dari atas kepalanya. Ia pun mendongak, tetapi nahas. Bola api besar meluncur deras ke arahnya tanpa sempat ia hindari.
Boom!
Bola api meledak begitu menyentuhnya hingga menciptakan kawah besar yang terselimuti kobaran api.
Belum padam kobaran api yang membakar tubuh Qin Zhao, bola api lainnya berdatangan dengan cepat hingga membuat lubang kawah semakin dalam dan melebar luas. Qin Zhao yang masih terlentang pun semakin terjerembab di dalamnya.
Asap tebal membumbung tinggi ke langit. Nenek tua yang masih melayang di udara terus mengamati keadaan di bawahnya. Begitu asap menipis, ia dikejutkan oleh tubuh pria bertopeng yang masih utuh tanpa adanya luka. Bahkan pakaian hitam yang dikenakannya pun tidak mengalami kerusakan.
“Sungguh menarik! Kali ini aku tidak percaya kau masih bisa bertahan dari seranganku,” tukas si nenek yang kedua tangannya kembali terangkat.
Dari telapak tangannya tidak lagi keluar bola api, melainkan bola hitam yang mengandung kekuatan jauh lebih besar dari sebelumnya. Ukuran bola hitam itu tidak sebesar bola api, tetapi energi di dalamnya cukup membuat udara di sekitar membeku.
Melihat para pelayan mengalami sesak napas, Zhi Ruo segera memasang array formasi yang mengelilingi paviliun.
“Apa Tuan sedang berlatih?” Zhi Ruo melangkah ke arah jendela dan mengamati area terluas dari wilayah Gerbang Timur.
Seketika tatapannya membulat melihat bola hitam yang memancarkan kilatan petir.
“Kekuatan apa itu? Tekanan energinya sangat mengerikan,” ucapnya terkejut.
Ia kemudian melapisi array formasi beberapa lapis untuk melindungi paviliun dari kehancuran.
Sementara Qin Zhao yang masih terlentang di dasar lubang tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Tekanan energi yang besar dari bola hitam terus mendorong tubuhnya masuk ke dalam tanah.
“Tuan, apa aku harus bertindak?” Goziro membuka mata. Monster besar itu merasa iba melihat tuannya terjerembab di dalam lubang.
“Tidak perlu. Nenek ini tidak bisa melukaiku,” tolak Qin Zhao yang diam-diam mengolah suatu teknik dari pikirannya.
Ia berencana untuk menarik tubuh si nenek tua begitu bola hitam terlempar.
“Baik, Tuan,” sahut Goziro yang kembali menutup mata.
Dari atas, si nenek tua bersiap melemparkan bola hitam. Kedua tangannya mulai mengayun melemparkan bola hitam ke bawah.
“Matilah!” pekiknya lantang.
Bola hitam meluncur deras.
Si nenek yang tatapannya dingin berubah nyalang. Ia tidak menduga sesuatu menarik tubuhnya mengikuti bola api yang meluncur.
Begitu bola api menghantam tubuh Qin Zhao, semuanya lenyap. Tidak ada ledakan yang terjadi, bahkan tidak ada apa pun selain debu yang berterbangan ke udara.