Kisah seorang istri yang selalu direndahkan dan dimanfaatkan oleh keluarga suami nya hanya karena dia bukan berasal dari keluarga terpandang yang kaya.....Nasibnya begitu miris bahkan selalu dibandingkan dengan istri adik suaminya sendiri yang dianggap dari keluarga terhormat oleh sang mertua.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hafit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan
****
Dari jauh, Tania melihat di warung Bu sari sudah ada beberapa ibu yang juga sedang berbelanja, mereka terlihat sedang berbincang -bincang.
Tania menyapa dengan ramah," Siang Bu, lagi belanja ya?"
"Eh, Tania....Mau belanja juga?" Tanya Bu Mira sembari tersenyum ramah menatap Tania.
Tania mengangguk." Iya, Bu..." Balas nya sembari tersenyum ramah.
"Bu sari, ayam nya masih ada?"
"Ada dong neng...Ini masih banyak, mau berapa potong memang nya?" Jawab Bu sari sumringah.
Karena biasa nya Tania memang selalu memborong dagangan nya.
"Mm...Aku mau ayam nya setengah aja bu, sama tomat 5 ribu, cabe 5 ribu, minyak setengah kilo, bawang merah sama bawang putih nya masing-masing 5 ribu, sama beras seliter aja Bu sari...." Ucap Tania menyebut belanjaan nya.
"Tumben belanja nya sedikit Neng?" Tanya Bu sari sembari menimbang barang yang Tania sebut tadi.
Tania tersenyum kecil mendengar pertanyaan Bu sari.
"Iya bu, cuma buat masak siang ini aja kok, makanya beli nya sedikit." Balas nya sekena nya aja.
"Iya nih Mbak Tania.....Biasa nya kalau belanja selalu banyak, sampai kita nggak kebagian kalau telat datang," Celetuk Bu Mira bercanda.
"Bisa aja Bu Mira...."
"Beruntung banget ya Bu Dinda....Punya menantu rajin seperti Tania, sudah rajin baik lagi, sangat jauh berbeda sekali sama menantu satu nya lagi bu Dinda, si Farah...Ya ampun sombong banget dia." Ucap Bu Mira memulai menggosip.
"Ngikutin Bu Dinda mungkin, Bu Dinda juga gitu kan, sombong nya minta ampun. Sama tetangga aja nggak pernah mau nyapa kalau ketemu, di tanya aja kadang jawab nya ketus gitu." Timpal ibu satunya lagi, Tania hanya bisa menggelengkan kepala mendengar ucapan mereka.
"Iya, betul itu....Bu Dinda itu gaya nya selangit, tapi pelit nya minta ampun itu. Kalau belanja selalu minta diskon, pokok nya ada aja alasan dia kalau beli, udah belanja nya pelit banyak komentar lagi. Katanya busuk lah, layu lah sayur disini.... Untung sekarang sudah nggak pernah kesini lagi dia semenjak ada menantunya." Bu sari ikut menimpali, wajah nya terlihat kesal saat menyebut nama mertua Tania.
"Maaf ya Tania, ibu jadi ngegosip ibu mertua kamu....Entah kenapa kesal aja kalau ingat kelakuan dia dulu." Ucap Bu sari merasa tidak enak apalagi melihat Tania yang hanya diam saja.
"Nggak papa kok Bu, aku ngerti....Tapi alangkah baik nya kita mendoakan saja agar beliau bisa berubah jauh lebih baik lagi, dari pada membicarakan kejelekan, Nggak baik bu." Ucap Tania bijak, walau bagaimanapun Dinda itu tetap mertuanya.
"Aduh iya lagi, kamu benar Tania....Ini mah gara-gara si Mira itu ngajak orang bergosip aja. Kan ibu jadi kebawa juga." Ucap Bu sari merasa nggak enak.
"Dia sendiri yang suka ngegosip malah ngalahin orang lain." Gerutu Bu Mira, Bu sari Hana bisa cengegesan mendengar nya.
Tania hanya bisa tersenyum mendengarnya ocehan para ibu-ibu itu.
"Jadi berapa total belanjaan aku Bu?" Tanya Tania, Bu sari kembali fokus menghitung total belanjaan yang harus Tania bayar.
"Ayam nya setengah 40, ditambah bahan-bahan nya sama beras juga tadi 45, jadi totalnya 85 Neng." Bu sari menyodorkan plastik belanjaan ke Tania.
Tania mengeluarkan dua lembar uang 50 ribuan yang mertuanya kasih tadi ke bu sari.
"Sisa nya buat beli garam aja Bu, sama tambah kerupuk udang satu yang kemasan kecil aja."
Bu sari mengangguk, lalu mengambil barang yang di minta Tania.
"Makasih ya Bu...." Ucap Tania lagi.
"Mari Bu...." Pamit Tania sembari tersenyum ramah.
"Iya neng, hati-hati...." Balas Mereka kompak.
Setelah pamit, ia masih bisa mendengar ibu-ibu tadi malah melanjutkan menggosip. Entah sekarang berubah menggosip siapa lagi.
Jam sudah menunjukkan pukul 11.20 wib.
Tania bergegas membawa belanjaan nya ke dapur untuk segera memasak.
"Bu, masakan nya udah siap....Kalau ibu mau makan, makan aja dulu. Aku mau ke kamar, sekalian mau mandi juga." Ujar Tania menghampiri mertuanya yang sedang duduk santai diruang tengah bersama Sindi dan juga Bella.
Mendengar makanan sudah matang, Sindi dan Bella buru-buru berdiri dengan wajah sumringah.
"Kebetulan udah laper banget, ayo Mbak." Ajak Sindi penuh semangat.
"Mbak kok masih disini sih? Katanya mau mandi, ya udah sana dong. Jangan bilang Mbak juga mau ikut makan sama kita?" Usir Sindi secara memicingkan matanya menatap Tania.
"Nggak tau diri nih anak, yang masak siapa yang nggak boleh makan siapa." Batin nya menggerutu kesal. Namun, Tania memilih tidak menanggapi adik iparnya.
"Bikin mual saja." Gumam Bella lirih, namun Tania masih bisa mendengar.
"Tania, tunggu apalagi.....Pergi sana." Usir Dinda dengan mengibaskan tangan nya dengan sangat angkuh.
"Ia Bu, ini juga mau pergi." Balas Tania mencoba menahan rasa kesal nya.
Walau bagaimanapun dia masih tetap harus menghormati ibu mertuanya, ibu kandung dari suami nya. Walau seburuk apapun perlakuan Dinda dia akan tetap menghormati wanita itu. Karena dari rahim wanita itulah lahir seorang lelaki yang sekarang menjadi suaminya.
Tapi bukan berarti dia akan menerima semua perlakuan buruk mertuanya.
Semua ada batasan dan balasan nya.
Setelah Tania masuk kamar, barulah mereka bertiga menghampiri meja makan dengan penuh semangat.
"Dari bau nya aja udah bikin laper bu, Mbak Tania memang benar-benar jago masak, tapi kalau dipikir-pikir ada guna nya juga Mbak Tania disini. Jadi kita nggak perlu repot-repot buat masak sendiri." Ujar Sindi sembari tangan nya meraih tudung saji untuk dibukanya.
"Jadi maksud kamu, kamu senang kalau si kampungan itu tetap jadi istri nya Mas Raka? Kamu sebenarnya dukung siapa sih?" Bella seakan tidak terima Sindi memuji Tania didepan nya, wajah nya mendadak jadi kesal.
"Bukan gitu, maksud aku tuh____
"Loh, kok ayam nya cuma ada satu? Ini nasi nya juga cuma sedikit. Mana cukup buat kita makan bertiga?" Pekik Sindi begitu melihat hanya ada sepotong ayam Krispy dan sedikit nasi diatas meja.
"Bu, Mbak Tania sudah benar-benar keterlaluan, masak hanya sambel nya yang dibanyakin, ayam nya cuma satu....." Rengek Sindi tidak terima.
"Kayak nya memang si kampungan itu sengaja mencari masalah sama kita Tante....Tante harus tegas dong, masak diam aja kita terus-terusan di kerjain sama dia." Ujar Bella sengaja memanas-manasi Dinda.
"Kamu benar, anak itu memang harus diberi pelajaran." Geram Dinda,
"Dia kayak nya memang sengaja Bu, dia pikir dia siapa, bisa seenak nya memperlakukan kita seperti ini."
"Memang sudah keterlaluan banget sih dia Tan, Padahal Tante itu ibu mertuanya dia Lo. Masak dia berani bersikap tidak sopan seperti itu sama tante. Kalau aku jadi Tante, sudah ku usir aja sekalian menantu tidak tau diri seperti itu." Bella terus saja memprovokasi Dinda agar wanita paruh baya itu terpancing emosi.
"Tania....Keluar kamu." Teriak dinda yang sudah tidak bisa menahan emosi nya lagi, apalagi Bella terus saja menghasutnya.
Mendengar nama nya dipanggil Tania segera keluar, raut wajah nya terlihat biasa saja tanpa ada rasa takut sama sekali.
"Ibu panggil aku?" Tanya Tania, tatapan mata mertuanya menusuk tajam kearah nya.
Tania hampir tertawa begitu melihat raut wajah mereka bertiga yang benar-benar muram menatap tajam kearah nya.
Di atas kursi Sindi duduk dengan wajah ditekuk masam, sedangkan Bella. Sekilas Tania bisa melihat wanita itu tersenyum licik menatap dirinya.
Sedang kan Dinda, wanita itu sudah benar-benar tidak terkendali lagi, mata nya merah menyala menatap Tania seakan hendak menerkam nya hidup-hidup.