NovelToon NovelToon
Penantian Sheilla

Penantian Sheilla

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Tamat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: chocolate_coffee

Tujuh tahun Sheilla mencintai Ardhito dalam diam, sejak masa SMA yang polos hingga dewasa. Namun di tahun kedelapan, takdir justru memberinya luka. Akibat jebakan salah sasaran di sebuah kamar hotel yang dirancang teman-teman Ardhito, keduanya terpaksa menikah demi menutupi skandal.

Pernikahan yang Sheilla dambakan berubah menjadi neraka. Ardhito yang merasa dijebak melampiaskan amarahnya melalui pengabaian dingin dan kekerasan fisik (KDRT). Di tengah sisa-sisa cintanya yang hancur, Sheilla harus memilih: terus bertahan sebagai martir cinta yang tak terbalas, atau mengumpulkan keberanian untuk pergi dan menyembuhkan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocolate_coffee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kopi, Tanah Basah, dan Sesuatu yang Baru

Kehidupan Sheilla sekarang punya ritme yang lebih manusiawi. Kalau dulu jam biologisnya diatur oleh rasa takut bangun karena kaget dengar suara pintu atau tidur karena kecapekan nangis sekarang alarmnya adalah sinar matahari yang nakal masuk lewat celah gorden.

Pagi ini, Sheilla nggak langsung ke toko. Dia mutusin buat duduk sebentar di teras belakang rumah kecilnya, ditemenin sama segelas kopi susu hangat yang gulanya pas. Di depannya, ada beberapa pot tanaman herbal yang lagi dia coba tanam sendiri.

"Selamat pagi, anak-anak," gumamnya santai ke arah tanaman mint dan rosemary-nya.

Dia tertawa kecil sendiri. Kalau Ardhito lihat dia ngomong sama tanaman, mungkin dia bakal dibilang aneh atau kurang kerjaan. Tapi ya, itu kan Ardhito. Pria yang dunianya cuma soal angka, gengsi, dan kontrol. Di sini, di kota kecil ini, jadi "aneh" itu terasa jauh lebih sehat daripada jadi "sempurna" tapi batinnya sekarat.

--

Lagi asyik ngelamun, pintu pagar depannya bunyi. Krieeet.

"Sheilla? Kamu di dalem?"

Suara itu bukan Adrian. Suaranya lebih berat dan kedengeran agak ragu. Sheilla naruh gelas kopinya, merapihkan rambutnya yang dikuncir asal, terus jalan ke depan. Begitu dia buka pintu, dia mematung sebentar.

"Satria?"

Satria itu sepupunya Ardhito. Satu-satunya orang dari keluarga besar Ardhito yang dulu nggak pernah mandang rendah Sheilla. Dia berdiri di sana pakai jaket denim, kelihatan capek kayak abis perjalanan jauh.

"Boleh mampir bentar? Aku cuma mau nganterin ini," kata Satria sambil nunjukin sebuah kotak plastik transparan berisi... kue buatan ibunya. Tante Mira, ibu Ardhito.

Sheilla ragu sejenak, tapi akhirnya dia geser badannya. "Masuk, Sat. Minum kopi?"

--

Mereka duduk di kursi rotan depan toko bunga. Satria kelihatan kagum ngelihat sekeliling. "Gila, Sheil. Kamu beneran bangun ini semua sendiri? Ardhito... dia hancur banget pas tahu kamu nolak apartemen itu."

Sheilla senyum tipis, bukan senyum sinis, cuma senyum yang "ya sudahlah". "Aku nggak butuh beton dan semen dari masa lalu, Sat. Aku cuma butuh ruang buat napas."

Satria menghela napas panjang. Dia condongin badannya ke depan. "Sheilla, sebenernya ada satu hal yang nggak pernah Ardhito tahu, dan aku baru tahu kemarin pas ngebongkar gudang lama di rumah tante."

Sheilla naikin alisnya. "Soal apa?"

"Malam itu. Malam di hotel delapan tahun lalu," Satria mengecilkan suaranya. "Temen-temen Ardhito emang brengsek, tapi sebenernya... Ardhito tahu mereka mau ngerjain dia. Dia tahu kamar itu bakal dikunci. Dia punya kesempatan buat keluar sebelum kamu masuk, tapi dia milih buat tetep di sana."

Deg. Jantung Sheilla berhenti sedetik.

"Maksud kamu?"

"Ardhito itu pengecut, Sheil. Dia sebenernya suka sama kamu sejak dulu, tapi dia gengsi karena kamu 'cuma' adik kelas yang biasa-biasa aja di mata temen-temennya yang elit. Dia biarin jebakan itu terjadi supaya dia punya alasan buat 'terpaksa' sama kamu tanpa harus merusak egonya. Tapi pas semua jadi nyata, dia malah panik dan malah numpahin rasa bersalahnya ke kamu dengan cara jadi monster."

Sheilla diem. Bukan sedih, tapi lebih ke rasa... lucu? Jadi selama ini, neraka yang dia lewati adalah hasil dari ego seorang pria yang nggak berani jujur sama perasaannya sendiri?

--

Dulu, informasi kayak gini mungkin bakal bikin Sheilla nangis histeris atau malah pengen balik ke Ardhito buat minta penjelasan. Tapi sekarang? Dia cuma ngerasa kayak baru aja dengerin plot film lama yang sebenernya udah nggak relevan.

"Sat," Sheilla natap Satria tenang. "Makasih ya udah kasih tahu. Tapi jujur, itu nggak merubah apa-apa buat aku."

"Kamu nggak marah?"

"Marah buat apa? Buat waktu yang hilang? Waktu itu nggak bakal balik lagi meskipun aku ngamuk. Justru aku ngerasa kasihan sama Ardhito. Dia hidup dalam kebohongan yang dia buat sendiri. Aku sekarang udah punya kebenaran aku sendiri, dan itu jauh lebih cukup."

Satria senyum lega. "Aku seneng denger itu. Tante Mira sebenernya kangen banget sama kamu. Dia titip pesen, kalau kamu butuh 'ibu', pintu rumahnya selalu terbuka buat kamu, bukan sebagai menantu, tapi sebagai Sheilla."

--

Setelah Satria pamit, sorenya Adrian dateng. Dia nggak bawa bunga ya kali bawa bunga ke pemilik toko bunga tapi dia bawa dua bungkus mi ayam gerobakan favorit mereka.

"Tadi ada tamu ya?" tanya Adrian santai sambil buka bungkus mi ayamnya. Dia nggak cemburu, cuma nanya biasa, tipe perhatian yang bikin Sheilla ngerasa nyaman.

"Iya, sepupunya Ardhito. Nganterin kue dan... sedikit cerita lama," jawab Sheilla sambil ngaduk mi-nya.

Adrian diem bentar, natap Sheilla. "Kamu oke?"

Sheilla menyuap mie-nya, ngunyah pelan, terus ngangguk mantap. "Banget. Aku baru tahu kalau sebenernya aku bukan korban takdir, Yan. Aku cuma korban dari orang yang nggak berani jujur. Dan itu bikin aku ngerasa makin keren karena bisa keluar dari sana."

Adrian ketawa, matanya menyipit. "Kamu emang keren. Eh, besok kelas di yayasan mulai jam berapa? Aku mau anterin bibit bunga matahari yang kamu pesen kemarin."

"Jam sembilan. Jangan telat ya, entar murid-murid aku naksir kamu semua lagi," canda Sheilla.

"Dih, yang penting gurunya cuma naksir aku, kan?" bales Adrian sambil mengedipkan mata.

Malam itu, Sheilla ngerasa dunianya bener-bener pas. Nggak ada drama besar, nggak ada tangisan menyayat hati. Cuma ada bau mi ayam, tawa ringan sama cowok yang menghargai dia, dan perasaan kalau besok... besok bakal jadi hari yang biasa-biasa aja, tapi indah banget karena dia yang pegang kendalinya.

To Be Continue...

-- Hallo terimakasih sudah selalu memberikan support kepada Author, Sehat selalu untuk kalian semua ya. Dukung selalu Author setiap harinya, dan jangan lupa komen selalu agar author makin semangat buat uploadnya hihi --

1
falea sezi
uda end kah
Alif
smoga saja kamu menderita dhito
Siti Chadijah Siregar
sangat mengena sekali bahasanya hatiku tersentuh
Rubiyata Gimba
baru kau tahu
Rubiyata Gimba
sedarlah jangan makan hati sendiri, jangan terlalu mengharap pada orang yang tidak pernah memandang mu
Rubiyata Gimba
siapa suruh nenyintai orang yang tidak mencintainya
Rubiyata Gimba
sialan punya teman2
Lilla Ummaya
Lanjut thor.. ini asa kelanjutannya atau engga
Maira
tolong cpt update nya kakk
Maira
seruuu banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!