NovelToon NovelToon
Sanggana1: Perampok Raja Gagah

Sanggana1: Perampok Raja Gagah

Status: tamat
Genre:Action / Petualangan / Barat
Popularitas:213.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Rudi Hendrik

Joko Tenang didedikasikan oleh ayahnya sebagai pendekar pembela kebenaran di dunia persilatan. Menjadi murid tokoh sakti aliran putih Ki Ageng Kunsa Pari membuatnya memiliki kesaktian pilih tanding.

Namun, penyakit keturunan dari kakeknya menjadi kelemahan terbesarnya sebagai seorang pendekar. Ia akan mengalami kelemahan hingga pingsan jika didekati oleh wanita kurang dari tiga langkah, terlebih jika sampai bersentuhan kulit.

Joko Tenang yang masih remaja turut ambil bagian dalam misi penumpasan gerombolan perampok yang suka menyerang desa, merampok harta, dan menculik gadis-gadis perawan desa. Namun, kelompok perampok itu sangat sulit ditemukan dan ditumpas.

Mampukah Joko Tenang menjalani misi pertamanya dalam dunia persilatan? Temukan jawabannya di novel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Misi Penyelamatan Pendekar Muda

“Akan aku beri kalian tugas mulia untuk menumpas Perampok Raja Gagah dan menghancurkan kejahatan. Bila nanti kalian mati, itu lebih mulia daripada mati biasa. Tapi ingat, modal semangat dan berbekal niat tidaklah cukup, kalian pun harus menggunakan otak kalian. Sebelum kalian pergi, aku akan memberikan sesuatu kepada Joko,” ujar Ki Ageng Kunsa Pari.

“Joko siapa, Guru?” tanya Joko.

“Joko kau, Joko Tenang.”

“Joko, bagaimana denganku? Aku tidak dapat berkelahi sedikit pun,” kata Parsuto.

“Tenang saja. Kata Guru, tidak semua sampah itu tidak berguna,” kata Joko.

“Jadi kau anggap aku sampah?” tanya Parsuto dengan mata mendelik.

“Hahaha!” Joko malah tertawa. “Itu hanya perumpamaan, sahabat.”

Akhirnya Parsuto pun tersenyum.

“Joko, bagaimana kau bisa menyelamatkan Kusuma Dewi jika menyentuhnya saja kau malah pingsan?” tanya Tingkir.

“Cinta itu tidak harus menyentuh, Tingkir,” jawab Joko. “Tapi kau harus ingat, jangan sampai kau berani-berani melanggar kesucian Limarsih dengan menyentuh kulitnya!”

Mendelik Joko Tingkir mendapat ancaman seperti itu.

“Tapi aku kekasihnya, Joko!” kilah Tingkir.

“Jika kau mau menyentuhnya, kau harus melalui jalur pernikahan!” tandas Joko.

“Apa?!” pekik Tingkir. “Kau mau menyuruhkan menikah di usia semuda ini?”

“Kalau kau seorang pendekar, kenapa takut?” kata Joko.

Kunsa Pari dan Gujara yang mendengarkan perdebatan kedua pemuda itu, hanya tersenyum-senyum.

Setibanya di gubuk, tampak di balai-balai depan gubuk, sosok Goceng tergeletak masih lelap dengan mulut terbuka membentuk lorong kegelapan.

“Goceng, bangun!” bentak Kunsa Pari.

“Baik, Guru!” teriak Goceng sambil spontan melompat berdiri menghadap ke arah yang kosong.

“Hahaha!” tawa Joko, Tingkir dan Parsuto menyaksikan Goceng.

“Baik apa?” tanya Kunsa Pari.

“Memelihara tiga bebek berbibir merah dan menggoreng air sampai kucing bertelur!” jawab Goceng lancar dan mantap.

“Hahahak!”

Tawa Joko, Tingkir dan Parsuto kian meledak. Gujara kali ini ikut tertawa. Goceng pun jadi bingung.

“Mimpi indah apa kau, Goceng?” tanya Kunsa Pari tapi tidak memerlukan jawaban. Sebab ia langsung memberi perintah kepada muridnya itu, “Berikan Pisau Bulan kepada temannya Joko ini!”

“Tapi, Guru. Pisau ini Guru berikan kepadaku,” kata Goceng pelan dan berat.

“Aku punya yang lebih bagus lagi. Berikan!” tandas Kunsa Pari.

“Baik, Guru,” kata Goceng. Wajahnya yang tadi mengerenyit berat, jadi tersenyum.

Goceng lalu mengeluarkan sebuah benda dari balik bajunya. Benda itu berupa seperti pisau berbentuk bulan sabit berwarna merah tembaga. Namun, ia tidak memiliki sisi yang tipis sebagaimana pisau pada umumnya. Pada gagangnya yang berwarna hitam mengkilap, ada satu lubang dan satu tombol besi kecil.

“Kau jaga Pisau Bulan ini dengan baik, jangan sampai tercuri oleh orang. Hati-hati, ini sangat berbahaya terhadap orang lain, tapi ramah bagi pemegangnya,” kata Goceng berpesan kepada Parsuto. Ia lalu memberikan Pisau Bulan itu.

Dengan wajah tegang dan tangan agak gemetar, Parsuto menerima senjata pusaka itu. Meski terlihat berat, tapi ternyata Parsuto merasakan begitu ringan, seolah tidak memiliki bobot.

“Terima kasih banyak, Kek. Terima kasih sebesar-besarnya!” ucap Parsuto begitu senang sambil agak membungkuk-bungkuk dalam berdirinya.

“Tapi, apa kondisimu baik-baik saja?” tanya Kunsa Pari kepada Parsuto.

“Tadi malam kondisinya memang kritis, tapi aku memberinya pengobatan secara bertahap. Karena ia begitu memaksa untuk ikut, Ki Ageng,” kata Gujara.

“Nanti Joko akan mengajarimu cara menggunakannya,” kata Kunsa Pari. “Kalian tunggu sebentar.”

Orang tua itu lalu bergerak masuk ke dalam gubuk. Sementara yang lainnya memilih duduk di balai-balai. Joko segera mencandai Goceng tentang jawaban ngawurnya saat bangun tidur. Goceng hanya tertawa-tawa lalu menceritakan mimpinya. Goceng bermimpi bertemu putri cantik, tapi untuk bisa menikahinya, ia diberi syarat oleh sang raja untuk memelihara tiga ekor bebek berbibir merah dan menggoreng air sampai kucing bertelur.

“Hahahak! Itu artinya, sang raja menolakmu, Goceng. Sampai kapan pun kucing tidak akan bertelur, hahaha!” kata Joko menertawakan.

Ki Ageng Kunsa Pari kembali muncul dari dalam gubuk. Kali ini ia membawa sebuah kain merah yang terlipat dari bahan yang bagus dan tebal. Baru kali ini mereka melihat kain berjenis seperti itu.

“Pakailah, Joko!” kata Kunsa Pari seraya menyodorkan kain itu kepada muridnya.

Joko lalu meraih kain tebal itu dari tangan tua gurunya. Setelah Joko buka lipatannya, ternyata itu adalah sebuah baju tanpa lengan dan tanpa kancing. Itu sebuah rompi.

“Bahannya baru kali ini aku melihatnya, Ki Ageng,” kata Gujara mengomentari mengandung kekaguman.

Joko dengan senang segera mengenakannya. Terlihat agak besar, tapi masih tampak bagus.

Berzzz!

“Akk!” pekik Joko terkejut, saat sejenak rompi merah itu bersinar emas, yang kemudian sinarnya menyerap masuk ke dalam tubuh Joko.

Gujara, Tingkir, Goceng dan Parsuto sempat terkejut pula, terlebih ketika Joko menjerit singkat. Namun, setelah sinar itu menyerap masuk, Joko kembali diam, hanya wajahnya yang agak terlihat pias karena terkejut.

“Itu adalah rompi pusaka dari ayahmu, Joko,” ujar Kunsa Pari.

“Ayahku, Guru?” ucap ulang Joko seakan salah mendengar.

“Benar. Ayahmu belum lama ini datang menemuiku dan menitipkan rompi Api Emas itu untukmu,” jelas Kunsa Pari.

“Mengapa Guru tidak menyuruhnya menemuiku?!” teriak Joko berubah marah. “Aku hingga sekarang belum pernah melihat rupa ayahku!”

“Ayahmu masih mengharapkanmu untuk memperdalam ilmu dariku. Jika ia menemuimu, ia tidak akan bisa menahan diri untuk membawamu bersamanya, karena ia begitu menyayangimu, Joko,” kata Kunsa Pari dengan nada lembut.

Gujara dan yang lainnya sementara memutuskan tidak bersuara, karena itu masalah pribadi antara Joko dan gurunya.

“Tidak, Ayah tidak menyayangiku. Buktinya, dia tidak mau bertemu denganku,” kata Joko pelan dan sedih. Ia lalu duduk di atas tunpukan kayu bakar dengan wajah ingin menangis.

“Pusaka Api Emas itu adalah bukti rasa sayang dan cintanya kepadamu. Ia tidak sedikit pun berharap kau celaka, karenanya rompi itu sudah ia berikan kepadamu dari sekarang,” kata Kunsa Pari. “Ayahmu akan datang kepadamu ketika kondisinya ia anggap sudah tepat. Ia selalu mengawasi perkembanganmu, Joko.”

“Lalu apa hebatnya rompi ini, Guru?” tanya Joko mengalihkan bahasannya. Ia tidak mau larut memikirkan ayahnya yang baginya telah membuatnya kecewa.

“Rinciannya aku kurang paham tentang pusaka ini, tapi yang aku tahu, ilmu sehebat apa pun akan bisa diserap oleh punggung rompi itu. Jadi kekuatannya ada di bagian punggung. Namun kehebatannya bukan hanya itu semata. Suatu saat kaulah sendiri yang akan mengetahuinya,” jawab Kunsa Pari.  

“Lalu, ke mana kita harus mencari jejak Perampok Raja Gagah ini, Ki Ageng?” tanya Gujara.

“Ikutilah arah mereka masuk dan keluar dari desa semalam. Sepandai-pandai tikus bersembunyi, tapi sering kali ia tidak memperhatikan panjang ujung ekornya yang sering terlihat. Hanya itu cara yang bisa kalian tempuh untuk mengejar mereka,” jawab Kunsa Pari.

“Berati kami harus mengejar ke selatan,” Gujara menyimpulkan.

“Firasatku lebih kuat ke arah selatan. Pergilah kalian secepatnya!” kata Kunsa Pari.

“Baik.”

“Guru!” panggil Joko yang kini sudah  berdiri tegak. Dengan optimis ia berkata, “Kami akan kembali dengan membawa kemenangan!”

“Ya!” sahut Tingkir pula penuh semangat.

“Kita akan tumpas kejahatan di atas muka bumi ini!” teriak Joko lebih keras lagi.

“Dan selamatkan gadis-gadis kita!” teriak Tingkir pula.

“Ayo berangkat!” seru Gujara sambil berjalan pergi.

Ketiga anak muda belia itu segera mengikuti Gujara selaku pemimpin mereka dalam misi itu.

Ki Ageng Kunsa Pari hanya berdiri memandangi kepergian mereka.

“Goceng!” panggil Kunsa Pari kepada muridnya yang duduk di balai-balai tidak jauh darinya.

“Iya, Guru!” sahut Goceng agak kencang, terbawa semangat Joko dan Tingkir.

“Pergilah ke bawah mencabut singkong!”

“Baik, Guru!” ucap Goceng langsung patuh.

Tanpa ba bi bu lagi, Goceng segera melangkah pergi tanpa membawa peralatan apa pun sebagai bekalnya. Untuk mencabut singkong, Goceng harus turun agak jauh ke bawah bukit.

“Terima kasih, Ki Ageng.”

Ucap satu suara kepada Ki Ageng tiba-tiba, membuat orang tua itu sontak berlutut ke samping dengan satu lutut. Kedua telapak tangan saling bertindih di atas lutut lainnya yang berposisi tertekuk tegak.

Meski tidak langsung melihat wujud orang yang bicara, tapi Kunsa Pari sangat mengenal suara itu.

“Hormat hamba, Paduka!” ucap Kunsa Pari di dalam hormatnya dengan kepala tertunduk.

Yang kini dilihatnya adalah sepasang kaki yang dibalut dengan sepatu kain tebal berwarna hitam dan bercelana hitam.

“Bangunlah, Ki Ageng!” perintah pria pemilik kaki itu.

Kunsa Pari segera bangun dan berdiri dengan kepala agak menunduk. Orang yang dihadapi oleh Kunsa Pari adalah seorang pria berperawakan bagus dan berwajah tampan berkumis tipis. Rambutnya gondrong sebahu. Ia memakai baju berwarna biru dari bahan bagus dan mengkilap. Lelaki itu adalah seorang raja sakti dari Kerajaan Sanggana yang memiliki bala tentara sangat kuat. Namanya adalah Raja Anjas Perjana Langit.

Namun, raja yang muncul dalam tampilan orang biasa tersebut, tidak membawa seorang pun pengawal.

“Aku mendengar semua apa yang anakku bicarakan sejak ia termangu di ujung bukit,” kata Raja Anjas dengan nada yang datar tapi berwibawa. “Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada Ki Ageng karena telah berusaha membuatnya mengerti.”

“Apakah Paduka ada urusan lain sehingga tidak langsung kembali ke Sanggana?” tanya Kunsa Pari sambil agak menunduk, tapi mata memandang kepada Raja Anjas.

“Aku akan turun tangan membantu menumpas Perampok Raja Gagah. Aku ingin akrab dengan anakku,” jawab Raja Anjas.

“Jadi, Paduka akan bergabung dengan mereka berempat?” tanya Kunsa Pari.

“Benar.”

“Apakah Paduka akan mengungkap bahwa Paduka adalah ayahnya?”

“Tidak.”

“Paduka harus tahu, Pangeran ada masalah jika bersentuhan kulit dengan wanita.”

“Aku sudah dengar ceritanya. Sepertinya ia akan mewarisi kesaktian leluhurnya, Dewa Bawah Langit. Karena itulah, aku percayakan kepadamu untuk mendidik pikiran dan karakternya sehingga menjadi orang yang berjiwa lurus, tidak menyimpang.”

“Hamba usahakan sekuat tenaga hamba, Paduka,” ucap Kunsa Pari. (RH)

1
Muhamad Yasri
Luar biasa
Ling Kun menghilang
wkwkwk jantungnya Joko sabar Joko😂
Om Rudi: terima kasih
total 3 replies
Ling Kun menghilang
kasian siapa yang perduli nya itu untuk minta tolong
Hadijah Nadia
👍👍👍👍👍🌹🌹🌹🌹🌹
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
wah joko yg menyelamatkan kusuma ya. keren
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
waduh kusuma dewi beraksi. ngga bahaya ta buat dia
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
wkwkwk kebayang adegannya kaya apa😂😂
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
anak manusia masa anak setan ih
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
berani juga si parsuto sm centeng ki lurah.. awas hati2 nanti kena hajar kau
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
wah tdi beli monyet,sekarang lagi nawar burung. mau buat kebun binatang ya
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
emangnya apa yg lagi di cari sih joko..
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
jaman dulu ki lurah punya tukang pukul.. kok sekarang ngga ya
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
buat apa joko membeli monyet..?
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
sungguh kasihan siapa yang kelak dapat menumpas Rombongan biaadab ini?
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
sadeees ini rombongan raja gagah
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
gerombolan ini sangat licin susah dibasmi dan ditangkap ya
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
Hmm nama pangeran yang Unic
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
ini pasti gerombolan perampook
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
nah hanyut kan bolanya. mainnya jangan di pinggir sungai ya..jd ngga masuk ke kali tuh bola
❤️⃟Wᵃfѕ⍣⃝✰ʀᴏs•§͜¢•ˢ⍣⃟ₛ ✰͜͡𝔳᭄
nah..kena temennya kan bolanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!