Lembayung Senja, namanya begitu indah, namun, tak seindah nasib hidupnya.
Pernikahannya bahagia, tapi rusak setelah seorang wanita hadir diantara dirinya dan sang suami.
Fitnah yang kejam menghampirinya, hingga ia harus berakhir di penjara dengan tuduhan membunuh suaminya sendiri pada malam pertengkaran terakhir mereka.
Kelahiran bayi yang seharusnya menjadi hadiah pernikahannya bersama Restu Singgih suaminya, justru harus di warnai tangis nestapa, karena Lembayung melahirkan bayinya di balik jeruji penjara. Dua puluh tahun berlalu, Lembayung mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
Setelah bebas, Albiru justru berkata bahwa ia malu memiliki Ibu seorang mantan narapidana.
Akankah Lembayung menemukan kembali kabahagiannya setelah sekian lama menanggung derita tanpa berbuat dosa? Bagaimana Lembayung memperbaiki hubungan dengan Biru yang kini telah sukses? Pembalasan apa yang akan Lembayung lakukan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Albiru
#12
Setelah sadar, Ayu kembali dibawa ke lapas dengan mobil khusus untuk para tahanan. Pandangannya kosong, hatinya pun hancur. Suram, tak lagi memiliki harapan, masa depan dalam bayangannya hanyalah lorong yang gelap tak bertepi.
Tak ada sinar, tak ada kebahagiaan, tak ada apapun selain menanti datangnya kematian.
Ayu tak bisa lagi menangis, seolah mulai kebal dengan rasa sakit. Pengkhianatan orang-orang disekitarnya membuat Ayu mulai mati rasa, sulit percaya pada siapa saja yang coba mendekatinya.
Biasanya ia masih ngobrol dan berbicara akrab dengan Opsir Yuni, tapi kali ini ia hanya duduk diam dengan pandangan kosong, mulai kehilangan harapan hidup, satu-satunya penyemangatnya hanyalah janin dalam kandungannya.
Dalam hati ia bergumam, “Aku akan kembali, walau terlambat aku harus menuntut balas. Membalas orang-orang yang sudah kompak mendorongku ke tepi jurang kehinaan, terutama kau, Anjani!” Ayu mengepalkan tangannya dengan erat.
Tapi tak lama kemudian, Ayu merasa perutnya mulai sakit, ia meringis menahan nyeri yang baru kali ini ia rasakan.
“Kenapa, Bu?” tanya Opsir Yuni ketika melihat gelagat aneh yang di tampakkan Ayu.
“Sakit, Bu.”
“Jangan-jangan kontraksi?” Opsir Yuni segera memberitahukan sopir agar mempercepat laju mobil. “Ayo cepat, pak! Sepertinya Bu Ayu mau melahirkan!”
“Baik, Bu!” jawab sang sopir kemudian mulai meningkatkan kecepatan mobilnya.
Ketika rasa sakit kembali datang, Ayu menarik lalu membuang nafasnya perlahan sesuai yang diajarkan dokter yang selama ini memantau kesehatan janinnya.
“Sebentar, ya, Bu. 10 menit lagi kita tiba.”
Ayu mengangguk lemah, sambil menahan nyeri di perutnya akibat serangan kontraksi. Opsir Yuni menggenggam telapak tangan Ayu yang mengeluarkan keringat dingin.
Nyeri dan jerit kesakitan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan menyambut sang buah hati. Justru menandai awal diresmikannya status Ayu sebagai seorang narapidana.
Bagaimana nanti ia menjelaskan pada anaknya? Sudah siapkah kelak jika anak tak berdosa ini bertanya kenapa mamak di lapas? Yang paling membuat Ayu takut, jika anaknya kelak bertanya kenapa mamak tega membunuh bapak? Apakah anaknya akan percaya? Sulit untuk membayangkannya saat ini.
Beberapa saat kemudian mobil tiba di rumah klinik medis yang menjadi fasilitas dan hak para narapidana. Dokter yang sedang bersiaga segera menyiapkan ranjang khusus untuk pasien yang akan melahirkan.
Ayu berbaring di sana, meringis dan menjerit seorang diri. Sementara di kepalanya masih penuh dengan bayangan orang-orang yang tega mengkhianati nya. Mungkin sampai kapanpun, Ayu tak akan melupakan mereka.
“Tarik nafas dan hembuskan, Bu. Jangan buang-buang energi dengan berteriak ya, Bu.” Dokter terus memberikan dorongan semangat pada Ayu.
Detik dan menit terus berjalan, sakit terus meningkat, hingga Ayu nyaris kehilangan kesadaran kembali jika saja Dokter tak memberinya cairan infus.
Dan tepat di saat lembayung senja menghiasi langit, tangisan keras itu terdengar, lantang dan sehat. Sebuah mukjizat mengingat Ayu mengalami berbagai masalah dan musibah selama masa kehamilannya.
“Laki-laki, Bu. Sangat sehat dan juga tampan.”
Dokter yang baru selesai menangani persalinan segera membawa bayi Ayu ke pelukan wanita itu. Ayu menangis haru ketika untuk pertama kalinya melihat secara langsung wajah mungil yang tumbuh di rahimnya selama sembilan bulan. Pelukannya sungguh erat, ketika Ayu berjanji akan melakukan segalanya untuk melindungi putranya.
•••
Seminggu kemudian, Ayu sedang duduk di depan jendela ruangannya bersama bayi yang kini semakin kuat dari hari kehari. Ayu masih harus menjalani perawatan serta pemulihan pasca melahirkan di ruangan tersebut.
Walau sedih ketika mengingat semua peristiwa menyakitkan yang menimpanya, Ayu tetap bersyukur kini memiliki alasan untuk tetap berdiri kokoh seperti batu karang.
Ayu mengusap kepala bayinya perlahan, rambut tipis berwarna hitam legam, paras anaknya begitu rupawan, persis seperti wajah Restu. Ayu sedih sekaligus bersyukur, karena secara tidak langsung ia bisa membantah tudingan ibu mertuanya tentang perselingkuhan.
Tok!
Tok!
Bu Jumini yang baru Ayu kenal selama beberapa hari datang mengantar jatah sarapan untuk Ayu. “Eh, Bu. Terima kasih, ya.”
“Sama-sama, ini pisangnya aku tambah, habiskan, ya. Anakmu perlu banyak nutrisi.”
“Bu—” Ayu berkaca-kaca, ditempat para narapidana berada, ternyata masih ada kebaikan dan ketulusan.
“Tidak apa-apa, aku anggap sedang memberi sarapan untuk anakku yang juga juga baru saja melahirkan di luar sana.”
“Terima kasih banyak, Bu,” ucap Ayu, atas kebaikan Bu Jumini.
Bu Jumini menepuk pundak Ayu, kemudian mengusap kepala Albiru -nama bayi Ayu-.
Setelah itu Bu Jumini pun pergi, karena harus mengantar sarapan ke ruangan yang lain.
“Lihat, Nak. Masih ada orang baik di dunia ini. Terus beri Mamak semangat, ya. Agar Mamak tetap memiliki alasan kuat untuk melanjutkan hidup,” bisik Ayu di telinga Biru.
Dua minggu kemudian, Ayu menerima kabar yang membuat jantungnya nyaris keluar dari tempatnya.
“Apa, Bu?!” tanya Ayu tak terima.
“Ini peraturan di dalam lapas, kami tak bisa membiarkan ada anak-anak atau bayi yang tinggal di sini, karena itulah kami bertanya apakah Anda masih memiliki keluarga?”
Ayu pikir ia bisa membesarkan Biru sembari menjalani masa tahanan. Tapi ternyata—
“Kami mengerti jika Anda bimbang,” sambung Ibu Kepala lapas. “Tapi nanti jika sudah besar, anakmu butuh sekolah, butuh bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya, butuh untuk tumbuh dan berkembang dengan kebebasan. Dan itu yang tidak bisa kami berikan disini untuknya.”
Ayu kembali menatap wajah putranya yang baru saja terlelap sambil menghisap ASI nya. Mana tega ia melepas buah hatinya pergi menjauh darinya, sementara Biru masih membutuhkan ASI untuk awal tumbuh kembangnya. Tapi Ayu juga tak menampik bahwa apa yang dikatakan Ibu Kepala lapas benar adanya.
“Jika saya tak memiliki keluarga, anak ini akan tumbuh di mana?”
“Di panti asuhan, kami akan mencari panti asuhan yang cocok.”
Ayu menggeleng kuat, tak sanggup membayangkan anaknya tumbuh di panti asuhan, padahal Biru punya ibu, punya paman dan bibi, punya nenek, walau Ayu ragu mereka bersedia menerima Biru dengan tangan terbuka.
“Saya mengerti, Bu. Tapi izinkan saya berpikir terlebih dahulu.”
“Baiklah, jangan lama-lama, ya? Semakin cepat semakin baik.”
trims kak thor
Miranda mengutamakan cinta buta mungkinkah bakal cinta mati sama biru kita tunggu disebelah